Saat Tidak Ada Lagi Permintaan
Biasanya orang berdoa itu kalau butuh.
Pas ada keinginan.
Ada problem yang butuh dipecahkan.
Sekarang bayangkan ada orang yang ingin berdoa, tapi bingung mau meminta apa.
Mengapa?
Karena dia sudah memiliki segalanya!
Jadi, dia bingung bukan karena tidak tahu bagaimana mengungkapkan keinginannya, tetapi semata-mata karena segala hasrat dan harapannya telah tercapai!
***
Seperti itulah kira-kira yang dirasakan penduduk surga.
Allah memberi mereka segalanya.
Surga paling rendah sekalipun kenikmatannya seperti orang memiliki seluruh dunia dan seisinya sepuluh kali!
Jadi, saat mereka seperti ingin berdoa, tersadarlah mereka bahwa sudah tidak ada lagi yang patut untuk diminta.
Kenikmatan makanan sudah, kenikmatan minuman sudah, kenikmatan berhubungan suami istri sudah, kenikmatan punya pasangan sudah, kenikmatan bercengkerama dengan sahabat dan teman sudah, kenikmatan hidup damai tanpa pertengkaran sudah, hidup bahagia selamanya tanpa batas waktu sudah, bahkan rida Allah juga sudah didapat!
Keinginan-keinginan yang diminta di surga yang disebutkan dalam hadis (misalnya keinginan bertani) juga seketika dikabulkan.
Jadi, sudah tidak ada lagi yang perlu dimintakan.
Akhirnya Al-Qur’an mengungkapkan perasaan penduduk surga ini dengan lafaz yang menunjukkan seolah doa, tapi mulut mereka tidak mampu lagi meminta sehingga yang terlontar adalah bentuk pujian tertinggi kepada Allah yang menghimpun segala sifat kesempurnaanNya, yakni lafaz “subhānakallāhumma”. Maha suci Engkau wahai Tuhan kami. Maha Sempurna. Bebas dari segala kekurangan, kelemahan, cacat dan aib.
Allah berfirman:
دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ [يونس: 10]
Artinya:
“Doa mereka di dalamnya (surga) adalah “Subhānakallāhumma” (‘Mahasuci Engkau, ya Tuhan kami’) (Q.S. Yūnus: 10)
***
Selama hidup di dunia, kita akan selalu diuji dengan masalah dan kebutuhan supaya kita selalu berdoa kepada Allah.
Agar tampak kehinaan kita, kerendahan kita dan betapa butuhnya kita kepada Allah.
Tetapi, memang ada hamba-hamba yang sudah demikian qanā’ah-nya, hingga lafaz pemujaannya kepada Allah jauh lebih banyak daripada lafaz permintaannya. Hamba-hamba seperti inilah yang diisyaratkan dalam riwayat yang dipakai hujah oleh Sufyān b. ‘Uyaynah berikut ini:
«إذا شغَل عَبدي ثَناؤُه عليَّ عَن مسألتي، أعطَيْتُه أفضلَ ما أُعطِي السَّائلِينَ"». «التمهيد - ابن عبد البر» (4/ 42 ت بشار)
Artinya:
“(Allah berfirman:) Jika hambaKU disibukkan oleh sanjungannya kepadaKU sehingga tidak memintaKU, maka Aku akan memberinya lebih baik daripada yang kuberikan kepada orang-orang yang meminta” (al-Tamhīd, juz 4 hlm 42)
اللهم إني أسألك رضاك والجنة
وأعوذ بك من سخطك والنار