Ziarah Kubur di Hari Raya
Ziarah Kubur di Hari Raya
عَنْ جَابِرِ قَالَ:كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم، إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ، خَالَفَ الطَّرِيقَ.
Jabir bin Abdillah mengatakan adalah kebiasaan Nabi SAW pada saat hari raya, jalan pulang beliau itu berbeda dengan jalan berangkat HR al-Bukhari no 943.
Berdasarkan informasi dari Ibnu Hajar al-Asqalani anjuran untuk membedakan jalan pulang dan jalan berangkat saat shalat hari raya baik berstatus sebagai imam shalat hari raya atau pun sebagai makmum adalah pendapat mayoritas ulama.
وقد اختلف في معنى ذلك على أقوال كثيرة اجتمع لي منها أكثر من عشرين، وقد لخصتها وبينت الواهي منها
Ada 20 pendapat mengenai alasan Nabi SAW melakukan hal ini. Ibnu Hajar membuat paparan ringkas pendapat-pendapat tersebut dan jika suatu pendapat itu sangat lemah beliau menjelaskannya.
Di antara pendapat yang disebutkan oleh Ibnu Hajar namun beliau tidak mempermasalahkannya adalah sebagai berikut:
وقيل: ليزور أقاربه الأحياء والأموات، وقيل: ليصل رحمه
“Ada yang berpendapat Nabi melakukan hal tersebut untuk mengunjungi kerabat-kerabat beliau baik yang masih hidup atau pun yang sudah meninggal dunia (baca: ziarah kubur).
Ada yang berpendapat beliau melakukan hal tersebut untuk menjalin hubungan dengan kerabat-kerabat beliau yang tinggal di jalan yang beliau lalui” Fathul Bari karya Ibnu Hajar al-Asqalani 2/473.
Berdasarkan penjelasan ini, ketika Nabi SAW berangkat menuju tempat shalat hari raya dan atau saat beliau pulang dari shalat hari raya beliau melakukan ziarah kubur famili beliau.
Dari hal ini bisa disimpulkan minimal dibolehkan melakukan ziarah kubur keluarga dan handai tolan pada hari raya.
Oleh karena itu tidaklah tepat pernyataan penulis buku Al-Kalimāt an-Nāfi’ah fī al-Akhthāi asy-Syāi’ah. Pada hlm 405 buku tersebut yang diterbitkan oleh Dar Ibnu Rajab Mesir 2003 terdapat statemen sebagai berikut:
إن يوم العيد يوم تزاور الأحياء وليس لزيارة الأموات
“Hari raya adalah hari saling berkunjung bagi orang yang masih hidup, bukan hari mengunjungi orang yang sudah meninggal dunia (baca: ziarah kubur)”.
Kalimat ini adalah pernyataan yang tidak tepat jika maksudnya adalah melarang ziarah kubur pada saat hari raya.
Boleh saja kita tidak melakukan ziarah kubur kerabat saat hari raya namun jangan terlalu menggebu-gebu menyalahkan orang-orang yang melakukannya seakan-akan mereka melakukan hal tersebut tanpa memiliki dasar argumen yang bisa dipertanggungjawabkan.
Mari perbanyak literasi, sungguh kebodohan itu sudah terlalu sering memakan banyak korban.
Aris Munandar