Kaidah Filsafat?
🔰 KAEDAH "ما لا يخلو عن الحوادث فهو حادث" DARI FILSAFAT?
Oleh: M. Rofiannur Al Hamaamuh, SN, DH.
Sesi: Menjawab tuduhan Wahhabiyyah.
Awalnya saya enggan untuk membahas ini sebab bagi saya, hal ini harus disuarakan atau ditulis panjang jika mau dibahas. Tapi, karena banyaknya permintaan dan tuduhan yang berlaku kepada manhaj Assya'irah. Maka, saya berinisiatif untuk mematahkan tuduhan mereka itu. Dan semoga mudah difahami.
A. PENGURAIAN.
Kelompok Wahhabiyyah Mujassimah mengklaim bahwasanya kaedah yang selalu dibawa oleh Aimmah Assyairah ini "ما لا يخلو عن الحوادث فهو حادث" diambil dari filsafat. Sehingga, lahirlah klaim bahwasanya aqidah Assyairah adalah aqidah filsafat.
Klaim dan tuduhan ini lahir setelah perdebatan Ustadz PU Faiz dengan Salman Ali. Dari situ terus bergema tuduhan tuduhan ini. Meskipun mereka tahu dan sadar bahwasanya kaedah diatas itu memang tidak pernah diucapkan oleh para tokoh filsafat manapun.
Jika memang betul kaedah itu diambil dari filsafat. Pertanyaannya, filosof mana yang mengatakan kaedah ini "ما لا يخلو عن الحوادث فهو حادث"?. Silahkan kelompok wahhabiyyah komentar dibawah.
B. AQIDAH TAJSIM BERASAL DARI MANA?
Perkara yang penting untuk dipahami dahulu sebelum menjelaskan kaedah diatas adalah tajsim (pemikiran Allah berjisim) itu berasal dari aliran mana? Dari Islam atau dari aliran diluar agama Islam?
Jawabannya adalah pemikiran tajsim bukan berasal dari agama Islam. Melainkan ia berasal dari dua aliran yaitu yahudi dan filsafat. Hal tersebut diungkapkan oleh;
Al Imam Muhammad Bin Ali Bin Muhammad Bil'athiyah Addu'anii dengan mengatakan:
والحاصل: أن عقيدة أهل التجسيم هذه مأخوذة من عقيدتين: الأولى: عقيدة اليهود. ... والثانية: من عقيدة الفلاسفة كما بينا.
Artinya: Kesimpulannya adalah sesungguhnya aqidah ahli tajsim ini diambil dari dua Aqidah: yang pertama: Aqidah Yahudi dan yang kedua: Dari Aqidahnya Filsafat sebagaimana yang sudah kami jelaskan.
[Ghayatul Muna Syarah Safinatu Annaja: 63]
B1. Kenapa dari filsafat? Sebab, aliran filsafat itu meyakini bahwasanya pada Allah boleh berlaku hal hal yang baru.
Al Imam Sa'aduddin Attaftazani (W 794 H) menjelaskan:
وأما الفلاسفة : فاقولهم بأن الله تعالى إضافة إلى ما حدث
Artinya: Adapun kelompok filosof; Ucapannya mereka adalah sesungguhnya Allah taala dapat disandarkan pada hal hal yang baharu.
[Syarah Al Maqasid: 3/47]
Sedangkan dalam manhaj Ahli Sunnah Wal Jamaah yang bisa menerima kebaharuan hanya yang berjisim saja.
Al Imam Fakruddin Arrazi (W 606 H) mengatakan:
الأجسام قابلة للحوادث، وكل ما كان قابلاً للحوادث، فإنه لا يخلو من الحوادث وكل ما لا يخلو عن الحوادث فهو حادث
Artinya: Semua jisim itu menerima kebaharuan dan segala sesuatu yang menerima kebaharuan. Maka, sesungguhnya ia tidak dapat berlepas dari hal hal yang baharu dan setiap yang tidak berlepas dari hal hal yang baharu maka ia baharu.
[Al Mathalib Al Aliyyah: 2/198]
Al Imam Fakhrudin Arrazi (W 606 H) mengatakan:
أن ذات الجسم لا ينفك عن الحوادث
Artinya: Sesungguhnya dzatnya jisim tidak terlepas dari hal hal yang baharu.
