Takbir Hari Raya: Lengkap
PEMBAHASAN TENTANG TAKBIR HARI RAYA
A. Pengertian Takbir Hari Raya
Arti takbir dalam takbir (Idul Fitri dan Idul Adha) adalah mengagungkan Allah Ta'ala secara umum dan menegaskan keagungan Allah dalam kalimat "Allahu Akbar" (Allah Maha Besar). Ini merupakan isyarat akan keesaan Allah dalam ketuhanan-Nya. Sebab konsep keutamaan (dalam "Akbar") menyiratkan bahwa selain Allah pasti memiliki kekurangan, sedangkan yang kurang tidak layak untuk disembah. Oleh karena itu hakikat ketuhanan tidak dapat disandingkan dengan kekurangan apa pun.
Maka dari itu, takbir disyariatkan dalam shalat untuk menolak sujud kepada selain Allah, dan juga disyariatkan ketika menyembelih hewan qurban dalam ibadah haji untuk menolak ritual penyembelihan yang dilakukan oleh orang-orang kafir untuk berhala-berhala.
Demikian pula, takbir disyariatkan ketika selesai menunaikan ibadah puasa berdasarkan firman Allah Ta'ala: "Dan supaya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu." (QS. Al-Baqarah: 185).
Karena itu, tradisi (sunnah) ini berlanjut dengan kaum Muslimin mengucapkan takbir ketika pergi untuk shalat Idul Fitri dan Idul Adha, serta ketika khotib berkhutbah pada hari raya. Ucapan "Allahu Akbar" oleh seorang Muslim mengisyaratkan bahwa Allah Ta'ala disembah melalui ibadah puasa dan bahwa Dia terhindar dari kekurangan yang ada pada berhala-berhala.
B. Dalil Disyariatkannya Takbir Hari Raya
1. Dalil Takbir Idul Fitri
وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ
"Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk- Nya yang diberikan kepadamu," (Qs. Al-Baqarah 2:185)
2. Dalil Takbir Idul Adha
وَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْدُودَٰتٍ
"Dan berzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya." (Qs. Al-Baqarah 2:203)
لِّيَشْهَدُوا۟ مَنَٰفِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍ مَّعْلُومَٰتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَٰمِ
"Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mere-ka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa hewan ternak." (Qs. Al-Hajj 22:28)
كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ
"Demi-kianlah Dia menundukkannya untuk-mu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu." (Qs. Al-Hajj 22:37)
Catatan:
- Imam Syafi'i berkata: 'Aku mendengar ulama ahli Al-Qur'an yang aku ridhai berkata: Yang dimaksud dengan "iddah" (Qs. Al-Baqarah 2:185) adalah bilangan puasa, dan dengan "takbir" adalah ketika menyempurnakan (puasa).'
- Dalil untuk takbir Idul Adha menurut sebagian ulama adalah mengiyas (analogi) dengan takbir Idul Fitri. Oleh karena itu, takbir Idul Fitri lebih ditekankan (kesunahannya) berdasarkan dalil yang jelas.
C. Hukum Takbir Hari Raya
Hukum takbir hari raya menurut mayoritas ulama adalah sunnah yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak mendapatkan dosa. Berbeda dengan pendapat Ulama Hanafi yang mengatakan wajib.
D. Macam-Macam Takbir Hari Raya
1. Mursal
Takbir mursal atau mutlak (takbir yang tidak terikat waktu dan tempat tertentu) adalah takbir yang tidak terkait langsung dengan shalat.
Takbir ini disunnahkan bagi laki-laki dan perempuan, orang yang mukim (tidak sedang bepergian) dan musafir (orang yang bepergian), orang yang merdeka dan budak. Kecuali bagi orang yang sedang melaksanakan haji, dia tetap mengucapkan talbiyah hingga dia bertahallul (mengakhiri ihram). Karena talbiyah adalah syiar bagi orang yang ihram selama masih berihram, kemudian setelah tahallul dia disunnahkan takbiran.
