Catatan Ngaji Gus Baha
Catatan Ngaji Gus Baha : Peringatan Maulid Nabi & Haul KH. Abd. Hamid Pasuruan
في صحيح البخاري ( ١/٢٠٠ - قمرة الحديث: ١٨٥٤ )
حدثنا الحميدي حدثنا سفيان قال : حدثوني عن الزهري عن محمد بن جبير بن مطعم من أبيه رضي الله عنه قال : سمعت التي يقرأ في المغرب بالطور، فلما بلغ هذه الآية أم الخلفي من غير شيء أم هم الخالقون؟ أم خلقوا السماوات والأرض؟ بل لا يوقنون، أم عندهم خرافي ربك أم هم المسيطرون ؟" قال " كاد قلبي أن يطير. "
ابن حجر العسقلاني في شرح هذا الحديث " .. لأن ما لا وجود له كيف يخلق "
مسند أحمد ( ۷/۲۳ )
فكأنما صدع عن قلبي حين سمعت القرآن "
بسند أحمد ( ٧/١٤٢ - نمرة الحديث: ١٧٦٣٣ )
1. Sebenarnya yg menyelamatkan Agama ini adalah logika/ilmu tauhid (الدين العقلي). Sehingga Rasululullah Saw punya perilaku yg tidak lazim layaknya hamba pilihan.
Saya (Gus Baha') itu sering membela Nabi Muhammad Saw dengan logika. "Seandainya Nabi Isa As sholat semalaman dengan Nabi dahar niku tetep luweh afdhol Nabi Muhammad Saw ketika dahar. Karena Nabi Muhammad Saw, dadi Nabi iku setelah Nabi Isa As di tuhankan. Sehingga Nabi terus menerus memperlihatkan sisi kemanusiaan (الأعراض البشرية).
Sebab itu Nabi pernah di puji Allah dengan standart yg unik. (Q.S. Al-Furqon : 20)
وَمَآ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّآ اِنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَامَ وَيَمْشُوْنَ فِى الْاَسْوَاقِ....
Nabi itu dahar (makan), tapi kata dahar (الطَّعَامَ) ini menjadi sebuah نفي لألوهية محمد — menafikan kalau Nabi ini tuhan. Sehingga dengan adanya maklumat ini, Nabi justru tidak akan menjadi tuhan.
Makane, kulo seneng, jenengan-jenengan yg suka makan itu di jiwai. Niati mengikuti Nabi Muhammad Saw dalam sisi kemanusiaanya (الأعراض اللشرية). Karena ini juga termasuk warisan Nabi. Jadi hal-hal biasa kalau di lakukan Nabi Muhammad Saw itu menjadi hal yg luar biasa.
Dan inj juga menjadi tauhid bagi kita, Ahlu Sunnah wal Jam'ah dan seluruh umat islam, bahwa Nabi itu memilki sifat Basyariyyah. Nek coro Sayyid Marzuqi niku :
وَجَـائِزٌ فِي حَـقِّهِمْ مِنْ عَرَضِ # بِغَيْـرِ نَقْصٍ كَخَـفِيْفِ الْمَرَضِ
Sehingga ayat 20 surat Al-Furqon itu sebagai bentuk muji Nabi yg luar biasa. Karena pujian itu menafikan Nabi kalau Beliau tidak akan jadi tuhan atau di tuhankan.
Makanya Nabi itu sangat senang dan bangga menyebut dirinya dengan انا عبد الله و رسوله. Nabi memulainya dengan kata Abdullah, bukan menyebut gelarnya terlebih dahulu.
2. Tentang Mu'jizat
Nabi itu orang yg menghindari Mu'jizat yg khoriqun lil adat. Malah Allah ngendikan (Q.S Al-Isro' : 59)
وَمَا مَنَعَنَا أَن نُّرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَن كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ...
Muhammad kamu ora usah jaluk mu'jizat. Pengalaman-Ku (Allah) ketika aku ngekek ie mu'jizat iku malah dadi masalah. Karena misalakn mu'jizatnya dahsyat itu malah di anggep sihir.
Misalnya,
وَآتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِهَا ۚ وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا
Ada onta keluar dari batu besar, sebagai mu'jizat Nabi sholeh As malah menjadi masalah.
