Materi Halal Bihalal
Sekilas materi yang saya sampaikan dalam Halal Bihalal dan Temu Wali Santri sekaligus Laporan Transparansi dan Akuntabilitas Publik Keberhasilan Pembelian Tanah Pondok Hasan Jufri kepada para dermawan-dermawati. Selasa, 22 April 2025/23 Syawal 1446 H.
****
1. Ada sebuah kebun tak jauh dari Masjid Nabawi. Kurma di dalamnya subur dan hasil panennya melimpah. Ada sumur pula di dalamnya. Kebun ini punya sebutan Bairuha'. Dalam versi lain Bairoha'. Nabi Muhammad sering singgah berteduh, bahkan meminum airnya yang jernih, juga berwudhu di dalamnya. Pemiliknya Abu Thalhah, pria yang meminang Ummu Sulaim dengan mahar keislamannya.
Ketika QS Ali Imran 92 turun:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ ٩٢
"Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya."
...Abu Thalhah alias Zaid bin Sahal ini langsung sowan menghadap Rasulullah. Dia berniat melaksanakan perintah Allah tersebut. Yaitu menginfakkan kebun yang dia sukai untuk kemaslahatan ummat.
Rasulullah lantas bereaksi dengan kalimat yang khas:
بَخٍ ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ
"Bakh (Wah, hebat!), itu adalah harta yang berharga,"
Sayyidina Anas bin Malik, putra tiri Abu Thalhah, yang meriwayatkan hadits ini, mencatat bahwa Rasulullah memerintahkan agar niat Abu Thalhah dilaksanakan dengan memberikan kebun itu kepada kerabatnya. Maka dia membaginya untuk Hasan bin Tsabit dan Ubay bin Ka'ab.
Riwayat keteladanan Sayyidina Abu Thalhah di atas bisa dijumpai dalam Shahih Bukhari, Musnad Imam Ahmad dan Sunan Ad-Darimi.
Jadi, harta yang Anda semua sedekahkan untuk kemaslahatan ummat, khususnya untuk pembebasan lahan pengembangan Pesantren Hasan Jufri, Pulau Bawean ini, akan awet. Menjadi investasi akhirat. Selama lahan ini dikembangkan dan para santri maupun masyarakat merasakan manfaatnya maka selama itu pula pahala terus mengalir. Menjadi amal jariyah.
2. Cara bersedekah itu bermacam-macam. Ketika Perang Tabuk hendak berlangsung, menjelang Rajab 9 Hijriah/September 630 M, Rasulullah mengumumkan proyeksi militer ini kepada para sahabat. Sayyidina Utsman bin Affan datang membawa 950 unta, 100 kuda, dan sekian ribu dirham. Berbeda lagi dengan Sayyidina Abdurrahman bin Auf yang datang membawa 4000 dinar alias setara 17 kg emas. Semua untuk membiayai ekspedisi militer mencegat Byzantium di wilayah bernama Tabuk. Walaupun masih jauh dari kebutuhan logistik untuk memenuhi skala kebutuhan 30 ribu pasukan, namun loyalitas dan royalitas para sahabat ini menjadi penanda, ada yang suka sedekah pakai barang jadi seperti tipe Sayyidina Ustman, ada yang hobi sedekah pakai tunai seperti kebiasaan Sayyidina Abdurrahman bin Auf.
Apa pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini? Perjuangan butuh energi dan pendanaan. Bagi anda yang suka cara Sayyidina Ustman, silahkan membantu pengembangan Pesantren Hasan Jufri ini dengan barang jadi, apapun itu. Bisa material bangunan, konsumsi, maupun penyediaan kebutuhan sarana transportasi dan lainnya. Bagi yang ingin praktis, langsung membantu kontan, silahkan kita tiru cara Sayyidina Abdurrahman bin Auf. Tak perlu menunggu banyak, sedikit demi sedikit jika dilaksanakan malah dapat pahala dobel: sedekahnya, juga istiqomahnya.
Ibnu ‘Umar berkata:
مَنْ كانَ له مالٌ ، فليتصدَّق من ماله ، ومن كان له قوَّةٌ ، فليتصدَّق من قوَّته ، ومن كان له عِلمٌ ، فليتصدَّق من عِلْمِه
“Barangsiapa memiliki harta, maka bersedekahlah dengan hartanya. Barangsiapa yang punya kekuatan, maka bersedekahlah dengan kekuatannya. Barangsiapa yang memiliki ilmu, maka bersedekahlah dengan ilmunya.” (Jami’ul Ulum wal Hikam)
Jadi, bagi bapak-ibu yang hendak sedekah harta belum cukup, tenaga juga tidak kuat, bisa juga sedekah ilmu di pesantren ini.