Waktu pelaksanaannya dimulai dari matahari terbenam pada malam hari raya (baik Idul Fitri ataupun Idul Adha) hingga imam memulai takbiratul ihram shalat Id. Jika seseorang tidak shalat Id berjemaah, maka takbirannya terus berlanjut hingga dia memulai takbiratul ihram shalat Id. Dan jika seseorang tidak shalat Id sama sekali, maka takbirnya berlanjut hingga waktu zawal (dzuhur).
Catatan:
- Takbir mursal semakin ditekankan ketika terjadi perubahan keadaan, seperti ketika berkumpul, berangkat, pulang, dan menaiki kendaraan.
- Takbir mursal sah dilakukan dalam berbagai keadaan dan tempat, seperti di rumah-rumah, pasar-pasar, jalan-jalan dan lainnya.
- Disunnahkan untuk mengeraskan suara ketika bertakbir, kecuali bagi wanita. Wanita dianjurkan untuk merendahkan suaranya ketika bertakbir di hadapan laki-laki yang bukan mahram, sehingga hanya dirinya sendiri yang dapat mendengar suaranya.
- Takbir mursal adalah amalan yang paling utama untuk dikerjakan oleh seorang hamba pada waktu-waktu ini (hari raya Idul Fitri dan Idul Adha), sehingga lebih utama daripada baca shalawat kepada Nabi ﷺ dan membaca surat Al-Kahfi jika malam hari raya bertepatan dengan malam Jumat.
2. Muqayyad
Takbir muqayyad (takbir yang terkait dengan waktu dan tempat tertentu) adalah takbir yang dilakukan setelah shalat, khusus di hari raya Idul Adha, baik shalat fardhu maupun sunnah, baik shalat yang dilaksanakan pada waktunya maupun shalat qadha. Takbir ini tidak disyaratkan harus dilakukan tepat setelah shalat, dan tidak dianggap terlambat meskipun dilakukan setelah jeda waktu yang lama setelah shalat. Takbir muqayyad (setelah shalat) ini lebih utama daripada takbir mursal (yang tidak terkait dengan shalat) karena dilakukan setelah shalat.
Waktu takbir muqayyad:
- Bagi yang bukan jamaah haji, waktunya dimulai sejak setelah shalat Subuh pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) hingga setelah shalat Ashar pada hari terakhir dari hari-hari Tasyrik (tanggal 13 Dzulhijjah).
- Bagi jamaah haji, waktunya dimulai sejak setelah shalat Dzuhur hari raya Idul Adha (hari penyembelihan kurban, tanggal 10 Dzulhijjah) setelah mereka bertahallul (mengakhiri ihram), hingga setelah shalat Subuh pada hari terakhir dari hari-hari Tasyrik."
Catatan:
- Takbir yang dilakukan setelah Maghrib di malam Idul Adha hingga shalat Idul Adha adalah takbir mursal sekaligus takbir muqayyad.
E. Lafaz Takbir Hari Raya
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
"Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar, Tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Allah Maha Besar Allah Maha besar, dan segala puji bagi Allah." 3x
اللَّهُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعَدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
"Allah Maha Besar lagi sempurna kebesarannya, dan segala puji bagi Allah dan Maha suci Allah sepanjang pagi dan sore, Tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, dan kami tidak menyembah kecuali hanya kepada-Nya dengan memurnikan (ikhlas) beragama (ketaatan) kepada-Nya, alaupun orang-orang yang kafir membencinya, Tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah yang Maha Esa, yang benar janji-Nya, yang menolong hamba-Nya, yang memuliakan tentara-Nya, yang mengusir musuh Nabi-Nya dengan diri-Nya sendiri. Tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Allah Maha Besar."
Catatan:
- Dianjurkan untuk bertakbir di luar hari raya Idul Fitri dan Idul Adha pada hari-hari yang telah ditentukan (al-ayyam al-ma'lumat), yaitu pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu anhum bahwa keduanya biasa keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, lalu mereka bertakbir dan orang-orang pun ikut bertakbir mendengar takbir keduanya.
