HPK

mesothelioma survival rates,structured settlement annuity companies,mesothelioma attorneys california,structured settlements annuities,structured settlement buyer,mesothelioma suit,mesothelioma claim,small business administration sba,structured settlement purchasers,wisconsin mesothelioma attorney,houston tx auto insurance,mesotheliama,mesothelioma lawyer virginia,seattle mesothelioma lawyer,selling my structured settlement,mesothelioma attorney illinois,selling annuity,mesothelioma trial attorney,injury lawyer houston tx,baltimore mesothelioma attorneys,mesothelioma care,mesothelioma lawyer texas,structered settlement,houston motorcycle accident lawyer,p0135 honda civic 2004,structured settlement investments,mesothelioma lawyer dallas,caraccidentlawyer,structured settlemen,houston mesothelioma attorney,structured settlement sell,new york mesothelioma law firm,cash out structured settlement,mesothelioma lawyer chicago,lawsuit mesothelioma,truck accident attorney los angeles,asbestos exposure lawyers,mesothelioma cases,emergency response plan ppt,support.peachtree.com,structured settlement quote,semi truck accident lawyers,auto accident attorney Torrance,mesothelioma lawyer asbestos cancer lawsuit,mesothelioma lawyers san diego,asbestos mesothelioma lawsuit,buying structured settlements,mesothelioma attorney assistance,tennessee mesothelioma lawyer,earthlink business internet,meso lawyer,tucson car accident attorney,accident attorney orange county,mesothelioma litigation,mesothelioma settlements amounts,mesothelioma law firms,new mexico mesothelioma lawyer,accident attorneys orange county,mesothelioma lawsuit,personal injury accident lawyer,purchase structured settlements,firm law mesothelioma,car accident lawyers los angeles,mesothelioma attorneys,structured settlement company,auto accident lawyer san francisco,mesotheolima,los angeles motorcycle accident lawyer,mesothelioma attorney florida,broward county dui lawyer,state of california car insurance,selling a structured settlement,best accident attorneys,accident attorney san bernardino,mesothelioma ct,hughes net business,california motorcycle accident lawyer,mesothelioma help,washington mesothelioma attorney,best mesothelioma lawyers,diagnosed with mesothelioma,motorcycle accident attorney chicago,structured settlement need cash now,mesothelioma settlement amounts,motorcycle accident attorney sacramento,alcohol rehab center in florida,fast cash for house,car accident lawyer michigan,maritime lawyer houston,mesothelioma personal injury lawyers,personal injury attorney ocala fl,business voice mail service,california mesothelioma attorney,offshore accident lawyer,buy structured settlements,philadelphia mesothelioma lawyer,selling structured settlement,workplace accident attorney,illinois mesothelioma lawyer
Pertanyaan

Akidah, Makna Kaifa

Jawaban:

 Manhaj "Tebang Pilih Salaf" dalam Tradisi Wahabi: Imam Malik sebagai Contoh Kasus


Oleh: Dr. Walid bin al-Shalah


Saya sebelumnya telah mengeluarkan sembilan riwayat bersanad dari Imam Malik rahimahullah ketika beliau ditanya tentang istiwa, kemudian saya menemukan riwayat kesepuluh dengan lafaz: “Istiwa-Nya tidak diketahui, dan perbuatan-Nya tidak dapat dipahami.” Riwayat ini sangat penting karena meruntuhkan mimpi mereka dan menggugurkan pegangan mereka pada riwayat “Istiwa itu diketahui, dan kaifiyahnya tidak diketahui” dengan alasan bahwa riwayat ini berarti bahwa istiwa diketahui maknanya, yaitu makna lahiriah yang bersifat fisik menurut mereka, dan bahwa Allah memiliki suatu kaifiyah, tetapi tidak diketahui oleh kita melainkan hanya Dia yang mengetahuinya.


Mereka memahami ucapan salaf “tanpa kaif” sebagai penafian ilmu kita tentang kaifiyah, bukan penafian adanya kaifiyah pada hakikatnya. Mereka berkata: “Imam Malik tidak mengatakan bahwa kaifiyah itu tiada, tetapi beliau berkata bahwa kaifiyah itu tidak diketahui.” Maka, mereka membedakan antara makna yang diketahui dari lafaz itu dan kaifiyah yang tidak dapat dipahami oleh manusia.


