Dalil Tabarruk di Makam
BEBERAPA DALIL TENTANG TABARRUK DI KUBURAN
Orang bertabarruk di makam itu bukan pengkultus atau penyembah kuburan (quburiyun, 'ubbadul qubur). Aktivitasnya lebih pada tawassul, menjadikan Nabi atau orang shalih yang dimakamkan di kuburan itu sebagai wasilah atau perantara untuk suatu hajat atau tujuan. Doa dan memintanya tetap kepada Allah. Yakin datangnya keberkahan tetap dari Allah.
Tujuan dan hajat yang diharap bisa bermacam-macam. Bisa keberkahan dalam ilmu atau adab ilmiah, seperti yang dilakukan oleh Imam al-Bukhari dalam menyusun beberapa karya besar beliau, dengan memilih tempat yang paling mulia, yaitu di dekat makam Rasulullah.
Selain tujuan tawassul, orang berada di kuburan shalihin dengan beberapa ekspresinya – yang selama ini dikonotasikan sebagai penyembahan atau pengkultusan – sebenarnya untuk tujuan penghormatan, atau gambaran kuatnya hubungan emosional dan spiritual, membuncahnya rasa rindu, cinta, sekaligus menunjukkan betapa besar pengaruh pribadi yang diziyarahi dalam kehidupan para peziyarah.
Syaikh Abdul Fattah Shalih Qudaisy al-Yafi’i dari Yaman memiliki satu karya tentang hal ini, yaitu Kitab al-Tabarruk bish-Shalihin. Dalam satu penggal pembahasannya, beliau merilis beberapa riwayat dari Sahabat, Keluarga Nabi, dan para ulama mengenai hal ini. Berikut beberapa riwayat tersebut, dari puluhan riwayat yang beliau rilis dalam kitabnya tersebut.
SAYYIDINA BILAL MENGGOSOKKAN WAJAHNYA DI MAKAM NABI
في تاريخ دمشق لابن عساكر (2/256): عن أبي الدرداء قال لما دخل عمر الشام سأل بلال أن يقرئه به فعله ... ثم إن بلالاً رأى النبي صلى الله عليه وآله وسلم في منامه وهو يقول: ما هذه الجفوة يا بلال أما آن لك أن تزورني؟ فانتبه حزيناً وركب راحلته وقصد المدينة فأتى قبر النبي صلى الله عليه وآله وسلم فجعل يبكي عنده ويمرغ وجهه عليه.
Dalam Tarikh Dimasyq karya Ibnu ‘Asakir (2/256) diriwayatkan dari Abu Darda’, ia berkata: “Ketika Umar memasuki wilayah Syam, ia meminta Bilal agar kembali melakukan apa yang biasa ia lakukan (mengumandangkan azan). Kemudian Bilal bermimpi melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, dan beliau berkata kepadanya: ‘Mengapa sikap menjauh ini, wahai Bilal? Tidakkah sudah tiba waktunya engkau mengunjungiku?’ Maka Bilal terbangun dalam keadaan sedih, lalu ia menaiki kendaraannya dan menuju Madinah. Ia mendatangi makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, lalu ia menangis di dekatnya dan menggosokkan wajahnya ke makam itu.
Mengenai status Riwayat ini, al-Imam al-Subki dalam Syifa’ as-Saqam halaman 39 menjelaskan:
روينا ذلك بإسناد جيد ولا حاجة إلى النظر في الإسنادين اللذين رواه ابن عساكر بهما، وإن كان رجالهما معروفين مشهورين. اهـ.
“Kami meriwayatkan kisah ini dengan sanad yang baik, dan tidak perlu lagi meneliti dua sanad yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dengannya, meskipun para perawinya dikenal dan masyhur.”
SAYYIDAH FATHIMAH MENGAMBIL SEGENGGAM TANAH DARI MAKAM NABI DAN MELETAKKANNYA DI KEDUA MATA BELIAU
أخرج الحافظ ابن عساكر في التحفة: عن طاهر بن يحيى الحسيني قال: حدثني أبي عن جدي عن جعفر بن محمد عن أبيه عن علي رضي الله تعالى عنه قال: لما رمس رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم جاءت فاطمة رضي الله تعالى عنها فوقفت على قبره صلى الله عليه وآله وسلم وأخذت قبضةً من تراب القبر ووضعتها على عينيها وبكت وأنشأت تقول:
ماذا على من شم تربة أحمد
أن لا يشم مدى الزمان غواليا
صُبَّت عليَّ مصائب لو أنها
صُبَّت على الأيام عدن لياليا
Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dalam at-Tuhfah dari Thahir bin Yahya al-Husaini, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku, dari Ja‘far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Ali radhiyallahu ta‘ala ‘anhu, ia berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam telah dimakamkan, datanglah Fathimah radhiyallahu ta‘ala ‘anha, lalu ia berdiri di dekat makam beliau, mengambil segenggam tanah dari makam itu, meletakkannya di kedua matanya, menangis, lalu melantunkan syair:
‘Tidak mengapa bagi siapa yang mencium tanah Ahmad,
bahwa sepanjang masa ia tak lagi mencium wewangian mahal.
Telah ditimpakan kepadaku musibah-musibah,
seandainya ditimpakan kepada hari-hari, niscaya hari-hari itu menjadi malam-malam yang gelap.’”
