Kejawen Palsu
Kejawen KW 5
Di Internal kebatinan produk pasca kekalahan Pangeran Diponegoro pun coraknya beragam. Ada yang lahir dari kebingungan spiritual akibat benturan antara Misi Kristen dengan Dakwah Islam dan juga ketidakcocokan dengan "kaum modernis Islam."
Ada juga yang lahir dari politik kekuasaan yang bercorak anti Islamisme dan dalam perkembangannya menjadi bercorak alergi bahkan anti dengan segala sesuatu yang berbau Arab dan menyebutnya sebagai penjajahan Arab.
Kaum kebatinan yang murni spiritual, biasanya lebih berjalan pada laku sunyi dalam mengembangkan dirinya. Mereka juga tidak pernah nyenggol agama formal, dikarenakan kebanyakan anggota padepokan kebatinan, hingga saat ini anggotanya masih banyak yang memeluk agama formal, baik Islam, Kristen atau Katolik.
Nyenggol agama formal justru akan menghilangkan harmoni spiritual yang akan mereka bangun. Harmoni spiritual ini memang ciri khas dari gerakan kebatinan, makanya mereka berusaha meramu berbagai unsur positif dari berbagai agama. Kalau yang terdidik maka mereka akan melabuhkan diri pada gagasan kaum perrenialisnya Schuon.
Berbeda halnya dengan kebatinan politik yang kalau didunia maya lebih disebut sebagai kaum rahayu yang memang lahir dari sebuah politik deislamisasi kebudayaan, maka narasi kebencian terhadap Islam memang selalu berada di muka.
Isi kebatinan politik ini kebanyakan adalah fasis Jawa dan seringkali juga ditumpangi kepentingan misi Kristen. Ini bukan pendapat saya, ini adalah pendapat dari Prof. William Roff dari Columbia University ketika memberi pengantar pda buku Karel Steenbrink, Kawan dalam Pertikaian, Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia 1596 - 1492 :
"Kalangan Kristen boleh jadi sedikit kikuk ketika membaca karya Steenbrink, terutama tatkala ia mengungkapkan beberapa strategi misionaris Kristen dalam menghadapi Islam di Indonesia, seperti dirumuskan teolog atau pendeta semacam Kreamer, Schuurman, van Lith, Ten Berge di masa kolonial dan beberapa nama penting lain di masa sekarang, termasuk Jan Bakker SJ (Rahmat Subagja), Franz Magnis Suseno, SJ, JB. Banawiratma, SJ dan Harun Hadiwiyono. Salah satu strategi pokok itu itu adalah membuat dikotomi dan pemisahan oposisional antara Islam dengan Kebatinan Jawa (kejawen) atau antara Islam dengan etika Jawa. Dengan demikian, mengikuti argumen Prof. William Roff, guru besar emeritus Columbia University, Islam bukan hanya direduksi dan menjadi kabur (obscure), tapi juga memberi peluang lebih besar bagi keberhasilan misionaris."
Contoh rielnya, ya yang seperti dalam tangkapan layar di postingan ini. Lambe semampluk khas penginjil progresif. Susahnya, banyak umat Islam yang terpancing emosinya kemudian malah mengecam budaya Jawanya dan membenturkannya dengan Islam. Dan akhirnya, tercapailah tujuan dari kaum rahayu.