Dengan pemahaman inilah mereka menafsirkan ucapan salaf “tanpa kaif” menjadi “Allah punya kaif”. Menurut mereka, maknanya ialah: “Tanpa kaif yang bisa dipahami manusia.” Artinya, mereka menambahkan syarat pada penafian itu, kemudian dengan konsep lawan makna dari syarat yang mereka tambahkan sendiri, mereka menyimpulkan bahwa Allah memiliki kaifiyah, hanya saja tidak diketahui.


Perhatikanlah hal ini dengan baik! Jangan lupa bahwa mereka menolak majaz (metafora) dan menamakannya thaghut, serta menolak ta’wil dan menamakannya tahrif (penyelewengan). Tetapi justru dalam masalah ini mereka bermain-main dengan majaz dan melakukan ta’wil yang mereka sendiri sebut sebagai tahrif. Betapa rapuhnya metode mereka: di satu sisi sangat menolak majaz, tetapi di sisi lain berpegang kepadanya demi menyelamatkan paham mereka agar tidak roboh. Tapi ia akan roboh sendiri sebagaimana akan anda lihat nanti.


Akhirnya, mereka sampai pada kesimpulan bahwa Allah memiliki suatu kaifiyah tertentu, tetapi hanya Dia yang mengetahuinya. Mereka merasa menemukan apa yang mereka cari dalam riwayat “dan kaifiyahnya tidak diketahui”. Karena itulah mereka sangat berpegang teguh pada riwayat itu dan mengabaikan semua riwayat lain dari Imam Malik yang jelas menafikan kaifiyah secara mutlak, seperti ucapan beliau: “Kaifiyah itu terangkat darinya,” atau “Kaifiyah itu tidak dapat dicerna oleh akal.” Maka, mereka mengabaikan semua riwayat tersebut dan hanya mengambil riwayat “dan kaifiyahnya tidak diketahui.” Inilah yang disebut dengan hawa nafsu dan kepatuhan selektif kepada salaf.


Lalu, apa makna ucapan bahwa Allah memiliki kaifiyah, tetapi kita tidak mengetahuinya? Itu artinya, sesembahan mereka memiliki ukuran, massa, energi, berat, tubuh, anggota, bagian-bagian, tempat, dan waktu, semuanya dalam kadar tertentu dan bentuk yang spesifik. Hanya saja, kadar dari semua itu tidak mereka ketahui! Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka katakan dengan setinggi-tingginya. Segala puji bagi Allah atas nikmat tanzih (pensucian Allah dari sifat makhluk) dan akal sehat.


Saya telah menjelaskan sebelumnya secara panjang lebar bahwa riwayat terakhir ini “Istiwa diketahui dan kaifiyahnya tidak diketahui” sebenarnya tidak ada sama sekali di antara sepuluh riwayat yang datang dari Imam Malik, kecuali lafaz yang mirip dengannya yang diriwayatkan oleh Ibn Nafi‘ al-Sha‘igh, yang dipilih oleh mereka secara selektif di antara riwayat-riwayat lain dari Malik sendiri karena riwayat lain tidak sesuai dengan mereka bahkan meruntuhkan paham mereka. Maka mereka memilih riwayat ini sesuai dengan metode mereka dalam “tebang pilih” kepada salaf, sebagaimana telah saya jelaskan dalam tulisan sebelumnya dalam seri “Apakah ini memilih tomat dan mentimun, atau mengikuti salaf yang saleh?” Ditambah lagi, riwayat Ibn Nafi‘ al-Sha‘igh ini masih diperdebatkan keotentikannya, sebagaimana telah saya jelaskan dalam seri “al-Tahqiq al-Nafi‘ li Athar al-Sha‘igh ‘Abdullah bin Nafi‘ (Kajian Komprehensif terhadap Riwayat al-Sha’igh Abdullah bin Nafi’).”


