Sejarah Penanggalan Hijriyah
Sejarah Penanggalan Tahun Hijriyah
Oleh: Riyadul Jinan As-Syafii
Tidak ada sistem penanggalan yang digunakan pada awal Islam, hingga pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, dan wilayah Islam semakin meluas serta masyarakat membutuhkan sistem penanggalan untuk urusan pemberian gaji dan lain-lain.
Pada tahun ketiga atau keempat dari kekhalifahan Umar radhiyallahu 'anhu, Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu menulis surat kepada Umar bahwa ia menerima surat-surat dari Umar tanpa tanggal. Maka Umar mengumpulkan para sahabat radhiyallahu 'anhum dan bermusyawarah meminta pendapat mereka. Sebagian dari mereka mengusulkan agar sistem penanggalan Persi yang digunakan, yaitu dengan menggunakan tahun pemerintahan raja-raja mereka, dan setiap kali seorang raja meninggal, maka digunakan tahun pemerintahan raja berikutnya. Namun, para sahabat tidak menyukai hal tersebut. Sebagian dari mereka mengusulkan agar sistem penanggalan Romawi yang digunakan, namun mereka juga tidak menyukai hal tersebut. Lalu, sebagian dari mereka mengusulkan agar sistem penanggalan dimulai dari tahun kelahiran Nabi ﷺ, sementara yang lain mengusulkan agar dimulai dari tahun kenabian beliau, dan sebagian lainnya lagi mengusulkan agar dimulai dari tahun hijrah beliau.
Pada akhirnya Umar radhiyallahu 'anhu berkata: 'Hijrah telah memisahkan antara yang hak dan yang batil, maka tetapkanlah sistem penanggalan berdasarkan hijrah.' Maka mereka menetapkan sistem penanggalan berdasarkan hijrah dan sepakat tentang hal tersebut." (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Musannaf: 13/92, Khalifah dalam At-Tarikh: hal. 51, Ath-Thabari dalam Tarikh Ar-Rusul wal Muluk: 2/388, dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasqi: 1/42, dari Amir Asy-Sya'bi, secara mursal).
Kemudian para sahabat berdiskusi tentang bulan mana yang harus dijadikan sebagai awal tahun. Sebagian dari mereka mengusulkan agar tahun dimulai dari bulan Ramadhan, karena bulan tersebut adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an. Sementara sebagian lainnya mengusulkan agar tahun dimulai dari bulan Rabi'ul Awwal, karena bulan tersebut adalah bulan ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah sebagai seorang yang hijrah.
Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman, dan Sayyidina Ali memilih agar tahun dimulai dari bulan Muharram, karena bulan tersebut adalah bulan haram (mulia) yang mengikuti bulan Dzulhijjah, yaitu bulan di mana umat Islam melaksanakan ibadah haji yang merupakan penyempurnaan rukun-rukun agama mereka. Selain itu, bulan Muharram juga merupakan bulan setelah baiat para sahabat Anshar kepada Nabi ﷺ dan tekad untuk melakukan hijrah. Maka, awal tahun Islam Hijriyah dimulai dari bulan Muharram yang suci. (Diriwayatkan oleh Khalifah dalam At-Tarikh: 51, Ibnu Syabbah dalam Tarikh al-Madinah: 2/758, Ath-Thabari dalam Tarikh Ar-Rusul wal Muluk: 2/389, dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasq: 1/42-45, dengan sanad yang shahih, dari Muhammad bin Sirin, secara mursal).
