Ngalap Berkah, Ziarah Makam Wali
Ngalap Berkah: Ziaroh makam Wali
Ziarah kepada para wali dan orang-orang saleh merupakan tradisi yang telah hidup dalam dunia Islam sejak generasi awal. Tujuannya bukan meminta kepada mereka, tetapi tabarruk—mencari keberkahan dari Allah melalui tempat-tempat yang Allah muliakan dan melalui nisbat para kekasih-Nya. Para ulama menjelaskan bahwa ziarah seperti ini justru dapat mendekatkan hati kepada Allah, bukan menjauhkannya.
Dalam tradisi para ulama, tabarruk bukanlah perkara asing. Justru merupakan bentuk pengagungan terhadap ahli ibadah dan penghormatan terhadap karunia yang Allah berikan kepada mereka.
Adz-Dzahabi:
وَالدُّعَاءُ مُسْتَجَابٌ عِندَ قُبُورِ الأَنْبِيَاءِ وَالأَوْلِيَاءِ، وَفِي سَائِرِ البِقَاعِ، لَكِنْ سَبَبُ الإِجَابَةِ حُضُورُ الدَّاعِي، وَخُشُوعُهُ وَابْتِهَالُهُ، وَبِلاَ رَيْبٍ فِي البُقْعَةِ المُبَارَكَةِ، وَفِي المَسْجِدِ، وَفِي السَّحَرِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ، يَتَحَصَّلُ ذَلِكَ لِلدَّاعِي كَثِيراً، وَكُلُّ مُضْطَرٍّ فَدُعَاؤُهُ مُجَابٌ.
"Doa itu mustajab di sisi makam para Nabi dan para wali, demikian pula di berbagai tempat lainnya. Akan tetapi sebab terkabulnya doa adalah hadirnya hati orang yang berdoa, kekhusyuannya, dan permohonannya yang sungguh-sungguh. Tidak diragukan lagi bahwa di tempat-tempat yang diberkahi, di dalam masjid, pada waktu sahur, dan semisalnya, kondisi tersebut banyak terwujud pada diri orang yang berdoa. Dan setiap orang yang berada dalam keadaan terdesak (sangat membutuhkan), maka doanya pasti dikabulkan."
[الذهبي، سير أعلام النبلاء، ط الرسالة، 17/77]
___
Faidlul Qodir:
(البركة مع أكابركم)
“Keberkahan itu bersama para orang besar di antara kalian.”
المجربين للأمور المحافظين على تكثير الأجور فجالسوهم لتقتدوا برأيهم وتهتدوا بهديهم
(Mereka adalah) orang-orang yang berpengalaman dalam berbagai urusan, menjaga amal-amal yang memperbanyak pahala. Maka duduklah bersama mereka agar kalian dapat meneladani pandangan mereka dan mendapatkan petunjuk dengan bimbingan mereka.
أو المراد من له منصب العلم وإن صغر سنه فيجب إجلالهم حفظا لحرمة ما منحهم الحق سبحانه وتعالى
Atau yang dimaksud adalah orang yang memiliki kedudukan ilmu meskipun usianya masih muda. Maka wajib memuliakan mereka sebagai bentuk menjaga kehormatan atas karunia yang diberikan Allah Ta‘ala kepada mereka.
وقال شارح الشهاب: هذا حث على طلب البركة في الأمور والتبحبح في الحاجات بمراجعة الأكابر لما خصوا به من سبق الوجود وتجربة الأمور وسالف عبادة المعبود
Dan syarḥ Kitab Asy-Syihab berkata: Ini adalah anjuran untuk mencari keberkahan dalam segala urusan dan kelapangan dalam berbagai kebutuhan dengan cara merujuk kepada para senior, karena mereka memiliki keistimewaan berupa lebih dahulu hidup, memiliki pengalaman dalam berbagai urusan, serta telah memiliki rekam jejak ibadah kepada Allah.
قال تعالى {قال كبيرهم}
Allah Ta‘ala berfirman: {Berkata pemimpin mereka}.