Adapun riwayat pertama yang saya maksudkan ialah yang disebutkan Ibn ‘Abd al-Barr rahimahullah dalam kitab al-Tamhid: 


“Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Abd al-Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yunus, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Baqi bin Makhlad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Bakkar bin ‘Abdullah al-Qurasyi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Ja‘far dari Malik bin Anas: 


Bahwa seseorang bertanya kepada Malik tentang firman Allah Ta‘ala: ‘al-Rahman istiwa di atas ‘Arsy’, bagaimana istiwa itu? Maka Malik menunduk, kemudian berkata: ‘Istiwa-Nya tidak diketahui, perbuatan-Nya tidak dapat dicerna oleh akal, dan bertanya tentang hal ini adalah bid‘ah.’”


Penulis (Dr. Walid) –semoga Allah memberinya taufik– berkata: Riwayat ini, terutama jika sahih, menghancurkan klaim mereka bahwa Malik bermaksud dengan riwayat “Istiwa diketahui” atau “Istiwa tidak samar” bahwa istiwa itu diketahui maknanya karena Allah telah berbicara kepada kita dalam Al-Qur’an dengan bahasa Arab yang jelas. Jika Imam Malik benar-benar bermaksud demikian (istiwa tidak diketahui), tentu beliau akan berkata: “Makna istiwa tidak diketahui,” atau “Tafsir istiwa tidak diketahui,” atau “Penjelasan istiwa tidak diketahui.” (begitulah klaim mereka).


Namun riwayat “Istiwa-Nya tidak diketahui” yang telah disebutkan di atas menggugurkan semua itu secara total. Dengan demikian, runtuhlah semua yang dibangun oleh Ibn Taimiyah di atas riwayat “Istiwa diketahui dan kaifiyahnya tidak diketahui” yang selalu ia ulang-ulang puluhan kali dalam kitab-kitabnya, lalu ia umumkan untuk seluruh sifat dan seluruh salaf. Ia berkata: “Jawaban Imam Malik – rahimahullah – tentang istiwa ini sudah mencukupi untuk semua sifat, seperti nuzul (turun), majī’ (datang), tangan, wajah, dan selainnya. Maka dikatakan dalam hal nuzul: ‘Nuzul itu diketahui, kaifiyahnya tidak diketahui, iman kepadanya wajib, dan bertanya tentangnya bid‘ah.’ Demikian pula dikatakan pada semua sifat, karena kedudukannya sama dengan istiwa yang disebutkan dalam kitab dan sunnah.”


Demikian pula Ibn al-Qayyim berkata: “Jawaban Imam Malik – semoga Allah meridhainya – ini memadai dan berlaku umum untuk semua masalah sifat.”


Perhatikan bagaimana Ibn Taimiyah memilih riwayat “Istiwa diketahui dan kaifiyahnya tidak diketahui” dari sepuluh riwayat yang semuanya berkaitan dengan peristiwa ketika Imam Malik ditanya tentang istiwa. Tidak lain alasannya karena riwayat itu mendukung tujuannya dan menguatkan pendapatnya menurut sangkanya. Tidak cukup hanya dengan itu, ia bahkan menambahkan bumbu ketika ia dan para pengikutnya mengklaim bahwa maksud dari “Istiwa diketahui” adalah “diketahui maknanya.” Maka, mereka menambahkan kata “maknanya” sebagai sesuatu yang tersembunyi dalam riwayat tersebut – sebagaimana sebelumnya mereka menambahkan sesuatu dalam masalah penafian kaifiyah.


Hal ini sangat menarik karena dua alasan: pertama, mereka adalah kaum yang menolak majaz dalam semua bentuknya, terutama majaz berupa penghapusan (majaz al-hadzf), yang menurut mereka adalah thaghut. Kedua, ketika mereka melihat banyak pernyataan salaf yang menegaskan bahwa mereka tidak membahas makna maupun tafsir ayat-ayat mutasyabihat – termasuk ayat tentang istiwa – sebagaimana telah saya jelaskan dalam satu seri khusus, mereka justru menafsirkan ulang kata “makna” dan “tafsir.”


