Allah Ada Tanpa Tempat
🔰 ALLAH ADA TANPA TEMPAT.
Oleh: M. Rofiannur Al Hamaamuh, SN, DH.
Sesi: Reality Ahli Sunnah Assyairah.
Kami akan menjelaskan secara singkat tentang Aqidah Ahli Sunnah Wal Jamaah Assyairah wa Maturidiyyah yang selaras dengan bantahan yang sudah kami lakukan selama ini. Supaya, tidak menimbulkan kesalahpahaman dan kerancuan atas madzhab kami ini.
Sebab, kelompok sebelah memandang kami sebagai jahmiyah dan Mu'attilah. Padahal jika dikaji dan dibaca secara utuh. Madzhab ahli Sunnah Wal Jamaah Assyairah wa Maturidiyyah tidak bertentangan dengan madzhab salaf dan keduanya bisa di padukan dan diharmonikan sesuai dengan topik kelompok yang sedang dibantah dan diluruskan.
1. DALIL TIANG AQIDAH AHLI SUNNAH WAL JAMA'AH.
Dalil tiang aqidah ahli sunnah wal jama'ah Assyairah wa Maturidiyyah, Ahli Hadist, Salafiyah dan Atsariyyah adalah Quran surah Assyura ayat 11. Sebab didalam ayat tersebut terdapat dua metode ahli sunnah wal jama'ah yaitu; Isbat dan Tanzih guna untuk melawan segala serangan kelompok sesat dan menyesatkan seperti; Mujassimah, Musyabbihah, Hasywiyyah, Karromiyah, Wahhabiyyah, Mu'attilah, Jahmiyah, Hisyamiyyah, Syi'ah dan lain lainnya.
Allah Subhanahu Wa Taala berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya: Tidak ada sesuatu yang menyerupai nya dan dia dzat yang maha mendengar dan maha melihat.
[Assyura ayat 11]
Para ulama menjelaskan tentang ayat tersebut;
Al Imam Najmuddin Abirrabi' Sulaiman Al Hanbali (W 716 H) mengatakan:
هذه الآية أولها تنزيه وآخرها إثبات، فمن جمع بينهما بأن أثبت الله ما أثبت، ونزهه عما لا يليق به من مشابهة المخلوقات وأثبت غير ممثل، ونزه غير معطل ؛ فقد أصاب.
Artinya: Awalan ayat ini (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ) merupakan Tanzih dan ayat lainnya (وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ) adalah isbat. Jadi, barang siapa yang mengumpulkan antara keduanya dengan meng-itsbatkan apa apa yang telah dia tetapkan dan menyucikan dari apa apa yang tidak kayak padanya dari menyerupakan makhluk makhluk dan menetapkan pada selain memisalkan dan menyucikan pada selain penolakan sifat. Maka, sungguh dia paling benar.
[Al Isyarat Al Ilahiyyah: 563]
Al Imam Muhammad bin Yusuf Assanusi (W 895 H) mengatakan:
فأول هذه الآية تنزيه وآخرها إثبات، فصدرها يرد على المجسمة وأضرابهم.
Artinya: Awalan ayat ini adalah tanzih dan lainnya adalah isbat. Kandungannya merupakan bantahan atas mujassimah dan sejenis mereka.
[Hasyiah Ummul Barahin: 109]
Al Imam Syihabudin Annafrawi Al Maliki (W 1225 H) mengatakan:
فأول هذه الآية تنزيه فيه رد على المجسمة وآخرها اثبات ففيه رد على المعطلة النافين.
Artinya: Awalan ayat ini merupakan Tanzih didalamnya mengandung bantahan atas mujassimah dan ayat yang lainnya merupakan isbat didalamnya mengandung bantahan atas mu'attilah yang menafikan.
[Al Fawakih Addawani: 1/47]
Assyairah wa Maturidiyyah menggunakan dua metode diatas hingga hari ini. Metode isbat akan dominan digunakan ketika melawan para kelompok yang menolak sifat sifat Allah Subhanahu Wa Taala dan metode Tanzih akan lebih dominan digunakan ketika melawan kelompok Mujassimah, Musyabbihah, Wahhabiyyah dan sebagainya.