Silahkan datang sowan kepada KH. Mufid Helmi, silahkan sowan ke Bu Nyai Hj Faizah sampaikan keinginan menyumbangkan ilmu. Nggak perlu muluk-muluk. Anda bisa menjahit, silahkan latih para santri putri dengan keahlian yang panjenengan miliki. Yang bapak-bapak punya keahlian bertani atau menjadi nelayan, ajari para santri di pesantren ini dengan ilmu yang Anda miliki. Itu masuk kategori sedekah ilmu.
KH. Abdullah Salam, Kajen, Pati, Jawa Tengah, yang disampaikan kepada putra beliau KH. Nafi Abdillah, yang disampaikan kepada para santrinya, pernah berkata: bahwa kalau menginginkan anak menjadi "orang baik", hendaklah memperbanyak bersedekah dengan diniati menyedekahkan untuk sang anak.
Jadi, niatkan sedekah untuk pengembangan Pesantren Hasan Jufri ini untuk orangtua yang telah wafat agar menjadi penerang kuburnya, juga menjadi wasilah keberkahan rezeki kita, juga menjadi sarana agar Allah mentakdirkan dzurriyah kita menjadi orang shalih shalihah.
3. Melihat kiprah para pendiri dan pengasuh saat ini, saya teringat Sabda Nabi Muhammad yang menegaskan tugas beliau:
إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا
"Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak mengutusku untuk memaksa orang atau menjerumuskannya, akan tetapi Dia mengutusku sebagai seorang pengajar dan orang memudahkan urusan" (HR Muslim 2703)
Lha, kayak tadi, sahabat dan guru saya, Masyai Muhammad Syamsudin, yang selain rela bercapek-capek menjemput saya sendirian di Bandara Harun Tohir, juga pontang panting mengurusi sound system. Jadi selain mengenal beliau sebagai salah satu ahli fiqih muamalah, yang tulisannya jadi rujukan di NU Online dan di Majalah AULA NU, ternyata beliau ini telaten ngurusi sound system dan mengkader para santri putri agar mahir otak atik kualitas dan setelan suara sound. Benar benar masuk kategori "Mualliman Muyassiron" sebagaimana sabda Rasulullah tadi. Tadi juga masih sempat didaulat memberi sambutan atas nama pengasuh. Benar benar multitalenta.
4. Bagi para santri putri yang hadir saat ini, senang sekali melihat penampilan mereka dalam seni hadrah-rebana untuk menunjang shalawatan tadi.
Pesan saya untuk adik adikku semua: harus lanjut kuliah. Tak perlu jauh-jauh, di pesantren ini sudah ada kampusnya. Dipimpin rektor muda yang lincah: KH Sidi Abdul Halim Lc. MA. Kalaupun ingin lanjut pendidikan di kampus lain, silahkan. Kalau perlu ke luar negeri sekalian, seperti yang dicontohkan almaghfurlah KH Bajuri Yusuf yang belajar ke Makkah lalu ke Baghdad, Kiai Halim yang alumni al-Azhar, istri beliau alumni al-Ahqaff, Kiai Umam alumni Ribath Tarim dan Kiai Zah Faid alumni al-Ahqaff. Komplit. Hebatnya, setelah belajar luar negeri, beliau memilih kembali ke Pulau Bawean untuk mendidik anak-anak panjenengan semua.
Ibu-bapak wali santri jangan terburu buru menikahkan putrinya. Perempuan harus berpendidikan tinggi agar cucu cicit ibu bapak sekalian juga menjadi orang yang berilmu, karena ada kalimat indah: mendidik satu laki laki sama dengan mendidik satu manusia, sedangkan mendidik satu perempuan sama halnya mendidik satu generasi.
Wallahu A'lam Bisshawab.
Terimakasih kepada:
Para Pengasuh Ponpes Hasan Jufri Bawean
Pengasuh Ponpes Mambaul Falah Gus Irfan Brow
Para Pengurus PC GP Ansor Bawean dan Penggerak PSHT Bawean