Di antaranya, ketika Ibn Taimiyah menukil ucapan Imam Ahmad tentang hadis-hadis mutasyabihat: “Kami beriman dengannya, kami membenarkannya, tanpa kaif dan tanpa makna.” Ibn Taimiyah langsung menafsirkannya dengan berkata: “Maksudnya ialah: kami tidak menentukannya dengan kaifiyah dan tidak menyimpangkannya dengan ta’wil, misalnya dengan mengatakan: maknanya adalah ini dan itu.”


Demikian juga ketika ia menukil ucapan Muhammad bin al-Hasan: “Seluruh fuqaha telah sepakat untuk beriman kepada Al-Qur’an dan hadis-hadis yang berkaitan dengan sifat Allah Ta‘ala, tanpa tafsir, tanpa penjelasan, dan tanpa tasybih. Siapa yang menafsirkan sesuatu darinya, ia telah keluar dari apa yang dipegang Nabi dan menyelisihi jamaah, karena mereka tidak menjelaskan dan tidak menafsirkan, tetapi hanya beriman.” Ibn Taimiyah segera menambahkan: “Maksud ucapan ‘tanpa tafsir’ adalah tanpa tafsir ala Jahmiyyah yang menafikan sifat.”


Demikian pula ketika Ibn Taimiyah menukil ucapan Abu ‘Ubaid: “Hanya saja jika kami ditanya tentang tafsirnya, kami tidak menafsirkannya, dan kami tidak mendapati seorang pun yang menafsirkannya.” Ibn Taimiyah buru-buru menambahkan: “Yang dimaksud adalah tafsir ala Jahmiyyah.”


Perhatikan bagaimana Ibn Taimiyah menafsirkan kata “makna” dan “tafsir” dalam ucapan salaf, padahal para salaf jelas-jelas menolak penafsiran terhadap nash-nash sifat mutasyabihat. Lalu Ibn Taimiyah mencari-cari ungkapan lain dari salaf, seperti ucapan Imam Malik “Istiwa diketahui”, untuk kemudian ia tambahkan kata tersembunyi yaitu “makna” – padahal kata itu justru ia tafsirkan secara berbeda dalam ucapan Ahmad. Bukankah ini bukti nyata bahwa Ibn Taimiyah bermain-main, mengikuti hawa nafsu, melakukan penafsiran sepihak, serta menyelewengkan ucapan salaf atas nama salaf dan salafiyah?


Sebab, jika kata itu ada dalam ucapan salaf, Ibn Taimiyah menafsirkannya karena bertentangan dengan mazhabnya. Tetapi jika kata itu tidak ada, ia malah menambahkannya karena ia membutuhkannya untuk mendukung mazhabnya! Semua ini dilakukan Ibn Taimiyah padahal ia sendiri selalu mengingkari ta’wil dan majaz, menamainya tahrif dan thaghut, serta menuduh para ulama Asy‘ariyyah dengan hal itu. Padahal justru ia sendiri yang melakukannya secara terang-terangan! Jika seandainya ia tidak mengingkari ta’wil dan majaz, bagaimana lagi jadinya?


Sekalipun kita terima bahwa Imam Malik bermaksud mengatakan bahwa makna istiwa itu diketahui, bahkan sekalipun Imam Malik secara jelas berkata: “Makna istiwa itu diketahui,” hal itu tetap tidak berguna bagi mereka. Sebab perdebatan sebenarnya bukan apakah istiwa itu memiliki makna atau tidak, melainkan apakah makna istiwa yang dimaksud Imam Malik adalah makna lahiriah yang bersifat fisik ataukah makna nonfisik. Jika mereka bersikeras mengatakan bahwa Imam Malik maksudkan makna fisik, maka kami mengatakan sebaliknya, bahwa Imam Malik bermaksud makna nonfisik, yakni makna yang dikatakan oleh kaum yang mensucikan Allah, yaitu istiwa dalam arti penguasaan dan keperkasaan – dengan bukti bahwa Imam Malik menafikan kaifiyah dan dengan adanya riwayat-riwayat lain darinya yang mendukung tafwidh dan ta’wil.


