KH Mas Alwi bin Abdul Aziz, Pemberi Nama NU
PENDIRI NU YANG JARANG DIKETAHUI
"KH Mas Alwi bin Abdul Aziz
Sosok Pemberi Nama Nahdlatul Ulama"
Di antara kisah lahirnya Nahdlatul Ulama, terdapat satu nama yang kerap luput dari ingatan banyak orang. Bukan karena perannya kecil, tetapi justru karena ketawadhuannya yang begitu dalam. Beliau adalah KH Mas Alwi bin Abdul Aziz, seorang kiai yang dikenal alim, halus tutur katanya, dan tajam pandangan batinnya terhadap masa depan umat.
Dalam riwayat yang disampaikan oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin, salah satu murid utama Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, disebutkan bahwa sebelum tahun 1926, telah muncul keinginan kuat di hati para ulama untuk membentuk sebuah wadah bersama—sebuah jam’iyah yang dapat menghimpun para kiai demi menjaga agama, umat, dan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah di Nusantara.
Pada waktu itu, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari telah merancang pendirian organisasi dengan nama Jami’iyah Ulama. Nama tersebut secara lahiriyah memang sudah tepat: perkumpulan para ulama. Namun dalam musyawarah para kiai, muncul berbagai pandangan dan usulan.
Di sinilah peran KH Mas Alwi bin Abdul Aziz menjadi sangat menentukan.
Beliau mengusulkan sebuah nama yang tidak sekadar formal, tetapi mengandung ruh, gerak, dan kesadaran zaman:
Nahdlatul Ulama — Kebangkitan Para Ulama.
Mendengar usulan itu, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari bertanya dengan penuh hikmah:
“Kenapa harus memakai kata nahdlah? Mengapa tidak cukup jami’iyah ulama saja?”
Pertanyaan itu dijawab oleh Kiai Mas Alwi dengan kalimat yang kelak terbukti sangat visioner:
“Karena tidak semua kiai memiliki jiwa nahdlah (kebangkitan). Ada kiai yang cukup mengurusi pondoknya sendiri, tidak mau peduli terhadap jam’iyah dan urusan umat.”
Jawaban ini bukan sindiran, melainkan gambaran jujur tentang realitas umat saat itu. Kiai Mas Alwi memahami bahwa organisasi ulama tidak cukup hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi harus menjadi gerakan kesadaran, kebangkitan tanggung jawab, dan perjuangan kolektif.
Kata Nahdlatul mengandung makna bangkit, bergerak, dan tidak berdiam diri. Ia menuntut para ulama untuk keluar dari batas-batas kepentingan pribadi menuju kepedulian umat dan bangsa.
Akhirnya, para kiai yang hadir dalam musyawarah tersebut sepakat menerima usulan KH Mas Alwi bin Abdul Aziz. Maka ditetapkanlah nama Nahdlatul Ulama, sebuah nama yang bukan hanya menjadi identitas organisasi, tetapi juga menjadi doa, cita-cita, dan arah perjuangan.
Sayangnya, dalam perjalanan sejarah, nama KH Mas Alwi bin Abdul Aziz tidak sepopuler tokoh-tokoh sentral lainnya. Padahal, tanpa gagasan beliau, NU mungkin lahir dengan ruh yang berbeda. Sejarah ini mengajarkan kepada kita satu pelajaran penting ala pesantren:
orang besar tidak selalu dikenal, tetapi jejaknya menghidupkan zaman.
KH Mas Alwi bin Abdul Aziz adalah contoh ulama yang bekerja dalam senyap, tetapi berpikir jauh ke depan. Beliau tidak mencari nama, justru namanya menghidupkan sebuah jam’iyah yang hingga kini menjadi penopang umat Islam Nusantara.
Restorasi foto
Oleh:Kang Ajat Ajat
Sumber:
Kisah pendirian Nahdlatul Ulama sebagaimana diriwayatkan oleh KH As’ad Syamsul Arifin, dan dirujuk dari NU Online.