Asy’ariyyah dan Wahabi
Bayangkan kamu lagi duduk di pengajian.
Di satu forum, kamu dengar:
“Allah itu ada tanpa tempat. Allah melihat tanpa mata, mendengar tanpa telinga…”
Tapi di kajian lain, kamu dengar:
“Allah itu di atas Arsy, punya dua mata, dua tangan, kaki, dan paha. Tapi nggak kayak makhluk…”
Dua-duanya bilang ini aqidah Islam.
Dua-duanya mengaku berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Hadits.
Lalu kamu bingung:
“Lho… ini Tuhannya sama apa beda?”
Di sinilah letak masalahnya.
Perbedaan yang sering dijadikan topik diskusi
Satunya “Maulid” satunya “Mengharamkan Maulid”
Satunya “Tahlilan” satunya “nggak Tahlilan”
Padahal… justru bukan itu inti perbedaannya.
Masalah maulid dan tahlil itu masih wilayah fiqih — ada ruang untuk beda pendapat (khilafiyyah) untuk ditoleransi.
Tapi perbedaan antara Asy’ariyyah dan Salafi itu menyentuh inti aqidah, yang sulit untuk ditoleransi.
tentang siapa dan bagaimana kita mengenal Tuhan.
Tulisan ini bersifat netral dan hanya sebagai wawasan saja.
๐️ Siapa Itu Asy’ariyyah dan Siapa Itu Salafi?
✅ Asy’ariyyah
Mengikuti mazhab aqidah Imam Abul Hasan al-Asy’ari (w. 324 H) dan Imam Abu Manshur al-Maturidi. Dipegang oleh mayoritas umat Islam sejak abad ke-4 H. Organisasi dan lembaga yang menganutnya:
Nahdlatul Ulama (NU) – Indonesia
Al-Azhar – Mesir
Zaytuna College – AS
Nadwatul Ulama – India
Banyak pesantren tradisional, ulama Timur Tengah, Afrika, Asia Selatan
✅ Salafi
Berangkat dari ajaran Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab (Najd, abad 18) para musuhnya menyebutnya Wahabi karena nisbat kepada pendirinya.
Kalangan ini juga disebut salafi sebab ajaran Syekh MBAW sesuai dengan generasi ajaran Salaf “Generasi Islam awal”.
dan Beraqidah Salafi mengikuti Imam Ibn Taimiyyah.
Dikuatkan oleh dukungan kerajaan Saudi
Masuk ke Indonesia lewat:
LIPIA Jakarta
Radio-radio Sunnah semisal Rodja, Yufid dll
Kajian “manhaj salaf” di medsos
๐ Masalah Utama: Cara Memahami Ayat-Ayat Sifat
Banyak ayat dalam Al-Qur’an menyebut “tangan”, “wajah”, “mata”, “turun”, “istawa”, “melihat”, “mendengar”, dll.
Ini semua disebut sebagai sifat Allah. Tapi cara menafsirkannya di sinilah letak perbedaan besar.
๐ Perbedaan Metodologi
๐ฉ Asy’ariyyah
1. Tafwidh:
Makna hakiki ayat diserahkan kepada Allah, tanpa memastikan seperti apa.
Contoh: “Tangan Allah” → “Kami imani, tapi maknanya hanya Allah yang tahu.”
2. Takwil:
Menafsirkan makna agar tidak menyerupakan Allah dengan makhluk.
Contoh: “Tangan Allah” → artinya kekuasaan.
๐ฅ Salafi/Wahabi
Tafsir Dzahir (menolak takwil & tafwidh):
Maknanya dipahami sesuai lafaz, tapi “tidak sama dengan makhluk”.
Contoh: “Tangan Allah” → benar-benar tangan, tapi bukan seperti tangan manusia.
✳️ Contoh-Contoh Konkret dari Ayat Sifat
1️⃣ Allah Melihat
“ََُููู ุงูุณَّู ِูุนُ ุงْูุจَุตِูุฑُ” (QS. Al-Syura: 11)
“Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
• Asy’ariyyah: Allah melihat tanpa mata, mendengar tanpa telinga
• Salafi: Allah melihat dengan dua mata, tapi “tidak seperti mata makhluk”
2️⃣ Tangan Allah
“ุจَْู َูุฏَุงُู ู َุจْุณُูุทَุชَุงِู” (QS. Al-Ma’idah: 64)
“Bahkan kedua tangan Allah terbuka…”
• Asy’ariyyah: “Tangan” di sini ditakwil sebagai kekuasaan atau nikmat-Nya
• Salafi: Allah punya dua tangan hakiki, tapi tidak serupa dengan tangan makhluk
3️⃣ Wajah Allah
Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah-Nya. “QS: al-Qashash
•Asy’ariyyah: Kecuali Kekuasaan Allah.
•Salafi: Allah memang punya wajah namun wajahnya berbeda dengan makluknya.
4️⃣ Kaki Allah
Hadits: “Neraka terus berkata, ‘Apakah masih ada?’ Hingga Allah meletakkan kaki-Nya lalu Neraka…” (HR. Bukhari)
• Asy’ariyyah: Ditakwil, bukan kaki literal. Maknanya dikembalikan ke keagungan Allah
• Salafi: Allah benar benar meletakan kakinya kedalam api neraka, Allah punya kaki, hakiki, tapi tidak serupa dengan makhluk.
5️⃣ Betis Allah
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Rabb kita menampakkan betisnya”
• Asy’ariyyah: Ini maksudnya Allah menampakan Kesulitan dan ujian yang besar dihari kiamat. “Betis” bukan berarti Allah punya anggota tubuh
• Salafi: Allah punya paha, sesuai dengan keagungan-Nya tidak seperti makluknya.
