HPK

mesothelioma survival rates,structured settlement annuity companies,mesothelioma attorneys california,structured settlements annuities,structured settlement buyer,mesothelioma suit,mesothelioma claim,small business administration sba,structured settlement purchasers,wisconsin mesothelioma attorney,houston tx auto insurance,mesotheliama,mesothelioma lawyer virginia,seattle mesothelioma lawyer,selling my structured settlement,mesothelioma attorney illinois,selling annuity,mesothelioma trial attorney,injury lawyer houston tx,baltimore mesothelioma attorneys,mesothelioma care,mesothelioma lawyer texas,structered settlement,houston motorcycle accident lawyer,p0135 honda civic 2004,structured settlement investments,mesothelioma lawyer dallas,caraccidentlawyer,structured settlemen,houston mesothelioma attorney,structured settlement sell,new york mesothelioma law firm,cash out structured settlement,mesothelioma lawyer chicago,lawsuit mesothelioma,truck accident attorney los angeles,asbestos exposure lawyers,mesothelioma cases,emergency response plan ppt,support.peachtree.com,structured settlement quote,semi truck accident lawyers,auto accident attorney Torrance,mesothelioma lawyer asbestos cancer lawsuit,mesothelioma lawyers san diego,asbestos mesothelioma lawsuit,buying structured settlements,mesothelioma attorney assistance,tennessee mesothelioma lawyer,earthlink business internet,meso lawyer,tucson car accident attorney,accident attorney orange county,mesothelioma litigation,mesothelioma settlements amounts,mesothelioma law firms,new mexico mesothelioma lawyer,accident attorneys orange county,mesothelioma lawsuit,personal injury accident lawyer,purchase structured settlements,firm law mesothelioma,car accident lawyers los angeles,mesothelioma attorneys,structured settlement company,auto accident lawyer san francisco,mesotheolima,los angeles motorcycle accident lawyer,mesothelioma attorney florida,broward county dui lawyer,state of california car insurance,selling a structured settlement,best accident attorneys,accident attorney san bernardino,mesothelioma ct,hughes net business,california motorcycle accident lawyer,mesothelioma help,washington mesothelioma attorney,best mesothelioma lawyers,diagnosed with mesothelioma,motorcycle accident attorney chicago,structured settlement need cash now,mesothelioma settlement amounts,motorcycle accident attorney sacramento,alcohol rehab center in florida,fast cash for house,car accident lawyer michigan,maritime lawyer houston,mesothelioma personal injury lawyers,personal injury attorney ocala fl,business voice mail service,california mesothelioma attorney,offshore accident lawyer,buy structured settlements,philadelphia mesothelioma lawyer,selling structured settlement,workplace accident attorney,illinois mesothelioma lawyer
Pertanyaan

Qurban: Lengkap

Jawaban:

 PEMBAHASAN LENGKAP TENTANG UDHIYAH (Qurban) 


A. Pengertian Qurban


Pengertian Qurban (أضحية) secara etimologi berasal dari kata 'ad-dahwah' (الضحوة) dan dinamakan demikian karena waktu pelaksanaannya adalah pada waktu dhuha. Kata 'أضحية' dapat dibaca dua hamzahnya dengan harakat fathah dan kasrah, serta dengan atau tanpa tasydid pada huruf ya'nya, yang berarti hewan yang disembelih. Sedangkan secara terminologi Qurban adalah hewan ternak yang disembelih sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Ta'ala, dilakukan mulai dari hari Nahr (Idul Adha) hingga hari-hari Tasyriq terakhir (13 Dzulhijjah).


B. Dalil Qurban


1. Al-Quran

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ


"Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)." (Qs. Al-Kautsar 108:2)


2. Hadis


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا.


"Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: 'Barangsiapa yang memiliki kemampuan untuk berqurban tetapi tidak melakukannya, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami.'" (HR. Ibnu Majah, 2/1044, no. 3123) 


عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: «ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا»


"Dari Anas radhiallahu anhu, dia berkata: 'Nabi ﷺ berkurban dengan dua ekor domba yang putih bercampur hitam dan bertanduk. Beliau menyembelihnya dengan tangan sendiri, mengucapkan basmalah dan takbir, serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba tersebut.'" (HR. Muslim, 3/1556, no. 1966)


3. Ijma' Ulama


C. Hikmah Disyariatkannya Qurban


Hikmah disyariatkannya qurban adalah untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah Ta'ala atas nikmat diberinya kehidupan hingga datangnya hari-hari yang mulia di bulan Dzulhijjah. Hal ini sebagaimana Nabi Ibrahim 'alaihis salam telah mensyukuri nikmat Allah dengan menyembelih seekor kibas (domba jantan) yang besar sebagai pengganti putranya, Nabi Ismail 'alaihis salam. Kita juga bersyukur kepada Allah atas kesempatan untuk menyaksikan hari-hari yang diberkahi ini dan atas pertolongan-Nya untuk melakukan amal shalih di dalamnya. Sebab, hari-hari ini termasuk hari-hari terbaik dalam setahun, yang Allah Ta'ala telah bersumpah dengannya dalam firman-Nya: 


وَالْفَجْرِ () وَلَيَالٍ عَشْرٍ () 


"Demi fajar, demi malam yang sepuluh (yaitu sepuluh awal Dzulhijjah)." (QS. Al-Fajr: 1-2)


D. Keutamaan Berqurban


Beberapa keutamaan berqurban berdasarkan hadits-hadits yang disebutkan sebagai berikut:


1. Amalan yang paling dicintai Allah.


عَن عَائِشَة رَضِي الله تَعَالَى عَنْهَا أَن النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قَالَ مَا عمل ابْن آدم يَوْم النَّحْر من عمل أحب إِلَى الله تَعَالَى من إِرَاقَة الدَّم إِنَّهَا لتأتي يَوْم الْقِيَامَة بقرونها وأظلافها وَإِن الدَّم ليَقَع من الله بمَكَان قبل أَن يَقع على الأَرْض فطيبوا بهَا نفسا (أخرجه الترمذی (٤/ ٨٣ ، رقم ١٤٩٣) وابن ماجه (١٠٤٥/٢ ، رقم ٣١٢٦))


"Dari Aisyah radhiallahu anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda: 'Tidak ada amalan yang dilakukan anak Adam pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah daripada menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya, dan bulunya. Dan sesungguhnya darah hewan qurban itu akan sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah, maka sucikanlah dirimu dengannya.'" (HR. Tirmidzi, 4/83, no. 1493, dan Ibnu Majah, 2/1045, no. 3126)


