Allah tak menjaga kakbah?
šš¢šššš šš”šš ššššš “ššššš š§šššš š šššš”ššØš”šš šš‘ššš”
Oleh : KH. Ahmad Syahrin Thoriq
Apa yang dinyatakan dalam tulisan tersebut sangatlah menggelikan, siapa pun yang membacanya – tidak perlu dengan kecerdasan khusus- tapi cukup dengan standar akal sehat akan dengan mudah menangkap bahwa menarik kesimpulan teologis dari satu peristiwa sejarah dengan cara seperti itu, sangat jauh dari standar penalaran yang benar, apalagi untuk bisa disebut sebagai tulisan ilmiah.
Ia lebih menyerupai sebuah curhatan dari rasa kecewa, marah, atau bahkan mungkin kebencian yang menggelora dalam hati penulisnya terhadap Islam, yang kemudian ia ekspresikan dalam bentuk coretan yang dangkal dan tidak terkontrol secara metodologis; jauh dari sikap objektif yang seharusnya menjadi satu prinsip yang dipegang kuat oleh siapapun yang hendak mencari jalan kebenaran apalagi yang hendak menunjukkannya.
Saya katakan di awal bahwa tulisan ini menggelikan atau mungkin lebih tepatnya memalukan, karena sama persis seperti logika seorang anak kecil yang berkata kepada orang tuanya yang tidak memberikan suatu yang saat itu ia inginkan, “Ayah jahat, tidak sayang ke aku, karena ayah tak mau membelikan yang kuminta.” Padahal siapapun yang sudah cukup umur akan paham, tidak memberi dalam sebuah keadaan tertentu itu bukan tanda tidak sayang, bahkan itu bisa jadi menjadi wujud kasih sayang dalam bentuk lainnya.
Seperti kasus seorang ayah yang tidak membawakan oleh-oleh es krim ke anaknya yang sedang batuk atau demam. Maka ungkapan tidak memberi berarti tidak sayang lebih karena sang anak belum mampu memahami tujuan, proses, dan hikmah di balik sebuah keputusan.
Dalam dunia anak-anak, logika seperti ini sangat wajar. Namanya juga anak-anak, keluguan berfikir yang demikian itu tidak perlu untuk diluruskan apalagi dibantah secara khusus, karena ternyata cukup dengan bertambahnya usia, akan memberikan semua jawaban dan penjelasan yang dibutuhkan. Namun ketika “logika manja” ini hendak dibawa ke ranah berfikirnya orang dewasa, tentu ini harus dicegah, paling tidak si empunya tulisan wajib dibuat sadar, ente ini berlogika ala anak-anak, tapi bergaya hendak meyakinkan tentang sebuah hipotesa kepada orang-orang dewasa. Ya kami ini yang jadi malah bingung menentukan mode dalam menyikapinya : Apa harus iba, ketawa, nyengir kuda atau gimana?
Menyimpulkan “Tuhan tidak menjaga Ka’bah” hanya karena pernah terjadi peristiwa penyerangan adalah bentuk logika yang sama dengan mengira bahwa penjagaan, dan kekuasaan Allah ta’ala harus selalu tampil dalam bentuk yang instan, kasat mata, dan sesuai keinginan manusia. Padahal ajaran Islam tidak pernah mengajarkan cara berpikir serba polos seperti itu. Kita memahami bahwa cara kerja Tuhan itu adalah dengan hikmah, ada hukum sebab-akibat, ujian, dan tuntutan adanya tanggung jawab manusia.
Dan berikut ini adalah delapan penjelasan kami tentang masalah ini. Mohon dimaklumi jika bahasanya saya buat seringan mungkin ala anak-anak, karena kelihatannya saya sedang melayani segmen ini. Adapun untuk yang sudah beranjak remaja, dewasa, apalagi para tetua, rasanya cukup pantau dari jarak jauh saja.
š£š²šæšš®šŗš®: š§š¶š±š®šø šš±š® šš®šŗš¶š»š®š» šš®šµšš® šš®‘šÆš®šµ šš²šÆš®š¹ š±š®šæš¶ šš²š·š®šµš®šš®š» š š®š»ššš¶š®
Sejak awal harus ditegaskan bahwa Islam tidak pernah mengajarkan Ka‘bah sebagai bangunan yang kebal dari sentuhan kejahatan manusia. Tidak ada satu ayat pun, tidak ada satu hadits sahih pun, dan tidak ada satu pun pernyataan ulama muktabar yang menyebutkan bahwa Ka‘bah dijamin aman dari setiap bentuk penodaan atau penyerangan secara mutlak dan permanen.
Karena meski ka’bah adalah bangunan suci, tetapi ia tetap berada di dalam dunia yang tunduk pada hukum sebab-akibat yang telah Allah tetapkan. Ia dibangun oleh tangan manusia, dirawat oleh manusia, dan secara historis pun pernah mengalami kerusakan, renovasi, serta berbagai bentuk gangguan.
