Arti Dimulai Hadats dan Cara Beribadah
DEFINISI DA'IMUL HADAST & TEHNIK-TEKNIKNYA UNTUK BERIBADAH
Pertanyaan :
Sebatas mana kah seseorang bisa di katakan DA'IMUL HADAST ???
Jawaban :
_Daimul hadast_(orang yang terus menerus mengeluarkan hadast) sehingga tidak ada jeda waktu untuk suci bagi dirinya meski hanya hitungan dalam melaksanakan wudhu.
Intinya orang yang mengeluarkan hadast terus menerus, sekiranya tidak cukup bersuci(wudhu) untuk melaksanakan sholat
Seseorang di katakan _daimul hadast_ apabila ia dalam keadaan seringnya mengeluarkan air kencing atau darah jika ia wanita, (keluarnya secara tidak lancar, sebentar menetes dan sebentar tidak).
ﻭاﺷﺘﺮﻁ ﻏﻴﺮ اﻟﺤﻨﻔﻴﺔ ﺩﺧﻮﻝ ﻭﻗﺖ اﻟﺼﻼﺓ لدائم اﻟﺤﺪﺙ ﻛﺴﻠﺲ ﺑﻮﻝ ﻭﻣﺴﺘﺤﺎﺿﺔ : لأن طهارته طهارة عذر وضرورة، فتقيدت بالوقت كالتيمم
Dari sudut pandang syariah, orang yang menderita beser termasuk udzur dan diberlakukan hukum dan dispensasi khusus sebagaimana yang berlaku pada wanita istihadah.
Mazhab Syafi'i berpendapat bahwa air yang keluar karena beser maka wajib dijaga dengan cara menutup tempat keluarnya dan mengikatnya dengan kain. Apabila ia sudah melakukan itu lalu berwudhu, lalu keluar sesuatu (kencing) darinya maka itu tidak merusak kebolehan shalat dan lainnya dengan wudhu tersebut. Namun diberlakukan sejumlah syarat untuk bolehnya ibadah dengan cara wudhu seperti ini
Adapun syarat-syaratnya sebagai berikut:
(a) Saat masuk waktu shalat fardhu, sebelum mengambil air wudhu, terlebih dahulu siapkan baju dan pakaian dalam yang suci.
(b) bersihkan jalan keluar air kencing (cebok) dengan bersih.
(c) jalan keluar air kencing disumbat dengan kapas bagi wanita atau gunakan kain seperti kain perban untuk laki-laki atau yang lebih praktis gunakan pampers untuk dewasa, barulah menggunakan pakaian dalam yang bersih dan suci.
(d) Mengambil air wudhu secara sempurna.
(e) Segera lakukan shalat.
CATATAN PENTING
- Wudhu khusus penderita beser ini hanya berlaku untuk satu kali salat wajib. Namun bisa ditambah dengan shalat sunnah berkali-kali.
- Niat wudhunya adalah
*[نويت بوضوئي أن يبيح الشارع لي به الصلاة]*
"Saya niat wudhu untuk bolehnya shalat". Niat khusus ini dilakukan karena memang ini bukan wudhu yang sebenarnya. Tapi wudhu dispensasi Islam agar bisa melaksanakan shalat dengan wudhu khusus ini.
- Antara cebok, menutup kemaluan dengan kain, wudhu dan kemudian shalat harus dilakukan dengan tertib dan segera (muwalat). Tidak boleh ada perbuatan lain yang menyelanya. Kalau itu dilakukan maka batal wudhunya. Kecuali kalau perbuatan penyela itu ada kaitan dengan shalat. Misalnya, setelah wudhu ia berjalan menuju masjid. Atau setelah wudhu ia diam menunggu imam untuk shalat berjamaah, maka diamnya itu tidak membatalkan wudhu.
- Menyumbat lobang kencing dengan kapas.
Artinya: Adapun hasil (kesimpulan) sesuatu yang wajib atasnya (Daimul hadas) itu sama saja ada pada Istihadoh (berdarah penyakit) atau orang yang terus menerus kencing agar dibasuhnya farjinya lebih dulu dari najis, kemudian disumpal dengan seumpama kapas kecuali jika hal tersebut menyakitinya atau sedang berpuasa. Dan hendaknya mengikat atau membalut (kemaluan) dengan kain perca jika sekiranya tidak cukup untuk disumpal saja, karena banyaknya darah, kemudian segeralah berwudu dan sesudah itu bersegeralah sholat. Lakukan hal ini untuk setiap satu shalat fardhu walaupun perban atau pembalut masih tetap berada di tempatnya.
*الفقه على المذاهب الأربعة ج: ١- ص: ٨١-*
الشافعية قالوا : ما خرج على وجه السلس يجب على صاحبه أن يتحفظ من بأن يحشو محل الخروج ويعصبه : فإن فعل ثم توضأ . ثم خرج منه شيء فهو غير ضار في إباحة الصلاة وغيرها بذالك الوضوء. انما يشترط لاستباحة العبادة بهذا الوضوء
*إعانة الطالبين ج: ١- ص: ٤7-*
وحاصل ما يجب عليه - سواء كان مستحاضة أو سلسا - أن يغسل فرجه أولا عما فيه من النجاسة، ثم يحشوه بنحو قطنة - إلا إذا تأذى به أو كان صائما - وأن يعصبه بعد الحشو بخرقة إن لم يكفه الحشو لكثرة الدم، ثم يتوضأ أو يتيمم، ويبادر بعده إلى الصلاة، ويفعل هكذا لكل فرض وإن لم تزل العصابة عن محلها.
*ﺭﻭﺿﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ج ١ صـــ ٣٥١*
ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺍﻗﺘﺪﺍﺀ ﺍﻟﺴﻠﻴﻢ ﺑﺴﻠﺲ ﺍﻟﺒﻮﻝ ﻭﺍﻟﻄﺎﻫﺮﺓ ﺑﺎﻟﻤﺴﺘﺤﺎﺿﺔ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻤﺘﺤﻴﺮﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺻﺢ
*تحفة المحتاج ج ٢ صـــ ٢٩٠*
( وَالْأَصَحُّ صِحَّةُ قُدْوَةِ ) نَحْوِ ( السَّلِيمِ بِالسَّلِسِ ) أَيْ سَلَسِ الْبَوْلِ وَنَحْوِهِ مِمَّنْ لَا تَلْزَمُهُ إعَادَةٌ ( ، وَالطَّاهِرِ بِالْمُسْتَحَاضَةِ غَيْرِ الْمُتَحَيِّرَةِ ) لِكَمَالِ صَلَاتِهِمَا أَيْضًا ، وَكَوْنُهَا لِلضَّرُورَةِ لَا يُنَافِي كَمَالَهَا وَإِلَّا لَوَجَبَتْ إعَادَتُهَا أَمَّا قُدْوَةُ مِثْلِهِمَا بِهِمَا فَصَحِيحَةٌ جَزْمًا ، وَأَمَّا الْمُتَحَيِّرَةُ فَلَا يَصِحُّ الِاقْتِدَاءُ وَلَوْ لِمِثْلِهَا بِهَا لِوُجُوبِ الْإِعَادَةِ عَلَيْهَا
*حاشية الشبراملسي ج ٢ صـــ ١٧٥*
( قَوْلُهُ : لِوُجُودِ النَّجَاسَةِ ) مُقْتَضَاهُ أَنَّ السَّلَسَ بِالرِّيحِ أَوْ الْمَنِيِّ تَصِحُّ إمَامَتُهُ بِلَا خِلَافٍ لِانْتِفَاءِ النَّجَاسَةِ عَنْهُ.
*والله اعلم بالصواب*