Nabi Musa Bertanduk?
Nabi kok punya Tanduk ?
Kalau kita kita lihat film baru Musa 2024 di Netflix mengambarkan Nabi Musa ya biasa-biasa saja
Manusia normal biasanya yang diberi keistimewaan oleh Tuhan.
Namun ini berbeda dengan keyakinan Kristen Eropa dahulu.
Itu bukan fitnah atheis.
Itu kepercayaan lama orang Eropa.
Dan… itu lahir dari satu kesalahan terjemahan. Serius.
Orang Kristen Eropa abad pertengahan sampai Renaissance benar-benar percaya bahwa Nabi Musa punya tanduk di kepalanya. Bahkan Michelangelo, si maestro seni dunia itu, bikin patung Musa bertanduk yang sampai hari ini masih bisa kamu lihat di Basilika San Pietro in Vincoli, Roma.
Dari Mana Datangnya Mitos Ini?
Asalnya dari Kitab Keluaran 34:29, kisah waktu Musa turun dari Gunung Sinai, setelah menerima dua loh batu dari Tuhan.
Teks Ibrani-nya:
“…כִּי קָרַן עוֹר פָּנָיו…”
“…ki qaran or panav…”
Artinya: “kulit wajah Musa bercahaya.”
Tapi kata qaran ini agak unik. Akar katanya bisa bermakna memancarkan cahaya, tapi dalam konteks tertentu bisa juga diartikan sebagai bertanduk.
Nah bahasa Ibrani itu mirip-mirip sama bahasa Arab sendiri قَرْن (qarn) itu juga berarti tanduk, misal nama Dzulkarnain Dzulkornain (ذو القرنين) yang artinya pemilik dua tanduk.
Dan… di sinilah kekacauan dimulai.
Masuklah St. Jerome, penerjemah Alkitab ke Latin (Vulgata), sekitar abad ke-4.
Dia terjemahkan ayat itu jadi:
“cornuta esset facies sua”
“wajah Musa bertanduk.”
Bukan bercahaya.
Bukan memancarkan nur ilahi.
Tapi… bertanduk.
Akibatnya?
Selama ratusan tahun, banyak seniman Kristen menggambarkan Musa secara harfiah dengan tanduk nongol dari kepalanya.
Michelangelo bikin patung Moses with Horns (1513–1515), disimpan di Gereja San Pietro in Vincoli, Roma.
Belum lagi lukisan karya Jean Fouquet (abad ke-15) nunjukin Musa dengan dua tanduk emas.
Juga bahkan Alkitab versi bergambar yang beredar di Jerman dan Prancis juga ikut menggambar Musa dengan tanduk.
Orang awam Eropa waktu itu taunya: “Oh, Nabi Musa memang punya tanduk, karena Alkitab kami ngomong gitu.”
Padahal, itu hasil salah tafsir dari satu kata: qaran.
Kenapa Ini Fatal?
Karena ini nunjukin betapa rentannya pemahaman agama saat bergantung pada terjemahan yang tidak jeli.
Satu kata salah di tangan penerjemah… bisa bikin satu umat salah persepsi selama berabad-abad.
Bayangin kalau nabi besar selevel Musa aja bisa disalahpahami sedemikian rupa,
berapa banyak lagi cerita yang bisa berubah karena bahasa?
Satu kata salah diterjemahkan.
Satu generasi salah paham.
Satu nabi berubah wajah.”
Begitupula dengan penambahan Comma Johanneum, dimana Ayat-ayat Trinitas bahwa Yesus adalah Tuhan dimasukan didalam Alkitab.
Dan banyak sebagainya.
——————-
Kalau kamu suka postingan ini, besok ngopidiyyah akan postingan juga soal kesalahan kesalahan terjemahan yang fatal, atau miss komunikasi yang bikin kecelakaan sejarah biar gak ketinggalan follow halaman ini dan share agar temenmu tau
Refrensi:
1 St. Jerome, The Vulgate Bible, translated and compiled late 4th century CE. See: Metzger, Bruce M., The Early Versions of the New Testament (Oxford University Press, 1977), hlm. 37-45.
2. The Masoretic Text, compiled by the Masoretes between 7th–10th centuries CE, is the authoritative Hebrew text of the Jewish Bible. Refer to: Emanuel Tov, Textual Criticism of the Hebrew Bible (Fortress Press, 2012), hlm. 15-50.