2. Mendapatkan pahala dari setiap helai bulu hewan qurban, setiap wolnya dan setiap tetesan darahnya. 


عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ: قُلْتُ: أَوْ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الْأَضَاحِيُّ؟ قَالَ: «سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ» . قَالُوا: مَا لَنَا مِنْهَا؟ قَالَ: «بِكُلِّ شَعْرَةٍ حَسَنَةٌ» . قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَالصُّوفُ؟ قَالَ: «بِكُلِّ شَعْرَةٍ مِنَ الصُّوفِ حَسَنَةٌ (وفي رواية البيهقي: قَالُوا: مَا لَنَا فِيهَا مِنَ الْأَجْرِ؟ قَالَ: " بِكُلِّ قَطْرَةٍ حَسَنَةٌ "»(أخرجه أحمد (٣٤/٣٢ ، رقم 19283) والبيهقي (٤٣٨/٩ ، رقم 19016)وابن ماجه (١٠٤٥/٢ ، رقم 3127))


"Dari Zaid bin Arqam, dia berkata: Aku atau mereka bertanya, 'Wahai Rasulullah, apa hikmahnya qurban?' Beliau menjawab, 'Sunnah bapak kalian, Ibrahim.' Mereka bertanya lagi, 'Apa yang kita dapatkan dari qurban?' Beliau menjawab, 'Setiap helai bulu hewan qurban akan dinilai sebagai satu kebaikan.' Mereka bertanya lagi, 'Wahai Rasulullah, bagaimana dengan wolnya?' Beliau menjawab, 'Setiap helai wol hewan qurban juga akan dinilai sebagai satu kebaikan.'


Dalam riwayat lain dari Al-Baihaqi, mereka bertanya, 'Apa yang kita dapatkan sebagai pahala dari qurban?' Beliau menjawab, 'Setiap tetes darah hewan qurban akan dinilai sebagai satu kebaikan.'" (HR. Ahmad, 3/34, no. 19283; Al-Baihaqi, 9/438, no. 19016; dan Ibnu Majah, 2/1045, no. 3127)


E. Hukum Berqurban


1. Berqurban adalah sunnah muakkad (sangat dianjurkan) setiap tahun, baik bagi orang yang sedang melaksanakan haji maupun yang tidak. Namun, yang dituntut untuk berkurban hanya berlaku bagi mereka yang mampu melakukannya, sehingga tidak dituntut bagi orang miskin yang tidak mampu. 


2. Berqurban adalah sunnah muakkad kifayah (cukup jika dilakukan oleh sebagian orang), artinya jika ada beberapa orang dalam satu rumah, maka satu hewan qurban sudah cukup untuk mereka semua.


3. Berqurban menjadi wajib;


- Jika seseorang telah bernazar untuk melakukannya, misalnya dengan mengatakan, 'aku bernadzar akan melakukan qurban dan menyedekahkannya'. 

- Jika seseorang telah menentukan hewan tertentu untuk dijadikan qurban, misalnya dengan mengatakan, 'Ini adalah hewan qurban' atau 'Aku jadikan ini sebagai hewan qurban.' Dalam hal ini, menyembelih hewan qurban tersebut menjadi wajib pada hari raya Idul Adha. Namun, jika hewan yang telah ditentukan itu mati sebelum waktu penyembelihan, maka kewajiban berkurban tersebut gugur dan tidak diwajibkan untuk menyembelih hewan lain sebagai pengganti.

- Jika seseorang berwasiat agar dilakukan penyembelihan qurban atas namanya, maka qurban tersebut diperlakukan sebagaimana qurban wajib. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan menjadikan daging qurban tersebut sebagai sedekah sunah..


F. Waktu Berqurban


Waktu pelaksanaan qurban adalah dari setelah shalat Idul Adha di hari pertama Idul Adha hingga matahari terbenam di hari terakhir hari-hari Tasyrik.


Hari-hari Tasyrik adalah tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Jadi, waktu qurban berlangsung selama 4 hari, yaitu:


1. Hari pertama Idul Adha (10 Dzulhijjah) setelah shalat Idul Adha

2. Tanggal 11 Dzulhijjah

3. Tanggal 12 Dzulhijjah

4. Tanggal 13 Dzulhijjah hingga matahari terbenam.


Catatan:


- Menyembelih hewan di malam hari umumnya makruh, dan lebih makruh lagi jika dilakukan pada qurban. 

- Jika seseorang menyembelih sebelum waktu yang ditentukan, maka qurbannya tidak sah, tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.

- Jika qurban yang dilakukan adalah qurban nadzar, maka wajib untuk menyembelih hewan qurban tersebut meskipun waktunya sudah terlewat. Namun berdosa jika mengakhirkannya tanpa uzur. 


G. Hewan Qurban


Hewan yang mencukupi untuk qurban adalah hewan ternak, yaitu unta, sapi, dan kambing. Ini mencakup semua jenis unta, sapi, dan kambing, tanpa terkecuali. Semua jenis unta, seperti unta Bactrian dan unta Arab, semua jenis sapi, seperti kerbau dan sapi biasa, serta semua jenis kambing, seperti domba dan kambing biasa, dapat digunakan sebagai hewan qurban. Baik hewan jantan maupun betina dari semua jenis hewan ternak tersebut dapat digunakan sebagai qurban. Berdasarkan firman Allah Ta'ala:


وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلْأَنْعَٰمِ 


"Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak." (Qs. Al-Hajj 22:34)


Catatan:

- Selain hewan ternak yang telah disebutkan maka tidak mencukupi, seperti sapi liar, kuda, kijang, keledai liar, dan biawak. Namun diiriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu bahwa qurban dengan hewan seperti angsa (atau sejenisnya seperti ayam jago) adalah sah, karena tujuan qurban adalah untuk mengalirkan darah.

- Boleh bagi tujuh orang untuk berpartisipasi atau ikut serta dalam satu ekor unta, atau sapi, atau kerbau sebagai qurban.

- Jika seseorang akan berkurban sendirian tanpa berpartisipasi dengan orang lain, maka unta adalah pilihan terbaik karena banyaknya darah yang dikeluarkan. Namun, jika seseorang akan berkurban dengan berpartisipasi bersama orang lain, maka tujuh kambing adalah pilihan terbaik. Setelah itu, urutan keutamaan bagi orang yang berkurban sendirian adalah satu ekor sapi, kemudian satu ekor kerbau, kemudian satu ekor domba, dan terakhir satu ekor kambing biasa.

- Warna hewan qurban yang paling utama adalah yang berwarna putih, kemudian kuning, lalu abu-abu (abu-abu yang tidak sepenuhnya putih), kemudian belang (yang sebagian putih dan sebagian hitam), lalu hitam.


