Penghina Sahabat Utsman
Na'udzu billahi min dzalik
Abu Qilābah berkata:
Aku pernah berada dalam suatu perjalanan di negeri Syam. Tiba-tiba aku mendengar seseorang berkata, “Celakalah aku dari api neraka!” Maka aku pun mendatanginya, dan ternyata dia adalah seorang lelaki yang terpotong kedua tangannya hingga ke bahu, kedua kakinya hingga ke pangkal paha, matanya buta, dan ia tergeletak menelungkup di atas wajahnya.
Aku berkata kepadanya, “Wahai hamba Allah, apa yang terjadi padamu?”
Ia menjawab:
“Aku termasuk orang-orang yang ikut masuk ke rumah Utsman (bin ‘Affān) pada hari pengepungan itu (hari terbunuhnya beliau). Ketika aku mendekatinya, istrinya keluar, lalu aku mendekatinya dan menamparnya. Maka Utsman memandangku dan berkata:
‘Semoga Allah mencabut kedua tanganmu dan kedua kakimu, membutakan penglihatanmu, dan memasukkanmu ke dalam neraka Jahannam!’
Mendengar doa itu, tubuhku bergetar hebat karena ketakutan, lalu aku lari menjauh dari tempat itu, melarikan diri dari doanya. Namun ketika aku sampai di tempatku sekarang ini, pada suatu malam datanglah seseorang kepadaku, lalu terjadilah padaku apa yang engkau lihat ini (yakni tubuhnya terpotong dan matanya buta).
Doa Utsman semuanya telah dikabulkan oleh Allah, dan yang tersisa hanyalah satu—yaitu masuk neraka.”
Abu Qilābah berkata:
“Aku hampir saja menginjaknya dengan kakiku (karena marah), namun aku berkata (dalam hati): ‘Kebinasaan dan kehancuranlah bagimu!’”
(Diriwayatkan oleh al-Lālikā’ī dalam kitab Syarḥ Uṣūl I‘tiqād Ahl as-Sunnah wa al-Jamā‘ah)
Berikut beberapa hikmah dan pelajaran penting yang dapat diambil:
1. Bahayanya menzalimi wali Allah dan orang saleh
Sayyidina ‘Utsmān bin ‘Affān رضي الله عنه adalah salah satu Khulafā’ ar-Rāsyidīn, sahabat terdekat Rasulullah ﷺ, dan seorang yang dijamin surga. Menyakiti beliau — baik dengan kata, tangan, atau perbuatan — merupakan dosa besar. Allah membela hamba-hamba-Nya yang saleh, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang terhadapnya.” (HR. al-Bukhārī)
2. Doa orang yang dizalimi sangat mustajab
Doa ‘Utsmān terhadap orang yang menzaliminya dikabulkan Allah sepenuhnya. Ini menunjukkan betapa kuatnya doa orang yang dizalimi, bahkan jika yang berdoa itu hanya mengadu kepada Allah tanpa memintanya secara berulang. Karena itu Nabi ﷺ bersabda:
“Takutlah terhadap doa orang yang teraniaya, karena tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. al-Bukhārī dan Muslim)
3. Dosa terhadap para sahabat sangat besar
Para sahabat memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Menyakiti mereka termasuk tindakan keji dan bisa mengantarkan kepada kebinasaan. Kisah ini menunjukkan bahwa menghina, melaknat, atau menzalimi sahabat Rasulullah ﷺ bisa berakibat buruk di dunia dan akhirat.
4. Penyesalan di dunia tidak selalu menghapus akibat dosa
Lelaki itu menyesal dan menyesalinya dengan tangisan, namun ia berkata bahwa doa Utsmān telah dikabulkan dan hanya tersisa azab neraka. Ini menggambarkan bahwa taubat harus segera dilakukan sebelum ajal atau sebelum hati mati. Kadang penyesalan datang terlambat, ketika hukuman dunia sudah menimpa dan taubat tidak lagi bermanfaat.
5. Tanda-tanda kekuasaan Allah nyata di dunia
Kisah ini termasuk ayat (tanda kekuasaan Allah) yang nampak di dunia. Allah memperlihatkan akibat kezaliman secara langsung agar manusia mengambil pelajaran. Ini juga menguatkan keyakinan bahwa doa dan hukuman Allah itu nyata, bukan dongeng.
6. Adab terhadap wanita dan kehormatan orang lain
Lelaki itu menampar istri Utsmān, dan dari perbuatan kecil namun hina itulah datang azab besar. Islam memerintahkan menjaga kehormatan wanita dan kehormatan keluarga orang saleh, apalagi istri khalifah kaum muslimin. Satu tamparan menjadi sebab kebinasaan dunia dan akhirat.
7. Sikap Abu Qilābah sebagai pelajaran bagi penuntut ilmu
Abu Qilābah tidak langsung menaruh belas kasihan, tetapi mengingat bahwa keadilan Allah sedang berlaku. Ia berkata: “Bu‘dan laka wa suḥqan” — “Jauh darimu (rahmat Allah) dan binasalah engkau!” Ini bukan karena keras hati, tetapi karena ia melihat akibat dari kezaliman terhadap sahabat besar Rasulullah ﷺ.
Jika disimpulkan:
Kisah ini mengajarkan kita untuk berhati-hati dari menzalimi siapa pun, menghormati para sahabat Rasulullah ﷺ, takut terhadap doa orang yang teraniaya, dan meyakini bahwa keadilan Allah pasti berlaku — di dunia maupun di akhirat.
NB: gambar hanya ilustrasi dan tidak ada kaitannya dengan kisah di atas.
Teks asli:
عن أبي قلابة ، قال : كنت في رفقة بالشام ، فسمعت رجلا يقول : يا ويله من النار ، فقمت إليه فإذا رجل مقطوع اليدين من المنكبين والرجلين من الحقو أعمى منكب لوجهه ، فقلت : يا عبد الله ما لك ؟ قال : كنت فيمن دخل على عثمان يوم الدار ، فلما دنوت منه خرجت امرأته ، فأقبلت عليها فلطمتها ، فنظر إلي عثمان ، فقال : سلب الله يديك ورجليك وأعمى بصرك وأدخلك نار جهنم ، فأخذتني رعدة شديدة ، فخرجت هاربا من دعوته ، فلما صرت بموضعي هذا ليلا أتاني آت فصنع بي ما ترى ، فقد استجاب الله فما بقي من دعائه إلا النار ، قال أبو قلابة : فهممت أن أطأه برجلي فقلت : بعدا لك وسحقا .
شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة
اللالكائي - أبو القاسم هبة الله بن الحسن بن منصور الطبري