Mental Yang Menular
Mental yang menular
Ada sebuah pribahasa yang cukup populer dalam berbagai literatur:
الناس على دين ملوكهم
“Rakyat tergantung pada kebiasaan penguasa mereka”.
Bagaimana penguasa begitu pula rakyat. Kebiasaan dan mental penguasa akan menular pada masyarakat yang dipimpinnya.
Imam Ibnu Jarir Thabari menulis dalam tarikhnya:
كان الوليد صاحب بناء واتخاذ المصانع والضياع وكان الناس يلقون في زمانه فإنما يسأل بعضهم بعضا عن البناء والمصانع، فولي سليمان فكان صاحب نكاح وطعام فكان الناس يسأل بعضهم بعضا عن التزويج والجواري، فلما ولي عمر بن عبد العزيز كانوا يلتقون فيقول الرجل للرجل ما وراءك الليلة وكم تحفظ القرآن ومتى تختم ومتى ختمت وما تصوم من الشهر (تاريخ الطبري)
Walid bin Abdul Malik adalah khalifah yang suka membangun, memperbanyak produksi dan memperluas daerah kekuasaan. Sehingga masyarakat di zamannya ketika bertemu yang mereka perbincangkan adalah tentang bangunan dan produksi.
Ketika Sulaiman bin Abdul Malik berkuasa, ia seorang khalifah yang suka kawin dan makan. Sehingga masyarakat di masa itu kalau bertemu saling bertanya tentang perkara kawin dan membeli budak.
Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, ia seorang yang shaleh dan zuhud. Sehingga masyakarat di masa itu kalau bertemu mereka saling bertanya, “Apa amalmu malam tadi?” “Berapa juz al-Quran yang kau hafal?” “Sudah khatam berapa kali?” “Puasa sunnah apa yang engkau lakukan bulan ini?”
***
Begitu besar pengaruh mental dan kebiasaan penguasa terhadap rakyat yang dipimpinnya. Tapi ini tidak berarti kesalahan hanya terletak pada penguasa saja, karena dalam sebuah hadits disebutkan:
كما تكونوا يولى عليكم
“Bagaimana kalian, begitulah kalian akan dipimpin.” (hadits ini dinilai dhaif oleh banyak ulama)
Jadi keduanya bersifat dialektis. Namun poin utamanya, mental dan karakter seorang pemimpin sangat mempengaruhi mental dan karakter masyarakat yang dipimpinnya.
Suatu ketika Umar bin Khattab dikirimi harta rampasan Persia yang sangat banyak dan penuh barang-barang berharga. Tak satupun yang diambil oleh para tentara atau masyarakat. Semua diserahkan kepada Khalifah secara utuh. Melihat hal itu, Umar berkata dengan terharu: “Sesungguhnya mereka yang menyerahkan semua ini adalah orang-orang yang amanah.”
Ali bin Abi Thalib yang ikut menyaksikan penyerahan ghanimah itu berkata kepada Umar:
إنك عففت فعفَّت رعيتك ولو رتعت لرتعَت
“Itu karena engkau bersih maka rakyatmu juga bersih. Kalau engkau menyimpang rakyatmu juga menyimpang.”
Boleh jadi ini tidak hanya tentang pemerintahan pusat, tapi juga sampai ke wilayah dan daerah. Bagaimana mental pemimpinnya begitu juga mental masyarakatnya.
Tapi sekali lagi, hubungannya timbal-balik. Sebagaimana halnya mental pemimpin mempengaruhi mental masyarakat maka mental masyarakat juga sangat menentukan siapa sosok yang akan memimpinnya, tanpa menafikan orang-orang yang keluar dari kaidah umum, yang bertahan dalam kebaikan meskipun disekitarnya orang-orang sudah berubah menjadi buruk.
والله تعالى أعلم وأحكم
[YJ]