H. Syarat-syarat Hewan Qurban


Syarat-syarat hewan qurban adalah sebagai berikut:


1. Jika hewan qurban adalah unta, maka harus berusia 5 tahun penuh. Jika sapi atau kambing biasa, maka harus berusia 2 tahun penuh. Jika domba, maka harus berusia 1 tahun dan memasuki tahun kedua, atau sudah berganti gigi seri (gigi depan). Hal ini karena domba dapat mengalami pergantian gigi setelah 6 bulan dan sebelum mencapai usia 1 tahun. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Jabir radhiallahu anhu dia berkata : 


قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً، إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ، فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ»


"Rasulullah ﷺ bersabda: 'Janganlah kalian menyembelih kecuali domba yang sudah dua tahun memasuki tahun ketiga (musinnah), kecuali jika sulit mendapatkannya, maka boleh menyembelih domba yang sudah satu tahun atau sudah berganti gigi seri (jadza'ah).'" (HR. Muslim, 3/1555 kitab al-Adhahi, no. 1963).


2. Hewan qurban tidak boleh memiliki cacat, yaitu:


- Tidak boleh memiliki penyakit kulit (kudis), meskipun sedikit.

- Tidak boleh pincang parah.

- Tidak boleh kurus kering (tidak berlemak).

- Tidak boleh buta total.

- Tidak boleh buta sebelah mata.

- Tidak boleh sakit yang dapat merusak dagingnya.


Catatan:


- Hewan qurban harus dalam kondisi sehat dan bebas dari cacat. Namun, jika hewan tersebut memiliki tanduk yang patah, bahkan jika tanduknya hilang semua, maka masih sah diqurbankan karena tanduk bukan bagian tubuh yang vital dan ada pada hewan jantan dan betina.


Dalil untuk hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Dari Al-Bara' bin Azib radhiallahu anhu, dia berkata:


سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ -، وَأَصَابِعِي أَقْصَرُ مِنْ أَصَابِعِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يُشِيرُ بِأُصْبُعِهِ يَقُولُ: " لَا يَجُوزُ مِنَ الضَّحَايَا: الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا، وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ عَرَجُهَا، وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا، وَالْعَجْفَاءُ الَّتِي لَا تُنْقِي "


"Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda sambil menunjuk dengan jari-jarinya -dan jari-jariku lebih pendek dari jari-jari Rasulullah ﷺ-, beliau menunjuk dengan jarinya seraya bersabda: "Tidak sah digunakan sebagai hewan qurban: hewan yang buta sebelah matanya dengan jelas, hewan yang pincang dengan jelas, hewan yang sakit dengan jelas, dan hewan yang kurus kering sehingga tidak berlemak."' (HR. An-Nasa'i, kitab Sunan An-Nasa'i, 7/215, No. 4371)"


Hewan qurban juga harus bebas dari cacat yang dapat mengurangi nilai yang dimakannya, seperti:


- Bagian telinga yang terpotong

- Lidah yang terpotong

- Kelenjar susu yang rusak

- Bagian pantat yang rusak

- Bagian paha yang rusak secara nyata

- Bagian pangkal ekor yang terpotong

- Tidak boleh kehilangan semua giginya.


Catatan:


- Jika hewan qurban testisnya cacat, maka masih sah diqurbankan karena testis bukan bagian tubuh yang vital dan hanya ada pada hewan jantan. 


3. Niat untuk berqurban harus ada saat menyembelih hewan atau sebelum menyembelih. Lafal niat untuk qurban sunah:


نَوَيْتُ التَّضْحِيَّةَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى


"Aku niat berqurban sunnah karena Allah Ta'ala."


Dan lafal niat untuk qurban wajib atau nadzar:


نَوَيْتُ التَّضْحِيَّةَ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى


"Aku niat berqurban fardu karena Allah Ta'ala."


4. Waktu penyembelihan harus sesuai dengan waktu yang telah ditentukan (yaitu setelah shalat Idul Adha dan sebelum hari-hari Tasyrik berakhir).


5. Wajib bersedekah dengan sebagian daging qurban dalam keadaan mentah. Dan haram memakan seluruh daging qurban tersebut. Berdasarkan firman Allah Ta'ala tentang hadyu yang sunah (dan hal ini juga berlaku untuk qurban sunah): 


...فَكُلُوا۟ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا۟ ٱلْقَانِعَ وَٱلْمُعْتَرَّ 


"...maka makanlah sebagiannya dan berilah makanlah orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta." (Qs. Al-Hajj 22:36)


Catatan:


- Tidak sah memberikan daging qurban dalam bentuk sudah dimasak atau sudah diasinkan, juga tidak sah jika dijadikan makanan lalu diundang orang miskin untuk memakannya, karena hak mereka adalah memiliki daging tersebut, bukan hanya memakannya.


- Hukum makan dari hewan qurban:


a. Jika qurban tersebut adalah qurban wajib (nadzar), maka tidak diperbolehkan memakan dagingnya dan wajib disedekahkan seluruhnya kepada orang-orang fakir dan miskin.


b. Jika qurban tersebut adalah qurban sunnah (tidak wajib), maka diperbolehkan memakan dagingnya. Namun, qurban tersebut tidak sah kecuali jika disedekahkan sedikit saja dari daging atau lemaknya. Minimal sedekah dari daging qurban adalah sekitar 2 uqiyyah (84 gram). 


- Cara pembagian yang dianjurkan adalah membaginya menjadi tiga:


a. Sepertiga disedekahkan kepada orang-orang fakir dan miskin.

b. Sepertiga dihadiahkan kepada kerabat.

c. Sepertiga dimakan oleh yang berqurban.


Namun, yang lebih utama adalah menyedekahkan seluruhnya dan hanya memakan satu atau dua suapan dari daging kurban sebagai keberkahan.


- Boleh menghadiahkannya kepada orang-orang kaya. 

- Minimal sedekah dari daging qurban adalah sekitar 2 uqiyyah (84 gram) daging. 

- Tidak diperbolehkan bersedekah dengan bagian qurban seperti hati atau perut yang tidak bernilai.

- Tidak dimakruhkan untuk menyimpan sebagian daging qurban. Namun, diharamkan memindahkan qurban dari tempat penyembelihan ke tempat lain.

- Tidak boleh menjual sesuatu dari hewan qurban baik qurban sunah maupun wajib, termasuk tidak boleh memberikan kulit atau bagian lainnya kepada tukang jagal sebagai upah. Namun, boleh memberikan sesuatu atau kulit hewan qurban kepada tukang jagal sebagai hadiah, selain dari upah yang seharusnya diberikan.


I. Perkara-perkara Yang Disunnahkan Bagi Orang Yang Berqurban


1. Menyembelih hewan qurban sendiri jika mampu, karena ini adalah ibadah dan melakukan ibadah secara langsung lebih utama daripada mewakilkan. Namun, jika orang yang berqurban adalah wanita atau orang buta, maka lebih utama mewakilkan kepada orang lain.


