Sejarah Jilbab
Sejarah Jilbab di Indonesia
Buya Hamka bercerita:
“Saya teringat sekitar tahun 1927-1930 ketika gerakan Muhammadiyah/Aisyiah mulai menjalar merata di seluruh Indonesia. Pakaian Perempuan di seluruh tanah air Indonesia berlain-lain coraknya.
Di Tanah Lebong, Bengkulu kepala tertutup kain merah, dada terbuka lebar lalu memakai ‘beronang’, yaitu keranjang besar di punggung , ditalikan ke sebelah kening dan dipikul.
Di Bugis dan Makassar masih memakai baju ‘bodo’ yang sangat tipis dan jarang sehingga kelihatan kutang penutup payudara.
Memakai pula celana pendek atau rok pendek dan ujung kain sarung yang terdiri dari kain sutra halus itu, dipegang dengan jari yang menyebabkan paha jelas kelihatan. Dan bermacam-macam pula ragam yang lain di daerah-daerah lain di Indonesia.
Muhammadiyah dan Aisyah waktu itu tidak mencela HARAM, BERDOSA, MASUK NERAKA, pakaian yang beragam itu.
Aisyiyah hanya membuat mode pakaian yang baru, yang cantik, manis dan menarik. Mereka kenakan pakaian ini dengan kudung (di Padang dinamai mudawarah, di Jawa dinamai mukenah).
Pakaian begini menjadi pakaian wanita-wanita yang masuk Aisyiyah sejak dari Sabang sampai Merauke karena memang di Sabang sampai Merauke pada waktu itu 1930 telah ada cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Maka meratalah anjuran Muhammadiyah itu di seluruh tanah air waktu itu terutama setelah dua orang pemuka wanita Islam, Rahmah El Yunusiyah dan Rasuna Said sampai akhir hayatnya memakai pakaian yang tidak mengurangi kecantikan itu”.
Hamka, Prinsip dan Kebijaksanaan Dakwah Islam (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1984), hlm 32-33.
Jilbab pakaian muslimah tersebar luas tengah-tengah masyarakat Indonesia dengan cara dakwah yang ‘damai’, bukan dakwah yang mengedepankan sikap menghakimi, memvonis, men-judge orang-orang yang dinilai sesat perbuatannya.
Demikianlah jiwa manusia lebih bisa menerima dan terbuka dengan hal-hal yang dinilai ‘baru’ manakala disampaikan dengan cara-cara yang ‘damai’.
Dakwah dengan cara-cara keras, mengedepankan sikap menggurui, menghakimi, memvonis dan men-judge pihak lain hanya akan membuat objek dakwah lari dari agama, menjauh dari kebaikan.
Alih-alih dapat pahala, pelaku dakwah tersebut malah mendapatkan dosa bahkan dosa jariyah.
Kiat penting untuk membuka hati manusia adalah keteladanan para tokoh. Jilbab dikenal bahkan marak di masyarakat Indonesia karena keteladanan yang diberikan oleh dua tokoh perempuan kala itu. Beliau berdua istiqomah berjilbab sampai akhir hayat.
Aris Munandar