Diuji dengan Buruk Rupa
Al-Jahizh adalah salah satu orang yang diuji dengan wajah yang sangat buruk rupanya, jauh dari ketampanan seperti jauhnya langit dan bumi. Sampai suatu hari ia berkata kepada murid-muridnya:
“Tidak pernah aku merasa malu dalam hidupku kecuali pada satu kejadian: seorang wanita membawaku kepada seorang tukang emas lalu berkata kepadanya, ‘Seperti ini!’”
Aku pun kebingungan, tidak mengerti maksudnya.
Setelah wanita itu pergi, aku bertanya kepada tukang emas apa yang dia maksud, maka ia menjawab:
“Dia memintaku membuatkan patung jin. Aku bilang: aku tidak tahu bentuk jin itu seperti apa. Maka dia membawamu sebagai contoh!”
(Sumber: Al-Mustatraf karya Al-Abshihi)
Pelajaran penting dari kisah al-Jahizh tadi:
1. Sabar atas Cacian dan Ujian Fisik
Dalam Islam, buruk rupa atau kekurangan fisik adalah ujian dari Allah, bukan celaan.
• Al-Jahizh tidak marah dan tidak membalas ejekan wanita itu.
• Ia menerima keadaannya dengan sabar dan bahkan menceritakannya dengan humor.
• Ini sesuai dengan firman Allah:
{وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ}
“Dan bersabarlah atas apa yang menimpamu.” (QS. Luqman: 17)
2. Bahwa Nilai Manusia Bukan pada Rupa
Dalam Islam, keutamaan manusia diukur dengan ketakwaannya, bukan dengan keindahan fisiknya.
• Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
• Al-Jahizh meskipun buruk rupa, tetap menjadi ulama besar, sastrawan, dan ahli logika, dihormati sepanjang zaman.
3. Menghadapi Kekurangan dengan Humor dan Lapang Dada
Alih-alih merasa rendah diri atau benci, al-Jahizh menghadapi ejekan dengan jiwa besar dan humor.
• Ini menunjukkan syaja’ah nafsiyyah (keberanian jiwa) dalam Islam — yaitu menerima diri sendiri dengan tenang tanpa sombong dan tanpa hina.
4. Larangan Menghina Ciptaan Allah
Islam mengajarkan untuk tidak menghina makhluk Allah, karena siapa kita untuk mengejek ciptaan-Nya?
• Allah berfirman:
{لا تلمزوا أنفسكم ولا تنابزوا بالألقاب}
“Janganlah kalian saling mencela dan memanggil dengan gelar-gelar buruk.” (QS. Al-Hujurat: 11)
Kesimpulannya:
Islam mengajarkan sabar, tawadhu’, dan memuliakan orang berdasarkan iman dan amal, bukan rupa.
Dan orang beriman, bila diuji dalam fisik, ia tetap mulia jika hatinya bertakwa.
Dalam sebuah kisah jenaka itu tampak satu pelajaran mendalam:
Al-Jahizh, meski buruk rupa, menghadapi ejekan dengan sabar dan jiwa besar. Ia tak membalas, tak dendam — bahkan menjadikan peristiwa itu bahan tawa dan hikmah bagi murid-muridnya.
Tapi lihatlah apa yang terjadi:
Wanita itu — yang mencela dan menghinakan — lenyap ditelan sejarah. Tak ada satu pun riwayat menyebut namanya. Tak ada karya, tak ada jasa, tak ada bekas.
Sedangkan nama al-Jahizh?
Ia hidup abadi dalam lembar-lembar kitab. Ia dikenang karena akalnya, tulisannya, dan ilmunya — bukan karena rupanya.
Beginilah Islam memuliakan manusia:
Bukan karena wajah, tapi karena ketakwaan dan manfaat yang ia tinggalkan.
Sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad)
Oleh: Danang Kuncoro