Jika mereka bertanya: “Dari mana kalian memastikan bahwa Imam Malik bermaksud makna nonfisik, bukan makna fisik?” Maka jawabannya: sebagaimana kalian menafsirkan ucapan Ahmad ketika berkata “tanpa kaif dan tanpa makna” bahwa yang dimaksud dengan “makna” adalah makna ala Jahmiyyah, padahal kata itu tidak ada dalam teks, demikian pula kami menafsirkan ucapan Imam Malik. Kalian pun ketika menukil ucapan Abu ‘Ubaid dan gurunya Muhammad bin al-Hasan “tanpa tafsir”, lalu kalian menambahkan kata tersembunyi dengan mengatakan: “Maksudnya tanpa tafsir ala Jahmiyyah.” Maka kami pun boleh menambahkan bahwa maksud mereka adalah “tanpa tafsir ala Mujassimah.”


Demikian pula kalian menafsirkan ucapan salaf “tanpa kaif” dengan mengatakan: “Maksud ucapan salaf: tanpa kaif yang dapat dipahami manusia.” Bahkan kalian menambahkan kata tersembunyi dalam ucapan Imam Malik sendiri “Istiwa diketahui” dengan mengatakan: “Maksudnya, istiwa diketahui maknanya.” Apakah penambahan ini hanya halal bagi kalian, tapi haram bagi selain kalian? Kami justru lebih berhak melakukan penambahan, karena kalian sendiri menolak majaz sementara kami menerimanya dengan aturan-aturannya.


Kembali ke pokok persoalan, Ibn Taimiyah berpegang teguh pada riwayat “Istiwa diketahui” untuk mengklaim bahwa istiwa itu memiliki makna yang jelas, yaitu makna fisik, dan bahwa Allah memiliki kaifiyah meskipun tidak diketahui. Lalu ia menggeneralisasi prinsip ini pada semua sifat mutasyabihat. Tidak hanya itu, ia juga menggeneralisasi riwayat ini pada semua salaf, sehingga seolah-olah semua salaf mengatakan hal yang sama!


Ini semua hanyalah khayalan dan kegelapan bertumpuk-tumpuk, karena dua alasan: 


Pertama, semua itu dibangun di atas riwayat yang masih diperdebatkan kesahihannya, baik dari segi sanad maupun matan, yaitu riwayat “Istiwa diketahui dan kaifiyahnya tidak diketahui.” Riwayat ini bertentangan dengan riwayat lain, seperti riwayat sebelumnya yang berbunyi: “Istiwa-Nya tidak diketahui, dan perbuatan-Nya tidak dapat dicerna oleh akal.” Dalam riwayat ini jelas ditegaskan bahwa istiwa tidak diketahui, bukan diketahui, sebagaimana dalam riwayat yang dipegang Ibn Taimiyah. Hal ini juga diperkuat oleh riwayat al-Bayhaqi dalam al-Asma’ wa al-Sifat dari Abdullah bin Wahb dari Malik: “{al-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy} sebagaimana Dia menyifati diri-Nya. Tidak boleh dikatakan: bagaimana, karena kaifiyah itu terangkat darinya.”


Dalam riwayat itu, Imam Malik hanya menyebutkan bahwa Allah menyifati diri-Nya dengan istiwa atas ‘Arsy, tanpa menjelaskan maknanya apakah diketahui atau tidak. Bahkan beliau menafikan kaifiyah dengan tegas: “Kaifiyah itu terangkat darinya.” Demikian pula dalam banyak riwayat lain dari Imam Malik: “Kaifiyah tidak dapat dicerna oleh akal.” Semua riwayat ini meruntuhkan klaim mereka bahwa maksud ucapan Imam Malik “Istiwa diketahui” adalah makna istiwa diketahui, serta bahwa beliau bermaksud menetapkan adanya kaifiyah.