3. Terus niki kulo cerito ten hadis shohih bukhori. Ada orang musrik yg cerdas, sampai dia di jadikan delegasi untuk membebaskan tawanan perang badar. Ketika ia dagang ke Madinah mau membebaskan kawanannya. Nabi itu nggeh tetap dalam posisi sholat. Pas itu Nabi sedanv sholat Magrib.
Nabi membaca saat itu membaca surat At-Tur. Dan ketika Nabi mebaca sampai ayat,
اَمۡ خُلِقُوۡا مِنۡ غَيۡرِ شَىۡءٍ اَمۡ هُمُ الۡخٰلِقُوۡنَ...
Ketika Nabi sampai ayat ini, Jubair bin Mut'im komentar, "فكأنما صدع قلبي حين سمعت القرآن. Di riwayat lain, كاد قلبس ان يطير. Karena di sini Allah Swt sedang mengajak berlogika. "Kalau anda merasa Tuhan, anda harus merasa kalau yg menciptakan Bumi ini juga anda". Kan gak juga to, Nabi Isa As lahir jiga di bumi, firaun pun sama. Sehingga Nabi Isa tetap berstatus Abdullah.
Mendengar ini, Jubair bin Mu'im orang musrik yg cerdas kemudian menjadi Iman. Nabi tidak seminar lo ini, yo ora pidato di panggung. Nabi hanya sholat.
Dadi wong nek kondang iku piambek e namung sholat—wiridan niki pon mandi. Mboten usah ngajak, mboten usah ngrayu iku wes mandi. Hahaha.
Kulo niku nate di tangkleti kiyai, "Gus jenengan nek ngaji kok nguawur ?". Tak jawab, "Ngawurku iku bener, ati-atimu iku nutupi goblogmu".
Ini bukan soal apa-apa ya. Tapi kebenaran sejati itu tidak butuh hati-hati. Misale 1 tambah 1 ya 2. Sehingga dalam kebenaran Allab ngendikan (Q.S Al-Ambiya' : 18)
بَلْ نَقْذِفُ بِٱلْحَقِّ عَلَى ٱلْبَٰطِلِ فَيَدْمَغُهُۥ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ ۚ وَلَكُمُ ٱلْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ
Kulo melihag di kamus kata قدف itu artinya melempar sekenannya. Karena ini perkara yg haq, mbok di lempar sekenanya ya tetep benar.
Makanya Burdah itu ketika muji Qur'an itu :
فالدر يزداد حسناً وهو منتظم # وليس ينقص قدراً غير منتظم
"Mutiara di lepas begjitu saja ya indah, di rankai jadi perhiasan juga indah karena ia tetaplah mutiara".
Jadi intinya, orang yg membawa perkara yg haq itu ya biasa saja, tidak usah menjaga image. Karena agama ini di kawal oleh logika yg sudab absolut. Makanya Allah sangat PD dengan menggunakan (بَلْ نَقْذِفُ بِٱلْحَقِّ عَلَى ٱلْبَٰطِلِ فَيَدْمَغُهُ).
Makanya Agama ini pernah di bawa oleh orang yg sopan seperti Abu Bakr Ra, di bawa oleh orang yg keras dan sering maeah seperti Umar, pernah di bawa oleh budak seperti bilal. Dan semua da'wah dengan caranya sendiri-diri.
Ini ada kisah, ada orang masuk islam sebab dia i'tikaf di hadapan hubal (berhala). Pada saat itu ada luwak kencing do atas hubal. Terus dia ngomong, "mosok tuhan kok di kencingi luwak. Ini tuhan model apa ini..!?".
Ada orang islam di tanya Imam Al-Asy'ari, "kamu itu orang badui, kamu gak tau apa-apa, tapi kok menyembah Allah ?. Dia menjawab, "kalau ada kotoran onta berarti ada ontanya, kalau ada bekas jejak onta ya berarti ada onta yg lewat—kalau ada makhluq berarti ada kholiq". Jadi begitu mudahnya Agama islam ini di temukan.
Pon nggeh kulo lanjutke, jadi Jubair bin Mut'im itu masuk islam sebab pertanyaan pertanyaan di Al-Qur'an tadi.
4. Saya itu punya doa, ketika tak baca saya ndk ingin doa itu mustajab. Karena doa saya sudah sering di ijabahi. Ini bukan soal PD, tapi soal ubudiyyah.