Dan tidak pernah ditemukan bahwa tiang aqidah ulama salaf hingga saat ini berpatokan dengan dalil Qur'an surah Taha ayat 5, hadist jariyah atau hadits Nuzul. Dikarenakan, isbat dan tanzih merupakan dua metode ahli sunnah wal jama'ah dan masing masing keduanya akan digunakan dan disesuaikan dengan lawan kelompok sesat yang sedang dihadapi. Ahli sunnah wal jama'ah Tanzih tidak sampai ta'til (menolak sifat) dan isbat pun sama tidak sampai tajsim, tasybih dan tamtsil.
2. MENYATAKAN ALLAH TIDAK BERARAH BUKAN BERARTI ASSYAIRAH MENOLAK SIFAT KETINGGIAN ALLAH TAALAA.
Allah maha tinggi bukanlah berarti ketinggian secara hissi (indrawi) seperti keyakinan kelompok sesat yang menyatakan; Allah diatas arasy - Allah diatas langit dengan maksud tempat, semakin tinggi tempatnya maka semakin dekat dengan Allah. Begitulah golongan sesat memahami sifat ketinggian Allah. Mereka mengatakan begitu hanya ingin memberikan alamat atau lokasi keberadaan Allah secara isi nalar mereka sendiri.
Padahal Ahli Sunnah Wal Jamaah memahami sifat kemaha-tinggian Allah Subhanahu Wa Taala secara maknawi bukan hissi. Sebagaimana yang sudah kami jelaskan di points nomor 1.
Allah Subhanahu Wa Taala berfirman:
وَاَنَّ اللّٰهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ
Artinya: Dan sesungguhnya dialah Allah maha tinggi dan maha besar.
[Surah Luqman ayat 30]
Al Imam Al Qurtubi (W 671 H) mengatakan:
و "العلي" يراد به علو القدر والمنزلة لا علو المكان، لأن الله منزه عن التحيز. وحكى الطبري عن قوم أنهم قالوا "هو العلي عن خلقه بارتفاع مكانه عن أماكن خلقه"، قال ابن عطية : وهذا قول جهلة مجسمين، وكان الوجه ألا يحكى.
Artinya: Dan sifat Al-'Aliy (tinggi ) yang dimaksud dengan itu adalah tingginya derajat dan juga martabat, bukan ketinggian tempat. Dikarenakan sesungguhnya Allah Maha Suci daripada tempat dan telah dikisahkan oleh Ath-Thabari tentang suatu kaum dimana mereka berkata bahwa "Allah Maha Tinggi dari makhluk-Nya dengan ketinggian tempat-Nya yang berada di atas tempat-tempat makhluk-Nya", Ibnu 'Athiyyah menyatakan bahwa ini adalah perkataan bodoh dari orang-orang Mujassimah yang mana hal itu tak semestinya dikisahkan.
[Tafsir Al-Qurthubi: 3/278]
Oleh karena itu wajib kita fahami dan yakini bahwasanya ketika salaf mengatakan: Allah diatas langit, diatas arasy dan diatas segala sesuatu. Disamping mereka menetapkan sifat Allah ketika melawan kelompok Mu'attilah, tujuan mereka adalah meninggikan derajatnya dan martabatnya Allah taala sebagai sang maha pencipta.
Allah Subhanahu Wa Taala berfirman:
رَفِيۡعُ الدَّرَجٰتِ ذُو الۡعَرۡشِ
Artinya: (Dialah) Yang Maha Tinggi Derajat-Nya, Yang Mempunyai 'Arsy.
[Al-Mu'min ayat 15]
Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalani (W 856 H) mengatakan:
ولا يلزم من كون جهتي العلو والسفل محال على الله أن لا يوصف بالعلو، لأن وصفه بالعلو من جهة المعنى، والمستحيل كون ذلك من جهة الحس.
Artinya: Dan tidaklah mesti dari adanya arah atas dan bawah bukan berarti memustahilkan bahwa allah juga tidak bisa disifati dengan Maha Tinggi. Dikarenakan sesungguhnya sifat ketinggian-Nya adalah dari segi maknawi, dan yang mustahil jika hal itu dipahami dari segi indrawi.