Kedua, Imam Malik sendiri dalam beberapa riwayat menunjukkan sikap tafwidh (menyerahkan makna kepada Allah) dan ta’wil, bahkan beliau membenci pembicaraan dan periwayatan hadis-hadis tentang sifat mutasyabihat. Ibn ‘Abd al-Barr meriwayatkan setelah menyebutkan riwayat di atas: Yahya bin Ibrahim bin Mazin berkata: “Malik membenci pembicaraan tentang hadis-hadis itu karena di dalamnya terdapat batasan, sifat, dan tasybih. Jalan selamat adalah dengan berhenti pada apa yang Allah firmankan dan sifatkan diri-Nya: wajah, dua tangan, membentangkan, istiwa, dan kalam. Maka hendaknya seseorang mengatakan sebagaimana Allah katakan, berhenti di situ, tidak menambahinya, tidak menafsirkannya, dan tidak mengatakan bagaimana. Sebab dalam hal itu terdapat kebinasaan, karena Allah hanya mewajibkan hamba-Nya beriman kepada wahyu, tidak mewajibkan mereka untuk menyelami ta’wil yang tidak diketahui kecuali oleh-Nya.’”


Perhatikan ucapannya: “Malik membenci pembicaraan tentang hadis-hadis itu karena di dalamnya terdapat batasan, sifat, dan tasybih.” Juga ucapannya: “Jangan menambahinya, jangan menafsirkannya, dan jangan mengatakan bagaimana, karena dalam hal itu terdapat kebinasaan.” Juga ucapannya: “Allah hanya mewajibkan hamba-Nya beriman kepada wahyu, tidak mewajibkan mereka menyelami ta’wil yang tidak diketahui kecuali oleh-Nya.” Semua ini menghancurkan mazhab Ibn Taimiyah yang menafsirkan sifat-sifat Allah secara fisik dan membangunnya di atas riwayat “Istiwa diketahui dan kaifiyahnya tidak diketahui.”


Al-Hafizh al-Dzahabi dalam biografi Abu al-Zinad berkata: Abu Ja‘far al-‘Uqayli dalam biografi Abdullah bin Dhakwan meriwayatkan: “Telah menceritakan kepada kami Miqdām bin Dawud, telah menceritakan kepada kami al-Harith bin Miskin dan Ibn Abi al-Ghamr, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibn al-Qasim, ia berkata: Saya bertanya kepada Malik tentang orang yang meriwayatkan hadis: ‘Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sesuai dengan gambar-Nya.’ Maka Imam Malik mengingkarinya dengan sangat keras dan melarang agar hadis itu diriwayatkan. Lalu dikatakan: ‘Tetapi ada orang-orang alim yang meriwayatkannya.’ Ia bertanya: ‘Siapa mereka?’ Dijawab: ‘Ibn ‘Ajlan dari Abu al-Zinad.’ Malik berkata: ‘Ibn ‘Ajlan tidak mengerti hal-hal ini, ia bukanlah seorang alim. Abu al-Zinad pun terus bekerja untuk mereka hingga ia wafat, ia adalah orang yang bekerja mengikuti para penguasa, dan ia bukanlah seorang alim.’”


Kemudian al-Dzahabi berkomentar: “Saya (al-Dzahabi) berkata: Hadis itu tidak hanya diriwayatkan oleh Ibn ‘Ajlan, bahkan bukan hanya Abu al-Zinad …”


Kemudian al-Dzahabi kembali menyebutkan kisah itu dalam biografi Imam Malik, lalu ia berkata: “Saya berkata: Imam (Malik) mengingkarinya karena menurutnya hadis itu tidak sahih, tidak sampai kepadanya dengan sanad yang kuat, maka ia dimaafkan. Sebagaimana kedua penyusun Shahih (al-Bukhari dan Muslim) juga dimaafkan karena memasukkan hadis tersebut, yakni hadis pertama dan kedua, sebab sanadnya sahih. Maka sikap kita terhadap hadis ini dan yang semisalnya ialah menetapkannya, membiarkannya apa adanya, dan menyerahkan (tafwidh) maknanya kepada pembicaranya yang benar dan maksum (yakni Nabi).”


