Imam Syafi'i dan Tasawuf
"Para wahabi" lokal kerap menukil qoul imam Syafi’i : “Kalau seandainya seorang laki² mengamalkan tashawuf di awal siang, maka tidak tidak sampai kepadanya dhuhur kecuali ia menjadi hamqa (kekurangan akal)".
Perlu diketahui kalimat diatas dipotong tidak dilanjutkan perkataan berikutnya : ”Aku tidak mengetahui seorang sufi yg berakal, kecuali ia seorang Muslim yg khawwas (istimewa).”
Jamaat sekte wahabi dengan jahil secara tergesa-gesa dari perkataan di atas degan "memotong" keseluruhan qoul bahwa Imam Syafi’i mencela penganut sufi. Padahal tidaklah demikian, imam Syafi’i hanya mencela mereka yg menisbatkan kepada sufi dan tasawwuf, namun tidak benar² menjalankan hakikat nya.
Adapun Imam Baihaqi menjelaskan :
”Dan sesungguhnya yg dituju dengan perkataan itu adalah siapa yg masuk kepada ajaran sufi namun mencukupkan diri dengan sebutan daripada kandungannya, dan tulisan daripada hakikatnya. Dan ia meninggalkan usaha & membebankan kesusahannya kepada kaum Muslim. Ia tidak perduli terhadap mereka serta tidak mengindahkan hak² mereka. Dan tidak menyibukkan diri dengan ilmu dan ibadah, sebagaimana beliau sifatkan di kesempatan lain.”
Dari penjelasan Imam Baihaqi di atas, yg dicela Imam Syafi’i adalah para sufi yg hanya sebatas pengakuan (sufi gadungan). Yaitu mereka yg tidak mengamalkan ajaran sufi yg sesungguhnya.
Di kitab yg sama hal sebelumnya imam Syafi’i juga menyatakan :
”Seorang sufi tidak menjadi sufi hingga ada pada dirinya 4 perkara, malas, suka makan, suka tidur dan berlebih-lebihan.”
Imam Baihaqi menjelaskan maksud perkataan Imam As Syafi’i tersebut. ”Sesungguhnya yg beliau ingin cela adalah siapa dari mereka yg memiliki sifat ini. Adapun siapa yg bersih kesufiannya dengan benar² tawakkal kepada Allah dan menggunakan adab syari’ah dalam muamalahnya kepada Allah dalm beribadah serta muamalah mereka dengan manusia (mengajarkan ilmu) dalam pergaulan, maka telah dikisahkan dari beliau (Imam As Syafi’i) bahwa beliau bergaul dengan mereka dan mengambil (ilmu) dari mereka.
(Manaqib Imam as Syafi’i li imam Baihaqi).
Jelas dalam memahami hal tersebut, Imam Baihaqi yg lebih faqih, zuhud dan wara dari kita yg hidup yg sekarang, beliau menilai bahwa Imam Syafi’i mengeluarkan pernyataan (yg bernada mencela) di atas karena prilaku mereka yg mengatasnamakan sufi. Dan imam Syafi’i menyaksikan dari mereka hal yg membuat beliau tidak suka.
Tasawwuf dalam pandangan Imam Madzhab & Ulama :
- lmam Abu Hanifah (80 H) murid dari Ahli Silsilah Thariqat Naqsyabandiyah, Imam Jafar as Shadiq ra.
Abu Hanifah: "Jika tidak karena dua tahun, Nu'man telah celaka. Karena 2 tahun saya bersama Imam Jafar as Shadiq, maka saya mendapatkan ilmu spiritual yg membuat saya lebih mengetahui jalan yg benar.“
(Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Durr al Mantsur)
- Imam Maliki (93 H) yg juga murid Imam Jafar as Shadiq ra: "Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yg mempelari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih kebenaran.
(Ali al Adawi yg meriwayatkan dari Imam Abul Hasan).
- Imam Syafi'i (150 H) : "Saya berkumpul bersama orang² sufi dan menerima 3 ilmu:
1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara
2. Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang lain dengan kasih sayang dan kelembutan hati
3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf."
(Riwayat dari kitab Kasyf al Khafa).
