Nabi Nuh, Nabi Musa dan Iblis
Ketika Nabi Nuh naik ke dalam kapal, beliau melihat seorang lelaki tua yang tidak dikenal. Nuh pun bertanya kepadanya:
“Apa yang membuatmu masuk (ke dalam kapal ini)?”
Ia menjawab:
“Aku masuk untuk menguasai hati para pengikutmu, agar hati mereka bersamaku, sementara tubuh mereka bersamamu.”
Nuh berkata:
“Keluarlah, wahai musuh Allah!”
Ia menjawab:
“Ada lima hal yang dengannya aku membinasakan manusia, dan aku akan memberitahumu tiga darinya, sementara dua lainnya tidak akan aku ceritakan.”
Namun kemudian diwahyukan kepada Nuh:
“Engkau tidak butuh yang tiga itu, perintahkan dia agar memberitahumu dua yang lainnya, karena dengan dua itulah manusia dibinasakan.”
Lalu ia berkata:
“Dua hal itu adalah: hasad (iri hati)—karena hasad aku dilaknat dan dijadikan setan yang terusir; dan rakus (tamak)—rakuslah yang membuat Adam memakan seluruh isi surga, dan dengan itu aku berhasil memenuhi keinginanku darinya.”
Kemudian Iblis bertemu dengan Musa, dan berkata:
“Wahai Musa, engkau telah dipilih Allah untuk menyampaikan risalah-Nya, dan Dia berbicara langsung kepadamu. Aku juga makhluk Allah yang telah berdosa, dan aku ingin bertaubat. Maka mohonkanlah syafaat untukku kepada Tuhanmu agar Dia menerima taubatku.”
Maka Musa pun berdoa kepada Tuhannya.
Lalu dikatakan kepadanya:
“Wahai Musa, sungguh Aku telah mengabulkan permintaanmu.”
Maka Musa bertemu kembali dengan Iblis dan berkata:
“Engkau telah diperintahkan untuk bersujud di atas kubur Adam, maka taubatmu akan diterima.”
Namun Iblis malah menyombongkan diri dan marah, seraya berkata:
“Dulu aku tidak mau bersujud kepadanya saat dia hidup, apakah sekarang aku harus bersujud kepadanya dalam keadaan mati?”
Kemudian Iblis berkata:
“Wahai Musa, sungguh engkau telah memiliki hak atas diriku karena engkau telah memohonkan syafaat kepada Tuhanmu untukku. Maka ingatlah aku dalam tiga keadaan—karena tidak ada kebinasaan kecuali pada tiga keadaan itu:
1. Ingatlah aku saat engkau marah, karena saat itu wahyu (bisikanku) ada dalam hatimu, mataku ada di matamu, dan aku mengalir dalam dirimu sebagaimana darah mengalir.
2. Ingatlah aku saat engkau menghadapi medan perang, karena aku datang kepada anak Adam saat mereka bertempur dan aku mengingatkan mereka akan anak-anaknya, istrinya, dan keluarganya, hingga mereka lari dari medan perang.
3. Dan jangan sekali-kali duduk berdua dengan wanita yang bukan mahrammu, karena aku adalah utusan dari pihaknya kepadamu dan dari pihakmu kepadanya.”
Sumber: Makā’id al-Shayṭān (Tipu Daya Setan), Ibn Abid Dunia (hal. 65).
Teks Asli:
«قَالَ أَبُو بَكْرِ بْنُ عُبَيْدٍ: حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ قَهْرَمَانُ آلِ الزُّبَيْرِ، حَدَّثَنَا سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ:
: لَمَّا رَكِبَ نُوحٌ السَّفِينَةَ رَأَى فِيهَا شَيْخًا لَمْ يَعْرِفْهُ، قَالَ لَهُ نُوحٌ: مَا أَدْخَلَكَ؟ قَالَ: دَخَلْتُ لأُصِيبَ قُلُوبَ أَصْحَابِكَ فَتَكُونَ قُلُوبُهُمْ مَعِي، وَأَبْدَانُهُمْ مَعَكَ.
قَالَ نُوحٌ: اخْرُجْ يَا عَدُوَّ اللَّهِ.
فَقَالَ: خَمْسٌ أُهْلِكُ بِهِنَّ النَّاسَ، وَسَأُحَدِّثُكَ مِنْهُنَّ بِثَلاثٍ، وَلا أُحَدِّثُكَ بِاثْنَتَيْنِ، فَأُوحِيَ إِلَى نُوحٍ لا حَاجَةَ بِكَ إِلَى الثَّلاثِ، مُرْهُ يُحَدِّثُكَ بِالاثْنَتَيْنِ، فَإِنَّ بِهِمَا أَهْلَكَ النَّاسَ فَقَالَ هُمَا: الْحَسَدُ، وَبِالْحَسَدِ لُعِنْتُ، وَجُعِلْتُ شَيْطَانًا رَجِيمًا، وَالْحِرْصُ أَبَاحَ لآدَمَ الْجَنَّةَ كُلَّهَا فَأَصَبْتُ حَاجَتِي مِنْهُ بِالْحِرْصِ.
قَالَ: وَلَقِيَ إِبْلِيسُ مُوسَى فَقَالَ: يَا مُوسَى أَنْتَ الَّذِي اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِرِسَالَتِهِ، وَكَلَّمَكَ تَكْلِيمًا، وَأَنَا مِنْ خَلْقِ اللَّهِ أَذْنَبْتُ، وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ أَتُوبَ، فَاشْفَعْ لِي عِنْدَ رَبِّكَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَتُوبَ عَلَيَّ، فَدَعَا مُوسَى رَبَّهُ.
فَقِيلَ يَا مُوسَى قَدْ قَضَيْتُ حَاجَتَكَ، فَلَقِيَ مُوسَى إِبْلِيسَ، فَقَالَ: قَدْ أُمِرْتَ أَنْ تَسْجُدَ لِقَبْرِ آدَمَ وَيُتَابَ عَلَيْكَ، فَاسْتَكْبَرَ وَغَضِبَ، وَقَالَ: لَمْ أَسْجُدْ لَهُ حَيًّا، أَأَسْجُدُ لَهُ مَيِّتًا؟ ثُمَّ قَالَ إِبْلِيسُ: يَا مُوسَى إِنَّ لَكَ عَلَيَّ حَقًّا بِمَا شَفَعْتَ لِي رَبَّكَ، فَاذْكُرْنِي عِنْدَ ثَلاثٍ وَلا هَلاكَ إِلا فِيهِنَّ: اذْكُرْنِي حِينَ تَغْضَبُ فَإِنَّ وَحْيِي فِي قَلْبِكَ، وَعَيْنِي فِي عَيْنِكَ، وَأَجْرِي مِنْكَ مَجْرَى الدَّمِ.
اذْكُرْنِي حِينَ تَلْقَى الزَّحْفَ فَإِنِّي آتِي ابْنَ آدَمَ، حِينَ يَلْقَى الزَّحْفَ فَأُذَكِّرُهُ وَلَدَهُ وَزَوْجَتَهُ وَأَهْلَهُ حَتَّى يُوَلِّيَ.
وَإِيَّاكَ أَنْ تُجَالِسَ امْرَأَةً لَيْسَتْ بِذَاتِ مَحْرَمٍ، فَإِنِّي رَسُولُهَا إِلَيْكَ وَرَسُولُكَ إِلَيْهَا». «مكائد الشيطان» (ص65)