[Fathul Bari: 6/136]
3. MENYATAKAN ALLAH ADA TANPA TEMPAT BUKAN BERARTI MENOLAK ATAU MENAFIKAN SIFAT ISTIWA ALLAH.
Ketika sekte sesat pemuja tempat memahami Istawa Allah diatas arasy atau Allah diatas langit adalah tempatnya, bersentuhan dengannya, duduk disana, bersatu dengan Arasy, berpindah dan lain sebagainya. Maka, yang tadinya Ahli Sunnah Wal Jamaah menggunakan metode isbat;
Al Imam Abil Hasan Al 'Asyari (W 324 H) berkata:
إِنَّ اللهَ على عرشه كما قال: الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوى
Artinya: Allah diatas Arsy nya sebagai yang telah difirmankanya: Arrahman Alal Arssyistawa.
[Al Ibaanah: 183]
Mereka harus menggunakan metode Tanzih tanpa mengurangi peng-isbatan sifat istawa Allah diatas arasy;
Al Imam Ibnu Asakir (W 571 H) mengatakan:
وقالت الحشوية والمجسمة انه سبحانه حال في العرش وان العرش مكان له وهو جالس عليه فسلك طريقة بينهما فقال كان ولا مكان مخلق العرش والكرسي ولم يحتج الى مكان وهو بعد خلق المكان كما كان قبل خلقه ،
Artinya: Golongan Hasywiyyah dan Mujassimah berkata: Bahwasanya Allah di Arasy dan arasy merupakan tempat yang dimilikinya dan dia duduk diatasnya. Maka, imam Abil Hasan memilih jalan tengah antara keduanya lalu ia berkata: Allah sudah ada tanpa tempat, ia pencipta Arasy dan kursi namun ia tidak butuh pada tempat dan ia setelah menciptakan tempat ia sama seperti sebelum menciptakan nya.
[Tabyiinu Kadzib Al Muftari: 150]
Sepak terjang ahli sunnah wal jama'ah Assyairah wa Maturidiyyah sampai hari ini yang menyatakan: "Allah ada tanpa tempat" hakikat nya ditujukan kepada mereka yang memahami sifat istawa Allah diatas arasy sebagai tempat, duduk, berpindah, bersatu dan lain sebagainya.
Al Imam Al Ghazali Assyafii (W 505 H) mengatakan:
وأنه مستو على العرش على الوجه الذي قاله ، وبالمعنى الذي أراده استواء منزهاً عن المماسة والاستقرار والتمكن والحلول والانتقال.
Artinya: Bahwasanya Allah beristawa diatas arasy atas segi yang telah ia katakan dengan arti yang Allah maksudkan adalah istawa yang suci dari bersentuhan, menetap, bertempat, bersatu dan berpindah.
[Ithafus Saadatil Muttaqin Syarah Ihya' Ulumuddin: 2/36]
Al Imam Al Fakhrurazi (W 604 H) berkata:
ثم الذي يدل على انه لا يجوز أن يكون على العرش بمعنى كون العرش مكانا له وجوه من القرآن ( أحدها ) قوله تعالى وان الله هو الغنى وهذا يقتضى أن يكون غنيا على الاطلاق وكل ما هو في مكان فهو في بقائه محتاج الى مكان.
Artinya: Kemudian yang menjadi dalil atas sesungguhnya Allah tidak boleh keberadaan nya diatas Arsy dengan makna keberadaan Arasy merupakan tempat baginya sudah ada dari Al Qur'an. Salah satunya: Firmannya Allah taala: Sesungguhnya Allah maha kaya. Dan ini menyimpulkan Allah adalah dzat yang maha kaya secara mutlak. Dan segala sesuatu yang dia didalam tempat itu sendiri pasti keberlangsungan nya membutuhkan pada tempat.
