HPK

mesothelioma survival rates,structured settlement annuity companies,mesothelioma attorneys california,structured settlements annuities,structured settlement buyer,mesothelioma suit,mesothelioma claim,small business administration sba,structured settlement purchasers,wisconsin mesothelioma attorney,houston tx auto insurance,mesotheliama,mesothelioma lawyer virginia,seattle mesothelioma lawyer,selling my structured settlement,mesothelioma attorney illinois,selling annuity,mesothelioma trial attorney,injury lawyer houston tx,baltimore mesothelioma attorneys,mesothelioma care,mesothelioma lawyer texas,structered settlement,houston motorcycle accident lawyer,p0135 honda civic 2004,structured settlement investments,mesothelioma lawyer dallas,caraccidentlawyer,structured settlemen,houston mesothelioma attorney,structured settlement sell,new york mesothelioma law firm,cash out structured settlement,mesothelioma lawyer chicago,lawsuit mesothelioma,truck accident attorney los angeles,asbestos exposure lawyers,mesothelioma cases,emergency response plan ppt,support.peachtree.com,structured settlement quote,semi truck accident lawyers,auto accident attorney Torrance,mesothelioma lawyer asbestos cancer lawsuit,mesothelioma lawyers san diego,asbestos mesothelioma lawsuit,buying structured settlements,mesothelioma attorney assistance,tennessee mesothelioma lawyer,earthlink business internet,meso lawyer,tucson car accident attorney,accident attorney orange county,mesothelioma litigation,mesothelioma settlements amounts,mesothelioma law firms,new mexico mesothelioma lawyer,accident attorneys orange county,mesothelioma lawsuit,personal injury accident lawyer,purchase structured settlements,firm law mesothelioma,car accident lawyers los angeles,mesothelioma attorneys,structured settlement company,auto accident lawyer san francisco,mesotheolima,los angeles motorcycle accident lawyer,mesothelioma attorney florida,broward county dui lawyer,state of california car insurance,selling a structured settlement,best accident attorneys,accident attorney san bernardino,mesothelioma ct,hughes net business,california motorcycle accident lawyer,mesothelioma help,washington mesothelioma attorney,best mesothelioma lawyers,diagnosed with mesothelioma,motorcycle accident attorney chicago,structured settlement need cash now,mesothelioma settlement amounts,motorcycle accident attorney sacramento,alcohol rehab center in florida,fast cash for house,car accident lawyer michigan,maritime lawyer houston,mesothelioma personal injury lawyers,personal injury attorney ocala fl,business voice mail service,california mesothelioma attorney,offshore accident lawyer,buy structured settlements,philadelphia mesothelioma lawyer,selling structured settlement,workplace accident attorney,illinois mesothelioma lawyer
Pertanyaan

I'tikaf : Lengkap

Jawaban:

 PEMBAHASAN LENGKAP TENTANG I'TIKAF


A. PENGERTIAN I'TIKAF


Secara bahasa, i'tikaf berarti:

- Al-Labtsu (اللبث): berdiam diri

- Al-Habsu (الحبس): pemenjaraan

- Al-Mulazamatu (الملازمة): menetap

- Al-Iqamatu (الإقامة): berdiam diri atas sesuatu, baik itu kebaikan maupun keburukan. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:


 مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِىٓ أَنتُمْ لَهَا عَٰكِفُونَ


"Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" (QS. Al-Anbiya': 52)


Secara syar'i, i'tikaf berarti:

- Berdiam dirinya seseorang yang telah ditentukan di masjid dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.


B. DALIL DISYARIATKANNYA I'TIKAF


1. Al-Quran


 ...وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَٰجِدِ 


"...dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid."(QS. Al-Baqarah:187)  


2. Hadist


 «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ»


"Rasulullah ﷺ senantiasa melakukan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan." (HR. Bukhari dan Muslim) 


3. Ijma' (kesepakatan) Ulama. 


Catatan: I'tikaf termasuk syariat umat terdahulu yang sudah dikenal sebelum Islam, sebagaimana dalil firman Allah Ta'ala:


وَعَهِدْنَآ إِلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلْعَٰكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ


"Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud" (QS. Al-Baqarah: 125)


Ayat ini menunjukkan bahwa I'tikaf sudah dikenal dan dipraktikkan oleh umat-umat sebelum Islam, seperti umat Nabi Ibrahim dan Ismail 'alaihimas salam.