Kemudian al-Dzahabi berkata: “Ibn ‘Adi meriwayatkan: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Harun bin Hasan, telah menceritakan kepada kami Shalih bin Ayyub, telah menceritakan kepada kami Habib bin Abi Habib, ia berkata: Malik berkata: ‘Yang turun itu adalah perintah Rabb kita Tabaraka wa Ta‘ala, adapun Dia sendiri, Dia tetap ada dan tidak berpindah.’ Shalih berkata: ‘Aku menyebutkan hal itu kepada Yahya bin Bukayr, lalu ia berkata: Demi Allah, itu bagus. Tapi aku tidak mendengarnya dari Malik.’ Saya (al-Dzahabi) berkata: ‘Saya tidak mengenal Shalih, sementara Habib terkenal. Namun riwayat yang lebih kuat dari Malik adalah riwayat al-Walid bin Muslim, bahwa ia bertanya kepada Malik tentang hadis-hadis sifat, maka Malik menjawab: “Urusannya sebagaimana datang, tanpa tafsir.” Maka dalam masalah ini, Imam Malik memiliki dua riwayat, jika riwayat Habib benar.”


Penulis (Dr. Walid) berkata: Perhatikanlah riwayat-riwayat dan sikap Imam Malik rahimahullah ini, semuanya menghancurkan mazhab Ibn Taimiyah. Karena riwayat-riwayat itu berkisar antara tafwidh (menyerahkan makna kepada Allah) dan ta’wil (penafsiran non-lahiriah), sebagaimana itulah mazhab para ulama Asy‘ariyyah. Penulis kitab Jauharotut Tauhid (salah satu buku tentang akidah Asy’ariyah) berkata:


“40. Setiap teks yang menimbulkan kesan tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk) maka ta’wilkanlah atau tafwidhkanlah sembari memahasucikan (Allah).”


Sedangkan Ibn Taimiyah menolak dua pendekatan (ta’wil dan tafwidh) ini sekaligus sebagaimana yang ia ulang-ulang dalam buku-bukunya.


Bahkan Imam Malik melangkah lebih jauh daripada Asy‘ariyyah, ketika beliau sampai mengingkari orang-orang yang meriwayatkan hadis-hadis mutasyabihat tertentu. Maka bagaimana lagi terhadap orang-orang yang menafsirkan hadis-hadis itu dengan makna lahiriah yang bersifat fisik? Apalagi terhadap orang-orang yang mencela siapa saja yang tidak menafsirkannya dengan makna fisik?


Tentu saja, jika engkau mencari riwayat-riwayat ini dalam kitab-kitab Ibn Taimiyah dan para pengikutnya, engkau tidak akan menemukannya. Karena riwayat-riwayat ini menghancurkan mazhab mereka dan membatalkan klaim mereka tentang Imam Malik. Saya sendiri telah menelusuri baik dulu maupun sekarang dalam al-Maktabah al-Shamilah edisi biasa maupun edisi emas, mengenai riwayat-riwayat dari Imam Malik tersebut, tetapi saya tidak mendapati satu pun penyebutan riwayat itu dalam kitab-kitab Ibn Taimiyah, Ibn al-Qayyim, maupun seluruh kitab aqidah Wahhabi yang jumlahnya lebih dari tiga ribu kitab – kecuali sekali saja Ibn Taimiyah menyebutkan riwayat itu dalam al-Tis‘iniyyah untuk menolaknya!


Sementara itu, Ibn Taimiyah mengulang-ulang ungkapan “Istiwa diketahui dan kaifiyahnya tidak diketahui” sebanyak 48 kali hanya dalam tiga kitabnya saja, yaitu Dar’ Ta‘arudh al-‘Aql wa al-Naql, Majmu‘ al-Fatawa, dan Bayan Talbis al-Jahmiyyah. Ia selalu mengulanginya sebagai hujjah bahwa nash-nash sifat mutasyabihat harus dibawa pada makna lahiriahnya yang bersifat fisik!


