Mengapa Nabi Harus Disusui oleh Halimah
Ketika Nabi SAW baru saja dilahirkan sebagai yatim, bayi masih merah kayak gitu kok bisa-bisanya dilepas dan disusui oleh orang lain? Memangnya ada apa?
Apakah Ibunda Aminah kering air susunya? Atau punya air susu tapi ogah menyusui?
Anggaplah misalnya itu yang terjadi, lalu ada sosok Halimah yang bisa menyusui bayi nabi. Seharusnya bayi itu tetap di rumah ibunya. Halimah lah yang tinggal di rumah Aminah. Toh dia diberi upah juga.
Tapi faktanya tidak begitu. Bayi Nabi SAW itu dibawa pulang ke rumah Halimah. Rumahnya itu bukan di Mekkah, tapi nun jauh disana, yaitu perkampungan Bani Sa'ad.
Berdasarkan sumber-sumber sejarah dan geografis, jarak antara Mekkah ke perkampungan Bani Sa'ad, tempat Halimah As-Sa'diyah tinggal, diperkirakan sekitar 120 hingga 150 kilometer.
Lokasi Bani Sa'ad berada di arah tenggara Mekkah, di sebuah lembah dekat kota Thaif modern.
Perjalanan menuju lokasi tersebut melewati daerah gurun dan pegunungan, dan pada masa itu, perjalanan dengan unta memakan waktu beberapa hari.
Pertanyaannya: kok bisa setega itu? Bayi itu anak semata wayang, tidak punya ayah, hanya ada ibu. Kok bisa Aminah melepas anak semata wayang tinggal di kampung bersama orang yang bukan saudara, bukan teman, bukan siapa-siapa?
Kalau cuma butuh air susu, memangnya Aminah tidak keluar air susunya?
Ternyata Aminah punya banyak air susu. Sampai tumpe-tumpe bahkan.
Ini logikanya gimana, coba?
* * *
Dari sudut pandang modern, tradisi ini terasa sulit dipahami dan bahkan mungkin terlihat tidak berperasaan.
Namun, untuk memahami keunikan ini, kita harus melihatnya melalui lensa nilai-nilai budaya yang berlaku saat itu.
Tradisi ini bukan tentang kurangnya cinta, melainkan tentang prioritas budaya yang sangat berbeda dari kita hari ini.
1. Bahasa Sebagai Inti Kehormatan dan Kekuasaan
Di masyarakat Arab pra-Islam, dan khususnya di kalangan suku Quraisy, bahasa bukanlah sekadar alat komunikasi, melainkan inti dari identitas, kehormatan, dan kekuasaan.
2. Pembeda Status Sosial
Kemampuan untuk berbicara dengan bahasa yang paling fasih dan indah adalah penanda status tertinggi.
Para pemimpin, penyair, dan orator terhebat dihormati dan didengar.
Seseorang yang tidak menguasai fashahat al-lisan akan dianggap rendah atau asing.
3. Fondasi Kekuatan
Segala sesuatu, mulai dari perjanjian damai hingga resolusi konflik dan penyebaran tradisi, dilakukan melalui kekuatan kata-kata.
Menguasai bahasa yang murni sama dengan menguasai kekuasaan.
4. Investasi Masa Depan
Mengirim bayi ke pedalaman untuk mendapatkan bahasa yang murni adalah bentuk investasi terbaik yang bisa diberikan orang tua bangsawan kepada anak mereka, mirip dengan mengirim anak ke universitas terbaik di luar negeri hari ini.
Orang tua rela berpisah demi masa depan terbaik bagi anak mereka.
5. Kepercayaan, Bukan Pembuangan
Penting juga untuk memahami bahwa ini bukan tindakan "membuang" anak.
Halimah As-Sa'diyah, ibu susu Nabi, bukanlah orang asing yang sembarangan. Ia berasal dari suku Bani Sa'ad yang terkenal karena kemurnian bahasanya dan integritas moralnya.
Pemilihan ibu susu adalah proses yang sangat selektif dan didasarkan pada kepercayaan penuh dari keluarga Nabi.
Jadi, dari kacamata mereka, tradisi ini adalah ekspresi cinta dan tanggung jawab orang tua yang paling tulus, yang berfokus pada pembentukan karakter dan kemampuan anak untuk menjadi pemimpin di masa depan.
( Dr. H. Ahmad Sarwat, Lc, MA )