C. HIKMAH DISYARIATKANNYA I'TIKAF


Seorang muslim harus berupaya untuk menahan diri dari keinginan-keinginan yang dihalalkan, memenjarakan diri untuk taat kepada Tuhannya, dan memfokuskan diri untuk beribadah, sehingga jiwa dapat dipenuhi dengan rasa cinta kepada Allah Ta'ala dan mengutamakan ridha-Nya dengan meninggalkan apa yang diharamkan dari syahwatnya dan yang berbahaya dari hawa nafsunya. Dan nafsu itu memang cenderung kepada keburukan dan menginginkan maksiat. Allah Ta'ala berfirman:


إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ


"...karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang." (QS. Yusuf: 53)


Dan kecenderungan terhadap dunia akan meningkatkan keinginan terhadapnya dan mencarinya. Dan mustahil untuk mencegah nafsu atau menjauhkannya dari dunia, kecuali dengan mendidiknya dalam situasi-situasi seperti i'tikaf, yaitu dalam kesunyian dan kesendirian, untuk mencintai Allah Ta'ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya.


Oleh karena itu, i'tikaf disyariatkan agar menjadi sebab untuk memfokuskan pikiran, menyucikan hati, dan mendidik nafsu agar zuhud terhadap keinginan-keinginan yang dihalalkan dan menjauhi maksiat dan dosa.


D. KEUTAMAAN I'TIKAF


Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: 


مَنْ مَشَى فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ خَيْرًا لَهُ مِنَ اعْتِكَافِ عَشْرِ سِنِينَ، وَمَنِ اعْتَكَفَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ جَعَلَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ ثَلَاثَ خَنَادِقَ، كُلُّ خَنْدَقٍ أَبَعْدُ مِمَّا بَيْنَ الْخافِقَيْنِ


"Barang siapa yang berjalan untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, maka itu lebih baik baginya daripada i'tikaf selama sepuluh tahun. Dan barang siapa yang melakukan i'tikaf selama satu hari karena mencari ridha Allah Ta'ala, maka Allah akan menjadikan antara dia dan neraka tiga parit, dan setiap parit lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat." (Diriwayatkan oleh at-Thabrani dalam "Al-Mu'jam Al-Ausath" 8/160, no. 7322)


Dan beliau juga bersabda: 


مَنِ اعْتَكَفَ عَشْرًا فِي رَمَضَانَ كَانَ كَحَجَّتَيْنِ وَعُمْرَتَيْنِ


"Barangsiapa yang melakukan i'tikaf selama sepuluh hari di bulan Ramadhan, maka itu seperti melakukan dua haji dan dua umrah." (HR. Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman, 3/425)


Dan juga diriwayatkan bahwa beliau bersabda: 


مَنْ اعْتَكَفَ فَوَاقَ نَاقَةٍ فَكَأَنَّمَا أَعْتَقَ نَسَمَةً


"Barangsiapa yang beri'tikaf selama waktu yang dibutuhkan untuk memerah susu unta, maka seolah-olah dia telah memerdekakan seorang budak." (Disebutkan oleh Asy-Syaukani dalam "Nailul Authar 4/317" dan Imam Ar-Rafi'i dalam "As-Syarhu Al-Kabir 6/475") 


Makna "waktu yang dibutuhkan untuk memerah susu unta" adalah waktu antara dua kali pemerahan susu unta, yaitu unta diperah susunya, kemudian dibiarkan sejenak agar anak unta menyusu agar susu unta bertambah, lalu diperah lagi.


E. HUKUM I'TIKAF


1. Sunnah mu'akkadah (sunnah yang ditekankan): bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, pada waktu apa pun, baik siang maupun malam, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Namun, i'tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan lebih utama karena mencari keutamaan Lailatul Qadar.


2. Wajib: bagi orang yang bernadzar.


3. Makruh: bagi perempuan yang memiliki kecantikan jika mereka ingin melakukan i'tikaf di masjid, bahkan jika suaminya mengizinkan, karena khawatir terjadi fitnah.


4. Haram tetapi sah i'tikafnya: bagi perempuan yang tidak mendapatkan izin dari suaminya dan perempuan yang memiliki kecantikan dan tidak aman dari fitnah. Haram dan tidak sah i'tikafnya: bagi orang yang sedang junub dan orang yang sedang haid dan orang yang sedang nifas. 


