Air Musta'mal
๐๐ข๐ซ ๐๐ฎ๐ฌ๐ญ๐’๐ฆ๐๐ฅ
Air musta’mal masuk dalam kategori air suci tidak menyucikan. Imam al-Nawawฤซ (w. 676 H) mengatakan:
ุฃََّู ุงْูู ُุณْุชَุนْู ََู ุทَุงِูุฑٌ ุนِْูุฏََูุง ุจَِูุง ุฎَِูุงٍู ََْูููุณَ ุจِู ُุทَِّูุฑٍ ุนََูู ุงูู َุฐَْูุจِ
“๐ด๐๐ ๐๐ข๐ ๐ก๐’๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ (๐ ๐ก๐๐ก๐ข๐ ๐๐ฆ๐) ๐ ๐ข๐๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐โ๐๐๐๐. ๐ก๐๐ก๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐๐ฆ๐ข๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐งโ๐๐”
๐๐๐ง๐ ๐๐ซ๐ญ๐ข๐๐ง ๐๐ข๐ซ ๐๐ฎ๐ฌ๐ญ๐’๐ฆ๐๐ฅ
Air musta’mal adalah air yang sudah digunakan untuk bersuci fardhu yang berfungsi untuk menghilangkan penghalang -selanjutnya diistilahkan dengan mฤni’-, baik itu penghalang dari ibadah atau penghalang dari kebolehan menggauli istri.
Mฤni’ ini bisa berupa najis, hadas atau yang semakna dengan hadas. Baik najis atau hadas yang merupakan penghalang sahnya ibadah, semuanya bisa dihilangkan dengan air.
Air bekas penghilang mฤni’ inilah yang kemudian disebut dengan air musta’mal. Syekh Sa’id bin Muhammad Ba’aly Ba’isyn al-Haแธrami (w. 1270 H) mengatakan:
ََُููู ู َุง ุฃُุฒَِْูู ุจِِู ู َุงِูุนٌ ู ِْู ุฎَุจَุซٍ ََْููู ู َุนُْููุงً ุนَُْูู ุฃَْู ู ِْู ุญَุฏَุซٍ
“๐ด๐๐ ๐๐ข๐ ๐ก๐’๐๐๐ ๐๐๐๐๐โ ๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐ก๐๐๐โ ๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐ ๐ข๐๐ก๐ข๐ ๐๐๐๐โ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐̄๐๐’ ๐๐๐๐ข๐๐ ๐๐๐๐๐ -๐๐๐ ๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐’๐๐ข ‘๐๐โ๐ข- ๐๐ก๐๐ข ๐๐๐๐ข๐๐ โ๐๐๐๐ .”
Sebagai contoh, air bekas basuhan ketujuh dalam proses menghilangkan najis mugallaแบah atau air bekas basuhan pertama dalam proses menghilangkan najis mukhaffafah atau najis mutawasiแนญah, air tersebut masuk dalam definisi air musta’mal.
Begitu juga air bekas mandi janabah atau wudhu, baik wudhunya itu wudhu yang normal, yakni wudhu untuk mengangkat hadas atau wudhu lil-istibฤhah, yakni wudhunya orang dฤim al-hadas untuk dapat melaksankan shalat yang sah. Air bekas itu semua masuk definisi air musta’mal.
Bahkan lebih jauh lagi, al-Bฤjuriy (w. 1276 H) mendefinisikan air musta’mal ini dengan begitu lengkap, beliau mengatakan:
َُูู ู َุง ุฃُุฏَِّู ุจِِู ู َุง َูุง ุจُุฏَّ ู ُِْูู ุฃَุซِู َ ุงูุดَّุฎْุตُ ุจِุชَุฑِِْูู ุฃَู ْ َูุง ุนِุจَุงุฏَุฉً َูุงَู ุฃَู ْ َูุง
“๐ด๐๐ ๐๐ข๐ ๐ก๐’๐๐๐ ๐๐๐๐๐โ ๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐ก๐๐๐โ ๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ข๐๐ ๐๐๐๐โ๐ข. ๐ต๐๐๐ ๐ข๐๐ ๐๐๐, ๐๐๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐ก๐๐ฆ๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐ก๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐ก๐๐ข ๐ก๐๐๐๐, ๐๐ก๐๐ข ๐๐๐ก๐๐ฃ๐๐ก๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐๐๐๐ข๐๐ ๐๐๐๐๐โ ๐๐ก๐๐ข ๐๐ข๐๐๐.”
Sebagai contoh, anak kecil yang hendak แนญawaf disyaratkan untuk berwudhu terlebih dahulu, padahal anak kecil ini jika tidak แนญawaf pun tidak berdosa karena tidak wajib. Air bekas wudhu anak ini masuk dalam definisi air musta’mal.
Begitu juga seorang wanita ahli kitab yang telah berhenti haid, dia melakukan aktivitas mandi supaya halal digauli oleh suaminya yang muslim. Maka dalam hal ini, mandi yang dilakukan wanita tadi bukanlah ibadah tetapi air bekas mandi itu masuk definisi air musta’mal.
Adapun air bekas penggunaan bersuci yang sifatnya sunah, maka air ini tidak termasuk air musta’mal, air ini masih sah digunakan sebagai media bersuci. Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H) mengatakan:
َูุงูู ُุณْุชَุนْู َُู ِْูู ุทُْูุฑٍ ู َุณٍُْْููู َูุงูุบَุณَْูุฉِ ุงูุซَّุงَِّููุฉِ َูุงูุซَّุงِูุซَุฉِ َูุงُููุถُْูุกِ ุงูู ُุฌَุฏَّุฏِ َูุงูุบُุณِْู ุงูู َุณُِْْููู ุชَุตِุญُّ ุงูุทََّูุงุฑَุฉُ ุจِِู ِูุฃََُّูู َูู ْ َْููุชَِْูู ุฅَِِْููู ู َุงِูุนٌ
“๐ด๐๐๐๐ข๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ข๐๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐ก๐๐ฆ๐ ๐ ๐ข๐๐โ, ๐ ๐๐๐๐๐ก๐ ๐๐๐ ๐ขโ๐๐ ๐๐๐๐ข๐ ๐๐ก๐๐ข ๐๐๐ก๐๐๐ (๐๐๐๐๐ ๐ค๐ข๐โ๐ข) ๐๐ก๐๐ข ๐๐๐๐๐๐๐๐โ๐๐๐ข๐ ๐ค๐ข๐โ๐ข, ๐๐ก๐๐ข ๐๐๐๐๐ ๐ ๐ข๐๐โ, ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐ข๐๐ ๐๐๐๐๐๐ข๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐ก๐ข ๐ ๐๐๐ข๐ (โ๐ข๐๐ข๐๐๐ฆ๐) ๐ ๐โ, ๐๐๐๐๐๐ ๐๐̄๐๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐โ ๐๐ ๐๐๐ ๐๐ก๐ข.”
Ringkasnya, karena bersuci sunah itu tidak berfungsi sebagai penghilang mฤni’, maka air yang digunakan untuk itu pun tidak tertular mฤni’, sehingga masih sah digunakan untuk bersuci.