وكان في يد المصطفى صلى الله عليه وسلم سواك فأراد أن يعطيه بعض من حضر فقال جبريل عليه السلام: كبر كبر فأعطاه الأكبر
Dan pernah di tangan Rasulullah ﷺ terdapat siwak, lalu beliau ingin memberikannya kepada seseorang yang hadir di situ. Maka Jibril ‘alaihis-salām berkata: “Dahulukan yang lebih tua, dahulukan yang lebih tua.” Maka Nabi pun memberikannya kepada yang paling tua.
وقد يكون الكبير في العلم أو الدين فيقدم على من هو أسن منه
Dan terkadang yang dimaksud ‘besar’ adalah yang besar dalam ilmu atau agama, sehingga ia lebih diutamakan daripada orang yang lebih tua usianya.
[المناوي ,فيض القدير ,3/220]
Tabarruk di sini adalah mencari barokah dari Allah subhanahu wa ta’ala dengan
cara berziarah ke makam para wali.
Orang yang berziarah ke makam para wali dengan tujuan tabarruk, maka ziarah tersebut dapat mendekatkannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak
menjauhkannya dari Allah subhanahu wa ta'ala.
Orang yang berpendapat bahwa
ziarah wali dengan tujuan tabarruk itu syirik, jelas keliru. Ia tidak punya dalil, baik dari al-Qur’an maupun dari hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Al-Hafizh Waliyyuddin al-’Iraqi berkata ketika menguraikan maksud hadits:
Al-iroqi, Thorhut Tatsrib:
وَفِيهِ اسْتِحْبَابُ مَعْرِفَةِ قُبُورِ الصَّالِحِينَ لِزِيَارَتِهَا وَالْقِيَامِ بِحَقِّهَا،
Dan di dalamnya terdapat anjuran untuk mengenal kuburan orang-orang saleh, untuk menziarahinya dan menunaikan hak-haknya.
---
وَقَدْ ذَكَرَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لِقَبْرِ السَّيِّدِ مُوسَى - عَلَيْهِ السَّلَامُ - عَلَامَةً مَوْجُودَةً فِي قَبْرٍ مَشْهُورٍ عِنْدَ النَّاسِ الْآنَ بِأَنَّهُ قَبْرُهُ،
Dan Nabi –ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam– telah menyebutkan tanda bagi makam Sayyidunā Musa –‘alaihissalām–, dan tanda itu terdapat pada kubur yang kini terkenal di tengah masyarakat sebagai kuburnya.
---
وَالظَّاهِرُ أَنَّ الْمَوْضِعَ الْمَذْكُورَ هُوَ الَّذِي أَشَارَ إلَيْهِ النَّبِيُّ - عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ -،
Dan tampaknya tempat yang dimaksud itu adalah tempat yang ditunjukkan oleh Nabi –‘alaihiṣṣalātu was salām–.
---
وَقَدْ دَلَّ عَلَى ذَلِكَ حِكَايَاتٌ وَمَنَامَاتٌ،
Hal tersebut juga diperkuat oleh berbagai kisah dan mimpi.
---
وَقَالَ الْحَافِظُ الضِّيَاءُ: حَدَّثَنِي الشَّيْخُ سَالِمٌ التَّلُّ قَالَ: مَا رَأَيْت اسْتِحْبَابَهُ الدُّعَاءَ أَسْرَعَ مِنْهَا عِنْدَ هَذَا الْقَبْرِ،
Al-Ḥāfiẓ adl-Ḍiyā’ berkata: Syaikh Sālim at-Tall bercerita kepadaku: “Aku tidak pernah melihat tempat yang lebih cepat dikabulkannya doa dibandingkan di kubur ini.”
---
وَحَدَّثَنِي الشَّيْخُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُونُسَ الْمَعْرُوفُ بِالْأَرْمَنِيِّ أَنَّهُ زَارَ هَذَا الْقَبْرَ،
Dan Syaikh ‘Abdullāh bin Yūnus, yang dikenal dengan al-Armanī, juga menceritakan kepadaku bahwa ia menziarahi kuburan ini.
[العراقي، زين الدين ,طرح التثريب في شرح التقريب ,3/303]