F. RUKUN-RUKUN I'TIKAF


1. Niat. Berdasarkan sabda Nabi Muhammad ﷺ :


إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ , وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى


"Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niatnya." (HR. Mutafaq Alaih) 


Dan karena i'tikaf adalah ibadah yang murni, maka tidak sah jika tidak ada niat seperti puasa dan shalat. 


Catatan: 

- Niat itu tempatnya di hati, dan tidak wajib diucapkan dengan lisan.

- Dalam i'tikaf yang wajib (yang dinadzarkan), wajib menyebut fardhu, yaitu dengan mengucapkan: 


نَوْيْتُ الِاعْتِكَافَ الْمَفْرُوْضَ


"Saya berniat melakukan i'tikaf yang difardhukan" 


atau;


نَوْيْتُ فَرْضَ الِاعْتِكَافِ


"Saya berniat melakukan fardhu i'tikaf"


Jika tidak mengucapkan kalimat tersebut, maka cukup dengan mengucapkan: 


نَوْيْتُ الِاعْتِكَافَ الْمَنْذُوْرَ


"Saya berniat melakukan i'tikaf yang dinadzarkan".


- Adapun dalam i'tikaf yang sunnah, maka cukup dengan mengucapkan:


نَوْيْتُ الِاعْتِكَافَ


"Saya berniat melakukan i'tikaf" 


atau;


نَوْيْتُ سُنَّةَ الِاعْتِكَافِ


"Saya berniat melakukan sunnah i'tikaf"


atau; 


نَوْيْتُ الِاعْتِكَافَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى


"Saya berniat melakukan i'tikaf sunnah karena Allah Ta'ala"


2. Berdiam diri di dalam masjid, baik secara hakiki maupun hukmi (termasuk berpindah-pindah atau bergolak-balik di dalam masjid, tetapi tidak termasuk i'tikaf jika niatnya sekedar melewati masjid yaitu masuk dari satu pintu dan keluar dari pintu lain), dengan ukuran waktu yang lebih lama dari waktu tuma'ninah shalat. Dengan demikian, i'tikaf dapat sah walaupun hanya beberapa menit.


3. Bahwa i'tikaf harus dilakukan di masjid, baik yang beritikaf adalah laki-laki maupun perempuan. Tidak sah i'tikaf di selain masjid. Namun, beberapa ulama fikih berijtihad dan mengatakan bahwa i'tikaf perempuan di rumahnya sah jika dia telah menyiapkan tempat khusus untuk shalat dan mengatakan bahwa tempat itu adalah masjidku, serta berniat i'tikaf di sana.


4. Orang yang beri'tikaf. 


G. SYARAT-SYARAT ORANG YANG BERI'TIKAF


1. Islam, baik sejak awal maupun selama beritikaf. I'tikaf tidak sah bagi orang kafir karena i'tikaf merupakan salah satu cabang iman. Jika seseorang murtad saat beri'tikaf, maka i'tikafnya otomatis batal.


2. Berakal dan tamyiz. I'tikaf idak disyaratkan baligh, sehingga i'tikaf anak kecil yang berakal sah, tidak seperti orang gila yang tidak termasuk golongan orang yang mampu beribadah seperti orang kafir.


3. Suci dari hadas besar, baik karena haid, nifas, atau junub. Karena berdiam diri di masjid bagi perempuan haid, nifas, atau orang junub adalah perbuatan maksiat. Jika haid atau junub terjadi saat beri'tikaf, maka orang yang beritikaf wajib segera keluar dari masjid.


H. PERKARA-PERKARA YANG MEMBATALKAN I'TIKAF


1. Berhubungan suami-istri dengan sengaja, sadar bahwa sedang beritikaf, dan tahu bahwa itu diharamkan. Berhubungan suami-istri dapat membatalkan i'tikaf, baik dilakukan di masjid atau di tempat lain.


2. Melakukan kontak fisik dengan syahwat. Namun, kontak fisik tanpa syahwat tidak membatalkan i'tikaf.


3. Murtad, mabuk yang disengaja, gila, atau pingsan yang disengaja. Juga, junub jika tidak segera bersuci. Namun, jika segera bersuci, i'tikaf tidak batal.