Mengenai sebutan riwayat ini, Syaikh Abdullah Fattah menjelaskan:
وذكره ابن قدامة في المغني (2/213)، والسمهودي في وفاء الوفا (2/444)، والقسطلاني في إرشاد الساري (2/390)، والرحباني في مطالب أولي النهى (1/926)، والقاري في مرقاة المفاتيح (11/108) وغيرهم.
Riwayat ini juga disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam al-Mughni, as-Samhudi dalam Wafa’ al-Wafa’, al-Qasthalani dalam Irsyad as-Sari, ar-Ruhbani dalam Muthalib Uli an-Nuha, al-Qari dalam Mirqat al-Mafatih, dan selain mereka.
SAHABAT ABU AYYUB AL-ANSHARI MELETAKKAN PIPINYA DI MAKAM NABI
في مسند أحمد (5/422): عن داود بن أبي صالح قال: أقبل مروان يوماً فوجد رجلاً واضعاً وجهه على القبر، فقال: أتدري ما تصنع؟ فأقبل عليه فإذا هو أبو أيوب فقال: نعم، جئت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم ولم آت الحجر، سمعت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم يقول: لا تبكوا على الدين إذا وليه أهله ولكن ابكوا عليه إذا وليه غير أهله!! اهـ.
Dalam Musnad Ahmad (5/422) diriwayatkan dari Dawud bin Abi Shalih, ia berkata: “Suatu hari Marwan datang dan mendapati seorang laki-laki sedang meletakkan wajahnya di atas makam. Maka ia berkata: ‘Apakah engkau tahu apa yang sedang engkau lakukan?’ Laki-laki itu pun menoleh kepadanya, ternyata ia adalah Abu Ayyub. Ia berkata: ‘Ya. Aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, bukan datang kepada batu. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda: Janganlah kalian menangisi agama ketika yang mengurusnya adalah ahlinya, tetapi tangisilah agama ketika yang mengurusnya bukan ahlinya.’”
Komentar tentang status hadits ini adalah sebagai berikut:
ورواه الحاكم (4/560) وقال: هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه، وقال الذهبي في التلخيص: صحيح.
Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Hakim (4/560) dan ia berkata: “Hadis ini sanadnya sahih dan tidak dikeluarkan oleh keduanya.” Al-Dzahabi berkata dalam at-Talkhish: “Sahih.”
IMAM BUKHARI MENYUSUN BEBERAPA KARYA BESAR BELIAU DI DEKAT MAKAM NABI
في تاريخ بغداد (2/70) وسير النبلاء (12/400): قال محمد بن أبي حاتم البخاري سمعت أبا عبد الله محمد بن إسماعيل يقول حججت ورجع أخي بأمي وتخلفت في طلب الحديث فلما طعنت في ثمان عشرة جعلت أصنف قضايا الصحابة والتابعين وأقاويلهم وذلك أيام عبيد الله بن موسى، وصنفت كتاب التاريخ إذ ذاك عند قبر رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في الليالي المقمرة، وقل اسم في التاريخ إلا وله قصة إلا أني كرهت تطويل الكتاب. اهـ.
Dalam Tarikh Baghdad (2/70) dan Siyar A‘lam an-Nubala’ (12/400), Muhammad bin Abi Hatim al-Bukhari berkata: “Aku mendengar Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ismail berkata: ‘Aku berhaji, kemudian saudaraku pulang bersama ibuku, sedangkan aku tertinggal untuk mencari hadis. Ketika usiaku mencapai delapan belas tahun, aku mulai menyusun persoalan-persoalan tentang para sahabat dan tabi‘in beserta perkataan-perkataan mereka. Hal itu terjadi pada masa ‘Ubaidullah bin Musa. Aku menyusun kitab at-Tarikh pada waktu itu di dekat makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pada malam-malam yang bercahaya bulan. Tidak ada satu nama pun dalam kitab at-Tarikh kecuali memiliki kisah, hanya saja aku tidak menyukai memperpanjang kitab ini.’”
وفي السير أيضاً (12/404): قال ابن عدي سمعت عبد القدوس بن همام يقول سمعت عدة من المشايخ يقولون: حول محمد بن إسماعيل تراجم جامعه بين قبر رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم ومنبره وكان يصلي لكل ترجمة ركعتين. اهـ.
Dalam Siyar juga (12/404), Ibnu ‘Adi berkata: “Aku mendengar ‘Abdul Quddus bin Hammam berkata: Aku mendengar sejumlah guru berkata: ‘Muhammad bin Ismail menyusun judul-judul bab kitab al-Jami‘ di antara makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan mimbar beliau, dan untuk setiap judul ia melaksanakan shalat dua rakaat.’”
Wallahu a’lam bish-shawab.
(Syaikh Abdul Fattah al-Yafi’i adalah seorang ulama dari Yafi’, Yaman yang menulis puluhan kitab dalam konsentrasi kajian akidah dan amaliah Ahlussunnah Wal-Jama’aah. Tahadduts bin-ni’mah, saya menerima ijazah kitab-kitab beliau dan selama ini banyak menjadikannya sebagai rujukan dalam penulisan tema-tema ke-Aswaja-an).
Bagi yang menginginkan kitab tentang tabarruk ini, silakan diunduh dari tautan berikut ini:
https://ia802808.us.archive.org/…/it…/10000_201807/10003.pdf