Wahabi Ngrecoki
Memanglah ke-faqihan itu sangat dibutuhkan dalam menyampaikan agama ini. Bukan hanya ilmu dan semangat menggebu.
Salah satu fenomena yang kami saksikan di salah satu dusun di Sipora Selatan adalah hilangnya jama'ah masjid. Bagaimana ceritanya?
Di dusun ini seluruh yang sudah Islam 100% muallaf, dengan artian mereka bukanlah muslim dari semenjak lahir. Bahkan da'i yang mendakwahi dan mengajari mereka tentang Islam dulunya juga non-muslim.
Di sana sudah ada masjid yang didirikan oleh DDII dan Muhammadiyah. Sekalipun bukan seluruh penduduk muslim yang jumlahnya sudah sampai 100 orang lebih melaksanakan shalat di masjid, masjid itu tetap hidup. Ada kegiatan shalat berjama'ah dan jum'atannya.
Sampai datang orang bermanhaj yang entah dari mana munculnya menyampaikan desas desus bahwa tidak ada di dalam Islam hari raya selain Idul Fitri dan Idul Adha. Tidak ada perayaan tahun baru, Maulid Nabi, Isra' dan Mi'raj, dan kegiatan-kegiatan lain selain shalat di masjid. Perbuatan itu adalah bid'ah.
Padahal bagi masyarakat muslim di sana sangat penting acara-acara semacam itu. Apalagi ada acara makan-makannya. Karena di agama mereka sebelumnya banyak perayaan-perayaannya. Jadi mereka merasa hampa dan hambar ketika tidak ada syi'ar atau ritual yang mengingatkan mereka tentang agama ini. Mayoritas mereka hanya sekedar bersyahadat tapi apakah menjalankan syari'at Islam seperti shalat, jum'atan, puasa dan lainnya, wallahu a'lam. Kelihatannya tidak, kecuali segelintir di antara mereka.
Mereka tidak mau datang lagi ke masjid. Padahal di sanalah kesempatan da'i mengajari mereka tentang Islam lebih dalam. Lagi pula, mereka menjadi bahan cemoohan saudara mereka yang masih noni. Dalam agama barumu tidak seperti agama kami yang ada perayaan-perayaannya. Agama Islam agama yang kaku dan monoton, kata mereka.
Yang anehnya, setelah masjid kosong, orang yang menebarkan desas-desus itu menghilang, bukannya dia mengambil alih pendidikan umat, malah menghilang. Kepentingan mereka hanya mengingatkan bahaya bid'ah dan menjauhkan orang dari bid'ah. Tapi mereka tidak sadar kalau mereka justru mengeluarkan kembali orang dari Islam untuk balik lagi kepada kafir.
Mereka tidak punya prioritas dalam agama ini, karena memang fikih prioritas bagi mereka adalah masalah bid'ah.
Anehnya kata da'i di sana, kalau Rasulullah dan para shahabat dulu mendapatkan rintangan dakwah dari orang kafir musyrik, kami di sini justru mendapatkan halangan dari orang yang sudah bersyahadat dan selalu beratribut seolah-olah Islami dengan penampilan seperti orang Arab. Tapi arab terpaksa dimaklumi.
Saya pun tidak habis pikir, apalah yang ada dalam batok kepala mereka? Bukannya mengislamkan umat yang non-muslim, tapi justru mengeluarkan yang sudah muslim dari Islam. Di mana-mana bikin gaduh dan rusuh. Tapi merasa diri paling berpegang teguh dengan agama ini. Sudah sekian bukti dan penjelasan di hadapan kaum yang mengaku paling nyunnah ini, tapi tidak ada inshaf-inshafnya.
Benarlah kata sya'ir:
يدرك الذكي بنظير واحد .... ما لا يدركه الغبي بألف شاهد
https://www.facebook.com/share/p/17G5iitEPp/