4. Haid atau nifas jika waktu i'tikaf biasanya bebas dari keduanya.


5. Keluar dari masjid dengan sengaja tanpa uzur.


6. Tidak kembali ke masjid setelah keluar karena uzur ketika uzurnya sudah hilang.


Catatan: 

- Jika i'tikaf batal, maka waktu yang digunakan tidak dihitung sebagai i'tikaf. 

- Jika uzur yang menyebabkan bolehnya keluar masjid telah hilang, maka niat i'tikaf harus diperbarui. 

- Jika i'tikaf yang dilakukan memiliki batas waktu tertentu dan harus berturut-turut, maka i'tikaf tersebut batal dan harus dimulai lagi dari awal.


I. UZUR-UZUR YANG TIDAK MEMUTUS TATABU' (KESINAMBUNGAN) I'TIKAF


1. Keluar dari masjid untuk makan atau minum jika tidak tersedia di masjid, atau untuk buang air kecil atau besar, atau untuk mandi junub.


2. Keluar dari masjid ke menara yang terpisah dari masjid untuk azan jika yang beritikaf adalah muadzin tetap yang sudah terbiasa dan suara azannya sudah dikenal oleh masyarakat.


3. Keluar dari masjid untuk menjalankan hukuman yang telah ditetapkan atas dirinya tanpa pengakuannya.


4. Keluar dari masjid untuk memenuhi kewajiban iddah yang bukan disebabkan oleh dirinya.


5. Keluar dari masjid untuk memberikan kesaksian yang wajib baginya.


6. Keluar dari masjid karena sakit yang menyulitkan untuk berdiam di masjid.


7. Keluar dari masjid karena haid jika waktu i'tikaf lebih dari 15 hari.


8. Keluar dari masjid karena pingsan. Waktu pingsan tetap dihitung sebagai waktu i'tikaf, berbeda dengan gila yang tidak dihitung sebagai waktu i'tikaf.


9. Keluar dari masjid karena terpaksa atau lupa.


Catatan:

- Jika alasan-alasan tersebut tidak memutus kesinambungan i'tikaf, maka yang beritikaf harus kembali ke masjid tanpa perlu memperbarui niat. 

- Jika terlambat kembali, maka kesinambungan i'tikaf terputus dan wajib memulai lagi dari awal dengan niat baru.

- Jika seseorang beritikaf dan keluar dari masjid untuk keperluan yang dibolehkan, maka dia wajib mengqada' waktu yang dihabiskan untuk hal-hal lain selain keperluan itu sendiri, seperti berlama-lama di luar masjid atau melakukan aktivitas lain yang tidak terkait dengan keperluan tersebut. Namun, waktu yang dihabiskan untuk keperluan itu sendiri dan waktu pergi serta kembali dari masjid tidak perlu diqada'.


J. SUNAH-SUNAH I'TIKAF


1. Melakukan i'tikaf di masjid yang menyelenggarakan shalat Jumat, sehingga tidak perlu keluar dari masjid untuk shalat Jumat.


2. Beri'tikaf selama satu hari penuh, dan lebih baik lagi jika disertai dengan malamnya.


3. Berpuasa selama beri'tikaf (menurut sebagian ulama, hal ini dilakukan untuk menghindari perbedaan pendapat).


4. Memperbanyak doa, dzikir, dan ibadah selama beri'tikaf.


5. Meninggalkan hal-hal yang makruh dan sia-sia selama beri'tikaf.


6. Bernazar untuk beri'tikaf agar mendapatkan pahala seperti pahala wajib. Jika seseorang bernazar untuk beri'tikaf, maka dia wajib berniat untuk melaksanakan i'tikaf yang diwajibkan oleh nazarnya.


K. MAKRUH-MAKRUH I'TIKAF


1. Melakukan bekam atau fasdu (mengeluarkan darah dari pembuluh vena) jika tidak ada kekhawatiran akan mengotori masjid. Namun, jika ada kekhawatiran akan mengotori masjid, maka hukumnya haram.


2. Terlalu banyak melakukan aktivitas kerajinan seperti menenun wol, menjahit, dan lain-lain, serta melakukan jual beli, meskipun dalam jumlah sedikit.


3. Melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat baik dari perkataan maupun perbuatan. Seperti berkata-kata kotor, bertengkar dan sebagainya.