WaAllahu a'lam
Referensi:
📚 فَضْلُ شَهْرِ الْمُحَرَّمِ وَيَوْمِ عَاشوراء صحـ 3-5
فَلَمْ يَكُنِ التَّارِيخُ مَعْمُولًا بِهِ فِي أَوَّلِ الْإِسْلَامِ، حَتَّى كَانَتْ خِلَافَةُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَابِ رضي الله عنه ، وَانْسَعَتْ رُقعَةُ الْإِسْلَامِ وَاحْتَاجَ النَّاسُ إِلَى التَّأْرِيخ فِي أَعْطِيَاتِهِمْ وَغَيْرِهَا. فَفِي السَّنَةِ النَّالِثَةِ أَو الرَّابِعَةٍ مِنْ خِلَافَتِهِ رضي الله عنه كَتَبَ إِلَيْهِ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ رضي الله عنه أَنَّهُ يَأْتِينَا مِنْكَ كُتبٌ لَيْسَ لَهَا تَأْرِيخٌ فَجَمَعَ عُمَرُ الصَّحَابَةَ رضي الله عنهم فَاسْتَشَارَهُمْ، فَقَالَ بَعْضُهُم أَرِّخُوا كَمَا تُؤَرِّخُ الْفُرْسُ بِمُلُوكِهَا، كُلَّمَا هَلَكَ مَلِكُ أَرْحُوا بِوِلَايَةِ مَنْ بَعْدَهُ، فَكَرِةَ الصَّحَابَةُ ذَلِكَ. فَقَالَ بَعْضُهُمْ أَرِّخُوا بِتَارِيخ الرُّومِ، فَكَرِهُوا ذَلِكَ أَيْضًا فَقَالَ بَعْضُهُمْ أَرِّخُوا مِنْ مَوْلِدِ النَّبِي ﷺ وَقَالَ آخَرُونَ مِنْ مَبْعَثِه وَقَالَ آخَرُونَ مِنْ هِجْرَتِهِ فَقَالَ عَمَرُ رضي الله عنه: الْهِجْرَةُ فَرَّقَتْ بَيْنَ الْحَقِّ وَالْبَاطِلِ أَرِّخُوا بِهَا، فأَرِّخُوا مِنَ الْهِجْرَةِ، وَاتَّفَقُوا عَلَى ذَلِكَ (أخرج ابن أبي شيبة في المصنف: (۹۲/۱۳)، وخليفة في التاريخ : (ص ٥١) والطبري في تاريخ الرسل والملوك»: (۲/ ۳۸۸)، وابن عساكر في تاريخ دمشق : (١ ٤٢)عَنْ عَامِرِ الشَّعبي، مرسلا،) ثُمَّ تَشَاوَرُوا مِنْ أَيِّ شَهْرٍ يَكُونُ ابْتِدَاءُ السَّنَةِ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ مِنْ رَمَضَانَ لِأَنَّهُ الشَّهَرُ الَّذِي أَنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآن. وَقَالَ بَعْضُهُمْ مِنْ رَبِيعِ الْأَوَّلِ لِأَنَّهُ الشَّهْرُ الَّذِي قَدِمَ فِيهِ النَّبِيُّ ﷺ الْمَدِينَةَ مُهاجِرًا. وَاخْتَارَ عُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ أَنْ يَكُونَ مِنَ الْمُحَرَّم؛ لِأَنَّهُ شَهْرٌ حَرَامٌ يَلِي شَهْرَ ذِي الْحِجَةِ الَّذِي يُؤَدِّي الْمُسْلِمُونَ فِيهِ حَجَّهُمُ الَّذِي بِهِ تَمَامُ أَرْكَانِ دِينِهِمْ، وَكَانَتْ فِيهِ بَيْعَةُ الْأَنْصَارِ لِلنَّبِيِّ ﷺ وَالْعَزِيمَةُ عَلَى الْهِجْرَةِ، فَكَانَ ابْتِدَاءُ السَّنَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ الْهِجْرِيَّةِ مِنَ الشَّهْرِ الْحَرَامِ الْمُحَرَّم (أخرج خليفة في التاريخ: (ص ٥١)، وابن شبة في تاريخ المدينة : (٧٥٨/٢) والطبري في تاريخ الرسل والملوك»: (۲/ ۳۸۹)، وابن عساكر في تاريخ دمشق : (٤٢/١) - ٤٥)، بإسناد صحيح، عَنْ مُحَمَّدٍ بن سيرين، مرسلا،)
Kudus, 1 Juli 2025 / 5 Muharam 1447