Kalam nafsi dan lafdhi Allah
Dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama‘ah, kalam Allah dijelaskan dengan dua istilah penting:
---
1️⃣ Kalam Nafsi (الكلام النفسي)
Makna:
Kalam nafsi adalah firman Allah yang ada pada Dzat-Nya, berupa makna dan kehendak Allah, bukan suara dan bukan huruf.
Ia azali (qadīm), tidak diciptakan, dan tidak berubah.
Penjelasan sederhana:
> Seperti isi hati dan maksud seseorang sebelum diucapkan dengan lisan.
Tetapi tentu kalam Allah tidak bisa disamakan dengan makhluk.
Ciri-ciri kalam nafsi:
Qadīm (tidak bermula)
Tidak berupa huruf
Tidak berupa suara
Melekat pada Dzat Allah
Inilah hakikat “Allah berbicara” secara sifat
---
2️⃣ Kalam Lafdzi (الكلام اللفظي)
Makna:
Kalam lafẓi adalah ungkapan kalam Allah dengan huruf dan suara, seperti:
Al-Qur’an yang dibaca
Taurat, Injil, Zabur
Disampaikan kepada makhluk melalui:
Malaikat Jibril
Suara yang Allah kehendaki
Tulisan dalam mushaf
Ciri-ciri kalam lafẓi:
Terdengar
Terbaca
Tertulis
Huruf dan suara terjadi sesuai kehendak Allah
Yang dibaca manusia adalah makhluk dari sisi suara dan bacaan,
tetapi maknanya berasal dari Allah
---
🔑 Hubungan Keduanya
Kalam Nafsi Kalam Lafdzi
Makna azali pada Dzat Allah Ungkapan makna itu
Tidak bersuara & tidak berhuruf Berupa huruf & suara
Qadīm (tidak dicipta) Terjadi sesuai kehendak Allah
Sifat Allah Media penyampaian
👉 Al-Qur’an:
Dari sisi makna (kalam nafsi) → qadīm
Dari sisi bacaan, suara, tulisan → baharu (makhluk)
---
🧠 Ringkas tapi tepat
> Allah berbicara dengan kalam nafsi yang azali,
lalu kalam itu diungkapkan kepada makhluk dengan kalam lafzhi.
Ini adalah penjelasan yang dipakai oleh para ulama Ahlus Sunnah (Asy‘ariyyah dan Maturidiyyah) untuk menjaga tauhid, agar:
Tidak menyerupakan Allah dengan makhluk
Tidak menolak sifat kalam Allah