2. Menyegerakan menyembelih hewan qurban dan mempercepat melakukannya sebelum melakukan aktivitas lainnya di hari raya dan hari-hari tasyrik, agar dapat mendahului melakukan kebaikan


3. Mengikat hewan qurban beberapa hari sebelum Idul Adha sebagai tanda keinginan untuk berqurban dan memberikan kalung pada leher hewan qurban agar diketahui bahwa hewan tersebut adalah hewan qurban.


4. Menutupi hewan qurban dan tidak memotong rambut atau kuku bagi orang yang berqurban sejak awal malam Dzulhijjah, sebagai bentuk kesamaan dengan jemaah haji.


5. Memilih hewan qurban yang gemuk dan baik, karena ini termasuk mengagungkan syiar Allah. Jika hewan qurban adalah kambing, maka dianjurkan memilih kambing yang besar, putih, dan bertanduk, serta telah dikebiri.


J. Perkara-perkara Yang Disunnahkan Ketika Menyembelih


1. Mengucapkan basmalah dan takbir tiga kali saat hendak menyembelih hewan qurban, dan lebih baik lagi jika diikuti dengan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ. Seperti:


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ / مِنْ فُلان بن فلان


"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan kepada keluarga junjungan kami Nabi Muhammad. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Ya Allah, qurban ini darimu dan untukmu, maka terimalah dariku / dari fulan bin fulan (jika qurbannya diwakilkan)."


2. Menghadapkan hewan qurban ke arah kiblat saat menyembelih, yaitu dengan posisi alat penyembelihan menghadap kiblat, bukan seluruh tubuh hewan qurban.


3. Berdoa setelah menyembelih dengan mengucapkan:


اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُۥ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا۠ مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ


"Ya Allah, (qurban) ini darimu dan untukmu. Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku termasuk orang yang berserah diri (muslim)."


4. Menajamkan pisau tanpa menghadapkannya ke arah hewan qurban.


5. Menyembelih dengan cepat dan kuat.


6. Meletakkan hewan qurban pada sisi kirinya dan mengikat tiga kaki hewan kurban kecuali kaki kanan.


7. Mengikat unta sebelum menyembelihnya.


WaAllahu a'lam


Referensi:


📚 فقه العبادات على المذهب الشافعي صحـ 460-463 مكتبة مزيدة ومنقحة للمؤلفة


الأضْحِيَة.- تعريفها: الأضحية هي ما يذبح من النعم تقرباً إلى الله تعالى. وقتها: من أول أيام عيد النحر، بعد صلاة العيد، إلى غروب شمس آخر أيام التشريق، لما روي عن البراء بن عازب رضي الله عنه، قال: خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم النحر بعد الصلاة، فقال (من صلى صلاتنا، ونسك نسكنا، فقد أصاب النسك، ومن نسك قبل الصلاة فتلك شاة من لحم) (البخاري ج 1/كتاب العيدين باب 23/940) ويكره الذبح في الليل عامة، وهو في الأضحية أشد كراهة، وإن ضحى قبل الوقت لم تصح، بلا خلاف، وإن كانت منذورة لزمه أن يضحي وإن فاته الوقت. - حكمها: -1 - هي سنة مؤكدة في كل سنة، في حق الحج وغيره، وطلبها مقيد بكون الفاعل قادراً عليها، فلا تطلب من الفقير العاجز عنها. وهي سنة مؤكدة على الكفاية، فإن تعدد أصحاب البيت تجزئهم أضحية واحدة. ودليل سنيتها ما روي عن أنس رضي الله عنه أنه قال: "كان النبي صلى الله عليه وسلم يضحي بكبشين، وأنا أضحي بكبشين" (البخاري ج 5/ كتاب الأضاحي باب 7/5233.) . وحديث أم سلمة رضي الله عنها قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يضحي، فلا يمس من شعره وبشره شيئاً (مسلم ج 3/ كتاب الأضاحي باب 7/39) وقوله: (أراد) دليل على أنها سنة لا واجب. -2 - واجبة: إذا نذرها، أو عينها، فقال مثلاً: هذه أضحية، أو جعلتها أضحية، إذ تصبح التضحية بها واجبة يوم النحر، فإذا ماتت التي عينها قبل وقت الذبح، سقطت عنه، ولا يكلف بذبح غيرها - دليلها: - الأصل فيها الإجماع قوله تعالى: {فصل لربك وانحر} (الكوثر: 2.) أي صل صلاة العيد، وانحر النسك. وما روته عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (ما عمل ابن آدم يوم النحر عملاً أحب إلى الله عز وجل من هِراقة دمٍ، وإنه ليأتي يوم القيامة بقرونها وأظلافها وأشعارها، وإن الدم ليقع من الله عز وجل بمكان قبل أن يقع على الأرض، فطِيبُوا بها نفساً) (ابن ماجة ج 2/كتاب الأضاحي باب 3/ 3126) . وقال الشافعي رضي الله عنه: "لا أسمح لمن قدر عليها بتركها".

