Maksiat Menghalangi Rezeki?
Apakah maksiat bisa menghalangi rezeki?
Ya, dalam banyak riwayat disebutkan bahwa maksiat bisa menjadi sebab terhalangnya rezeki. Misalnya dalam hadis:
وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ
“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar terhalang dari rezeki karena dosa yang ia lakukan.” (HR. Ibn Mājah).
Maksudnya, dosa bisa menyebabkan berkurangnya keberkahan atau tertutupnya pintu-pintu rezeki tertentu.
Tapi, bukankah rezeki telah ditakdirkan? Lalu apa peran usaha manusia?
Jawabannya:
Dalam akidah Islam, rezeki sudah ditakdirkan Allah. Dalilnya, Allah berfirman:
وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ
“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. adz-Dzāriyāt: 22)
Juga dalam hadis Nabi ﷺ tentang pencatatan takdir:
“Ditulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia bahagia atau celaka.” (HR. Bukhari & Muslim).
Namun, usaha manusia (ikhtiar) adalah bagian dari sebab yang Allah takdirkan. Jadi bukan berarti manusia hanya menunggu; ia harus bekerja, berusaha, dan berdoa. Hasil akhirnya tetap di bawah kehendak Allah.
Kalau begitu, kenapa ada orang bermaksiat tapi rezekinya lancar?
Jawabannya:
1. Rezeki itu bermacam-macam: bukan hanya harta. Ada rezeki berupa kesehatan, ketenangan, keluarga baik, ilmu, iman, dll. Orang yang banyak harta tapi hidupnya penuh gelisah, itu sebenarnya kekurangan rezeki di sisi lain.
2. Ujian dan istidrāj (penangguhan): bisa jadi rezeki lancar bagi orang bermaksiat adalah ujian, atau bahkan bentuk “istidrāj” (Allah memberikan dunia sementara lalu menimpakan azab di akhirat).
• Allah berfirman:
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ
(QS. al-An‘ām: 44)
“Tatkala mereka melupakan peringatan yang diberikan kepada mereka, Kami bukakan untuk mereka semua pintu kesenangan, hingga apabila mereka bergembira dengan apa yang diberikan, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.”
3. Allah memberi sesuai kehendak-Nya: Rezeki dunia bukan tanda cinta Allah. Kadang orang saleh diuji dengan kesempitan, sedangkan orang fajir diberi kelapangan, untuk tujuan yang berbeda.
Kesimpulannya
1. Rezeki sudah ditakdirkan Allah, tapi manusia diperintahkan berusaha.
2. Dosa bisa mengurangi keberkahan rezeki atau menutup sebagian pintu rezeki.
3. Orang bermaksiat bisa saja tetap kaya karena:
• Rezeki harta bukan satu-satunya bentuk rezeki.
• Bisa jadi itu ujian atau istidrāj.
• Allah melapangkan atau menyempitkan rezeki sesuai hikmah-Nya, bukan karena standar “baik-buruk” manusia.