Akidah: Memahami Baik dan Buruk
Akidah: Memahami Baik dan Buruk
Oleh: Najih Ibn Abdil Hameed
1. Wajib bagi setiap muslim meyakini bahwa Allah subhanahu wataala boleh menciptakan kebaikan dan keburukan. Tidak ada kewajiban bagi Allah untuk menciptakaan kebaikan saja, dan tidak mustahil Allah menciptakan keburukan.
2. Kita menyaksikan dengan mata dan telinga bahwa di alam semesta ini ada kebaikan dan ada pula keburukan. Jika bukan Allah yang menciptakan keburukan itu lantas siapa?? Mungkinkah di alam semesta kerajaan Allah ini ada sosok yang mampu ikut campur membuat keonaran menciptakan keburukan yang sebenarnya Allah tidak menghendakinya??? Jika ada, selemah itukah tuhan yang kamu sembah hingga dia dikalahkan oleh si pencipta keburukan?? Mustahil
3. Hal ini berbeda dengan keyakinan aliran kepercayaan "Tsanawiyah". Mereka meyakini bahwa alam semesta diciptakan dan diatur oleh dua tuhan. Ada tuhan bernama Annuur sebagai pencipta kebaikan, dan ada tuhan lain bernama Addzulm yang mencipta keburukan.
Imam Al Ghazali memberi pertanyaan unik kepada aliran ini : "Jika ada laki laki yang sejak kecil dia baik, lalu ketika dewasa berubah menjadi penjahat, siapakah yang menciptakan dia? Adzzulm atau Annuur? Mana mungkin satu orang diciptakan dua kali oleh sosok berbeda".
4. Ada lagi orang bodoh yang meyakini bahwa kebaikan diciptakan oleh Allah sedangkan keburukan diciptakan oleh setan. Woooy... semahakuasa itukah setan sampai mampu merusak tatanan alam semesta milik Allah? Selemah itukan tuhan yang kau sembah sampai dia angkat tangan tak mampu berbuat apapun untuk menyelamatkan kekuasaanya dari campur tangan setan?
Tidak, Tuhan kita tidak selemah itu. Bahkan dialah yang menciptakan makhluk bernama setan.
5. Pada hakekatnya setiap zat tidak memiliki sifat baik maupun sifat buruk secara zati /permanen. Setiap zat diciptakan netral lalu Allah ciptakan sifat baik atau sifat buruk untuk dijodohkan dengannya. Bisa saja suatu yang baik diubah menjadi buruk atau sebaliknya.
6. Jika "baik" didefinisikan sebagai suatu yang bermanfaat yang menguntungkan, sedangkan "buruk" adalah suatu yang berbahaya mudarat, maka baik dan buruk adalah suatu yang sangat subjektif dan nisbi.
Saya contohkan. Air, secara zat tidak bisa disebut baik maupun buruk. Ia akan baik jika dinisbat untuk diminum, untuk kebutuhan, tapi bisa buruk jika dinisbat untuk memandikan laptop. Listrik adalah suatu yang baik jika dinisbat sebagai sumber daya alat elektornik tapi ia sangat buruk jika dinisbat untuk tubuh manusia.
7. Jika dinisbat kepada Allah, tidak ada suatu benda yang baik maupun buruk. Sebab, tidak ada satu pun alam semesta ini yang beguna menguntungkan Allah dan tidak ada suatu pun yang berbahaya merugikan Allah.
Dalam hadits Qudsi
يا عبادي! لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم كانوا على أتقى قلب رجل واحد منكم ما زاد ذلك في ملكي شيئًا، يا عبادي! لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم كانوا على أفجر قلب رجل واحد منكم ما نقص ذلك من ملكي شيئًا،
Wahai hambaku, seandainya kalian semua dari awal sampai akhir dari manuisa dan jin memiliki ketaqwaan lelaki paling taqwa, hal itu tidak akan menambah kerajaanku sedikitpun. Wahai hambaku seandainya kalian dari awal sampai akhir dari manusia dan jin memiliki kebejatan lelaki paling bejat, itu tidak akan mengurangi kerajaan/kekuasaanku sedikitpun.
8. Jika dinisbat kepada manusia, barulah ada yang namanya baik dan buruk. Baik adalah suatu yang oleh Allah dijadikan baik, menguntungkan manusia. Buruk adalah suatu yang oleh Allah dijadikan mudarrat, membahayakan manusia.
Sehingga kebaikan dan keburukan tidak muncul dari dalam zat itu sendiri melainkan karena dipilihkan oleh Allah sifat baik atau buruk untuk dilekatkan padanya.
Kamu tidak bisa mengatakan bahwa "membunuh" itu adalah perbuatan baik atau buruk, kecuali setelah ada ketentuan Allah. Bahwa membunuh tanpa hak adalah dosa besar sedangkan membunuh kafir harb dalam peperangan adalah pahala, begitu pula membunuh binatang qurban dengan ketentuannya adalah sebuah kebaikan, sedangkan membunuh binatang dengan cara dibakar adalah kejahatan.
Kamu tidak bisa mengatakan bahwa hubungan seksual biologis itu adalah kebaikan atau keburukan, kecuali setelah turun ketentuan Allah bahwa mendatangi istri saat haid adalah keburukan, mendatangi dubur adalah kebejatan, mendatangi selain istri atau mahram adalah kejahatan, dan mendatangi istri tidak sedang haid adalah kenikmatan yang bermanfaat di dunia dan berpahala di akhirat.