ما يجزئ في الأضحية: - يجزئ فيها الإبل والبقر والغنم بنوعيه المعز والضأن، لقوله تعالى: {ليذكروا اسم الله على مار زقهم من بهيمة الأنعام} (الحج: 34) . وأفضلها ذكر الجمل أو أنثاه، ويمكن استبدالها بسبع شياه وهي أفضل، ثم البقرة، ثم الضأن، ثم العنز. ويصح أن يشترك سبعة أشخاص في بدنة أو بقرة. وأفضل ألوانها البيضاء، ثم الصفراء، ثم الغبراء، وهي التي لا يصفو بياضها، ثم البلقاء، وهي التي يختلط فيها البياض بالسواد، ثم السوداء، ثم الحمراء، وقيل إن الاعتبار بتفاضل الألوان مسألة تعبدية، وقد يكون لحسن المنظر أو لطيب اللحم. شروطها: -1 - يشترط إن كانت من الإبل أن يكون عمرها خمس سنين كاملة، وإن كانت من البقر أو المعز أن يكون عمرها سنتين تامتين، أو من الضأن فسنة ودخلت بالثانية، أو أجذعت مقدم أسنانها، لأنها قد تسقط أسنانها بعد ستة أشهر وقبل بلوغها السنة. لما رواه جابر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (لا تذبحوا إلا مسنة، إلا أن يَعْسُرَ عليكم فتذبحوا جذعة من الضأن) (مسلم ج 2/ كتاب الأضاحي باب 2/13.) . -2 - ألا تكون جرباء، ولو قل ذلك، ولا شديد العرج، ولا عجفاء (العجفاء: المهزولة.) ، ولا عمياء، ولا عوراء ولا مريضة مرضاً يفسد لحمها، ومعنى ذلك أنها يجب أن تكون سالمة من العيوب، أما قرونها فلا يضر كونها مكسورة، ولو ذهبت كلها. ودليل ذلك ما روى البراء بن عازب رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (لا يجوز من الضحايا العوراء البين عورها، والعرجاء البين عرجها، والمريضة البين مرضها، والعجفاء التي لا تنقي) (النسائي ج 7/ص 215، ولا تنقى: التي لا نقي لها، أي لا مخ لها لضعفها وهزالها.) . -3 - سلامة الأضحية من العيوب التي تنقص مأكولاً منها، مثل قطع شيء من أذنها أو لسانها أو ضرعها أو أليتها، أو شيء ظاهر من فخدها، كما يجب ألا تذهب جميع أسنانها. -4 - أن ينوي التضحية بها عند الذبح أو قبله. -5 - أن يلتزم الوقت المحدد للذبح. -6 - يجب التصديق بشيء من لحمها نيئاً، فيحرم عليه أكلها جميعها، لقوله تعالى في هدي التطوع، ومثله أضحية التطوع: {فكلوا منها وأطعموا القانع والمعتر} (الحج: 36، والقانع: السائل، والمعتر: المتعرض للسؤال.) . ولا يصح إعطاء اللحم مطبوخاً ولا قديداً، ولا يصح أن يجعل طعاماً ويدعى إليه الفقير، لأن حقه في تملكه لا في أكله. ويفضل للمضحي أن يقتصر على أكل لقم من الكبد ويتصدق بالباقي، ويجوز له أن يأكل الثلث ويتصدق بالثلث الآخر ويهدي الثلث الباقي إلى الأغنياء (كلها.) ، وفي هذه الحال يثاب على الأضحية كلاً وعلى التصدق بعضاً. وأقل التصدق قدر أوقيتين من اللحم، ولا يجوز في نحو الكبد أو الكرش. ولا يكره الادخار من لحمها. ويحرم نقلها من بلد الأضحية. -7 - ألا يبيع شيئاً منها، فلا يجوز إعطاء الجزار جلدها أو شيئاً منها على سبيل الأجرة، ويمكنه أن يعطيه شيئاً منها أو جلدها، بالإِضافة إلى الأجرة، على سبيل الإهداء.

ويكره لمن يريد التضحية أن يزيل شيئاً من شعر الرأس وغيره، أو أن يزيل ظفراً، أو يقص شارباً، أو غير ذلك، في عشر ذي الحجة، حتى يضحي، ولا يكره له الاغتسال، وذلك لحديث أم سلمة رضي الله عنها المتقدم، وفي رواية من طريق أخرى عن أم سلمة رضي الله عنها قالت: إن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (إذا رأيتم هلال ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضحي، فليمسك عن شعره وأظفاره) (مسلم ج 3/ كتاب الأضاحي باب 7/41.) فإذا أزال شيئاً من ذلك كره له

والأفضل أن يذبح المضحي بنفسه إن أحسن الذبح، وإلا كره له ذلك لأن فيه عذاباً للأضحية، فيوكل من يحسنه، وجوباً، بقوله: وكلتك بذبح أضحيتي. وليحضر ذبحها ندباً، لما روي عن عمران بن حصين رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (يا فاطمة قومي فاشهدي أضحيتك، فإنه يغفر لك بأول قطرة تقطر من دمها كل ذنب عملته) (البيهقي ج 5/ص 239 ) .

ويستحب أن يوجه الذبيحة إلى القبلة، ويبسمل ويكبر.


📚 التقريرات السديدة قسم الجنايات إلى العتق صحـ 66-70 مكتبة دار الميراث النبوي


باب الأضحية فيها ثلاث لغات: أضحية وأضحية وأضحية. الأضحية ما يذبح من النعم تقربا إلى الله تعالى من يوم النحر إلى آخر أيام التشريق. الأصل فيه قوله تعالى: فَصَلِّ لِرَبَّكَ وَانْحَرز (الكوثر / (۲)فضلها في الحديث: ما عمل آدمی من عمل يوم النحر أحب إلى الله من إهراق الدم وإنها لتأتي يوم القيامة بقرونها وأشعارها وأظلافها وإن الدم ليقع من الله بمكان قبل أن يقع على الأرض فطيبوا بها نفسا»)(أخرجه الترمذی (٤/ ٨٣ ، رقم ١٤٩٣) وابن ماجه (١٠٤٥/٢ ، رقم ٣١٢٦)) 