- Imam Ahmad bin Hanbal (164 H) berkata:
"Anakku, kamu harus duduk bersama orang² sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka selalu mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka adalah orang² zuhud yg memiliki kekuatan spiritual yg tertinggi. Aku tidak melihat orang yg lebih baik dari mereka".
(Tanwir Qulub).
- Syaikh Fakhruddin ar Razi (544 H) ahli tafsir & hadits) : "Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan hati mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri agar selalu sibuk dengan mengingat Allah pada seluruh tindakan dan perilaku.“
(I'tiqad al Furaq al Musliman).
- imam al Ghozali (505 H): "Ketahuilah tasawuf memiliki dua pilar, yaitu istiqamah bersama Allah dan harmonis dengan makhluk-Nya. Dengan demikian siapa saja yg istiqamah bersama Allah SWT, berakhlak baik terhadap orang lain, dan bergaul dengan mereka dengan santun, maka ia adalah seorang sufi,”
(Ihya Ulumuddin).
- Ibn Khaldun filosof Islam (733 H) : "Jalan sufi adalah jalan salaf, yakni jalannya para ulama terdahulu di antara para sahabat Rasulullah, tabi’in dan tabi'it-tabi'in.
(Muqadimah Ibn Khaldun).
- Imam as Suyuti (849 H) ahli tafsir Qur'an dan hadits : "Tasawuf adalah ilmu yg paling baik dan terpuji. Ilmu ini menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid'ah menyerupakan Yg Maha Azali dgn Mahluq . Bid'ah yg beliau maksud (Jamhiyah, Jabarriyah, Syiah, Muktazilah, Khawarij, Mujasimah).
(Ta'yad al haqiqat al 'Aliyyah)
"Dan ibnu Taimiyyah 661 H yg awalnya penentang tasawuf, akhirnya mengakui tasawuf adalah jalan kebenaran, sehingga menjadi pengikut thariqah Qadiriyyah".
"Kalian harus mengetahui bahwa para syaikh yg terbimbing harus diambil dan diikuti sebagai petunjuk dan teladan dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Thariqah para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia kepada Hadhirat Allah dan ketaatan kepada Nabi."
(Majmu Fatawa Ibn Taimiyyah,dalam bab. Tasawuf).
Ulama kontemporer Dr. Yusuf Qardhawi, guru besar Universitas al Azhar, Di dalam kumpulan fatwanya: "Arti tasawuf dalam agama ialah memperdalam ke bagian ruhaniah, ubudiyyah, dan perhatiannya tercurah seputar permasalahan itu".
Demikian penilaian Ulama² Raksasa ilmu dalam memandang "tasawwuf". Tentu bukan sebading degan para ulama diatas, ketika para orator dan dai² wahabi lokal menuduh tasawwuf cabang ilmu yg sesat. Sungguh mereka hanya kebagian sisa² ilmu ulama tapi berlagak seperti pengarung samudra ilmu yg luas.
"Masyhur kita tahu tidak satupun tokoh² wahabi yg sampe pada derajat waliyullah sekalipun itu Abdul Wahab bapak moyang nya para dedengkot wahabi".
Para sufi sangat berhati-hati dalam meniti jalan di atas garis al Qur,an dan as Sunnah.
Bersih dari berbagai pikiran dan praktek yg menyimpang, baik dalam ibadat atau pikirannya. Banyak orang yg masuk Islam karena pengaruh mereka. Banyak orang yg durhaka dan zhalim bertobat karena jasa mereka. Dan banyak mewariskan pada dunia Islam, berupa kekayaan besar dari peradaban dan ilmu, terutama di bidang marifat, akhlak dan pengalaman ruhani, semua itu tidak dapat diingkari".
Dalam sahih Muslim terekam apa yg Rasulullah sabdakan :
رب أشعث، مدْفوع بالأبواب لو أقسم على الله لأبره
"Banyak orang yg rambutnya semrawut, (compang- camping), ditolak masuk ke pintu² masyarakat (karena dianggap remeh), namun orang itu jika bersumpah atas nama Allah, pasti Allah mengabulkan permintaannya.”
(Hasyiyah / catatan pingir, Musa Muhammad).
ولله اعلم