Isa Anak Allah?
Bagaimana memahami Isa As. anak Allah yang disebutkan dalam Injil?
Alhamdulillah, di Azhar kami pernah belajar materi perbandingan agama. Terkait apa yang dikhabarkan oleh Kitab Perjanjian Lama dan Baru atau riwayat2 israiliat, kami diajari kaidah bahwa semua yang sesuai dengan Al-Qur'an diterima, semua yang bertentangan ditolak dan semua yang tidak ada dalam Al-Qur'an kami tawaqquf, tidak membenarkan dan tidak pula mendustakannya.
Persoalan “Al-Masih sebagai Anak Tuhan” merupakan keyakinan yang mengakar dalam hati umat Kristiani. Keyakinan mereka terhadapnya adalah salah satu pilar agama Kristen. Namun apakah Isa As. benar-benar anak Tuhan? Apakah dia saja yang memiliki status sebagai anak sedangkan yang lainnya tidak? Apa arti "anak" di sini kalau memang ayat itu datang dari Allah Swt.?
Orang-orang Kristen mengutip lebih dari satu ayat dalam Injil sebagai bukti bahwa Al-Masih adalah anak Allah Swt. Namun faktanya, jika kita menelusuri Injil, kita menemukan bahwa kata “anak” digunakan secara umum kepada orang lain selain putra Maryam:
Al-Masih pernah berkata bahwa semua yang membawa kebaikan dan kedamaian adalah anak-anak Allah: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” (Matius, 5/09)
Dan perkataannya, “Supaya kamu menjadi anak-anak Bapakmu yang di surga,” (Matius, 5/45)
Dan perkataannya, “Saudara-saudaraku yang terkasih, kita adalah anak-anak Allah,” (Yohanes, 3/2)
Dan masih banyak ayat-ayat lain yang secara terang menyebutkan bahwa kata "anak" dalam Injil bukanlah makna secara hakikat.
Apalagi ada keterangan bahwa Al-Masih putra Daud, putra Ibrahim (Matius 1:1). Kemudian "dan Yakub, ayah Yusuf, suami Maryam, yang melahirkan Isa, yang disebut Al-Masih." (Matius 1:16) Dari sini jelas bahwa Al-Masih adalah keturunan Bani Israil, bukan anak biologis Allah Swt (Na'udzubillah)
Oleh karena itu, status Isa As. sebagai anak Tuhan bersifat majaz (kiasan dan metaforis), sebagaimana firman Allah Swt: “Katakanlah, Jika kamu mencintai Allah ikutilah aku, Allah akan mencintaimu.'” (Al Imran, 31). Maka cinta Allah kepada hamba di sini adalah majaz. Ia bukan cinta yang diikuti oleh gejolak perasaan seperti yang dirasakan makhluk. Atau kita ibaratkan seperti ungkapan kepala sekolah dan guru2 ketika berkhutbah "Anak-anakku yang tersayang." Apakah murid2 itu anak biologis kepala sekolah?
Riwayat lain yang menguatkan ini adalah ketika Yasu' berkata kepada pengikutnya: "Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah kudengar dari Bapakku." (Yohanes 15:15).
Ungkapan "Bapak" adalah ungkapan umum yang menunjukkan hubungan Allah dengan orang2 yang beriman. Bukan bapak secara biologis. "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapakmu yang di sorga.” (Matius 5:16)
Bahkan gaya bahasa seperti ini sudah ada sejak sebelum Al-Masih lahir. Kita lihat dalam Taurat: "Beginilah firman Tuhan: Israil ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung, sebab itu Aku berkata kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku." (Keluaran 2:22-23) Tapi tidak ada kita dengar orang Yahudi yang mengatakan bahwa Ya'kub anak Allah.
Jadi UAH ketika membenarkan ayat Injil yang dibacakan kepadanya, dia membenarkannya sesuai dengan pemahaman Islam, menyesuaikan dengan ayat yang ada dalam Al-Qur'an. Bahwa Isa As. adalah seorang nabi yang membawa keberkahan dan risalah agama.
Kalau benar kata " anak" itu berbentuk umum, lalu kenapa dalam banyak ayat Al-Qur'an dengan tegas dan keras mengingkari bahwa Allah mempunyai "anak"? Jawabannya karena Al-Qur'an adalah Kitab Penutup dan Penyempurna. Al-Qur'an menjelaskan kesalahan umat Kristiani dalam memahami ayat2 Injil akibat penafsiran yang dipaksakan oleh pihak gereja. Sudah banyak sekali contohnya orang Kristen yang masuk Islam karena mengkaji dan membandingkan ayat2 Injil dengan Al-Qur'an.
Kalau Anda katakan: " Isa anak Allah adalah penafsiran paksa pihak gereja, itu kan klaim Anda!" Maka saya katakan: Itu bukan klaim saya. Al-Qur'an sendiri yang mengatakan Kitab2 terdahulu sudah dirubah, ditambah dan dikurangi. Kalau penafsiran terkait astronomi, ilmu bumi, biologi dan fisika saja mereka paksakan, sehingga para ilmuwan yang menemukan fakta ilmiah yang berbeda dengan doktrin gereja dibunuh dan dibakar, apalagi penafsiran terkait teologi dan ilahiyat? Pasti tidak ada yang berani berkomentar!
Penafsiran dan doktrin gereja inilah yang diawetkan sampai sekarang terkait persoalan teologi agama Kristen. Bahwa Isa adalah anak Allah. Sedangkan persoalan lain di luar teologi agama, doktrin gereja benar2 sudah dimusnahkan ketika revolusi besar2an di Eropa. Ayat Injil "Kembalikan kepada kaisar apa yang menjadi miliknya, dan kembalikan kepada Tuhan apa yang menjadi milik-Nya" (Mark 12:17) dimanfaatkan untuk menumbangkan rezim gereja yang terlalu mendominasi seluruh lini kehidupan. Padahal ayat itu hanya sekedar jawaban bolehkah Yahudi membayar pajak kepada Kaisar Romawi. Setelah sekularisasi tinggallah kekuasaan gereja hanya sampai dinding2nya. Keluar dari itu gereja tidak boleh berbicara apa2! Sampai segitunya trauma masyarakat Eropa dengan gereja!
Maka doktrin "ketika berhadapan dengan wahyu bunuhlah akalmu" adalah doktrin gereja. Masalah iman berapa pun anehnya imani saja, jangan difikirkan, dengan begitu baru bisa mencapai iman yang sempurna. Isa anak Allah imani saja, trinitas imani saja.
Tapi tidak begitu di dalam Islam. Setiap akidah selalu dilandasi dengan semangat yang diajarkan oleh Al-Qur'an "Apakah kamu tidak berfikir?" atau "Apakah kamu tidak berakal?" Karena dalam Islam tidak ada satu pun keyakinan yang bertentangan dengan akal! Maka orang atau kelompok dalam Islam yang mengajak untuk membunuh akal ketika berhadapan dengan wahyu, dia telah mengikuti sunnah umat Kristen!
Begitu juga dengan sekularisme. Orang yang mengajak untuk memisahkan agama dari dunia: politik, ekonomi, sosial, pendidikan dll, sejatinya sedang mengikuti sunnah umat Kristen yang trauma dengan gereja. Hingga nanti kalau mereka masuk ke lubang biawak pun orang2 ini juga akan ikut masuk.
Sebab agama dalam Islam bersifat universal. Mengatur segala lini kehidupan dengan menetapkan undang2nya. Bagaimana menerapkannya di berbagai kondisi diserahkan kepada akal manusia. Begitulah Islam menghargai akal, baik dalam masalah teologi maupun masalah duniawi.