Air Mutanajjis : Pengertian Dua Qullah
𝐀𝐢𝐫 𝐌𝐮𝐭𝐚𝐧𝐚𝐣𝐢𝐬: 𝐏𝐞𝐧𝐠𝐞𝐫𝐭𝐢𝐚𝐧 𝐃𝐮𝐚 𝐊𝐮𝐥𝐚𝐡
Jenis air yang ketiga adalah air mutanajis, yaitu air yang terkena benda najis. Dalam konteks terkena najis, kondisi air dibagi dua: pertama, jika volumenya kurang dari dua kulah, maka otomatis menjadi mutanajis. Kedua, jika air tersebut mencapai atau lebih dari dua kulah maka menjadi mutanajis hanya jika terjadi perubahan sifat. Al-Qāḍī Abu Syujā’ (w. 593 H) mengatakan:
وَهُوَ الَذِيْ حَلَّتْ فِيْهِ نَجَاسَةٌ وَهُوَ دُوْنَ القُلَّتَيْنِ أَوْ كَانَ قُلَّتَيْنِ فَتَغَيَّرَ
“𝐴𝑖𝑟 𝑚𝑢𝑡𝑎𝑛𝑎𝑗𝑖𝑠 𝑦𝑎𝑖𝑡𝑢 𝑎𝑖𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑘𝑒𝑛𝑎 𝑛𝑎𝑗𝑖𝑠 𝑠𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 (𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒𝑛𝑦𝑎) 𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑟𝑖 𝑑𝑢𝑎 𝑘𝑢𝑙𝑎ℎ, 𝑎𝑡𝑎𝑢 (𝑚𝑒𝑛𝑐𝑎𝑝𝑎𝑖) 𝑑𝑢𝑎 𝑘𝑢𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑏𝑒𝑟𝑢𝑏𝑎ℎ (𝑠𝑖𝑓𝑎𝑡𝑛𝑦𝑎).”
Air mutanajis, karena telah terkontaminasi najis, maka ia tidak dapat digunakan untuk bersuci.
𝐃𝐮𝐚 𝐊𝐮𝐥𝐚𝐡
Dua kulah ini menjadi penting dibahas karena dia merupakan ukuran atau batas yang ditetapkan syariat untuk membedakan antara air sedikit dan air banyak. Imam al-Nawawī (w. 676 H) mengatakan:
وَضَبَطَ الشَّرْعُ حَدَّ الْقِلَّةِ بِقُلَّتَيْنِ فَتَعَيَّنَ اعْتِمَادُهُ وَلَا يَجُوزُ لِمَنْ بَلَغَهُ الْحَدِيثُ الْعُدُولُ عَنْهُ
“𝑆𝑦𝑎𝑟𝑖𝑎𝑡 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 (𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑎𝑖𝑟) 𝑠𝑒𝑑𝑖𝑘𝑖𝑡 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑟𝑎𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑑𝑢𝑎 𝑘𝑢𝑙𝑎ℎ, 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑖𝑡𝑢 ℎ𝑎𝑟𝑢𝑠 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑠𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟𝑎𝑛, 𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑏𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑏𝑎𝑔𝑖 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑖𝑛𝑓𝑜𝑟𝑚𝑎𝑠𝑖 ℎ𝑎𝑑𝑖𝑠 𝑖𝑛𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑝𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑟𝑖𝑛𝑦𝑎.”
𝐏𝐞𝐧𝐠𝐞𝐫𝐭𝐢𝐚𝐧 𝐊𝐮𝐥𝐚𝐡
Kulah secara bahasa adalah wadah besar dari tembikar yang digunakan oleh orang Arab zaman dahulu untuk menyimpan air. al-Fayūmi (w. 770 H) dalam kitabnya mengatakan:
وَالْقُلَّةُ إنَاءٌ لِلْعَرَبِ كَالْجَرَّةِ الْكَبِيرَةِ شِبْهُ الْحُبِّ وَالْجَمْعُ قِلَالٌ
“𝐾𝑢𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑤𝑎𝑑𝑎ℎ (𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑎𝑘𝑎𝑖) 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑟𝑎𝑏 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑘𝑒𝑛𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑠𝑎𝑟 𝑚𝑖𝑟𝑖𝑝 𝑔𝑒𝑛𝑡𝑜𝑛𝑔. 𝐵𝑒𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑗𝑎𝑚𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑎𝑑𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑞𝑖𝑙𝑎𝑙”
Dalam mazhab Syāfi’i, kulah digunakan sebagai ukuran untuk menentukan banyak atau sedikitnya air: air yang kurang dari dua kulah disebut air sedikit, sementara air yang mencapai dua kulah disebut air banyak.