Yang dijaga Allah ta‘ala bukanlah batu, dinding atau bangunan fisiknya secara mutlak, melainkan makna tauhid dan fungsi ibadah yang diwakilinya. Karena itu, kejahatan manusia terhadap Ka‘bah tidak pernah dipahami dalam Islam sebagai kegagalan Tuhan, tetapi sebagai bagian dari sunnatullah dan ujian yang kelak akan Allah mintakan tanggung jawab atasnya.
Dengan memahami hal ini, gugurlah sejak awal kesimpulan naif bahwa “karena Ka‘bah pernah diserang, maka Allah tidak menjaganya”.
Cara bernalar seperti ini tidak mungkin disimpulkan oleh seorang muslim yang beragama dengan benar, yang paling mungkin, itu dilakukan oleh orang awam atau dari mereka yang cara beragamnya lekat dan akrab dengan dongeng dan khayalan.
šš²š±šš® : šš®’šÆš®šµ Pš²šæš»š®šµ Mš²š»š“š®š¹š®šŗš¶ Bš²šÆš²šæš®š½š® Pš²šæš¶ššš¶šš® Pš²š»š“šæššš®šøš®š»
Dalam catatan sejarah, Ka‘bah bukan sekali ini saja menjadi sasaran kejahatan dan kekerasan manusia. Jauh sebelum Islam datang, terjadi Perang Fijar, yakni peperangan yang berlangsung di bulan-bulan haram dan terjadi di sekitar Tanah Haram. Meski perang itu merupakan pelanggaran besar terhadap kesucian waktu dan tempat, tidak pernah muncul kesimpulan meski dari orang jahiliyah bahwa Ka‘bah kehilangan kesuciannya atau bahwa Allah tidak menjaganya.
Pada masa Islam pun, sejarah mencatat peristiwa yang lebih berat. Ka‘bah pernah menjadi sasaran penyerangan pada masa konflik politik, di antaranya ketika pasukan al Hajjaj bin Yusuf mengepung Makkah dalam perang melawan Abdullah bin Zubair. Dalam peristiwa itu, Ka‘bah bahkan terkena lemparan manjaniq hingga sebagian bangunannya terbakar dan runtuh.
Bahkan sebelum peristiwa tersebut, Ka‘bah pernah mengalami kerusakan akibat banjir besar yang merobohkan sebagian bangunannya, sehingga memaksa masyarakat Quraisy merenovasinya.
Bahkan ukuran Ka’bah akhirnya dibuat lebih kecil dari ukuran yang sebenarnya karena kurangnya dana. Peristiwa ini terjadi sebelum kenabian Muhammad dan tercatat secara masyhur dalam sejarah. Namun sekali lagi, tidak pernah lahir kesimpulan bahwa kesucian Ka‘bah gugur atau bahwa Allah tidak menjaganya. Kerusakan fisik dipahami sebagai bagian dari hukum alam, bukan dipahami secara dangkal berarti Ka’bah itu tidak suci karena tidak selamat dari hukum sebab akibat.
Dan tentunya fakta ini bukanlah sebuah rahasia, yang sengaja hendak ditutup-tutupi. Justru ia diriwayatkan secara terbuka dalam kitab-kitab sejarah Islam yang ditulis oleh para ulama sendiri. Karena dalam Islam kejujuran itu segala-galanya, yang membedakan dengan yang lain adalah dalam Islam semua tuduhan ada jawabannya setiap kecurigaan ada penjelasannya. Karena amunisi serangan itu anda pungut dari kami..
šš²šš¶š“š® : šš¶ š®šøšµš¶šæ Zš®šŗš®š» šš®’šÆš®šµ š®šøš®š» Hš®š»š°ššæ
Mungkin si penulis tidak tahu ya. Ka’bah itu bukan hanya bisa diciderai, atau dirobohkan lalu dibangun kembali. Bahkan nanti pada akhir zaman Ka‘bah akan dihancurkan. Hal ini disebutkan secara jelas dan tegas dalam hadits-hadits sahih. Fakta ini sejak awal diketahui, diterima, dan diajarkan oleh para ulama, tanpa pernah sedikit pun menggoyahkan akidah kaum Muslimin.
Justru di sinilah letak perbedaan mendasar antara Islam dengan cara berpikir Pagan.
Umat Islam tidak menyembah Ka‘bah, tidak mengkultuskan batu, dan tidak menggantungkan keimanannya pada keberlangsungan sebuah bangunan fisik. Ya Ka‘bah itu mulia, tapi ia hanyalah arah ibadah, yang tak ada kaitannya dengan objek yang diibadahi. Ia hanyalah bagian dari syiar agama yang dperintahkan untuk dijaga dan dimuliakan. Karena itu hancurnya Ka‘bah di akhir zaman sekalipun tidak pernah dipahami sebagai runtuhnya Islam, apalagi sebagai bukti bahwa Allah tidak menjaganya.
