Seekor Kambing untuk Sayu Keluarga?
Bolehkan seekor kambing sebagai hewan qurban dari satu keluarga?
Sejumlah mubaligh dan guru ngaji yang mengatakan bahwa dengan seekor kambing itu mencukupi sebagai qurban dari satu keluarga. Dalam hal ini ditangkap pesan bahwa satu keluarga menjadi “shahibul qurban” dari seekor kambing.
Menurut empat mazhab anggapan ini adalah anggapan yang tidak benar.
Kalimat “seeorang menyembelih kambing qurban untuk dirinya dan keluarganya” itu dibenarkan oleh sebagian ulama, bukan semua ulama dengan dua pengertian:
Pertama, gugur perintah berqurban dari anggota keluarga shahibul qurban. Jika suami menjadi shahibul qurban maka perintah berqurban untuk isteri dan anak-anak itu sudah gugur. Demikian pula jika isteri menjadi shahibul qurban maka perintah berqurban untuk suami dan anak-anak itu gugur. Inilah makna dari hukum qurban adalah sunnah kifayah.
Kedua, keluarga shahibul qurban ikut mendapatkan cipratan pahala qurban. Ini terjadi jika shahibul qurban pasang niat untuk mengikutsertakan keluarganya dalam pahala qurban dan pasang niat dilakukan sebelum hewan qurban disembelih.
Uraian lebih detail tentang hal ini adalah sebagai berikut:
Hukum menyembelih hewan qurban itu diperselisihkan oleh para ulama. Jumhur ulama, tiga mazhab berpendapat hukumnya sunnah muakkadah sedangkan Mazhab Hanafi berpendapat wajib bagi yang mampu.
«الموسوعة الفقهية الكويتية» (5/ 77):
ثم إن الحنفية القائلين بالوجوب يقولون: إنها واجبة عينا على كل من وجدت فيه شرائط الوجوب. فالأضحية الواحدة كالشاة وسبع البقرة وسبع البدنة إنما تجزئ عن شخص واحد.
Mazhab Hanafi yang berpendapat wajib qurban mengatakan bahwa menyembelih hewan qurban itu kewajiban personal atas semua orang yang memenuhi kriteria. Hewan qurban semisal seekor kambing dan sepertujuh sapi atau sepertujuh onta itu hanya cukup untuk satu orang.
- وأما القائلون بالسنية فمنهم من يقول: إنها سنة عين أيضا، كالقول المروي عن أبي يوسف فعنده لا يجزئ الأضحية الواحدة عن الشخص وأهل بيته أو غيرهم.
Sedangkan mayoritas ulama yang berpendapat hukum menyembelih hewan qurban itu sunnah berselisih dalam tiga pendapat.
Pendapat pertama, menyembelih hewan qurban itu hukumnya sunnah untuk tiap tiap orang (sunnah ‘ain). Imam Abu Yusuf berpendapat bahwa satu hewan qurban itu tidak bisa untuk seseorang beserta keluarganya atau bukan keluarganya.
ومنهم من يقول: إنها سنة عين ولو حكما، بمعنى أن كل واحد مطالب بها، وإذا فعلها واحد بنية نفسه وحده لم تقع إلا عنه، وإذا فعلها بنية إشراك غيره في الثواب، أو بنية كونها لغيره أسقطت الطلب عمن أشركهم أو أوقعها عنهم. وهذا رأي المالكية،
Pendapat kedua adalah pendapat Mazhab Maliki. Pendapat ini mengatakan bahwa menyembelih hewan qurban itu hukumnya sunnah untuk setiap person meski hanya secara status. Artinya setiap orang diperintahkan untuk menyembelih hewan qurban.
Jika ada yang menyembelih hewan qurban untuk dirinya sah penyembelihan tersebut hanya untuk dirinya.
Akan tetapi jika orang tersebut menyembelih hewan dengan niat mengikutkan orang lain dalam pahalanya maka perintah berqurban juga sudah gugur dari orang yang diniatkan ikut pahalanya tersebut.
Jika hewan qurban tersebut diniatkan untuk orang lain gugurnya perintah berqurban atas orang tersebut.
وإيضاحه أن الشخص إذا ضحى ناويا نفسه فقط سقط الطلب عنه، وإذا ضحى ناويا نفسه وأبويه الفقيرين وأولاده الصغار، وقعت التضحية عنهم، ويجوز له أن يشرك غيره في الثواب - قبل الذبح - ولو كانوا أكثر من سبعة بثلاث شرائط:
Penjelasan lebih lanjut, jika seorang itu menyembelih hewan qurban dengan niat untuk dirinya gugurlah perintah qurban atas dirinya.
Jika seorang menyembelih hewan qurban dengan niat untuk dirinya dan ayah ibunya yang miskin ditambah anak-anaknya yang masih kecil qurban itu sah itu mereka semua. Shahibul qurban itu boleh menyertakan orang lain dalam pahala qurban meski jumlah mereka lebih dari tujuh orang asalkan niat dipasang sebelum penyembelihan.
Kebolehan menyertakan orang lain dalam pahala itu memiliki tiga syarat.
(الأولى) : أن يسكن معه.
(الثانية) : أن يكون قريبا له وإن بعدت القرابة، أو زوجة.
Pertama, orang-orang tersebut tinggal satu rumah bersama shahibul qurban.
Kedua, memiliki hubungan darah dengan shahibul qurban meski jauh atau isteri.
(الثالثة) : أن ينفق على من يشركه وجوبا كأبويه وصغار ولده الفقراء، أو تبرعا كالأغنياء منهم وكعم وأخ وخال. فإذا وجدت هذه الشرائط سقط الطلب عمن أشركهم.