[Al Mathalib Al Aliyyah: 2/198]
Kita akan bahas lebih dalam nanti dibawah. Inshaa Allah.
B2. Dan kenapa dari Yahudi juga? Karena, alasan kelompok Yahudi adalah konon mereka menemukan sifat sifat jisim pada Allah didalam kitab taurat. Sehingga, menurut mereka Allah sedemikian.
Syaikh Abdurrahman Kamal Muhammad mengatakan:
التشبيه والتجسيم: نزع اليهود إلى التشبيه والتجسيم وذلك لأنهم وجدوا التوراة مليئة بالروايات التي تدل على تصوير الباري والتكلم معه جهاراً وان له صورة كصور البشر.
Artinya: Tasybih dan Tajsim: Yahudi cenderung mentasybih dan Mentajsim dan itu dikarenakan sesungguhnya mereka menemukannya di kitab Taurat dengan banyak riwayat yang menunjukkan atas rupanya Allah dan bersamaan firman nya yang jelas dan sesungguhnya Allah (Al Bari) memiliki rupa seperti rupanya manusia.
[Ilmu Ushuluddin Wa Atsarihi Fii Al Fiqhi Al Islami: 55]
Dan apakah betul didalam kitab taurat tertera demikian? Jawabannya tidak betul.
Al Imam Ibnul Jauzi Al Hanbali (W 597 H) mengatakan:
ليس في القرآن الكريم شيء من صفات التجسيم الموجودة في التوراة، والآيات المتشابهة التي يستشهد بها المجسمة على التجسيم لا دلالة فيها على ذلك البتة
Artinya: Tidak ada sesuatu daripada sifat sifat jisim yang ditemukan didalam Al Qur'an Al Karim dalam kitab taurat dan tidak ditemukan juga ayat ayat Mutasyabihat yang dijadikan saksi oleh Mujassimah atas tajsim nya. Tidak ada sama sekali didalamnya dalil dalil yang menunjukkannya.
[Majalis Ibnul Jauzi Fii Al Mutasyabihi Minal Aayati Al Qur'aniyati: 74]
Kesimpulan awal dari sini sudah menunjukan bahwasanya aqidah filsafat dan yahudi adalah tajsim dan kedua kelompok itu memiliki alasan yang berbeda beda mengenai hal tersebut. Dan pemikiran mereka itu merambat ke kelompok sesat lainnya. Seperti; Mujassimah, Musyabbihah, Hasywiyyah, Karramiyah, Hisyamiyyah, dan Wahhabiyyah (kita buktikan nanti).
C. SIAPA YANG MEMBAWA KAEDAH "ما لا يخلو عن الحوادث فهو حادث" DAN UNTUK APA?
Kelompok wahhabiyyah mengklaim bahwasanya kaedah diatas dibawa oleh ulama assyairah saja. Oleh karena itu, Salman Ali berani menyebutkan ulama Assyairah yang membawa kaedah itu. Seperti; Al Imam Al Ghazali, Al Iji, Fakhrudin Arrazi dan lain lainnya.
Padahal, kaedah itu dipopulerkan pertama kali ulama salaf yakni Al Imam Ibnu Jarir Attabari (W 310 H):
Al Imam Ibnu Jarir Attabari (W 310 H) mengatakan:
وكان ما لم يخل من الحدث لا شك أنه محدث
Artinya: Sesuatu yang tidak berlepas dari kebaharuan. Maka, tidak diragukan lagi bahwasanya ia adalah baharu.
[Tarikh Attabari: 1/25]
Diawal bab, Al Imam Ibnu Jarir Attabari menamainya dengan judul:
القول في الدلالة على أن الله عز وجل القديم الأول قبل شيء وأنه هو المحدث كل شيء بقدرته تعالى ذكره
Artinya: Pendapat mengenai dalil dalil bahwasanya Allah Azza wa Jalla adalah Al Qadim Al Awwal sebelum sesuatu dan ia adalah yang mengadakan segala sesuatu dengan kekuasaannya Allah taala.