اللهم إنك لست بإله استحدثناه ، ولا برب ابتدعناه ، ولا كان لنا قبلك إله نلجأ إليه ونذرك ، ولا أعانك على خلقنا أحد فنشركه فيك ، تباركت وتعاليت
"Ya Allah, memang Engkau itu benar-benar Tuhan yg tidak kita adakan. Memang Engkau sudah asli Tuhan. ..... dan Engkau ketika menciptakan saya, Engkau tidak minta tolong siapa-siapa. Makanya kita tidak perlu men-syirikan Engkau, seban Engkau adalah aktor tunggal".
Doa ini isinya muji semua. Gak ada minta-mintanya. Nah doa ini, doanya maqom unggul. Ini maqomnya :
من شغله ذكري عن مسألتي أعطيته أفضل ما أعطي السائلين
"Orang yg sibuk nyebut Allah ndak pernah minta, itu akan di kasih Allah di atas permintaannya orang-orang yg minta"
Makannya saya itu berani Jumawa. Mas Amak berdoa semalaman, dengan saya yg bermunajat itu pasti mustajabah saya. Hahaha.
5. Saya itu sering di tanya orang ketika di Kampus, "Gus kenapa nggeh Nabi itu kan Religius, tapi kok istrinya banyak ?.". Nah di sini, mau tidak mau harus dk jawab dengan logika.
Tak jawab, "membaikan orang satu ? Baik. Membaikan orang 2 ?. Tambah Baik. Membaikan oramg 3 ?. Malah tambah baik.". Sekarang kebalikannya. Kalau amda menelantarkan orang 1 ?. Harom. Menelantarkan oramg 2 ?. Mbah e harom. Menelantarkan orang 3 ?. Buyute harom. Hahahah. "Jawaban jenengan masuk Gus, Nabi boleh poligami. Tapi orang yg potensi masalah, itu gak boleh".
Artinya apa ?. Kadang kita bisa menjawab persoalan agama ini ya dengan akal.
6. Terus ini ada lagi di musnad ahmad.
....لا تشركوا بالله شيئا فإن مثل من أشرك بالله كمثل رجل اشترى عبدا من خالص ماله بذهب أو ورق ثم أسكنه دارا فقال اعمل وارفع إلي، فجعل يعمل ويرفع إلى غير سيده! فأيكم يرضى أن يكون عبده كذلك! فإن الله خلقكم ورقكم فلا تشركوا به شيئا...
Nabi itu mencontohkan kalau Allah tidak mungkin punya syarik. Nabi itu mencontohkan gampang.
"Kamu itu punya pekerja, punya pembantu. Kamu modali uang miliaran. Tapi setelah berhas, hasilnya di kasihkan orang lain. Terimakasihnya malah kepada orang lain.
Nabi terus tanya. "Siapa yg suka pembatu seperti itu ?. Ya gak ada ya Rasulallah".
Begitupun juga Allah, Allah yg bikin langit, Allah yg bikin bumi, kemudian ibadah kamu, kamu kasihkan kepada orang lain.
7. Kitab Ihya' itu kalau bisa jangan hanya sekedar Ngaji, Tapi di pelajari. Saya belajar ihya' itu setiap hurufnya saya pelajari. Ihya' saya sudah menjadi syarah karena ada taqrirannya. Kalau gak paham saya pakai kitab ithaf. Kalau masih gak paham saya sholat hajat.
Ini Imam Ghozali menjelaskan dawuhnya Sayyidina Ali Kmw :
ثم لن تَخلو الأرضُ من قائِمٍ للَّهِ تعالى بحُجَّةٍ؛ إمَّا ظاهِرٌ مَكشوفٌ،وإمَّا خائِفٌ مَقهورٌ؛ لئَلَّا تَبطُلَ حُجَجُ اللهِ تعالى وبَيِّنة
Saya beri contoh ya, kenapa Islam itu abadi. Ada Ulama' namanya Wahab bin Munabbih. Kata Wahab bin Munabbih : "saya itu membaca ratusan kitab, dan tidak ada Nabi yg akalnya unggul di banding Nabi Muhammad Saw".
Kenapa kok bisa ?. Nabi Nabi terdahulu itu menangi umat e seng mbalelo. Nah Nabi Muhammad itu setelah Beliau wafat, Islam ini di teruskan perjuangannya oleh—diganti KUA, di ganti moden, di ganti moden niku islam tetel mlaku. Karena Nabi ninggali warisan ilmu agama yg masuk akal.