4. Meninggalkan sunah-sunah i'tikaf.


WaAllahu A'lam


Referensi:


📚 فقه العبادات على المذهب الشافعي 348-351 مكتبة مزيدة ومنقحة للمؤلفة


- التعريف به: هو لغة: اللبث، والحبس، والملازمة، والإقامة على الشيء، براً كان أو إثماً، قال تعالى: {ما هذه التماثيل التي أنتم لها عاكفون} (الأنبياء: 52) .وشرعاً: إقامة شخص مخصوص في مسجد، على صفة مخصوصة. دليله: قوله تعالى: {ولا تباشروهن وأنتم عاكفون في المساجد} (البقرة: 187.) .وما روت عائشة رضي الله عنها قالت: "كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعتكف العشر الأواخر من رمضان " (مسلم ج 2/ كتاب الاعتكاف باب 1/3) . وإجماع المسلمين. حكمه: -1 - سنة مؤكدة لكل أحد، ذكراً كان أو أنثى، في أي وقت من ليل أو نهار، في رمضان أو في غيره، وهو في العشر الأواخر من رمضان أفضل منه في غيره لأجل طلب ليلة القدر، على ما تقدم. -2 - واجب في النذر. -3 - مكروه لذوات الهيئة من النساء إن أردن الاعتكاف في المساجد، ولو أذن الزوج، خشية الفتنة. -4 - حرام على امرأة لم يأذن لها زوجها. - أركانه: -1 - النية: لقوله صلى الله عليه وسلم: "إنما الأعمال بالنية) . ولأنه عبادة محضة فلم يصح من غير نية كالصوم والصلاة. ومحلها القلب، ولا يشترط لفظها باللسان. وتجب نية الفرضية في الاعتكاف المنذور، بأن يقول المعتكف: نويت الاعتكاف المفروض، أو فرض الاعتكاف، ويجزئ عن ذلك قوله: نويت الاعتكاف المنذور. أما في الاعتكاف المندوب فيكفي أن يقول: نويت الاعتكاف، أو سنة الاعتكاف. -2 - اللبث في المسجد حقيقة أو حكماً (ويشمل ذلك التردد في جهات المسجد، أما المرور فيه، بأن يدخل من باب ويخرج من باب فلا يحصل به اعتكاف.) بمقدار فوق طمأنينة الصلاة؛ فيصح الاعتكاف دقائق معدودات. -3 - أن يكون في المسجد، ذكراً كان المعتكف أو أنثى، فلا يصح الاعتكاف في غيره. لكن اجتهد بعض الفقهاء، وقالوا بصحة اعتكاف المرأة في بيتها إذا أعدت فيه مكاناً لصلاتها، وقالت هذا مسجدي، ونويت الاعتكاف فيه. والاعتكاف في الجامع (الجامع: هو المسجد الذي تقام فيه صلاة الجمعة.) أفضل منه في المسجد. إلا أنه يوجب فيه على من نذر الاعتكاف مدة متتابعة فيها يوم الجمعة، وهو ممن تلزمه الجمعة، ولم يشترط حين نذر أن يخرج من الاعتكاف لها، فعندئذ يجب عليه الاعتكاف في الجامع دون المسجد لكي يتمكن من أداء فريضة الجمعة، ولو خرج لأجلها بطل التتابع وعليه إعادة الاعتكاف. ومن عين في نذره مسجداً فإنه لا يتعين، ويكفيه أن يعتكف في أي مسجد غيره، إلا المساجد الثلاثة: المسجد الحرام، ومسجد المدينة، والمسجد الأقصى، إذا عين أحدها تعين، ويقوم بعضها مقام بعض على حسب الترتيب في الفضل، فلو نذر الاعتكاف في المسجد الأقصى فإنه يصح اعتكافه فيه، أو في المسجد النبوي الشريف، أو في المسجد الحرام لمزيد فضلهما عليه. كما لو نذر في المسجد النبوي الشريف، فإنه يصح فيه وفي المسجد الحرام. أما لو عكسنا الترتيب فإنه لا يصح، ويتعين عليه ما عينه، فلو نذر في المسجد الحرام تعين ولا يصح في المسجد النبوي الشريف ولا الأقصى، وكذلك لو عين في المسجد النبوي الشريف فلا يصح في المسجد الأقصى، لحديث جابر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "صلاة في مسجدي أفضل من ألف صلاة فيما سواه إلا المسجد الحرام، وصلاة في المسجد الحرام أفضل من مائة ألف صلاة فيما سواه " (ابن ماجه ج 1/ كتاب إقامة الصلاة والسنة فيها باب 195/ 1406) . - أما شروط المعتكف فثلاثة: -1 - الإسلام: ابتداء ودواماً، فلا يصح اعتكاف من كافر، لأنه من فروع الإيمان، ومن ارتد وهو معتكف بطل اعتكافه. -2 - العقل - التمييز - ولا يشترط البلوغ، فيصح اعتكاف الصبي دون المجنون، لأنه ليس من أهل العبادة كالكافر. -3 - الطهارة من الحدث الأكبر، حيضاً أو نِفاساً أو جنابة، لأن مكث الحائض والنفساء والجنب في المسجد معصية، ولو طرأ الحيض أو الجنابة أثناء الاعتكاف، وجب على المعتكف الخروج من المسجد فوراً. - متى يجب تحديد نية الاعتكاف ومتى لا تجب: -1 - إذا كان الاعتكاف غير محدد بمدة، وخرج من المسجد