Seandainya Islam mengajarkan penyembahan terhadap benda, maka kehancuran Ka‘bah akan diartikan sebagai akhir dari perjalanan ajaran Islam. Umat Islam tidak ada yang berpaham seperti itu, maka jika anda yang berfikir Islam begitu. Andalah yang salah paham terhadap Islam, kelihatannya cara beragama anda yang sering mengabaikan logika dan akal sehat itulah yang telah meracuni anda.
šš²š²šŗš½š®š: š£š®šššøš®š» šš®š·š®šµ š±š®š» šš²šš®š¹š®šµš½š®šµš®šŗš®š» šš²š»šš®š»š“ š£š²š»š·š®š“š®š®š» šš®‘šÆš®šµ
Sebagian orang menjadikan peristiwa penghancuran pasukan gajah sebagai tolok ukur tunggal tentang bagaimana Allah ta’ala menjaga Ka‘bah. Ketika mendapati peristiwa sejarah lain yang tidak berakhir dengan kehancuran si penyerang secara ajaib, mereka lalu tergesa-gesa menyimpulkan bahwa kisah pasukan gajah hanyalah dongeng atau mitos belaka. Cara berpikir seperti ini jelas fatal kelirunya.
Peristiwa pasukan gajah sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur’an bukanlah pola tetap yang dijanjikan untuk setiap ancaman terhadap Ka‘bah, melainkan peristiwa khusus dengan konteks dan hikmah tertentu. Ia terjadi pada waktu tertentu, terhadap pelaku tertentu, dan dengan tujuan tertentu dalam rangka menegaskan kekuasaan Allah serta menjaga kehormatan Tanah Haram menjelang kelahiran Nabi Muhammad. Menjadikannya sebagai standar baku untuk seluruh sejarah adalah kesalahan metodologis yang serius.
Islam tidak pernah mengajarkan bahwa setiap upaya penodaan terhadap kesucian syiar-syiarnya seperti Ka‘bah akan selalu digagalkan dengan cara yang sama. Justru Al Qur’an mengajarkan bahwa Allah bertindak sesuai kehendak dan hikmah-Nya, bukan sesuai ekspektasi manusia.
Kadang Allah menolong dengan cara luar biasa, kadang membiarkan manusia menanggung akibat perbuatannya melalui proses sejarah yang panjang. Dan disitulah letak ujiannya. Kalau setiap penjahat setelah berbuat jahat langsung disambar petir, atau disikat habis ala kisah burung ababil, di mana letak ujian keimanannya? Karena sudah pasti manusia akan beriman semuanya.
Maka jelas kesalahan memahami peristiwa pasukan gajah inilah yang melahirkan logika naif: jika dulu pasukan gajah dihancurkan, mengapa kemudian Ka‘bah bisa diserang? Karena sekali lagi peristiwa pasukan gajah tidak sedang mengajarkan bahwa Ka‘bah kebal dari segala ancaman. Allah berbuat sesuai kehendaknya. Kadang Dia menghendaki kekuasaan itu ditampakkan secara luar biasa, kadang dijalankan melalui sunnatullah kehidupan.
Adapun menuduh kisah penghancuran pasukan gajah sebagai dongeng justru merupakan tuduhan yang tidak masuk akal jika ditinjau dari konteks sejarah dakwah Nabi Muhammad ļ·ŗ. Bangsa Arab pada masa itu adalah masyarakat yang sangat menjunjung kejujuran dan begitu benci terhadap kedustaan, terlebih dalam perkara yang menyangkut sejarah kolektif mereka.
Seandainya peristiwa pasukan gajah tidak pernah terjadi, maka menyebutkannya dalam al Qur’an sama saja dengan menggali kuburannya sendiri bagi dakwah sang Nabi. Cukup satu orang saja yang membantah, maka seluruh dakwah akan runtuh.
Justru karena peristiwa itu benar-benar pernah terjadi dan masih lekat dalam ingatan bangsa Arab, al Qur’an mengangkatnya dengan gaya yang sangat khas : “Alam tara kaifa fa‘ala rabbuka bi ashabil fil” — “Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu memperlakukan pasukan bergajah?” Sebuah pernyataan yang disampaikan dengan gaya pertanyaan yang siapapun pendengarnya akan paham, al Qur’an tidak sedang meminta pembuktian, tapi ia sedang menegaskan.
šš²š¹š¶šŗš® : š£š®šæš® Nš®šÆš¶ Dš¶š·š®š“š® šš®š½š¶ š·šš“š® Tš²šæšš®šøš¶šš¶ š±š®š» Bš®šµšøš®š» Tš²šæšÆšš»ššµ
Sudah kepanjangan, untuk point kelima, keenam, ketujuh dan ke delapan silahkan melanjutkan membaca di https://astofficial.id