Perhatikanlah perbedaan yang sangat besar ini: Ibn Taimiyah dan para pengikutnya membangun mazhab tajsim mereka di atas satu riwayat dari Imam Malik yang sebenarnya hampir tidak ada, bahkan ada riwayat-riwayat lain yang justru menentangnya atau menjelaskannya sebagaimana telah disebutkan. Lalu tidak cukup hanya itu, Ibn Taimiyah malah menggeneralisasi metodologi yang rapuh ini kepada seluruh sifat dan seluruh salaf!


Padahal Imam Malik sendiri dalam riwayat-riwayat lain jelas menunjukkan sikap tafwidh dan ta’wil, bahkan terkadang melarang meriwayatkan sebagian hadis mutasyabihat. Maka bagaimana mungkin Ibn Taimiyah menggeneralisasi metode tasybih (penyerupaan) kepada seluruh sifat dan seluruh salaf dengan mengatasnamakan Imam Malik, padahal Imam Malik sendiri menyelisihinya? Bukankah ini jelas merupakan sikap memaksakan, memilih-milih, dan menuruti hawa nafsu? Jika memang harus digeneralisasi, seharusnya yang digeneralisasi adalah metodologi tafwidh dan ta’wil sebagaimana riwayat-riwayat Imam Malik yang otentik itu, bukan metodologi tasybih.


Jika engkau membawa riwayat-riwayat Imam Malik yang jelas menunjukkan tafwidh dan ta’wil kepada sebagian kalangan Wahhabi, engkau akan mendapati mereka langsung melemahkan riwayat itu atau menafsirkannya ulang, hanya agar mereka tetap bisa berpegang pada riwayat “Istiwa diketahui dan kaifiyahnya tidak diketahui.” Setelah itu, mereka akan menafsirkannya sesuai keinginan mereka, lalu menggeneralisasikannya pada seluruh sifat dan seluruh salaf, persis seperti yang dilakukan Ibn Taimiyah.


Kalau begitu, bukankah ini adalah sikap yang penuh paksaan, hawa nafsu, kebingungan, dan seleksi semaunya – mirip seperti memilih-milih tomat dan mentimun di pasar – bukan sikap mengikuti salaf yang saleh?


Padahal, kita pun sebenarnya mampu melakukan hal yang sama terhadap riwayat “Istiwa diketahui dan kaifiyahnya tidak diketahui.” Kita pun bisa menafsirkannya, atau bahkan melemahkannya, sebagaimana mereka lakukan terhadap riwayat-riwayat lain dari Imam Malik.


Namun, insyaAllah saya akan menulis sebuah artikel tersendiri, di mana saya akan membahas sejumlah atsar salaf yang dijadikan hujjah oleh kaum ini, lalu saya akan memberikan ta’wil terhadapnya dengan metode yang sama seperti yang mereka gunakan terhadap riwayat-riwayat yang jelas mendukung tafwidh atau ta’wil. Dengan begitu, kita akan lihat: apa yang tersisa dari atsar-atsar tersebut setelah ditakwilkan? Dan bagaimana reaksi mereka terhadap ta’wil itu, padahal mereka sendiri sudah melakukan hal yang sama – bahkan lebih ekstrem?


Wallahu al-Muwaffiq (Allah-lah yang memberi taufik).


Sumber: https://drwaleedbinalsalah.com/%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%AA%D8%A8%D8%A7%D8%B9-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%86%D8%AA%D9%82%D8%A7%D8%A6%D9%8A-%D9%84%D9%84%D8%B3%D9%84%D9%81-%D9%84%D8%AF%D9%89-%D8%A7%D9%84%D8%B3%D9%84%D9%81%D9%8A%D8%A9-%D9%88/

Aqidah (70) Arbain (8) Distribusi (1) Fiqih (134) Hadist (35) Jenazah (4) Khotbah (3) Kisah Hikmah (20) Kisah Teladan (6) Kutipan (307) Pajak (5) Pasar (5) Pendidikan Islam (19) Penjualan (3) Pernikahan (7) Puasa (14) Qurban (1) Ramadhan (11) Segmentasi (1) Shalat (19) Soal Ekonomi (8) Soal PKn (5) Syubhat (5) Tafsir (5) Thaharah (1) Uraian (2) Zakat (1)