9. Baik dan buruk tidak dapat diukur menggunakan akal. Ia hanya ditentukan oleh wahyu.
Karenanya jumhur muslimin mengatakan bahwa orang orang yang lahir di masa fatrah, yang tidak pernah mendengar kabar dakwah para nabi, mereka bukan termasuk mukalaaf dan tidak akan disiksa di akhirat. Sebab? Akal saja tidak bisa menjadi petunjuk menentukan baik dan buruk.
10. Kita meyakini bahwa Allah satu satunya pencipta kebaikan dan pencipta keburukan. Allah lah yang menciptakan iman dan kufur. Allah menciptakan sehat dan sakit. Allah menciptakan alim dan bodoh.
Ini sama sekali tidak mengurangi keagungan dan kemulaian Allah. Sebab, menciptakan keburukan sama sekali berbeda dengan melakukan keburukan. Menciptakan pendusta berbeda dengan berdusta. Menciptakan pencuri beda dengan mencuri.
Kasih contoh dalam kitab Al Insan Musayyar am Mukhayyar. Seorang pelukis mampu melukis wajah siapapun persis seperti aslinya. Ketika wajah Anda misalnya burik rupa, gelap, pesek, gigi maju, misalnya hahaha. Lalau anda minta dilukis wajah, dan hasil lukisannya persis seperti aslinya, burik, apakah keburikan lukisan itu merupakan kesalahan pelukis? Atau keburikan lukisan itu mengurangi nilai kemahiran pelukis? Tidak sama sekali bukan?
11. Jika kita sudah yakin bahwa Allah lah satu satunya pencipta kebaikan dan keburukan, kita akan senantiasa memasrahkan pilihan kelada Allah. Tidak memaksakan kehendak.
"Ya Allah jika Teh Celine adalah jodohku pertemukan dan mudahkanlah. Jika dia bukan jodohku jodohkanlah"
Apa kamu yakin dia baik untukmu?
Sebaik baik doa adalah doa istikharah :
"Ya Allah jika engkau mengetahui poligami baik untukku di dunia dan akhiratku mudahkanlah dan berkahilah. Jika engkau tahu hal itu buruk bagiku jauhkanlah dan gantikan aku dengan kebaikan lain yang lebih baik"
Dikisahkan seorang ahli ibadah berdoa kepada Allah memohon agar ditampakkan wajah iblis. Dia sangat bercita cita ingin memukul wajah iblis dengan tangannya.
Setiap hari ia berdoa sampai Allah benar benar kabulkan. Ia melihat iblis. Tanpa basa basi ia serang dan jot o s wajah iblis. Sampai si iblis ampun apun dan berkata :
"Tolong hentikan pukulanmu, maka aku akan berikan kabar kepadamu tentang rahasia Tuhan untukmu, yang aku intip dari langit"
Serangan dihentikan. "Kabar rahasia apa?"
"Begini, aku melihat di langit tertulis bahwa engkau akan mati di usia seratus tahun. Sudah itu saja."
Keesokan harinya si shaleh berpikir bahwa umurnya masih sangat panjang. Masih ada banyak kesempatan untuk bertaubat. Untuk itu ia berniat mencari kebahagian hidup dengan mencoba kesenangan kesenang yang selama ini dia jauhi. Minum khamer, wanita penghibur, dan dosa dosa lain ia nikmati dengan azam untuk bertaubat sebelum usia 100 tahun.
Belum genap setahun, dia mati dalam keadaan bermaksiyat. Dia tertipu oleh iblis sebab doanya sendiri yang dia ucapkan tanpa berpikir apakan apa yang ia mohon dalam doa itu suatu kebaikan atau suatu keburukan.
12. Sebentar, capek ngetik. Insyaalah besok dilanjut 😃😃
13. Meskipun secara hakekat, Allah lah pencipta segala sesuatu, baik maupun buruk, namun secara adab dan akhlak kita tidak boleh menisbatkan hal hal buruk kepada Allah.
Lihatlah ucapan Nabi Ibrahim
{ ٱلَّذِی خَلَقَنِی فَهُوَ یَهۡدِینِ (78) وَٱلَّذِی هُوَ یُطۡعِمُنِی وَیَسۡقِینِ (79) وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ یَشۡفِینِ (80) }
Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, [Surah Ash-Shu`arâ’: 78-80]
Beliau menisbatkan penciptaan kepada Allah, petunjuk dari Allah, memberi makan dan minum oleh Allah, sedangkan ketika menyebut SAKIT beliau menisbat kepada dirinya sendiri, bukan kepada Allah. Beliau kembali menisbat kepada Allah umtuk menyebut kesembuhan.
"Ketika aku sakit, Dia yang menyembuhkan"
Beliau tidak katakan "Ketika Allah membuat aku sakit, dia lagi yang menyembuhkan"
Meski secara hakekat, sakit itu juga ujian yang datangnya dari Allah.
Begitu pula dengan perkataan Nabi Khadir :
فاراد ربك ان يبلغا اشدهما
"Allah hendak membiarkan mereka berdua dewasa" ketika mengisahkan dua anak yatim, dan mengatakan:
فاردت ان اعيبها
"Aku ingin mencacatkannya" dengan memilih kata aku ketika menceritakan alasan merusak perahu.
Itulah adab dalam akidah
Jika ada ilmu dan nilai kebaikan pada postingan ini, semuanya anugerah Allah melalui penjelasan para ulama. Jika kurang sempurna, kurang jelas, itu karena kecerobohan saya.
24 April 2025
Pimpinan Pesantren Darul Istiqomah
Najih Ibn Abdil Hameed