[Tarikh Attabari: 1/25]
Bab itu beliau buat untuk membantah pemikiran tajsim dari semua kelompok khususnya kelompok yang melahirkan implikasi tajsim kepada dzatnya Allah yaitu filsafat. Hal itu serupa dengan bab yang dibuat oleh Al Imam Al Ghazali ketika membantah para filsafat.
Al Imam Al Ghazali (W 505 H) menjelaskan:
مسألة ( ٩ ) في تعجيزهم عن إقامة الدليل على أن الأول ليس بجسم
Artinya: Persoalan ke sembilan menjelaskan kelemahan nalar mereka (filosof) mengenai tegaknya dalil bahwasanya Al Awwal bukanlah jisim.
[Tahafut Falasifah: 192]
Dengan kata lain; Allah adalah dzat yang Qadim dan sifat Qadim nya Allah tidak didahului dan tidak dibersamai oleh apapun. Oleh karenanya, Allah adalah sang Al Awwal. Tidak diawali segala sesuatu apapun.
C1. Dan apakah betul kaedah diatas diambil dari filsafat ?.
Jawabannya tidak betul. Justru kaedah diatas digunakan untuk membantah filsafat. Sebab, filsafat itu sendiri sang Al Awwal yakni Allah adalah berjisim dan jisimnya itu Qadim, artinya jisim yang tegak dengan sendirinya tanpa ada awalan (diciptakan dahulu baru ada).
Klaim ini dibantah oleh para Aimmah Assyairah dengan menggunakan kaedah diatas. Seperti, yang sudah dijelaskan oleh Al Imam Al Ghazali berikut;
Al Imam Al Ghazali (W 505 H) mengatakan:
فنقول : هذا إنما يستقيم لمن يرى أن الجسم حادث ، من حيث إنه لا يخلو عن الحوادث ، وكل حادث فيفتقر إلى محدث .
فأما أنتم إذا عقلتم جسماً قديماً ، لا أول لوجوده ، مع أنه لا يخلو عن الحوادث ، فلم يمتنع أن يكون الأول جسماً إما الشمس ، وإما الفلك الأقصى ، وإما غيره.
Artinya: Kami katakan: Hujjah yang tegak ini (Al Awwal yakni Allah bukanlah jisim) berlaku kepada orang orang yang memandang bahwasannya jisim adalah memang hal yang baharu. Sesungguhnya jisim itu tidak terlepas dari kebaharuan dan setiap yang baharu pasti membutuhkan kepada yang memperbaharuinya.
Adapun kalian (filsafat), jika kalian berpikir "jisim yang Qadim tapi tiada awal pada kewujudunnya, bersamaan ia tidak terlepas dari hal hal yang baharu". Jika begitu, maka sah sah saja keberadaan Al awwal adalah jisim. Entah itu matahari, entah itu bintang angkasa entah selainnya.
[Tahafut Falasifah: 192]
Al Imam Kamaluddin Ibnu Al Humam (W 861 H) mengatakan:
وأما الثالثة فلو لم يكن كذلك لكان قبل كل حادث حوادث لا أول لها مترتبة كما تقول الفلاسفة في دورات الأفلاك.
Artinya: Adapun yang ketiga adalah, jika memang adanya begitu (Allah berjisim). Tentunya, sebelum adanya segala sesuatu yang baharu itu, maka kebaharuan dia adalah sesuatu yang tidak memiliki awalan (diciptakan dahulu) yang beruntut. Seperti ucapan para filosof mengenai peredaran alam semesta.
[Al Musamarah: 32]
Menurut filsafat, peredaran alam semesta ini. Seperti pergantian hari, siang dan malam, peredaran bintang bintang dan sebagainya. Sudah ada sejak lama dan tiada permulaan nya (sejak dulu memang begitu) Jadi, konsekuensinya jika membenarkan Allah berjisim. Maka, harus juga membenarkan hal hal yang baru itu (seperti jisim) tidak memiliki permulaan. Inilah hal yang tidak terbaca oleh wahhabiyyah.
Catatan penting:
1. Pegangan filsafat adalah Allah adalah jisim tapi jisimnya Allah Qadim dan jisim yang Qadim itu tidak terlepas dari hal hal yang baru dan tidak memiliki awalan.