وفي الحديث: ضحى رسول الله صلى الله عليه وسلم بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده الكريمة وسمى وكبر ووضع رجله المباركة على صفاحها .(أخرجه البخاري [ ١٠ / ١٢ ] وأحمد [ ٣/ ٢٦٨ ]، وأبو داود [١٠٤/٢]) حكم الأضحية سنة مؤكدة وهي أفضل من صدقة التطوع في يوم النحر إلا صلة الرحم وتكون واجبة في أربعة مسائل: ١- إذا نذرها كأن قال : تذرت أضحية أو علي أن أضحي. ٢- إذا عينها كأن قال : هذه أضحيتي ابتداء إذا لم يقصد الخير . ٣- بالجعل : كأن قال : جعلت هذه أضحية. ٤- إذا أوصى رجل بأن يذبح عنه فيسلك مسلك الواجب فلا يجوز أن يتصدق بها. - وقتها : يدخل بعد مضي قدر ركعتين وخطبتين خفيفتين من طلوع الشمس سواء أصلى أم لا فوقت الأضحية يتعلق بالزمان لا بالفعل. يخرج بغروب الشمس آخر أيام التشريق ( ۱۳ ذي الحجة) فلو ذبح قبل الطلوع أو بعد الغروب آخر يوم فلا تسمى أضحية. وإذا أخر الواجبة فتجب ويأثم للتأخير بدون العذر. الأفضل أن يذبح يوم النحر لأنه مجمع عليه والأفضل أن تأخر إلى بعد ارتفاع الشمس قدر رمح وقدر ركعتين خفيفتين و خطبتين. والأفضل أن يذبح بيده أو يوكل ويذبح بحضوره. .... ما يجزي في الأضحية: - النعم وسميت بذلك لكثرة نعم الله فيها وهي ثلاثة الإبل والبقر والغنم. ويروى عن ابن عباس رضي الله عنهما: أنه تصح الأضحية بالأوز ( كالديك ) لأن المقصود إراقة الدم. ١- الشاة هي ضأن له سنة أو معز له سنتان. ويجزئ في جذعة ولو قبل السنة. والضأن أفضل من المعز والذكر أفضل من الأنثى والمخصي أفضل من الفحل. والذي فيه قرن أفضل من غيره. ومن جهة اللون البيضاء أفضل من الصفراء والصفراء أفضل من البلقاء والبلقاء أفضل من السوداء. تجزي هذه شاة عن واحد فقط. ويجوز أن يشرك معه أهل البيت لأن الأضحية سنة على الكفاية. ٢- البقر مسنة ولها سنتان تجزئ عن السبعة. ٣- الإبل ها خمس سنين يسمى ثني: تجزئ عن السبعة ( وقيل عن العشرة ). مسألة : أيها أفضل ذبح الإبل أو الشاة ؟ إن كان سيذبح عن نفسه دون مشاركة :فالإبل أفضل لكثرة إراقة الدم.وإن كان سيذبح مع المشاركة فالشاة أفضل ، .... شروط الحيوان الذي يضحي به : ١- أن لا تكون بينة الهزال أي أن لا يظهر فيه أنها هزيلة غير سمينة بحيث يذهب لحمها من كثرة هزالها أي لا شحم فيها، وأما إذا كانت خفيفة الهزل فلا يضر ولكن سمينة أفضل . ٢- أن لا تكون بينة المرض وأما مرض خفيف فلا يضر . ٣- أن لا تكون بينة العرج أي تمشي ولكن تعرج ولو كان عرجها طرأ حال الذبح أي عند سوقها إلى المذبح وأما إذا كان العرج خفيف بحيث لا تسبقها أخواتها فهذه تجزئ . ٤- . أن لا تكون جرباء ولو يسيرا لأن ذلك يغير طعم اللحم .٥- أن لا تكون معيبة أي ناقصة الجزء كبعض الأذن لأن الأذن عضو مأكول. - وأما إذا لم ينقص بأن كان محروقا فلا يضر. وعند المالكية تجزئ مقطوعة الأذن إلى ثلثها وأبو يوسف إلى نصفها وعليه العمل والتقليد القلة وجود كاملة الأذن. - إذا كانت مكسورة القرن فتجزئ لأن القرن ليس عضو لازم وهو الذي وجد الذكر والأنثى. - وإذا كانت بلا ذيل: فتجزئ لأنه موجود في الضأن دون المعز إذا قطع شيء في عضو كبير كالفخذ لا يضر..ـ وإذا قطع الذنب فلا تجزئ وهو غير الذيل. - وإذا كانت عمياء أو عوراء فلا تجزئ. - وإذا كانت منقوصة الخصية تجزي لأنه الخصية عضو غير لازم يوجد في الذكر دون الأنثى. .... حكم الأكل من الأضحية: ١. إذا كانت واجبة فلا يجوز أكل منها ويجب التصدق بها كلها إلى الفقراء والمساكين. ٢- إذا كانت مندوبة يجوز الأكل منها ولا تجزئ أضحية إلا إذا تصدق ولو بجزء قليل من الحمها أو شحمها. الأفضل أن يقسمها ثلاثا: ۱. ثلث يتصدق بها للفقراء والمساكين. .۲. ثلث يهديه للاقارب. ٣. وثلث يأكله منه. الأفضل من هذا التصدق بها كلها وأكل لقمة أو لقمتين منها تبركا. حكم بيعها : لا يجوز بيع شيء منها لا الواجبة ولا المندوبة.


📚 المجموع شرح المهذب, 8/ 393-410 مكتبة دار الفكر


فَشَرْطُ الْمُجْزِئِ فِي الْأُضْحِيَّةِ أَنْ يَكُونَ مِنْ الْأَنْعَامِ وَهِيَ الْإِبِلُ وَالْبَقَرُ وَالْغَنَمُ سَوَاءٌ فِي ذَلِكَ جَمِيعُ أَنْوَاعِ الْإِبِلِ مِنْ الْبَخَاتِيِّ وَالْعِرَابِ وَجَمِيعِ أَنْوَاعِ الْبَقَرِ مِنْ الْجَوَامِيسِ وَالْعِرَابِ والدربانية وَجَمِيعِ أَنْوَاعِ الْغَنَمِ مِنْ الضَّأْنِ وَالْمَعْزِ وَأَنْوَاعِهِمَا وَلَا يُجْزِئُ غَيْرُ الْأَنْعَامِ مِنْ بَقَرِ الْوَحْشِ وَحَمِيرِهِ وَالضَّبَّا وَغَيْرُهَا بِلَا خِلَافٍ وَسَوَاءٌ الذَّكَرُ وَالْأُنْثَى مِنْ جَمِيعِ ذَلِكَ وَلَا خِلَافَ فِي شئ مِنْ هَذَا عِنْدَنَا ... أَفْضَلُهَا الْبَيْضَاءُ ثم الصفراء ثم الغبراء وهي التي لايصفو بَيَاضُهَا ثُمَّ الْبَلْقَاءُ وَهِيَ الَّتِي بَعْضُهَا أَبْيَضُ وَبَعْضُهَا أَسْوَدُ ثُمَّ السَّوْدَاءُ .... (فَرْعٌ) يُسْتَحَبُّ مَعَ التَّسْمِيَةِ عَلَى الذَّبِيحَةِ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ الذَّبْحِ نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي الْأُمِّ وَبِهِ قَطَعَ الْمُصَنِّفُ فِي التَّنْبِيهِ وَجَمَاهِيرُ الْأَصْحَابِ وَفِيهِ وَجْهٌ لِابْنِ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ وَلَا يُكْرَهُ وَعَجَبٌ أَنَّ الْمُصَنِّفَ هُنَا كَيْفَ أَهْمَلَ ذِكْرَ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ مَعَ شُهْرَتِهَا وَذِكْرَهُ إيَّاهَا فِي التَّنْبِيهِ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ هَذَا مَذْهَبُنَا * وَنَقَلَ الْقَاضِي عِيَاضٌ عَنْ مَالِكٍ وَسَائِرِ الْعُلَمَاءِ كَرَاهَتَهَا قَالُوا وَلَا يُذْكَرُ عِنْدَ الذَّبْحِ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ * (فَرْعٌ) يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقُولَ عِنْدَ التَّضْحِيَةِ مَعَ التَّسْمِيَةِ اللَّهُمَّ مِنْك وَإِلَيْك تَقَبَّلْ مِنِّي * وَحَكَى الْمَاوَرْدِيُّ وَجْهًا أَنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ وَهَذَا شَاذٌّ ضَعِيفٌ وَالْمَذْهَبُ مَا سَبَقَ * وَلَوْ قَالَ تَقَبَّلْ مِنِّي كَمَا تَقَبَّلْت مِنْ إبْرَاهِيمَ خَلِيلِك وَمُحَمَّدٍ عَبْدِك وَرَسُولِك صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِمَا وَسَلَّمَ لَمْ يُكْرَهْ وَلَمْ يُسْتَحَبَّ كَذَا نقله الروياني في البحر عن الاصحاب * وَاتَّفَقَ أَصْحَابُنَا عَلَى اسْتِحْبَابِ التَّكْبِيرِ مَعَ التَّسْمِيَةِ فَيَقُولُ بِسْمِ اللَّهِ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ لِحَدِيثِ أَنَسٍ الْمَذْكُورِ وَهُوَ صَحِيحٌ كَمَا سَبَقَ


📚 الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع، 2/ 587-592 مكتبة دار الفكر


فصل فِي الْأُضْحِية مُشْتَقَّة من الضحوة وَسميت بِأول زمَان فعلهَا وَهُوَ الضُّحَى وَهِي بِضَم همزتها وَكسرهَا وَتَشْديد يائها وتخفيفها مَا يذبح وَالْأَصْل فِيهَا قبل الْإِجْمَاع قَوْله تَعَالَى {فصل لِرَبِّك وانحر} فَإِن أشهر من الْغنم تقربا إِلَى الله تَعَالَى من يَوْم الْعِيد إِلَى آخر أَيَّام التَّشْرِيق الْأَقْوَال أَن المُرَاد بِالصَّلَاةِ صَلَاة الْعِيد وبالنحر الضَّحَايَا وَخبر التِّرْمِذِيّ عَن عَائِشَة رَضِي الله تَعَالَى عَنْهَا أَن النَّبِي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قَالَ مَا عمل ابْن آدم يَوْم النَّحْر من عمل أحب إِلَى الله تَعَالَى من إِرَاقَة الدَّم إِنَّهَا لتأتي يَوْم الْقِيَامَة بقرونها وأظلافها وَإِن الدَّم ليَقَع من الله بمَكَان قبل أَن يَقع على الأَرْض فطيبوا بهَا نفسا (وَالْأُضْحِيَّة) بِمَعْنى التَّضْحِيَة كَمَا فِي الرَّوْضَة لَا الْأُضْحِية كَمَا يفهمهُ كَلَامه لِأَن الْأُضْحِية اسْم لما يضحى بِهِ (سنة) مُؤَكدَة فِي حَقنا على الْكِفَايَة إِن تعدد أهل الْبَيْت فَإِذا فعلهَا وَاحِد من أهل الْبَيْت كفى عَن الْجَمِيع وَإِلَّا فَسنة عين والمخاطب بهَا الْمُسلم الْحر الْبَالِغ الْعَاقِل المستطيع وَكَذَا الْمبعض إِذا ملك مَالا بِبَعْضِه الْحر قَالَه فِي الْكِفَايَة قَالَ الزَّرْكَشِيّ وَلَا بُد أَن تكون فاضلة عَن حَاجته وحاجة من يمونه لِأَنَّهَا نوع صَدَقَة وَظَاهر هَذَا أَنه يَكْفِي أَن تكون فاضلة عَمَّا يَحْتَاجهُ فِي ليلته ويومه وَكِسْوَة فَصله كَمَا فِي صَدَقَة التَّطَوُّع وَيَنْبَغِي أَن تكون فاضلة عَن يَوْم الْعِيد وَأَيَّام التَّشْرِيق فَإِنَّهُ وقتهما كَمَا أَن يَوْم الْعِيد وَلَيْلَة الْعِيد وَقت زَكَاة الْفطر واشترطوا فِيهَا أَن تكون فاضلة عَن ذَلِك وَأما الْمكَاتب فَهِيَ مِنْهُ تبرع فَيجْرِي فِيهَا مَا يجْرِي فِي سَائِر تبرعاته ... وَأفضل أَنْوَاع التَّضْحِيَة بِالنّظرِ لإِقَامَة شعارها بَدَنَة ثمَّ بقرة لِأَن لحم الْبَدنَة أَكثر ثمَّ ضَأْن ثمَّ معز لطيب الضَّأْن على الْمعز ثمَّ الْمُشَاركَة فِي بَدَنَة أَو بقرة أما بِالنّظرِ للحم فلحم الضَّأْن خَيرهَا وَسبع شِيَاه أفضل من بَدَنَة أَو بقرة وشَاة أفضل من مُشَاركَة فِي بَدَنَة أَو بقرة للانفراد بإراقة الدَّم وَأَجْمعُوا على اسْتِحْبَاب السمين فِي الْأُضْحِية فالسمينة أفضل من غَيرهَا ثمَّ مَا تقدم من الْأَفْضَلِيَّة فِي الذَّات ... وَأما فِي الألوان فالبيضاء أفضل ثمَّ الصَّفْرَاء ثمَّ العفراء وَهِي الَّتِي لَا يصفو بياضها ثمَّ الْحَمْرَاء ثمَّ البلقاء ثمَّ السَّوْدَاء قيل للتعبد وَقيل لحسن المنظر وَقيل لطيب اللَّحْم وروى الإِمَام أَحْمد خبر لدم عفراء أحب إِلَى الله تَعَالَى من دم سوداوين (وَأَرْبع لَا تجزىء فِي الضَّحَايَا) الأولى (العوراء) بِالْمدِّ (الْبَين عورها) بِأَن لم تبصر بِإِحْدَى عينيها وَإِن بقيت الحدقة فَإِن قيل لَا حَاجَة لتقييد العور بالبين لِأَن الْمدَار فِي عدم إِجْزَاء العوراء على ذهَاب الْبَصَر من إِحْدَى الْعَينَيْنِ أُجِيب بِأَن الشَّافِعِي رَضِي الله تَعَالَى عَنهُ قَالَ أصل العور بَيَاض يُغطي النَّاظر وَإِذا كَانَ كَذَلِك فَتَارَة يكون يَسِيرا فَلَا يضر فَلَا بُد من تَقْيِيده بالبين .... (وَيسْتَحب عِنْد الذّبْح) مُطلقًا (خَمْسَة) بل تِسْعَة (أَشْيَاء) الأول (التَّسْمِيَة) بِأَن يَقُول بِسم الله وَلَا يجوز أَن يَقُول بِسم الله وَاسم مُحَمَّد.(و) الثَّانِي (الصَّلَاة) وَالسَّلَام (على) سيدنَا (رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم) تبركا بهما.(و) الثَّالِث (اسْتِقْبَال الْقبْلَة بالذبيحة) أَي بمذبحها فَقَط على الْأَصَح دون وَجههَا ليمكنه الِاسْتِقْبَال أَيْضا.(و) الرَّابِع (التَّكْبِير ثَلَاثًا) بعد التَّسْمِيَة كَمَا قَالَه الْمَاوَرْدِيّ (و) الْخَامِس (الدُّعَاء بِالْقبُولِ) بِأَن يَقُول اللَّهُمَّ هَذَا مِنْك وَإِلَيْك فَتقبل مني وَالسَّادِس تَحْدِيد الشَّفْرَة فِي غير مقابلتها وَالسَّابِع إمرارها وتحامل ذهابها وإيابها وَالثَّامِن إضجاعها على شقها الْأَيْسَر وَشد قَوَائِمهَا الثَّلَاث غير الرجل الْيُمْنَى وَالتَّاسِع عقل الْإِبِل وَقد مرت الْإِشَارَة إِلَى بعض ذَلِك قَالَه فِي الْمُهَذّب (وَلَا يَبِيع من الْأُضْحِية شَيْئا) وَلَو جلدهَا أَي يحرم عَلَيْهِ ذَلِك وَلَا يَصح سَوَاء أَكَانَت منذورة أم لَا وَله أَن ينْتَفع بجلد أضْحِية التَّطَوُّع كَمَا يجوز لَهُ الِانْتِفَاع بهَا كَأَن يَجعله دلوا أَو نعلا أَو خفا وَالتَّصَدُّق بِهِ أفضل وَلَا يجوز بَيْعه وَلَا إِجَارَته لِأَنَّهَا بيع الْمَنَافِع لخَبر الْحَاكِم وَصَححهُ من بَاعَ جلد أضحيته فَلَا أضْحِية لَهُ وَلَا يجوز إِعْطَاؤُهُ أُجْرَة للجزار وَيجوز لَهُ إعارته كَمَا تجوز لَهُ إعارتها أما الْوَاجِبَة فَيجب التَّصَدُّق بجلدها كَمَا فِي الْمَجْمُوع والقرن مثل الْجلد فِيمَا ذكر 