[Mafatihul Ghaib: 6/556]
Al Imam Al Fakhrurazi (W 604 H) berkata:
ولو تدبر الإنسان القرآن لوجده مملوءاً من عدم جواز كونه في مكان ، كيف وهذا الذي يتمسك به هذا القائل يدل على أنه ليس على العرش بمعنى كونه في المكان
Artinya: Seandainya manusia menghayati Al Qur'an tentu nya ia akan menemukan kebenaran tentang ketidakbolehan keberadaan nya Allah pada tempat. Lantas dan inilah yang dia jadikan pegangan oleh yang berkata ini yang menunjukkan bahwasanya Allah tidak diatas Arasy dengan makna keberadaan nya bertempat.
[Mafatihul Ghaib: 6/556]
Ustadz Abu Manshur Al Baghdadi (W 429 H) mengatakan:
وَأَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّهُ لَا يَحْوِيْهِ مَكَانٌ وَلَا يَجْرِي عَلَيْهِ زَمَانٌ
Artinya: Golongan Ahlussunnah wal Jama’ah ber-'ijma' menyatakan bahwa sesungguhnya Allah tidak diliputi tempat dan tidak dilalui zaman.
[Al Farqu Baina Al Firaq: 287]
Jadi, kalau kami ditanya dimana Allah? Maka perlu diperinci dan diperiksa dahulu. Jika penanya menanyakan tentang derajat Allah, kedudukan Allah dan martabat Allah. Maka, kami tegas mengatakan; Allah Diatas arasy. Dan jika yang ditanyakan adalah mengenai tempat. Maka, kami tegas menyatakan; Allah tidak bertempat diatas Arsy dan Allah ada tanpa tempat.
4. KAMI MENAFIKAN SIFAT FISIKAL MAKHLUK PADA SIFAT ALLAH.
Ahli sunnah wal jama'ah selalu mengejar dan membantah kelompok yang memahami sifat sifat Allah secara secara hissi (indrawi). Seperti ketika mereka memahami sifat: Yad (tangan), Wajhah (wajah), Saq (betis), Ain (mata) dan sebagainya yang mana mereka memahaminya secara fisikal dan alih alih berdalih; Sifat Allah tidak sama seperti sifatnya makhluk. Nauzubillah.
Al Imam Ibnul Jauzi Al Hanbali (W 597 H) mengatakan:
وليس الخلاف في اليد، إنما الخلاف في الجارحة. وليس الخلاف في الوجه، وإنما الخلاف في الصُّورَةِ الجسمية. وليس الخلاف في العين، وإنما الخلاف في الحدقة. فالمعتزلة يذهبون إلى التعطيل والتمويه، والمشبهة إلى التمثيل، وأهل السُّنَّة إلى التوحيد والتنزيه. فالمعتزلة جحدوا، والمشبهة التحدوا، وأهل السُّنَّة وَحَدُوا
Artinya: Tidak ada perbedaan mengenai yad (tangan) perbedaannya hanya pada anggota tubuh, tidak ada perbedaan mengenai wajah perbedaannya hanya pada bentuk jisimiyyah, tidak ada perbedaan mengenai ain (mata) perbedaannya hanya pada fisikal mata. Karena, kelompok Mu'tazilah mereka berpendapat sampai pada penolakan sifat dan berpura pura, kelompok Musyabbihah berpendapat sampai pada penyerupaan sedangkan ahli sunnah sampai pada mentauhidkan dan menyucikan. Jadi, Mu'tazilah merupakan orang orang yang mengingkari, Musyabbihah orang orang yang membatasi sedangkan ahli sunnah mentauhidkan.
[Majalis Ibnul Jauzi: 361]
Al Imam Attsa'alabi (W 875 H) mengatakan:
وقوله : أَيْدِينَا [يس: ۷۱] عبارة عن القدرة والله تعالى منزه عن الجارحة
Artinya: Firman-nya: Dengan tangan kami [Yasin ayat 71] merupakan istilah dari qudrah (kuasa) sedangkan Allah taala suci dari anggota tubuh.
[Al Jawahirul Hisan: 3/38]
Al Imam Ibnu Athiyyah Al Andalusi (W 546 H) mengatakan:
والله تعالى منزه عن الجارحة والتشبيه كله
Artinya: Allah taala suci dari anggota tubuh dan penyerupaan secara keseluruhan.
