Penolakan Ulama Aswaja terhadap Ajaran Salafi Wahabi
Penolakan Ulama Aswaja-Sunni Terhadap Ajaran Salafi-Wahabi
Ulama Ahlusunnah Wal Jamaah (Aswaja) telah secara konsisten membantah dan mengkritik ajaran Salafi Wahabi melalui berbagai publikasi, debat, dan kajian keagamaan, menyatakan bahwa pendekatan mereka terlalu kaku (tekstualis) dan bertentangan dengan tradisi Islam yang telah mapan.
Poin-poin utama kritik dan bantahan ulama Aswaja:
1. Masalah Bid'ah
Salah satu perbedaan paling mencolok adalah dalam masalah bid'ah (inovasi dalam agama). Ulama Wahabi cenderung menganggap hampir semua praktik yang tidak dilakukan pada zaman Nabi SAW dan tiga generasi awal Islam sebagai bid'ah yang sesat.
Sebaliknya, ulama Aswaja, membagi bid'ah menjadi hasanah (baik) dan sayyi'ah (buruk), merujuk pada pemahaman kontekstual para ulama salaf.
2. Syafa'at dan Tawassul
Ulama Aswaja mengkritik keras pandangan Wahabi yang mengingkari adanya syafaat (pertolongan/intervensi) Nabi Muhammad SAW, serta praktik tawassul (menggunakan perantara dalam berdoa).
Ulama Aswaja berargumen bahwa penolakan ini bertentangan dengan dalil-dalil yang sah dan kesepakatan ulama terdahulu.
3. Pendekatan Kaku dan Tekstualis
Aswaja menolak pendekatan Salafi Wahabi yang hanya bersandar pada Al-Qur'an dan Sunnah secara harfiah (tekstualis) tanpa memberikan ruang yang cukup untuk ijtihad (penalaran hukum Islam) yang mendalam serta akulturasi budaya lokal, yang dianggap mengabaikan kompleksitas dalam pemahaman agama.
4. Pengkafiran (Takfir)
Gerakan Salafi Wahabi kerap mendapat penolakan karena pendekatan mereka yang cenderung keras dan mudah mengkafirkan kaum Muslimin lain yang tidak sepaham, termasuk dalam isu-isu politik dan sosial.
Hal ini dianggap Aswaja bertentangan dengan prinsip rahmatan lil alamin (rahmat bagi alam semesta) dalam Islam.
5. Pemalsuan Kitab
Beberapa ulama Aswaja juga menyatakan adanya upaya pemalsuan atau manipulasi redaksi dalam kitab-kitab klasik Aswaja oleh pihak-pihak tertentu untuk mendukung argumen Salafi Wahabi.
6. Sumber Rujukan
Ulama Aswaja menekankan pentingnya mengikuti salah satu dari empat mazhab fikih Sunni (Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali) dan akidah Asy'ariyah/Maturidiyah, sementara Salafi Wahabi sering kali menolak keterikatan pada mazhab tertentu, mengklaim langsung merujuk pada Al-Qur'an dan Sunnah.