دون العزم على العودة، انقطع الاعتكاف، وعليه تجديد النية إن أراد اعتكافاً ثانياً. أما إن وجد العزم على العودة، وخرج لعذر، فلا حاجة إلى تجديد للنية. -2 - أما إذا كان محدداً بمدة مطلقة، دون نية التتابع، فإن خرج لقضاء الحاجة، فلا يلزمه تجديد النية عند العودة، أما إن خرج لغير ذلك ثم عاد فعليه تجديد النية. -3 - إن حدد الاعتكاف بمدة شرط فيها التتابع، فإن كان الخروج لعذر لم يجدد النية عند العودة. - والأعذار التي لا تقطع التتابع هي: -1 - الخروج من المسجد لأكل، أو شرب إن لم يتوفر في المسجد، أو لبول أو غائط، أو لغسل جنابة، لما روت عائشة رضي الله عنها قالت: "وإن كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ليدخل علي رأسه وهو في المسجد فأرجّله، وكان لا يدخل البيت إلا لحاجة إذا كان معتكفاً " (البخاري ج 2/ كتاب الاعتكاف باب 3/ 1925.) . لكن لا تجوز له الإقامة بعد فراغه من قضاء حاجته، لعدم الحاجة إلى ذلك. -2 - الخروج من المسجد إلى المنارة المنفصلة عنه للأذان، إن كان المعتكف مؤذناً راتباً ألف الناس صوته، وألف هو صعود المنارة، وإلا بطل اعتكافه. -3 - خروج المعتكف لإقامة حد ثبت عليه بغير إقراره. -4 - خروج المرأة لأجل عدة ليست بسببها. -5 - الخروج لأداء شهادة تعين عليه تحملها وأداؤها. -6 - الخروج من المسجد لمرض شق عليه معه لبث فيه، كأن يحتاج إلى من يخدمه، أو طبيب يعالجه، أو خشي تلويث المسجد إن كان مصاباً بإسهال أو إقياء. أما المرض الخفيف كصداع أو حمى خفيفة فلا يعتبر عذراً للخروج من المسجد. -7 - الخروج من المسجد لحيض، إذا كانت مدة الاعتكاف لا تخلو غالباً، بأن كانت تزيد على خمسة عشر يوماً. -8 - الخروج من المسجد لإغماء، وإذا لبث المغمى عليه في المسجد حسبت له مدة إغمائه من الاعتكاف، بخلاف الجنون، فلا تحسب مدته من الاعتكاف لفقدان أهلية العبادة. -9 - خروجه مكرهاً بغير حق، أو ناسياً، لحديث ابن عباس رضي الله عنهما أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "إن الله وضع عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه " (ابن ماجه ج 1/ كتاب الطلاق باب 16/ 2045) . وكل عذر ليس قاطعاً للتتابع، يجب العود عند الفراغ منه بلا تجديد للنية، ولو أخر انقطع التتابع، وتعذر البناء، ووجب عليه الاستئناف بنية جديدة. ويجب قضاء الأوقات المصروفة إلى غير قضاء الحاجة دون المصروفة له وللذهاب إليه والمجيء منه. - ما يبطل الاعتكاف: -1- الجماع مختاراً، ذاكراً للاعتكاف، عاملاً بالتحريم، ويبطل الجماع سواء كان في المسجد أو غيره، لقوله تعالى: {ولا تباشرونهن وأنتم عاكفون في المساجد} (البقرة: 187) . -2 - مباشرة المعتكف بشهوة. أما غير المصحوبة بها فلا تبطل. -3 - الردة، والسكر إن وجد التعدي به، وكذلك الجنون والإغماء إن وجد التعدي بهما، والجنابة إن لم يبادر إلى التطهر، أما إن بادر فلا يبطل اعتكافه. -4 - الحيض والنفاس إذا كانت مدة الاعتكاف تخلو عنهما غالباً. -5 - تعمد الخروج من المسجد لغير عذر، لحديث عائشة رضي الله عنها المتقدم، وفيه: "وكان لا يدخل البيت إلا لحاجة إذا كان معتكفاً "، ولأن الاعتكاف هو اللبث في المسجد، فإذا خرج فقد فعل ما ينافيه بلا عذر، فبطل، كالأكل في الصوم. -6 - عدم العودة إلى المسجد، مع التمكن منها، إذا خرج لعذر ثم زال ذلك العذر. ومعنى البطلان أن زمن ذلك لا يحسب من الاعتكاف، فإذا زال جدد النية، وبنى على ما مضى إن كان مقيداً بمدة من غير تتابع، أما إن كان مقيداً بمدة وتتابع أبطله، وخرج منه، ووجب الاستئناف. وإن كان مطلقاً، فمعنى البطلان أنه انقطع استمراره ودوامه، ولا بناء ولا تجديد نية، وما مضى داخل في الحساب، وحصل به الاعتكاف. ولا يضر بالاعتكاف التطيب ولا الاغتسال ولا قص الشارب ولا الترجل، ولا لبس ما يلبسه في غير الاعتكاف ولا الزواج والتزويج. وللمعتكف أن يأكل ويشرب ويكتب، ولا يكره الإكثار من كتابة العلم وتعليمه وقراءة القرآن، لأن كل ذلك طاعة، وله كذلك البيع والشراء والحديث المباح، فإن أكثر كره لأن المسجد منزه عن أن يتخذ موضعاً للبيع والشراء.