2. Assyairah membantahnya dengan mengatakan bahwasanya jisim itu adalah sesuatu yang baru bukan Qadim. Sehingga, Allah Subhanahu Wa Taala memang bukan jisim ataupun berjisim. Sebab, jisim itu tidak dapat berlepas dari hal hal yang baru. Karena, hal hal yang baru itu pasti akan membutuhkan yang memperbaharuinya. Dan ini mustahil terjadi terhadap Allah.
3. Karena filsafat beranggapan Allah itu jisim dan boleh berlaku hal hal yang baharu padanya. Maka, dikeluarkan lah kaedah "ما لم يخل من الحدث لا شك أنه محدث" sebagai bentuk bantahan kepada pola pikir sesat mereka.
4. Jisim adalah perkara baru dan ini mustahil terjadi kepada dzatnya Allah taala.
Al Imam Al Ghazali (W 505 H) mengatakan:
فكل جسم محدث. لا محالة.
Artinya: Semua jisim itu adalah perkara baru dan itu sudah pasti.
[Iljaamul Awam: 35]
Al Imam Abi Manshur Abdul Qahir Al Baghdadi (W 429 H) mengatakan:
وما أدى إلى محال فهو محال
Artinya: Sesuatu yang menggiring kepada kemustahilan. Maka, ia adalah mustahil.
[Ushuluddin: 92]
C2. Jadi, kalau mau membenarkan Allah bertempat. Baik, diatas arasy, diatas langit dan sebagainya dengan menggunakan ayat dan hadist apapun. Maka, akui dulu bahwa Aqidah yang seperti itu diambil dari aqidah filsafat bukan aqidah Islam sebagaimana yang sudah kami jelaskan diatas.
Aqidah filsafat yang seperti inilah yang selalu dilawan oleh Aimmah Assyairah sejak lama.
Al Imam Ibnu Abidin mengatakan:
وفي فتاوى ابن حجر : ما كان منه على طريق الفلاسفة حرام، لأنه يؤدي إلى مفاسد كاعتقاد قدم العالم ونحوه
Artinya: Didalam fatawanya Ibnu Hajar: Apa apa yang ada diatas jalan filsafat maka ia adalah haram. Sesungguhnya ia mengakibatkan kepada kerusakan seperti meyakini qadimnya alam dan sejenisnya (Allah berjisim).
[Raddul Muhtar: 1/129]
Al Imam Al Ghazali (W 505 H) mengatakan:
فإن قيل : لم قيل أن كل جسم أو متحيز فلا يخلو عن الحوادث؟
قلنا : لأنه لا يخلو عن الحركة والسكون وهما حادثان.
Artinya: Jika ditanya: Kenapa dikatakan sesungguhnya semua jisim dan yang bertempat itu tidak terlepas dari kebaharuan?
Kami jawab; Karena sesungguhnya jisim itu tidak dapat berlepas dari bergerak dan diam. Dan keduanya adalah baru.
[Al Iqtishad Fil I'tiqad: 25]
Dan dari sini sudah terbongkar, kebodohan ustadz Salman Ali dan ini sudah menunjukkan bahwasanya hujjah dia adalah hasil dari cocoklogi semata bukan fakta. Jika mau dikatakan fakta. Maka, tunjukkan bukti bahwasanya kaedah diatas memang dikatakan oleh lisan para filsafat. Faktanya kan tidak ada justru kaedah diatas digunakan untuk menjungkirbalikkan pola pikir filsafat. Apalagi dia bawa kitab Tahafut Falasifah (Kerancuan Filsafat) yang sudah jelas jelas diterangkan panjang lebar oleh Al Imam Al Ghazali. Aneh bin ajaib, bawa isi kitab Tahafut Falasifah tapi mengklaim aqidah Assyairah dari filsafat. Maha suci Allah dari tuduhan orang orang jahil.
D. AQIDAH WAHHABI TERKENA FILSAFAT.
Dan sekarang kita akan buktikan bahwasanya aqidah Wahhabiyyah memang bukanlah aqidah salaf melainkan aqidah yang dilahirkan dari kelompok mujassimah yang terdoktrin filsafat. Dengan kata lain aqidah wahhabiyyah memang aqidah filsafat dan konteks jisim kali ini.
