Kiblat Doa Bukan Tempat Allah
Kiblat doa bukanlah tempat Allah
Seorang muslim yang steril dari doktrin aneh-aneh akan beribadah seperti keterangan Imam al-Halimi berikut:
قال الإمام أبو عبد الله الحلِيمي (ت 403 هـ) في كتابه «المنهاج في شعب الإيمان» (3/ 312 دار الفكر):
«وعادة المسلمين إذا دعوا أن يرفعوا رؤوسهم وأيديهم إلى السماء من غير أن يعتقدوا أنه شاغل لها أو لشىء منها، أو محصور بها، كما أن عادتهم إذا صلوا أن يستقبلوا الكعبة من غير أن يعتقدوا أنه فيها أو في جهتها، كما يكون الجسم من مكان أو جهة».اهـ
"Tradisi kaum muslimin ketika berdoa adalah mengangkat kepala dan tangan mereka ke arah langit tanpa meyakini bahwa Allah bertempat di langit, di sebagian daerah langit atau dibatasi oleh langit. Seperti halnya tradisi mereka ketika shalat menghadap Ka'bah tanpa meyakini bahwa Allah ada di dalam Ka'bah atau di arahnya, seperti halnya jisim yang selalu ada di tempat atau arah tertentu". (Abu Abdillah al-Halimi, al-Minhaj fi Syu'ab Al-Iman)
Kenapa demikian, karena muslim yang masih netral mempunyai kecerdasan untuk memahami bahwa kiblat adalah simbol semata. Langit adalah simbol keagungan dan ketinggian, juga tempat turunnya malaikat pembawa wahyu. Namun bukan berarti tempat tinggal Allah. Imam Ghazali berkata:
فأما رفع الأيدي عند السؤال إلى جهة السماء فهو لأنها قبلة الدعاء وفيه أيضا إشارة إلى ما هو وصف للمدعو من الجلال والكبرياء تنبيها بقصد جهة العلو على صفة المجد والعلاء فإنه تعالى فوق كل موجود بالقهر والاستيلاء
“Adapun perihal menengadahkan tangan kea rah langit saat berdoa, itu dikarenakan arah langit merupakan hanya qiblat doa. Hal ini juga mengisyaratkan sifat kebesaran dan keagungan Allah sebagai zat yang dimintakan pertolongan, mengarah ke atas mengingatkan kita pada kemuliaan dan ketinggian-Nya. Allah dengan kuasa dan kewenangan-Nya di atas segala yang ada,” ( Al-Ghazali, Ihya ulumiddin).
Bila ada seorang muslim yang meyakini simbol tersebut sebagai tempat tinggal Allah maka ia sudah terdoktrin ajaran sesat sehingga kecerdasannya berkurang. Doktrin sesat semacam ini dapat ditemui di banyak kitabnya Ibnu Taymiyah.
Oleh: Ust Abdul Wahab Ahmad