[Al Muharrarul Wajiz: 4/463]
Al Imam Al Qurtubi (W 671 H) mengatakan:
والله جل وعز منزّه عن الجارحة
Artinya: Allah Jalla Wa Alaa suci dari jarahah (anggota tubuh)
[Al Jami' Li Ahkamil Qur'an: 4/160]
Allah Subhanahu Wa Taala berfirman:
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكُ إِلَّا وَجْهَهُ
Artinya: Segala sesuatu akan rusak terkecuali wajahnya.
[Al Qasas ayat 77]
Al Imam Ibnu Hajar Al Asqalani (W 856 H) mengatakan:
قال ابن بطال في هذه الآية والحديث دلالة على أن الله وجها وهو من صفة ذاته، وليس بجارحة ولا كالوجوه التي نشاهدها من المخلوقين..وقال البيهقي : تكرر ذكر الوجه في القرآن والسنة الصحيحة..وفي بعضها بمعنى الرضا كقوله : يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ﴾ [الكهف: ۲۸]، ﴿إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى ) [الليل : ٢٠] وليس المراد الجارحة جزماً والله أعلم.
Artinya: Imam Ibnu Batthal (W 449 H) mengatakan: Dalam ayat ayat dan hadist ini adalah dalil atas sesungguhnya Allah memiliki wajah dan itu merupakan sifatnya dan wajah bukanlah anggota badan seperti wajah wajah yang kita saksikan pada makhluk. Al Imam Al Baihaqi (W 458 H) mengatakan: Penyebutan wajah sudah berulang ulang kalo dalam Al Qur'an dan hadist sahih dan sebagian nya bermakna ridha seperti firman-nya: Mereka mengharapkan wajahnya (surah Al Kahfi ayat 28) dan kecuali (dia memberikannya semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi (Surah Al Lail ayat 20). Dan itu maksudnya bukanlah anggota badan secara pasti. Allahu A'lam.
[Fathul bari: 13/476]
Jadi, yang kami nafikan dan bantah selama ini adalah bukan sifat Yad, sifat wajah, sifat ain, sifat Saq dan lain sebagainya. Namun, yang kami nafikan dan bantah adalah orang orang atau kelompok yang memahami sifat sifat tadi secara hissi (fisikal) dan anggota tubuh. Kami, ahli sunnah wal jama'ah memahaminya secara maknawi bukan hissi.
5. FITRAH MANUSIA.
Fitrah manusia dalam beragam dan beribadah pada Tuhannya adalah mengagungkan Allah, muliakan Allah, meninggikan kedudukan Allah Subhanahu Wa Taala dan sebagainya baik dalam ucapan, isyarat atau tindakan yang dilakukan. Misalnya menggunakan jari telunjuk secara refleks menunjukkan ke atas langit. Apakah ini adalah fitrah manusia yang menunjukkan Allah bertempat, maksudnya bertempat diatas langit? Jelas tidak.
Fitrah manusia akan mengembalikan dirinya untuk mengagungkan, memuliakan dan meninggikan kedudukan sang penciptanya yaitu Allah Subhanahu Wa Taala.
Allah Subhanahu Wa Taala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Artinya: Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.
[Addzariyat ayat 56]
Rasulullah bersabda:
فَأمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ – عَزَّ وَجَلَّ – ، وَأمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ ، فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ
Artinya: Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Allah. Sedangkan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, maka doa tersebut pasti dikabulkan untuk kalian.
[HR. Muslim : 479]
Al Imam Annawawi Assyafii (W 676 H) mengatakan:
وأما الفطرة فيكسر الفاء وأصلها الخلقة قال الله تعالى : ( فطرة الله التي فطر الناس عليها » واختلفوا في تفسيرها في هذا الحديث : فقال المصنف في تعليقه فى الخلاف ، والماوردي في انجاوى ، وغيرهما من أصحابنا : هي الدين.