WaAllahu a'lam
Referensi:
📚 فقه العبادات على المذهب الشافعي صحـ 225-226 مكتبة مزيدة ومنقحة للمؤلفة
التكبير في العيدين: - هو سنة، ودليل مشروعيته في عيد الفطر قوله تعالى: {ولتكملوا العدة، ولتكبروا الله على ما هداكم} (البقرة: 185) ودليل مشروعيته في عيد الأضحى قوله تعالى: {واذكروا الله في أيام معدودات} (البقرة: 203) قال البخاري: قال ابن عباس: الأيام المعدودات أيام التشريق (البخاري ج 1/ كتاب العيدين باب 11) والتكبير نوعان: مرسل ومقيد. (1) التكيير المرسل: هو التكبير غير المقيد بالصلاة. ووقته من غروب شمس ليلتي العيدين إلى دخول الإمام المسجد لصلاة العيد، فإن لم يصلّ مع الجماعة استمر تكبيره إلى إحرامه بصلاة العيد، فإن لم يصل استمر التكبير في حقه حتى الزوال. ويندب هذا التكبير للذكر والأنثى، والحاضر والمسافر، والحر والعبد، إلا الحاج فإنه يلبي إلى أن يتحلل، لأن التلبية شعاره ما دام محرماً، ثم يكبر بعد تحلله، لما أخرجه البخاري في باب التكبير أيام منى، وإذا غدا إلى عرفة، قال: "وكان عمر رضي الله عنه يكبر في قبته بمنى فيسمعه أهل المسجد فيكبرون، ويكبر أهل الأسواق حتى ترتج منى تكبيراً. وكان ابن عمر يكبر بمنى تلك الأيام، وخلف الصلوات، وعلى فراشه، وفي فسطاطه (الفُسطاط: بيت من شعر) ومجلسه وممشاه تلك الأيام جميعاً، وكانت ميمونة تكبر يوم النحر، وكان النساء يكبرن خلف أبان بن عثمان، وعمر بن عبد العزيز ليالي التشريق مع الرجال في المسجد" (البخاري ج 1/ كتاب العيدين باب 12) ويتأكد التكبير عند تغير الأحوال، كالاجتماع والذهاب والإياب والركوب. يصح التكبير في كل الأحوال والأمكنة؛ في المنازل والأسواق والشوارع كما دل عليه حديث البخاري المتقدم. ويندب رفع الصوت بالتكبير، إلا المرأة فتخفض صوتها في حال وجود أجانب بحيث تسمع نفسها فقط. والتكبير أفضل ما يشتغل به العبد في هذه الأوقات، حتى إنه أولى من الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ومن قراءة سورة الكهف إذا وافقت ليلة العيد ليلة الجمعة. (2) التكبير المقيد: هو التكبير خلف الصلوات في عيد الأضحى فقط، فرضاً كانت الصلاة أو نفلاً أداء أو قضاء، ولا يشترط أن يكون التكبير عقب الصلاة مباشرة، ولا يفوت بطول الفصل عن الصلاة..وهذا التكبير المقيد أفضل من التكبير المرسل لأنه تابع للصلاة..وقته: ويبدأ وقته من صبح يوم عرفة إلى غروب شمس آخر أيام التشريق، وهذا لغير الحاج. أما الحاج فيكبر من ظهر يوم النحر، بعد أن يتحلل، إلى صبح آخر أيام التشريق..والتكبير الواقع بين غروب شمس ليلة عيد الأضحى إلى صلاة العيد هو تكبير مرسل مقيد معاً. صيغة التكبير: الله أكبر الله أكر الله أكبر، ثلاثاً نَسَقاً (نسقاً: على نظام واحد) وما زاد من ذكر الله فحسن، من ذلك لا إله إلا الله، الله أكبر الله أكبر، ولله الحمد" قال الشافعي في الأم: "أحب أن تكون زيادته: الله أكبر كبيراً، والحمد لله كثيراً، وسبحان الله بكرة وأصيلاً، لا إله إلا الله، ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون، لا إله إلا الله وحده، صدق وعده ونصر عبده، وهزم الأحزاب وحده لا إله إلا الله" واحتجوا له بأن النبي صلى الله عليه وسلم قاله على الصفا، وقد رواه مسلم في صحيحه من رواية جابر بن عبد الله رضي الله عنهما أخصر [بأخصر؟؟] من هذا اللفظ (مسلم ج 2/ كتاب الحج باب 19/147) ويندب التكبير في غير العيدين في الأيام المعلومات (الأيام المعلومات: أيام العشر - عشر ذي الحجة - ذكره البخاري عن ابن عباس رضي الله عنهما ج 1/ كتاب العيدين باب 11) ذكر البخاري عن أبي هريرة وابن عمر رضي الله عنهم أنهما كانا يخرجان إلى السوق أيام العشر يكبران ويكبر الناس بتكبيرهما (البخاري ج 1/ كتاب العيدين باب 11)