Makanya kata Ulama' Ulama' Al-Azhar itu :
لو لم يكون ما جاء به محمد دينا لكان فى عقل الناس حسانا
"Andaikan Nabi Muhammad tidak memaklumatkan kalau ini adalah ajaran Agama. Orang pasti sepakat kalau itu logika yg bagus"
Karena agama ini mapan, ketika santri mutung ko kiyaine iku yo ra terus ora islam. Dia tetep islam.
Ora cocok karo ormas tertentu, yo tetep islam. Nabine hl pancet tetep Nabi Muhammad. Seng sitok gelem gawe Sayyidina seng sitok ora gelem gawe sayyidina yo tetep podo. P
Nabine Nabi Muhammad.
Pon nggeh, Agama ini untuk liqoumihi ya'qilun. Agama ini akan awet. Walaupun yg megang ini agak kacau. Ya tapi gak papa, wong kita bukan orang yg ma'shum.
7. Kenapa saya PD mengatakan diri saya ini Alim. KarenA orang islam itu wajib mengatakan kalau dia alim. Karena Allah itu dzat yg Ad-Dhohir. Wujudullah itu ad-Dhohir. Sehingga orang yg tidak mengatakan dia alim itu malah salah.
Makanya orang islam itu wajib yaqin kalau diringa alim. Makanya Allah dawuh (Q.S Al-Baqoroh : 259)
...فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ..
(Q.S At-Tholaq : 12)
يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
Karena Allah itu mudah di kenali, masak kamu gak bisa kenal ?.
Makanya dk ithaf di terangkan. Ada orang itu di tanya, "apakah kamu alim ?". Dia menjawab :
ان قلت لست بعالم وقد قرئت فى كتاب الله كنت كاذبا
"Aku ki moco Qur'an, kok mbok arani ora alim. Wo ngenyek wong"
Coba to, orang tu ngerasa pinter sebab ngerti eropa, ngerasa pinter sebab ngerti amerika. La masak kita ndak merasa pinter wong kita itu ngerti Qul Huwa Allahi Ahad ?. Yg benar saja .!. "Kulo tawadhu' Gus". Iku tawadhu seng kliru.
Niki madzhab kulo. Sampean ra setuju yo terserah.
8. Kata mbah saya, Mbah hamid namanya kecilnya itu abdul mu'thi. Senengane berontak. Berontak yg tidak demo anarkis hahaha.
Beliau belajar lama sekali di termas, kurang lebih selama 12 tahun. Beliau sueneng ilmu balaghoh. Sampek di juluki Abdul Juman.
Balaghoh iku ya penting. Karena dalam ilmu balaghoh ada kontruksi "ma yajibu taqdim". Contohnya adalah, Allah itu kan seneng banget ten Nabi Muhammad Saw. Ketika Allah menegur nabi Muhammad Saw, supaya Nabi tidak panik. Redaksi yg di gunakan itu "عَفَا اللَّهُ عَنكَ — sudah Muhammad kamu sudah tak maafkan".
Nah setelah ink Allah baru menunjukkan sisi yg di anggap salah (Ingat sisi yg di anggap salah, bukan bukan murni salah).
لِمَ أَذِنتَ لَهُمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَتَعْلَمَ الْكَاذِبِينَ
Nah ini contoh dari bab "Ma Yajibu Taqdim". Di sebut juga dengan "ta'jilul Masaroh — تعجيل المسرة (ngasih info yg gembira).
Padahal dalam ayat ini konteksnya itu Allah mau negur Kanjeng Nabi. Tapi Allah men-Taqdimkan : Afa Allahu anka — kamu tak maafkan.
Contoh lagi :
Misale الحمد لله. Itu kan pakai jumlah ismiyyah. Karena jumlah ismiyyah itu menunjukan "status".
Nah tapi kalau jumlah fi'liyyah itu bisa berarti tajaddud — profan.
Contohnya :
رايت زيدا خطى ثوبه
"Saya melihat zaid, sedang menjahit bajunya"
Nah ini berarti menunjukan sesuatu yang temporer. Karane berupa jumlah fi'liyyah. Tapj kalau di bahasakan dengan jumlah ismiyyah زيد خايط (zaid seorang penjahit). Ini menunjukan sebuah profesi.
Maka ketika kesalahan Nabi Adam di redaksikan
...وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ.
Itu tidak masalah.
Karena di redaksikan dengan jumlah fi'liyyah. Artinya, "salah" itu bukan statusnya Nabi Adam.
Buktinya Nabi adam tetap menjadi Nabi pilihan
اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَىٰ
01 September 2025