Azan di Luar Shalat
Azan Saat Pemberangkatan Haji
Masalah ini masuk dalam kategori khilafiyah dari sisi istinbath dalil. Bagi pengikut 4 Mazhab akan memahami dalam kitab-kitab turats mereka.
Apakah azan hanya sebagai pemberi tahu untuk waktu salat atau bukan? Ulama Syafiiyah mutaakhirin berkesimpulan tidak. Karena memang ditemukan dalil-dalil hadis di luar salat.
1. Saat Kerasukan
Azan ini didasarkan pada hadis:
... فَإِذَا تَغَوَّلَتْ لَكُمُ الْغِيْلَانُ فَنَادُوْا بِالْأَذَانِ ...
“Jika ada yang kerasukan jin/syetan maka kumandangkanlah adzan”.
Al-Hafidz al-Suyuthi menyampaikan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh al-Nasai dalam Sunan al-Kubra (No 10791) dan Abu Ya’la (no 2219). Ditegaskan oleh al-Hafidz al-Haitsami (3/213): “Para perawinya adalah perawi hadis sahih” (Jami’ al-Ahadits 14/279)
2. Saat Sedih
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ : رَآنِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَزِيْنًا فَقَالَ : يَا ابْنَ أَبِي طَالِبٍ أَرَاكَ حَزِيْنًا ؟ قُلْتُ هُوَ كَذَلِكَ قَالَ : فَمُرْ بَعْضَ أَهْلِكَ يُؤَذِّنْ فِي أُذُنِكَ فَإِنَّهُ دَوَاءٌ لِلْهَمِّ (رواه الديلمي)
Dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: “Nabi melihatku sedih. Beliau bersabda: “Suruh sebagian keluargamu adzan di telingamu. Sebab itu obat bagi rasa sedih” (HR al-Dailami)
Kalau istri anda sedang sedih soal hutang dan cicilan silahkan coba diazani (🤪)
3. Saat Kelahiran Bayi
عَنْ أَبِي رَافِعٍ قَالَ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ
Abu Rafi berkata: “Saya melihat Rasulullah meng-adzani Hasan bin Ali saat Fatimah melahirkan, dengan adzan salat” (HR Ahmad, Abu Dawud dan al-Tirmidzi, ia menilainya hasan sahih). Ulama Salafi menilai hadis ini hasan dalam Irwa’ al-Ghalil 4/400.
Dari beberapa hadis ini Imam Ibnu Hajar Al-Haitami berkata:
قَدْ يُسَنُّ الْأَذَانُ لِغَيْرِ الصَّلَاةِ كَمَا فِي آذَانِ الْمَوْلُودِ وَالْمَهْمُومِ وَالْمَصْرُوعِ وَالْغَضْبَانِ وَمَنْ سَاءَ خُلُقُهُ مِنْ إنْسَانٍ أَوْ بَهِيمَةٍ وَعِنْدَ مُزْدَحَمِ الْجَيْشِ وَعِنْدَ الْحَرِيقِ وَعِنْدَ تَغَوُّلِ الْغِيلَانِ أَيْ تَمَرُّدِ الْجِنِّ لِخَبَرٍ صَحِيحٍ فِيهِ ، وَهُوَ وَالْإِقَامَةُ خَلْفَ الْمُسَافِرِ
“Terkadang dianjurkan adzan untuk selain salat, seperti di telinga bayi yang lahir, orang susah, orang pingsan, orang marah, yang buruk perilakunya baik manusia atau hewan, ketika desakan pasukan, ketika tenggelam. Juga ketika kerasukan jin, berdasarkan hadis sahih. Demikian halnya adzan dan iqamah di belakang musafir” (Ibnu Hajar, Tuhfah al-Muhtaj, 5/51)
Adakah dalil hadisnya? Penggunaan dalil hadis dalam masalah ini terlalu banyak ihtimal (kemungkinan, bukan kepastian). Bahkan ada yang memakai riwayat berikut dengan mengatasnamakan Sahih Ibnu Hibban:
من طريق أبي بكر والرذبري عن ابن داسة قال: حدثنا ابن محزوم قال حدثني الإمام على ابن أبي طالب كرم الله وجهه وسيدتنا عائشة رضي الله عنهم—كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا استودع منه حاج أو مسافر أذن وأقام – وقال ابن سني متواترا معنوي ورواه أبو داود والقرافي
Namun setelah saya cek berkali-kali tak kunjung ditemukan. Mari kita perbaiki dalam akurasi mengutip referensi terlebih jika disebut sebagai hadis.
Apa manfaat azan ini? Saya menemukan penjelasan dari ulama Hambali hal ini sebagai Tajribah:
وَمِمَّا جُرِّبَ أَنَّ الْأَذَانَ فِي أُذُنِ الْمَحْزُونِ يَصْرِفُ حُزْنَهُ ، وَإِذَا أُذِّنَ خَلْفَ الْمُسَافِرِ رَجَعَ
"Di antara resep manjur adalah jika azan dikumandangkan pada orang susah maka hilang susahnya, pada musafir maka akan kembali" (Mathalib Uli Nuha, 2/196)
Makanya beliau-beliau, Ust Multazam Muslih Ust Muwafiq Ra Ust Husnul Bashori selalu pulang ke rumah tanpa kesasar karena sudah 'diazani' sama istrinya masing-masing saat tidur.
□ Azan Pemberangkatan dari Pondok dan Al Akbar bersama KBIH Nurul Hayat Surabaya