Artinya: Adapun fitrah berharakat kasrah pada huruf fa'nya dan makna asalnya adalah khilqah (penciptaan). Allah SWT berfirman: Tetaplah atas fitrah (penciptaan) Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Para ulama berselisih pendapat mengenai tafsir yang tepat terhadap kata fitrah dalam hadits ini. Menurut Syaikh Abu Ishaq As-Syirazi dalam kitab Al-Khilaf, Al-Mawardi dalam kitab Al-Hawi dan para ulama selain keduanya dari kalangan Madzhab Syafi’i maka fitrah dalam hadits tersebut adalah agama.
[Majmu' Syarah Al Muhaddzab: 1/338]
Al Imam Ibnul Jauzi Al Hanbali (W 597 H) mengatakan:
وقد ثبت عند العلماء أن الله تعالى لا تحويه السماء ولا الأرض ولا تضمه الأقطار، وإنما عرف بإشارتها تعظيم الخالق عندها
Telah tetap bagi para ulama bahwa ALLAH Ta'ala tidak diliputi langit dan bumi beserta segala penjuru, namun yang diketahui dengan Isyaratnya (di langit) hanyalah untuk mengagungkan sang khaliq disisinya.
[Akhbar As-Sifat: 68]
Al Imam Al Baihaqi (W 458 H) mengatakan:
ثنا محمد بن الجهم، ثنا الفراء، في قوله عز وجل : وهو القاهر فوق عباده [الأنعام : ١٨]، قال : كل شيء قهر شيئا فهو مستعل عليه.
Artinya & Telah bercerita pada kami Muhammad Bin Al-Jahm, telah bercerita pada kami Al-Farra', terkait Firman Allah 'Azza Wa Jalla : "Dan Dialah yang berkuasa di atas para hamba-Nya" [QS. Al-An'am : 18], dia berkata : Segala sesuatu yang menguasai sesuatu, maka dia di ibaratkan ada diatasnya.
[Al-Asma' Was Shifat: 2/323]
Al Imam Tajuddin Assubki (W 771 H) mengatakan:
الفوقية ترد لمعنيين : أحدهما، نسبة جسم إلى جسم، بأن يكون أحدهما أعلى والآخر أسفل، بمعنى أن أسفل الأعلى من جانب رأس الأسفل، وهذا لا يقول به من لا يجسم.. وثانيهما، بمعنى المرتبة، كما يقال : الخليفة فوق السلطان، والسلطان فوق الأمير، وكما يقال : جلس فلان فوق فلان، والعلم فوق العمل.
Artinya: Fauqiyyah (posisi diatas) dikembalikan pada dua pengertian: Pertama, antara suatu jisim dengan jisim lain, dengan posisi yang satu diatas dan yang lain dibawah, artinya sisi bawah dari yang lebih tinggi ada dibagian atas dari yang dibawah, dan hal ini tak bisa diterapkan kepada allah yang bukan termasuk jism. Yang kedua, dengan makna kedudukan, sebagaimana ungkapan : Seorang Khalifah diatas Sulthan, dan seorang Sulthan diatas Amir, dan juga seperti ungkapan : Si Fulan duduk diatas Fulan, dan Ilmu diatas Amal.
[Thabaqat Asy-Syafi'iyah Al-Kubra: 5/27]
Jadi, persoalan fitrah manusia merupakan soal kembalinya manusia pada posisi eksistensi kemanusiaan nya yaitu yang diciptakan akan menyembah, mengagungkan, memuliakan dan meninggikan kedudukan sang penciptanya yaitu Allah Subhanahu Wa Taala dengan berbagi macam cara. Baik menunjuk ke atas langit, menghadap langit, berkata: serahkan pada yang diatas dan lain lainnya. Semuanya adalah bentuk pengagungan padanya bukan bentuk pengakuan serta menyematkan tempat padanya. Allah Subhanahu Wa Taala suci dari tempat dan arah.
Sekian asas asas dasar yang bisa kami tuliskan untuk saat ini dan kurang lebihnya akan kami tulis disesi yang akan datang sekian dan terima kasih.
Selesai
© ID Cyber aswaja.
NB: Dilarang untuk merubah sumber yang telah diterbitkan tanpa adanya izin resmi dari tim ID Cyber aswaja dan penulis tanpa terkecuali.