Asal Usul 5 Waktu Shalat
Asal-Usul 5 Waktu Shalat
Shalat dibagi dan dikerjakan dalam 5 waktu setiap sehari. Syariat shalat seperti ini adalah salah satu kekhususan yang dimiliki oleh umat Nabi Muhammad, karena umat-umat terdahulu, meskipun jumlah raka’atnya lebih banyak, akan tetapi rata-rata dikerjakan di satu atau dua waktu saja sebagaimana nabi Ibrāhīm dan nabi Mūsā yang syariat shalatnya dikerjakan pada waktu pagi dan petang saja. Bahkan, sebelum terjadinya peristiwa Isrā’ wa Mi’rāj, pada saat itu nabi Muḥammad dan para Sahabat mengerjakan shalat hanya pada dua waktu yaitu pada waktu Subuh dan Isya’. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Rajab dalam Fatḥ al-Bārī fī Syarḥ Shaḥīḥ al-Bukhārī sebagai berikut :
لكن قد قيل: إنه كان قد فرض عليه ركعتان في أول النهار وركعتان في أخره فقط. وقال قتادة: كان بدء الصلاة ركعتين بالغداة وركعتين بالعشي
“Namun, ada yang mengatakan bahwa shalat yang diwajibkan pada Rasulullah pada awalnya adalah dua raka’at di awal hari (Subuh) dan dua raka’at di akhir hari (Isya’). Qatadah berkata: “Permulaan shalat (pertama kali) adalah dua raka’at di waktu pagi (Subuh) dan dua raka’at di waktu senja (Isya’)”.
Berdasarkan penjelasan tersebut, sebelum peristiwa Isrā’ wa Mi’rāj, shalat hanya dikerjakan dua kali dalam sehari atau dilaksanakan pada dua waktu yaitu pada waktu Subuh dan Isya’. Namun, setelah perjalanan suci tersebut, waktu shalat ditetapkan menjadi lima waktu sebagaimana yang kita kenal sekarang.
Menariknya, setiap waktu shalat ini ternyata memiliki keterkaitan dengan kisah para nabi terdahulu, atau memiliki nilai historisnya masing-masing, yang mana pengalaman spiritual mereka menjadi cikal bakal pelaksanaan shalat di lima waktu untuk umat nabi Muḥammad.
Kisah asal-usul kelima waktu shalat ini dapat ditemukan dalam Sullam al-Munājāh yang merupakan salah satu karya tulis ulama besar kebanggaan Nusantara yaitu Syaikh Muḥammad Nawawī bin ‘Umar al-Bantanī. Dalam kitab tersebut, beliau menyebutkan sebagai berikut :
فَأَوَّلُ مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ آدَمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ حِيْنَ خَرَجَ مِنَ الْجَنَّةِ وَرَأَى الظُّلْمَةَ ، فَخَافَ خَوْفًا شَدِيدًا، فَلَمَّا انْشَقَّ الْفَجْرُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ: رَكْعَةً لِلشُّكْرِ عَلَى خَلَاصِهِ مِنَ الظُّلْمَةِ، وَرَكْعَةً لِلشُّكْرِ عَلَى عَوْدِ ضَوْءِ النَّهَارِ . وَأَوَّلُ مَنْ صَلَّى الظُّهْرَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ حِيْنَ أَمَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِذَبْحِ وَلَدِهِ إِسْمَاعِيلَ ثُمَّ بِذَبْحِ فِدَائِهِ، وَذَلِكَ حِيْنَ زَوَالِ الشَّمْسِ، فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ: رَكْعَةً لِلشُّكْرِ عَلَى الْفِدَاءِ، وَرَكْعَةً لِلشُّكْرِ عَلَى ذَهَابِ حُزْنِهِ عَلَى وَلَدِهِ، وَرَكْعَةً لِطَلَب رِضَا اللَّهِ تَعَالَى عَلَيْهِ، وَرَكْعَةً لِحُصُولِ النِّعْمَةِ، وَهِيَ الْكَبْشُ الْمُنَزَّلُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَهُوَ كَبْشُ هَابَيْلَ. وَأَوَّلُ مَنْ صَلَّى الْعَصْرَ يُونُسُ عَلَيْهِ السَّلَامُ حِيْنَ أَخْرَجَهُ اللَّهُ مِنْ بَطْنِ الْحُوْتِ وَهُوَ مِثْلُ فَرْحَ الطَّيْرِ الَّذِي لَا رِيْشَ فِيْهِ، وَقَدْ كَانَ فِي أَرْبَعِ ظُلُمَاتٍ: ظُلْمَةِ الْحَشَا، وَظُلْمَةِ الْمَاءِ، وَظُلْمَةِ اللَّيْلِ، وَظُلْمَةِ بَطْنِ الْحُوْتِ، وَكَانَ خُرُوجُهُ فِي وَقْتِ الْعَصْرِ، فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ شُكْرًا لِلَّهِ تَعَالَى عَلَى خَلَاصِهِ مِنْ تِلْكَ الظُّلُمَاتِ الْأَرْبَعِ. وَأَوَّلُ مَنْ صَلَّى الْمَغْرِبَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ حِيْنَ خَرَجَ مِنْ بَيْنِ قَوْمِهِ وَهُوَ حِيْنَ غُرُوْبٍ الشَّمْسِ، فَصَلَّى ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ: رَكْعَةٌ لِنَفْيِ الْأُلُوْهِيَّةِ عَنْ غَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى، وَرَكْعَةٌ ثَانِيَةً لِنَفْيِ التَّهْمَةِ عَنْ أُمِّهِ مِنْ قَذْفِ قَوْمِهِ، وَرَكْعَةٌ لإِثْبَاتِ التَّأْثِيرِ وَالْأُلُوْهِيَّةِ اللَّهِ وَحْدَهُ، وَلِهَذَا تَجْتَمِعُ الرَّكْعَتَانِ الْأَوْلَتَانِ وَتَنْفَرِدُ الرَّكْعَةُ الثَّالِثَةُ. وَأَوَّلُ مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ حِيْنَ ضَلَّ عَنِ الطَّرِيقِ حِيْنَ خُرُوجِهِ مِنْ مَدْيَنَ، وَهُوَ فِي أَحْزَانٍ أَرْبَعَةٍ: فِي حُزْنٍ عَلَى زَوْجِهِ، وَحُزْنٍ عَلَى أَخِيهِ هَارُوْنَ، وَحُزْنٍ عَلَى أَوْلَادِهِ، وَحُزْنٍ عَلَى سَطْوَةِ فِرْعَوْنَ، فَخَلَّصَهُ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ بِوَعْدٍ صَادِقٍ، ذَلِكَ فِي وَقْتِ الْعِشَاءِ، فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ شُكْرًا اللَّهِ عَلَى ذَهَابِ الْأَحْزَانِ الْأَرْبَعَةِ
Syaikh Muḥammad Nawawī bin ‘Umar al-Bantanī menjelaskan bahwa orang yang pertama kali shalat Subuh adalah nabi Ādam -‘alaihis salām- setelah beliau diturunkan ke bumi dari surga. Saat itu, untuk pertama kalinya, beliau merasakan pekatnya kegelapan yang begitu mencekam hingga menimbulkan ketakutan yang luar biasa. Namun, seiring berjalannya waktu, kegelapan itu perlahan memudar, memberi ruang bagi cahaya fajar yang perlahan merekah. Pergantian dari malam menuju pagi menjadi simbol harapan, menggantikan ketakutan dengan ketenangan. Oleh karena itu, dua rakaat shalat Subuh dilaksanakan oleh beliau sebagai ungkapan rasa syukur atas lenyapnya kegelapan dan sebagai harapan akan hadirnya terang yang membawa kehidupan baru.
Kemudian, nabi Ibrāhīm -‘alaihis salām- menjadi sosok pertama yang menunaikan shalat Zhuhur. Empat rakaat shalat ini beliau dirikan pada saat siang hari, tepat ketika matahari mulai condong dari titik tertingginya, sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Peristiwa agung yang melatarbelakangi waktu shalat ini adalah momen ketika Allah menggantikan nabi Ismā’īl -‘alaihis salām-, yang awalnya akan dikurbankan, ditukar dengan seekor domba dari surga. Setiap raka’atnya mengandung makna mendalam: satu rakaat sebagai ungkapan syukur atas keselamatan nabi Ismā’īl, satu rakaat selanjutnya juga sebagai ungkapan syukur atas hilangnya kesedihan nabi Ibrāhīm karena dikurbankannya nabi Ismā’īl, satu rakaat sebagai upaya mencari keridhaan Allah, dan satu rakaat terakhir sebagai tanda syukur atas nikmat anugerah domba yang menjadi kurban pengganti.