📚 موقِع الوِب دار الإفتاء المصرية


الأضحية وبعض أحكامها

تاريخ الفتوى: 25 يناير 2004 م

رقم الفتوى: 475

من فتاوى: فضيلة الأستاذ الدكتور علي جمعة محمد

التصنيف: الذبائح


الحكمة من مشروعية الأضحية

الأضحية المقصود بها شكر الله تعالى على نعمة الحياة إلى حلول الأيام الفاضلة من ذي الحجة كما شكر نبي الله إبراهيم ربه بذبح الكبش العظيم لبقاء حياة ابنه إسماعيل على نبينا وعليهما الصلاة والسلام، ولشكر الله تعالى على شهود هذه الأيام المباركة وعلى التوفيق فيها للعمل الصالح؛ لأنها خير أيام العام التي أقسم الله عز وجل بها: ﴿وَالْفَجْرِ ۝ وَلَيَالٍ عَشْرٍ﴾ [الفجر: 1-2]. وقال فيها رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: «مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هَذِهِ الأيام -يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ-» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَلا الْجِهَادُ في سَبِيلِ اللهِ؟ قَالَ: «وَلا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ، إِلا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ» رواه البخاري وغيره عن ابن عباس رضي الله عنهما.

فالإسلام الحنيف يُعَلِّم أتباعه أن يكون فرحهم لله وفي الله وبفضل الله: ﴿قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ﴾ [يونس: 58]. فعيدَا رمضان والأضحى هما فرح بطاعة الله وتوفيقه ورضاه؛ ليتعود المسلم أن يكون فرحه لله، وحزنه لله، وعطاؤه لله، ومنعه لله، وأن يحيا لله، ويموت له تبارك وتقدس.


الدليل على مشروعية الأضحية

الأضحية شرعت بدليل الكتاب والسنة والإجماع، قال تعالى: ﴿فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ﴾ [الكوثر: 2]. فمن تفسيرها: صلِّ العيد وانحر الأضاحي: البُدن وغيرها.

والسنة في ذلك قولية وفعلية؛ فعن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم قال: «مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلا يَقْرَبَنَّ مُصَلانَا» أخرجه ابن ماجه والحاكم وصححه، وعن أنس رضي الله عنه قال: "ضَحَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وآله وسلم بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا" أخرجه مسلم.

وأجمع المسلمون على مشروعيتها.


المستحب للمضحي فعله عند التضحية

يستحبُّ للمضحي أن يذبح بنفسه إن قدر على ذلك؛ لأنه قربة، ومباشرة القربة أفضل من التفويض والتوكيل فيها، واستثنى الشافعية إن كان المضحي أنثى أو أعمى فالأفضل في حقهما التوكيل.

ويستحب للمضحي أيضًا التسمية عند الذبح خروجًا من خلاف مَن أوجبه، فيقول: باسم الله والله أكبر، وحبذا لو صلى على النبي صلى الله عليه وآله وسلم، ويستحب له الدعاء بقوله: اللهم منك ولك، إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين لا شريك له، وبذلك أُمرت، وأنا من المسلمين؛ وذلك لحديث فاطمة رضي الله عنها الآتي ولغيره، ويستحب له أن يبادر بالتضحية ويسرع بها قبل غيرها من وظائف العيد وأيام التشريق لِابتدار الخير؛ قال تعالى: ﴿وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ﴾ [آل عمران: 133].

ويستحب له قبل التضحية أن يربطها قبل يوم النحر بأيام؛ إظهارًا للرغبة في القربة، وأن يقلدها؛ أي يجعل شيئًا في عنقها ليعلم أنها أضحية، وأن يُجَلِّلها؛ وهو تغطيتها وإلباسها الجُلَّ بضم الجيم أو فتحها؛ لصيانتها قياسًا على الهَدي، وألا يزيل شيئًا من شعره أو أظفاره إذا دخل أول ليلة من عشر ذي الحجة؛ تشبهًا بالحجيج، والأصل في ذلك حديث أم سلمة رضي الله عنها مرفوعًا: «إِذَا دَخَلَتِ الْعَشْرُ، وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ، فَلَا يَمَسَّ مِنْ شَعَرِهِ وَبَشَرِهِ شَيْئًا» أخرجه مسلم.

وبعضهم جعل الحكمة من ذلك أن يبقى مريد التضحية كامل الأجزاء رجاء أن يعتق من النار بالتضحية، وهذا الأمر مسنون عند المالكية والشافعية، واجب عند الحنابلة.

ويستحب له أن يسمِّن الأضحية أو يشتري السمين؛ لأن ذلك من تعظيم شعائر الله تعالى، وإن كانت شاة أن تكون كبشًا أبيض عظيم القرن خصيًّا؛ لحديث أنس رضي الله عنه: "أنه صلى الله عليه وآله وسلم ضحَّى بكبشين أملحين موجوءين"، وقد سبق.


Kudus, 7 Dzulhijjah 1446 H/ 2 Juni 2025 M

Aqidah (70) Arbain (8) Distribusi (1) Fiqih (134) Hadist (35) Jenazah (4) Khotbah (3) Kisah Hikmah (20) Kisah Teladan (6) Kutipan (307) Pajak (5) Pasar (5) Pendidikan Islam (19) Penjualan (3) Pernikahan (7) Puasa (14) Qurban (1) Ramadhan (11) Segmentasi (1) Shalat (19) Soal Ekonomi (8) Soal PKn (5) Syubhat (5) Tafsir (5) Thaharah (1) Uraian (2) Zakat (1)