📚 الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي، ١٠٥/٢-١٠٩ مكتبة دار القلم


الاعتكاف تعريفه: الاعتكاف في اللغة: الإقامة على الشيء والملازمة له. وشرعاً: اللبث في المسجد بنية مخصوصة. دليل تشريعه: والأصل في مشروعية الاعتكاف قول الله تعالى: {وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ} البقرة: 187. وما رواه البخاري (1922) ومسلم (1172) عن عائشة رضي الله عنها " أن النبي - صلى الله عليه وسلم - كان يعتكف الأواخر من رمضان. ثم اعتكف أزواجه من بعده ". والاعتكاف من الشرائع القديمة التي كانت معروفة قبل الإسلام، بدليل قوله تعالى: {وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ} البقرة: 125 حكمة تشريعه:.لا بد للمسلم ـ بين الفينة والفينة ـ من محاولة لكفكفة النفس عن شهواتها المباحة، وحبسها على طاعة مولاها، والتفرغ لعبادته، كي ترتاض بحب الله تعالى، وإيثار رضاه على ترك ما هو محرم من شهواتها، وضار من أهوائها. والنفس أمارة بالسوء، تواقة إلى المعاصي. قال الله تعالى: (إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّيَ إِنَّ رَبِّي) يوسف: 53..ومخامرة الدنيا يزيد من إقبالها عليها، وطلبها وطلبها لها، وهيهات أن يمنعها من ذلك أو يردعها عنه إلا تربيتها في مثل تلك الخلوات على حب الله تعالى والكف عن محارمه ..فمن ثم شرع الاعتكاف ليكون سبباً لجمع الخاطر، وتصفية القلب، وتربية النفس على الزهد بالشهوات المباحة، والتعاطي بها عن المخالفات والآثام. حكم الاعتكاف: الا

Aqidah (70) Arbain (8) Distribusi (1) Fiqih (134) Hadist (35) Jenazah (4) Khotbah (3) Kisah Hikmah (20) Kisah Teladan (6) Kutipan (307) Pajak (5) Pasar (5) Pendidikan Islam (19) Penjualan (3) Pernikahan (7) Puasa (14) Qurban (1) Ramadhan (11) Segmentasi (1) Shalat (19) Soal Ekonomi (8) Soal PKn (5) Syubhat (5) Tafsir (5) Thaharah (1) Uraian (2) Zakat (1)