Adapun kisah shalat Ashar erat kaitannya dengan perjalanan spiritual nabi Yūnus -‘alaihis salām-, ketika beliau diselamatkan oleh Allah dari perut ikan Ḥūt. Ikan Ḥūt, yang digambarkan memiliki bentuk menyerupai burung namun tanpa sayap atau bulu, menjadi tempat ujian berat bagi nabi Yūnus ketika beliau mengarungi lautan. Dalam kegelapan perut ikan itu, beliau mengalami empat lapisan kegelapan yang begitu mencekam: kegelapan akibat kegelisahan hatinya, kegelapan dalam lautan yang mengelilinginya, kegelapan malam yang menyelimuti dunia, dan kegelapan di dalam perut ikan itu sendiri. Hingga akhirnya, saat matahari mulai condong ke barat (Ashar), Allah mengeluarkannya dari kesulitan itu. Sebagai ungkapan syukur atas terbebasnya dari empat kegelapan tersebut, nabi Yūnus pun menunaikan shalat empat rakaat, menjadikannya sebagai simbol harapan dan cahaya setelah ujian yang begitu berat.
Lalu, shalat Maghrib, dengan tiga rakaatnya, memiliki sejarah mendalam yang tak terpisahkan dari perjalanan hidup nabi ‘Īsā -‘alaihis salām-. Di penghujung senja, beliau berhasil melepaskan diri dari kaumnya yang penuh dengan penolakan dan fitnah. Setiap raka’at dalam shalat ini mengandung makna spiritual yang mendalam. Raka’at pertama melambangkan perjuangan nabi ‘Īsā dalam menegakkan tauhid, menegaskan bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan menafikkan ketuhanan pada selain Allah. Raka’at kedua menjadi simbol pembelaan beliau atas kehormatan ibundanya, Maryam, yang difitnah oleh kaumnya atas kelahiran beliau tanpa seorang ayah. Sedangkan raka’at ketiga mengukuhkan bahwa segala kekuasaan dan kehendak mutlak hanyalah milik Allah semata dengan bukti sebagaimana beliau yang dapat terlahir tanpa ayah.
Terakhir, shalat Isya’, dengan empat rakaatnya, menjadi simbol dihapuskannya empat kesedihan yang pernah menimpa nabi Mūsā -‘alaihis salām-. Kesedihan beliau itu berakar dari berbagai ujian berat yang beliau hadapi: duka atas istrinya, kehilangan saudaranya Hārūn, kegelisahan terhadap anak-anaknya, serta kesedihan melihat kekuasaan sewenang-wenang Fir’aun yang merajalela. Namun, di kegelapan malam, Allah mengangkat semua kesedihan itu, menggantinya dengan ketenangan dan kelegaan. Sebagai ungkapan syukur atas anugerah tersebut, nabi Mūsā pun menunaikan shalat empat raka’at, menjadikannya sebagai penanda atas hilangnya empat kesedihan tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap waktu shalat memiliki nilai kesejarahannya masing-masing. Shalat Subuh diawali oleh kisah nabi Ādam, shalat Zhuhur oleh nabi Ibrāhīm, shalat Ashar oleh nabi Yūnus, shalat Maghrib oleh nabi ‘Īsā, dan shalat Isya’ oleh nabi Mūsā.
Meskipun demikian, terdapat riwayat lain yang menyebutkan siapa saja orang pertama yang melaksanakan shalat di kelima waktu tersebut. Riwayat tersebut terungkap dalam bentuk syair dengan bahar al-Thawīl sebagai berikut :
لِآدَمَ صُبْحٌ وَالْعِشَاءُ لِيُونُسَ ۞ وَظُهْرٌ لِدَاوُدَ وَعَصْرٌ سُلَيْمَانَا
وَمَغْرِبٌ يَعْقُوْبَ وَقَدْ جُمِعَتْ لَهُ ۞ عَلَيْهِ صَلَاةُ اللهِ سِرًّا وَإِعْلَانَا
“Subuh milik Ādam dan Isya’ milik Yūnus. Zhuhur bagi Dāwud dan ‘Ashar oleh Sulaimān. Maghrib bagi Ya’qub, dan demikianlah dikumpulkannya semua shalat. Semoga shalawat Allah senantiasa tercurah kepadanya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan”
Wallāhu ta’ālā a’lam
Muhammad Adib
22 Ramadhan 1446 H