Salafi Dulu dan Salafi Sekarang
Salafy Simpel dan Salafi Ribet
Dulu itu jadi salafi tuh gampang banget… atau lebih tepatnya, diakui sebagai salafi itu gampang.
Kapan? Ya, waktu salafi masih lemah…
Yang penting punya tiga semangat:
1. Tauhid Asma wa Sifat ala Ibnu Taimiyah
2. Semangat kembali ke tauhid dan memberantas kesyirikan
3. Semangat kembali ke sunnah dan anti fanatisme buta
Karena itu…
Abu Ismail Al-Harawi bukan cuma dianggap salafi, tapi juga dijuluki Syaikhul Islam, padahal dia itu sufi hardcore.
Asy-Syathibi, bukunya jadi rujukan utama dalam bahasan bid’ah, padahal dia seorang asy'ari.
Adz-Dzahabi? Cek aja kitab Siyar A’lam An-Nubala
Muhibbuddin Al-Khatib, penulis Al-Khuthuth Al-'Aridhah, lihat saja fotonya
Taqiyuddin Al-Hilali, tokoh salafi Maroko, sangat menghargai Hasan Al-Banna.
Abu Syaamah Al-Maqdisi, bukunya soal pengingkaran bid’ah jadi rujukan salafi... padahal beliau bid’ahkan tapi juga “hasanahkan” maulid Nabi.
Mau contoh dari Nusantara?
As-Surkati juga dianggap salafi… coba pelajari lebih dalam.
Prof. Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy adalah gurunya salah satu ustadz senior. Belum lagi M.Nasir — dengan ukuran “meteran manhaj” sekarang, mungkin udah dilabeli hizbi, ikhwani, dll.
Terus kenapa sekarang umat dicekoki dengan pesan: “berguru itu ke yang jelas”? 😢
Oke… setelah Perang Teluk, salafi pecah jadi tiga:
1. Sururi
2. Madkhali
3. Yang diem aja — tapi biasanya dianggap nggak jelas. Ujung-ujungnya dituduh sururi, ikhwani… kecuali yang punya posisi di KSA, biasanya aman dari tahdzir.
Cukup? Belum…
Kelompok nomor dua itu kemudian punya banyak “anak”:
1. Haddadi
2. Hajuri
3. Shoafiqah
4. Mushoifiqah (atau apa ya, lupa... udah nggak jelas)
5. Halabiyyun (nyaris ketinggalan)
6. Malibariyyiin
Belum lagi yang “anak-anak kecilnya”. Di Indonesia, misalnya, ada kelompok Jumhur dan non-Jumhur.
Di Yaman? Pecahannya juga banyak.
Mesir? Haddits walaa haraj:
Raslan x Ridhwani x Biely x Hasan Banna (salafi)
Sekarang coba pikir deh… yang bikin pecah-pecah itu siapa dan kenapa?
Sebenernya nggak ada satu pun muslim yang nggak pengin jadi salafi — maksudnya: kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salaf.
Tapi... salafi yang mana? Yang simpel dong.
Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salaf — yang bener-bener salaf, bukan pemahaman ustadz ente tentang salaf.
Nggak ada yang sempurna, bro. Tapi kalau semangatnya sama, ya udah cukup.
Kalau udah ngerasa paling orisinil sedunia… ya maaf-maaf aja: norak!