Ketiga, orang yang diikutsertakan dalam pahala qurban tersebut adalah orang-orang yang wajib dinafkahi oleh shahibul qurban semisal ayah, ibu dan anak-anak yang fakir. Bahkan boleh meski status pemberian kepadanya orang-orang tersebut hanya berstatus amal kebajikan semisal saudara kandung dan paman.
Jika syarat ini terpenuhi perintah qurban sudah gugur dari orang yang diikusertakan dalam pahala itu.
وإذا ضحى بشاة أو غيرها ناويا غيره فقط، ولو أكثر من سبعة، من غير إشراك نفسه معهم سقط الطلب عنهم بهذه التضحية، وإن لم تتحقق فيهم الشرائط الثلاث السابقة. ولا بد في كل ذلك أن تكون الأضحية ملكا خاصا للمضحي، فلا يشاركوه فيها ولا في ثمنها، وإلا لم تجزئ، كما سيأتي في شرائط الصحة.
Jika seorang menyembelih hewan qurban berupa seekor kambing atau lainnya dengan niat hanya untuk orang lain meski kambing hewan qurban itu murni miliknya tanpa mengikutsertakan dirinya bersama orang-orang tersebut gugurlah perintah qurban dari mereka semua meski jumlah mereka lebih dari tujuh meski tiga syarat di atas tidak terpenuhi pada orang-orang tersebut.
Akan tetapi hewan qurban tersebut harus benar-benar milik pribadi orang yang pasang niat.
Hewan qurban bukan milik dua orang atau lebih.
Demikian pula tidak ada uang orang lain dalam pembelian hewan qurban tersebut.
Jika hewan qurban tersebut bukan milik pribadi orang tersebut maka penyembelihan hewan qurban tidak sah.
– ومن القائلين بالسنية من يجعلها سنة عين في حق المنفرد، وسنة كفاية في حق أهل البيت الواحد، وهذا رأي الشافعية والحنابلة. فقد قالوا: إن الشخص يضحي بالأضحية الواحدة – ولو كانت شاة – عن نفسه وأهل بيته. وللشافعية تفسيرات متعددة لأهل البيت الواحد (والراجح) تفسيران: (أحدهما) أن المقصود بهم من تلزم الشخص نفقتهم، وهذا هو الذي رجحه الشمس الرملي في نهاية المحتاج. (ثانيهما) من تجمعهم نفقة منفق واحد ولو تبرعا، وهذا هو الذي صححه الشهاب الرملي بهامش شرح الروض.
Pendapat ketiga di kalangan mayoritas ulama adalah pendapat yang mengatakan bahwa hukum penyembelihan hewan qurban itu sunnah personal untuk individu dan sunnah kifayah untuk satu keluarga. Inilah pendapat Mazhab Syafii dan Hanbali.
Dua mazhab tersebut mengatakan bahwa satu hewan qurban meski hanya berupa kambing itu bisa disembelih untuk seseorang beserta anggota keluarganya.
Akan tetapi para ulama Syafiiyah memiliki beberapa penjelasan mengenai definisi “keluarga”. Definisi yang terkuat ada dua. Pertama, yang dimaksud dengan keluarga adalah orang-orang yang wajib dinafkahi. Ini adalah definisi yang dinilai rajih oleh Syamsuddin ar-Ramli.
Kedua, keluarga adalah semua orang yang dinafkahi meski hal tersebut tidak wajib. Inilah definisi yang dinilai rajih oleh Syihabuddin ar-Ramli.
«قالوا: ومعنى كونها سنة كفاية - مع كونها تسن لكل قادر منهم عليها - سقوط الطلب عنهم بفعل واحد رشيد منهم، لا حصول الثواب لكل منهم، إلا إذا قصد المضحي تشريكهم في الثواب.
Yang dimaksud dengan sunnah kifayah padahal sebenarnya penyembelihan hewan qurban itu dianjurkan untuk setiap individu yang mampu adalah gugurnya perintah berqurban dari keluarga tersebut dengan penyembelihan yang dilakukan oleh satu orang dewasa di antara keluarga tersebut.
Bukanlah yang dimaksud sunnah kifayah dalam hal ini adanya pahala untuk semua anggota keluarga shahibul qurban kecuali jika shahibul qurban pasang niat mengikutsertakan mereka dalam pahala.
ومما استدل به على كون التضحية سنة كفاية عن الرجل وأهل بيته حديث أبي أيوب الأنصاري رضي الله عنه قال: {كنا نضحي بالشاة الواحدة يذبحها الرجل عنه وعن أهل بيته، ثم تباهى الناس بعد فصارت مباهاة} . (2) وهذه الصيغة التي قالها أبو أيوب رضي الله عنه تقتضي أنه حديث مرفوع.
Dalil hukum menyembelih hewan qurban itu sunnah kifayah untuk seseorang dan keluarganya adalah hadis dari Abu Ayub al-Anshari, beliau mengatakan, “Dulu kami para shahabat menyembelih hewan qurban berupa seekor kambing untuk seorang laki-laki dan anggota keluarganya.
Setelah itu banyak orang yang berbangga-bangga akan banyaknya hewan qurban yang yang disembelih. Jadilah saling berbangga ini menjadi sebuah fenomena yang memasyarakat” HR at-Tirmidzi. Kalimat yang disampaikan oleh Abu Ayub menunjukkan bahwa itu adalah hadis Nabi SAW (marfu’).
Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah 5/77-78.
Aris Munandar