📚 موقِع الوِب دار الإفتاء المصرية
تاريخ الفتوى: 13 مايو 2014 م
رقم الفتوى: 6639
من فتاوى: الأستاذ الدكتور / شوقي إبراهيم علام
التصنيف: الاحتفالات
حكم تكبيرات العيدين وتحديد وقته في عيد الأضحى
المعنى المراد من تكبيرات العيد
المراد بالتكبير في تكبيرات العيد هو تعظيم الله عز وجل على وجه العموم، وإثبات الأعظمية لله في كلمة (الله أكبر) كناية عن وحدانيته بالإلهية؛ لأنَّ التفضيل يستلزم نقصان من عداه، والناقص غير مستحق للإلهية؛ لأنَّ حقيقة الإلهية لا تلاقي شيئًا من النقص، ولذلك شُرع التكبير في الصلاة؛ لإبطال السجود لغير الله، وشُرع التكبير عند نحر البُدْن في الحج لإبطال ما كانوا يتقربون به إلى أصنامهم، وكذلك شُرِع التكبير عند انتهاء الصيام بقوله تعالى: ﴿وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ﴾ [البقرة: 185]؛ ومن أجل ذلك مضت السُّنَّة بأن يكبِّر المسلمون عند الخروج إلى صلاة العيد ويكبِّر الإمام في خطبة العيد، وكان لقول المسلم: (الله أكبر) إشارة إلى أن الله يعبد بالصوم، وأنه متنزه عن ضراوة الأصنام. راجع: "التحرير والتنوير" (2/ 176، ط. الدار التونسية).
حكم تكبيرات العيد
التكبير في العيدين سُنَّة عند جمهور الفقهاء؛ قال الله تعالى بعد آيات الصيام: ﴿وَلِتُكْمِلُوا العِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ علَى مَا هَدَاكُمْ﴾ [البقرة: 185]، وحُمِل التكبير في الآية على تكبير عيد الفطر، وقال سبحانه في آيات الحج: ﴿وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ﴾ [البقرة: 203]، وقال أيضًا: ﴿لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ علَى مَا رَزَقَهُمْ مِن بَهِيمَةِ الأَنْعَامِ﴾ [الحج: 28]، وقال تعالى: ﴿كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ علَى مَا هَدَاكُمْ﴾ [الحج: 37]، وحُمِل الذكر والتكبير في الآيات السابقة على ما يكون في عيد الأضحى؛ قال الإمام الشافعي رضي الله تعالى عنه فيما نقله العلامة الخطيب الشربيني في "مغني المحتاج" (1/ 593، ط. دار الكتب العلمية)؛ قال: [سمعت مَن أرضاه من العلماء بالقرآن يقول: المراد بالعدة عدة الصوم، وبالتكبير عند الإكمال، ودليل الثاني -أي: تكبير الأضحى- القياس على الأول -أي: تكبير الفطر-؛ ولذلك كان تكبير الأول آكد للنص عليه] اهـ.
تحديد وقت تكبيرات عيد الأضحى
اختلف الفقهاء في وقت التكبير؛ فبالنسبة للبدء فإنه باتفاق الفقهاء يكون قبل بداية أيام التشريق، مع اختلافهم في كونه من ظهر يوم النحر كما يقول المالكية وبعض الشافعية، أو من فجر يوم عرفة كما يقول الحنابلة وعلماء الحنفية في "ظاهر الرواية" وفي قول للشافعية. ينظر: "الشرح الكبير على مختصر خليل" (1/ 401، ط. دار الفكر)، و"المجموع" (5/ 31، ط. دار الفكر)، و"كشاف القناع" (2/ 58، ط. دار الكتب العلمية).
Kudus, 9 Dzulhijjah 1446 H/5 Juni 2025 M