Sisi Manusiawi Sahabat Nabi
Sisi Manusiawi Sahabat Nabi
Membaca judul ini mungkin ada yang berkata, “Bukannya para sahabat Nabi memang manusia? Apa masih perlu hal itu dipertegas?”
Pertanyaan ini tak salah. Sebenarnya memang tak perlu menegaskan apa yang sudah jelas. Tapi bagi sebagian orang hal ini masih kabur. Khususnya mereka yang meyakini pada orang-orang tertentu yang dianggap sebagai wali hal-hal luar biasa atau bahkan dekat pada mustahil. Sesuatu yang tidak terjadi pada para sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini.
***
Dalam perjalanan menaklukkan kota Mekah (Fathu Makkah), para sahabat Nabi berpuasa. Rasulullah Saw kemudian bersabda:
إنَّكُمْ قدْ دَنَوْتُمْ مِن عَدُوِّكُمْ وَالْفِطْرُ أَقْوَى لَكُمْ
“Kalian semakin dekat dengan musuh, berbuka akan lebih kuat bagi kalian…”.
Mulanya hal ini hanya sebagai anjuran atau pilihan. Sehingga sebagian sahabat masih ada yang tetap berpuasa. Tapi satu hari sebelum masuk ke Mekkah, Rasulullah Saw memberikan perintah yang tegas:
إنَّكُمْ مُصَبِّحُو عَدُوِّكُمْ وَالْفِطْرُ أَقْوَى لَكُمْ فأفْطِرُوا
“Besok kalian akan berhadapan dengan musuh. Berbuka akan lebih kuat untuk kalian, karena itu berbukalah…”.
Nabi Saw tidak mengatakan misalnya: “Tetap sajalah berpuasa karena maknawiyyah orang yang berpuasa itu tinggi.”
***
Seseorang bertanya kepada Ibnu Mas’ud ra, “Kenapa engkau jarang puasa sunnah?” Ia menjawab, “Puasa menyibukkanku dari membaca al-Quran, sementara membaca al-Quran lebih aku sukai daripada puasa.”
Andaikan perkataan itu keluar dari selain Ibnu Mas’ud, mungkin ada yang berkata, “Masak iya puasa bisa menjadi penghalang untuk membaca al-Quran…”. Tapi Ibnu Mas’ud lebih tahu apa yang menjadi prioritasinya dan potensi yang dimilikinya.
***
Anjuran puasa Arafah hanya ditujukan bagi yang sedang tidak haji. Adapun mereka yang sedang berada di padang Arafah,tidak dianjurkan untuk berpuasa agar bisa fokus pada doa dan dzikir.
Ibnu Wahb, seorang ulama Malikiyah pernah bersumpah tidak akan lagi berpuasa di hari Arafah.
Ia pernah berpuasa saat berada di padang Arafah. Cuaca sangat panas. Manusia berdesakan. Kondisi itu membuatnya sangat lelah dan kehausan. Hasilnya?
فكان الناس ينتظرون الرحمة وأنا أنتظر الإفطار
“Orang-orang menunggu rahmat, sementara saya menunggu berbuka.”
والله تعالى أعلم وأحكم