Al Imam Saifudin Al Amidi (W 631 H) mengatakan:
«المسألة الثانية» فى أن البارى- تعالى- ليس بجسم مذهب أهل الحق: أن البارى- تعالى- ليس بجسم. وذهب بعض الجهال: إلى أنه جسم. ثم اختلفوا. فذهب بعض الكرامية: إلى أنه جسم، بمعنى أنه موجود. و ذهب بعضهم: إلى أنه جسم، بمعنى أنه قائم بنفسه.
Artinya: Persoalan yang kedua: Sesungguhnya Allah taala bukanlah jisim. Madzhab Ahli Haq adalah sesungguhnya Allah taala bukanlah jisim. Sebagian orang orang bodoh berpendapat bahwasanya Allah adalah jisim. Kemudian mereka berbeda berpendapat. Sebagian kelompok Karramiyah berpendapat: Allah adalah jisim dengan pengertian sesungguhnya jisimnya maujud (berjisim). Sebagian lainnya: Allah berjisim dengan arti jisim yang tegak dengan sendirinya.
[Abkar Al Afkar: 2/12]
Al Imam Al Haramain Al Juwaini (W 478 H) mengatakan:
وصار آخرون إلى أن الجسم هو القائم بالنفس.
Artinya: Kelompok mujassimah lainnya menjadikan jisim sebagai jisim yang tegak dengan sendirinya.
[Assyamil Fii Ushul Addiin: 132]
Pengertiannya adalah aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah berpendapat Allah Subhanahu Wa Taala bukanlah jisim dan Allah suci dari jisim dan sifat sifatnya. Dan mari kita lihat aqidah wahhabiyyah.
Syaikh Ibnu Utsaimin Al Wahhabi Al Mujassim mengatakan:
وأما الجسم، فنقول: ماذا تريدون بالجسم؟ أتريدون أنه جسم مركب من عظم ولحم وجلد ونحو ذلك؟ فهذا باطل ومنتف عن الله، لأن الله ليس كمثله شيء وهو السميع البصير. أم تريدون بالجسم ما هو قائم بنفسه متصف بما يليق به؟ فهذا حق من حيث المعني، لكن لا نطلق لفظه نفياً ولا إثباتاً، لما سبق.
Artinya: Adapun mengenai jisim (الجسم), Maka, kami katakan: Apa yang anda maksudkan dengan jisim? Apakah anda maksudkan tubuh yang tersusun dari tulang, daging, kulit, dan sebagainya?. Jika begitu, maka ini adalah batil dan mustahil bagi Allah, kerana Allah tidak ada yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Atau adakah anda maksudkan dengan jisim yang berdiri dengan sendirinya dan memiliki sifat-sifat yang sesuai dengan-Nya? Ini adalah benar dari segi maknanya, tetapi kami tidak akan menggunakan perkataan tersebut untuk menafikan atau mengesahkan, sebagaimana yang telah disebutkan sebelum ini.
[Syarah Al Aqidah Al Wasathiyyah Libni Utsaimin: 1/394]
Pengertiannya adalah Wahhabiyyah beranggapan bahwasanya mereka tidak menetapkan dan menafikan jisim. Tapi, diwaktu yang sama mereka membenarkan pendapat Karromiyah bahwasanya jisim itu tegak dengan sendirinya. Dan itulah pendapat kelompok wahhabiyyah dalam hal tersebut.
Kesimpulannya adalah:
1. Kaedah "ما لا يخلو عن الحوادث فهو حادث" bukan dari filsafat.
2. Kaedah tersebut merupakan bantahan terhadap semua pola pikir/akal yang menyimpang dari kebenaran seperti akal para filosof yang beranggapan bahwasanya Allah sang Al awal adalah jisim.
3. Kelompok Mujassimah, Musyabbihah, Hasywiyyah, Karramiyah, Hisyamiyyah dan Wahhabiyyah merupakan kelompok yang aqidahnya terdoktrin filsafat yaitu diracuni oleh virus jisim.
Maha suci Allah dari berjisim seperti ucapan kelompok sesat diatas.
Selesai
© ID Cyber aswaja.
NB: Dilarang untuk merubah sumber yang telah diterbitkan tanpa adanya izin resmi dari tim ID Cyber aswaja dan penulis tanpa terkecuali.