Hukum Menghadiahkan Pahala untuk Nabi
Hukum menghadiahkan pahala amal kebajikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
Pertanyaan:
Apakah diperbolehkan setelah saya menunaikan umrah untuk diri saya sendiri lalu menunaikan umrah yang kedua kalinya sembari (berniat) menghadiahkan pahalanya kepada Nabi shallallahu ‘alahi wasallam?
Jawaban:
Alhamdulillah, semoga shalawat dan salam tetap terlimpah kepada Sayyidina Rasulillah.
Ulama berbeda pendapat mengenai hukum menghadiahkan pahala amal kebajikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ada 2 pendapat dalam masalah ini:
(1) Tidak boleh.
Hal ini karena tidak diketahui riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan hal itu. Sebagaimana terkadang muncul kesan terhadap diri Rasulullah dimana ia menyangka beliau membutuhkan ibadah orang-orang shalih. Apalagi, pahala amal kebajikan seluruh umat beliau ini berada dalam lembar catatan amal beliau, karena beliau lah sebab hidayah pertama kali. Karenanya, niat menghadiahkan amal ibadah kepada beliau itu tahsilul hashil (tak ada faedah yang berarti), karenanya hal itu tak diperlukan.
Imam Nawawi Rahimahullah berkata: menghadiahkan pahala bacaan al-Quran untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak dikutip atsar dari orang yang diperhitungkan, bahkan sebaiknya dilarang melakukan itu, karena ada sikap lancang kepada beliau dalam perkara yang tidak beliau izinkan. Meskipun begitu, beliau juga mendapatkan pahala membaca al-Quran sebab asal syariat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan semua amal baik umat beliau dalam timbangan beliau. Sungguh Allah telah memerintahkan kita bersholawat kepada beliau, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkannya dan memerintahkan kita untuk memohon wasilah dan permohonan yang lain dengan kedudukan beliau. Karenanya, sebaiknya ia batasi pada hal-hal itu saja. Meskipun begitu, hadiah dari seorang berderajat rendah kepada yang berderajat lebih tinggi tak kan terjadi kecuali dengan izin.
Ibnu Qadhi Suhbah mengomentari: Pendapat itulah yang terpilih. Sementara adab terhadap orang-orang yang Agung itu termasuk adab dan ketaatan. Dan amal wajib ataupun mandub umat beliau itu berada dalam lembar amal beliau shallallahu ‘alaihi wasallam (juga).
Al-Imam as-Sakhowi mengutip riwayat dari guru beliau al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani bahwa beliau ditanya mengenai orang yang membaca al-Quran lalu berdoa,”Ya Allah jadikanlah pahala bacaan al-Quranku ini sebagai tambahan kemuliaan Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Lantas beliau menjawab: Itu dibuat-buat oleh qurra’ mutaakhirin. Aku tidak tahu salaf yang melakukan itu. Akhir kutipan dari Mawahibul jalil (2/545).
Al-Khatib asy-Syirbini Rahimahullah mengomentari: Ay-Syekh Tajuddin al-Fazzari melarang hal demikian itu, dan illatnya adalah tidak berlaku lancang pada Rasulullah kecuali dalam hal yang telah mendapatkan izin beliau, sedangkan beliau tidak mengizinkan kecuali dalam bersholawat dan memohonkan wasilah. Akhir kutipan dari Mughnil Muhtaj (4/111).
Al-‘Allamah ad-Dardir al-Maliki mengatakan: Sebagian imam kita (Madzhab Maliki) menjelaskan bahwa membaca al-Fatihah -misalnya- lalu menghadiahkan pahalanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hukumnya makruh. Akhir kutipan dari As-Syarh al-Kabir ma’a hasyiyah ad-Dusuqi (2/10).
(2) Boleh
Para Ulama yang membolehkan ini beristidlal dengan riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau dulu melakukan ibadah umrah untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah Rasulullah wafat.
Dan karena tidak adanya larangan, bahkan beliau menunjukkan kebolehannya riwayat yang membolehkan haji dan puasa untuk mayit.
Al-Khatib Asy-Syirbini Rahimahullah mengatakan: Sebagian Ulama membolehkannya dan Al-Imam As-Subki memilih pendapat ini. Beliau berhujjah dengan riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma dulu berumrah untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah Rasulullah wafat tanpa ada wasiat. Sementara itu, al-Imam al-Ghazali mengkisahkan dalam kitab Ihya’ riwayat dari ‘Ali bin al-Muwaffaq -beliau ini segenerasi dengan Imam al-Junaid- bahwasanya beliau melakukan haji untuk Rasulullah beberapa kali haji; dan riwayat dari Muhammad bin Ishaq as-Siraj an-Naisaburi bahwasanya beliau mengkhatamkan al-Quran untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebih dari 10.000 kali khataman dan berkurban untuk beliau sebanyak itu juga. Akhir kutipan dari Mughnil Muhtaj (4/111), dan lihat juga Tuhfatul Muhtaj (7/76) dan Nihayatul Muhtaj (6/93).
Al-Imam al-Buhuti al-Hanbali Rahimahullah mengatakan: Setiap qurbah yang dikerjakan seorang muslim dan ia jadikan semua pahalanya atau sebagian pahalanya seperti setengah, sepertiga, atau seperempat untuk muslim lain yang hidup maupun yang telah wafat, hukumnya boleh dan bermanfaat, karena sampainya pahala itu kepadanya, hingga meskipun untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Akhir kutipan dari Kasy-syaful Qina’ (2/147).
Wallahu a’lam
Alih bahasa dari fatwa Dairotul Ifta Yordania di bawah ini:
https://www.aliftaa.jo/Question.aspx?QuestionId=2079&fbclid=IwAR1sxnzQaSpS-NeJOI47FDFp7G20fneAcYYnH2LmhrQUAOk4ubN44OgbxNA#.XSyzi5ZRWEc