6️⃣ Bayangan Allah
“ุณَุจْุนَุฉٌ ُูุธُُِّููู ُ ุงَُّููู ِูู ุธِِِّูู َْููู َ َูุง ุธَِّู ุฅَِّูุง ุธُُِّูู…”
“Tujuh golongan yang akan Allah naungi dalam Dill-Nya pada hari di mana tidak ada Naungan kecuali Dill-Nya…”
(HR. Bukhari & Muslim)
• Asy’ariyyah: ุธูู Naungan Allah
• Salafi: sebagian ulama salafi membenarkan bahwa allah punya bayangan sesuai dzahir ayatnya tapi bukan seperti makhluk. Sebagian lain menolaknya.
7. Allah Turun Kelangit Dunia
Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan? (HR. Bukhari-Muslim)
•Asy’ariyyah: Yang turun Rahmat Allah
•Salafi: Allah benar benar turun kelangit dunia sesuai keagungannya dan turunnya berbeda dengan turunnya makluk.
8. Allah di Atas Arsy
Firman Allah:
“Ar-Rahman ‘ala al-‘Arsy istawa.”
“Tuhan Yang Maha Pengasih ber-istiwa (bersemayam) di atas Arsy.”
(QS. Taha: 5)
Pendekatan Asy’ariyyah
๐ Metode Pertama: Tafwidh (Menyerahkan Makna ke Allah)
• Ayat ini dibaca dan diyakini sebagaimana adanya, tapi maknanya diserahkan kepada Allah.
• Maksudnya: “Allah istiwa di atas Arsy, kami beriman, tapi bagaimana maksudnya, hanya Allah yang tahu.”
• Ini dilakukan agar tidak jatuh ke dalam penyerupaan Allah dengan makhluk (tasybih).
✅ Contoh gampangnya:
“Saya percaya ayat itu benar, tapi saya gak berani ngomong Allah duduk atau nempel di Arsy. Allah Maha Suci dari tempat dan arah.”
๐ Metode Kedua: Takwil (Menafsirkan Makna)
• Kata “istawa” ditakwil (ditafsir) sebagai “istawla” yang artinya menguasai.
• Jadi: “Allah menguasai Arsy” — bukan duduk atau menempel.
✅ Contohnya seperti orang bilang:
“Raja sudah duduk di atas tahta.”
Maksudnya: raja sudah berkuasa, bukan benar-benar duduk di kursi secara fisik.
๐ฅ 2. Pendekatan Salafi
๐ Makna Dzahir Diterima Tanpa Takwil
• Salafi memahami ayat ini sesuai dengan makna lahiriah, tanpa mentakwil.
• Jadi “istawa” artinya benar-benar bersemayam, dalam arti menetap di atas Arsy, di atas langit ke-7.
• Tapi mereka menolak menyamakan Allah dengan makhluk.
✅ Penjelasannya:
“Ya, Allah itu berada di atas Arsy, tapi tidak sama dengan duduknya makhluk. Duduknya Allah tidak bisa kita bayangkan.”
Mereka bilang: “Kaifiyyah (caranya) tidak kita ketahui, tapi maknanya jelas: istawa = bersemayam.”
๐ Siapa yang Lebih Salaf dari Salaf?
Nabi ๏ทบ bersabda:
“Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka kecuali satu.”
Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
“Al-jama’ah.”
Dalam riwayat lain:
“(Yaitu) mereka yang berada di atas sunnahku dan sunnah para sahabatku.”
(HR. Abu Dawud, no. 4597)
Hari ini, Salafi menyebut diri sebagai satu-satunya pengikut salafus shalih. Mereka mengklaim paling murni mengikuti Qur’an dan Sunnah. Bahkan, kelompok selain mereka termasuk Asy’ariyyah sering kali mereka sebut sebagai ahli bid’ah, mubtadi’, atau bahkan sesat.
Tapi Asy’ariyyah tidak diam. Mereka justru yakin bahwa pendekatan mereka dengan takwil, tafwidh, dan penolakan terhadap tasybih adalah warisan sahih dari ulama salaf yang sebenarnya. Mereka menyebut pendekatan ini sebagai bentuk penjagaan tauhid yang lebih murni.
Dan sejarah mendukung klaim mereka:
Imam al-Ghazali, Ibn Katsir, al-Baqillani, al-Nawawi, Ibnu Hajar, al-Suyuthi semuanya Asy’ariyyah.
Mereka bukan hanya ulama besar, tapi rujukan lintas mazhab dalam ilmu hadits, fiqih, tafsir, dan aqidah.
Lalu muncullah dua slogan besar:
๐ฅ Salafi: membawa slogan “Kembali ke Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman Salaf.” “Sunnah” “Manhaj Salaf” “Ustadz Sunnah”
๐ฉ Asy’ariyyah: membawa slogan “Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja).” Sampai disindir “asam jawa” oleh sebagian Salafi.
Tapi di balik semua slogan itu, ada satu pertanyaan paling penting yang tidak bisa dijawab dengan poster, quote, atau ceramah viral:
“Tuhan seperti apa yang sedang saya sembah?”
Apakah Allah yang saya yakini sebagaimana keyakininan Salafi:
• Duduk di atas Arsy?
• Punya wajah, tangan, kaki, paha, bahkan mulut dan bayangan?
• Tapi tetap saya sebut “tidak menyerupai makhluk”?
Atau…
Allah yang:
• Maha Ada tanpa tempat
• Maha Melihat tanpa mata
• Maha Mendengar tanpa telinga
• Dan semua sifat-Nya suci dari penyerupaan dengan makhluknya?
Sebagaimana keyakinan Asy’ari.