Wahabi dan Sahabat
Wahabi dan Sahabat
1. Sahabat mencium mushaf
Soleh Fauzan (Wahabi) berkomentar, “Tidak ada dalilnya. Itu cuma ijtihad sebagian sahabat. Itu perbuatan orang awam dan bodoh.”
2. Sahabat terlibat konflik politis
Rabi’ Al Madkhali (Wahabi) berkomentar, “Mereka (sahabat) itu tidak paham masalah ini dan terjatuh dalam konflik.”
3. Sahabat (Abu Hurairah) memberi wejangan sebelum shalat Jumat
Al Albani (Wahabi) berkomentar, “Itu bid’ah. Kadang sahabat juga terjatuh pada bid’ah tapi tidak disebut ahli bid’ah.”
4. Sahabat berwasiat agar dibacakan Al Quran setelah meninggal dan setelah dikubur
Ibnu Utsaimin (Wahabi) berkomentar, “Itu ijtihad sahabat saja dan bertentangan dengan petunjuk Nabi.”
5. Fatwa sahabat (Umar dan Ali)
Ibnu Taimiyah (inspirator Wahabi) berkomentar, “Ada fatwa-fatwa mereka (Umar dan Ali) yang menabrak teks (Al Quran dan As Sunnah).”
6. Kalau seluruh sahabat bersepakat (ijma’) bagaimana?
Muqbil al Wadi’i (Wahabi) menjawab, “Ijma’ mereka bukan hujjah. Yang hujjah hanyalah Al Quran dan As Sunnah.”
7. Kalau sahabat (Abu Bakar) bertentangan dengan Wahabi?
Hasan Abdul Ghafar (Wahabi) menjawab, “Andai Abu Bakar sekalipun melakukan itu pasti akan kami ingkari dan kami katakan: Abu Bakar salah.”
8. Sahabat (Ibnu Umar) sangat teguh mengikuti Rasulullah SAW
Al Albani (Wahabi) berkomentar, “Orang itu (Ibnu Umar) memang terkenal ghuluw (ekstrem) dan tasyaddud (radikal). Dia bersemangat melakukan sesuatu yang bukan sunnah.”
Ibnu Taimiyah berkomentar, “Ini tidak pernah diajarkan. Perbuatan seorang sahabat ini termasuk bid’ah dan menyerupai Ahlul Kitab serta menjadi perantara syirik.”
Ibnu Taimiyah juga berkata, “Itu bukan hujjah. Berapa banyak mujtahid-mujtahid Salaf mengatakan dan melakukan bid’ah tanpa tahu bahwa itu bid’ah.”
Setelah itu semua, mereka mengatakan, “Kami mengikuti Al Quran dan As Sunnah berdasarkan pemahaman Salafus Shalih, yaitu sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in.”