Apa Hukum Megengan atau Sadranan
Mari kita lihat secara objektif dengan kepala terbuka bahwa subtansi sadranan adalah membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan pahalanya dimintakan kepada Allah agar diberikan kepada Almarhum. Dari sisi ini ternyata sudah diamalkan sejak dulu seperti yang disampaikan oleh ulama Madzhab Hambali, Ibnu Qudamah (620 H) :
فإنهم في كل عصر ومصر يجتمعون ويقرأون القرآن ويهدون ثوابه إلى موتاهم من غير نكير
Kaum Muslimin di setiap masa dan kota berkumpul membaca al-Quran dan menghadiahkan pahalanya untuk keluarga mereka yang meninggal, tanpa ada pengingkaran (Al-Mughni 2/427)
- Baca Fatihah, Al-Ikhlas dan Muawwidzatain
قَالَ الْمَرُّوذِيُّ : سَمِعْتُ أَحْمَدَ يَقُولُ : إذَا دَخَلْتُمْ الْمَقَابِرَ فَاقْرَءُوا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ ، وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ، وَاجْعَلُوا ثَوَابَ ذَلِكَ إلَى أَهْلِ الْمَقَابِرِ ؛ فَإِنَّهُ يَصِلُ إلَيْهِمْ ، وَكَانَتْ هَكَذَا عَادَةُ الْأَنْصَارِ فِي التَّرَدُّدِ إلَى مَوْتَاهُمْ ؛ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ
Al Marwadzi meriwayatkan bahwa Imam berkata ”Jika masuk kubur bacalah Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas, hadiahkan untuk ahli kubur, maka akan sampai. Inilah kebiasaan sahabat Anshor yang bolak-balik kepada orang yang meninggal untuk membaca al-Quran” (Mathalib Uli an-Nuha 5/9)
- Baca Zikir, Tahlil dan Tasbih
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِىِّ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْماً إِلَى سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ حِينَ تُوُفِّىَ - قَالَ - فَلَمَّا صَلَّى عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَوُضِعَ فِى قَبْرِهِ وَسُوِّىَ عَلَيْهِ سَبَّحَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَسَبَّحْنَا طَوِيلاً ثُمَّ كَبَّرَ فَكَبَّرْنَا
Jabir: “Kami bersama Nabi datang saat wafat Sa’ad bin Muadz. Nabi menya-latinya. Kemudian dikubur. Setelah tanahnya ditutup lalu Rasulullah membaca tasbih. Kami bertasbih lama. Lalu Nabi bertakbir dan kami pun bertakbir. (HR Ahmad)
فجعل يكبر ويهلل ويسبح
Dalam riwayat al-Hannad bahwa "Nabi membaca Takbir, Tahlil dan Tasbih" (az-Zuhd1/391)
- Baca Fatihah Untuk Banyak Almarhum
( وَسُئِلَ ) نَفَعَ اللَّهُ بِهِ عَمَّنْ مَرَّ بِمَقْبَرَةٍ فَقَرَأَ الْفَاتِحَةَ وَأَهْدَاهَا لَهُمْ فَهَلْ تُقْسَمُ بَيْنَهُمْ أَوْ يَصِلُ لِكُلٍّ مِنْهُمْ مِثْلُ ثَوَابِهَا كَامِلًا ؟ ( فَأَجَابَ ) بِقَوْلِهِ أَفْتَى جَمْعٌ بِالثَّانِي وَهُوَ اللَّائِقُ بِسِعَةِ الْفَضْلِ
Jika ada orang baca Fatihah lalu dihadiahkan ke ahli kubur apa Fatihah dibagi atau diberi sempurna? Imam Ibnu Hajar: "Ulama menfatwakan kedua, inilah yang sesuai dengan luasnya anugerah Allah" (Fatawa Al-Kubra 3/165)
Mengapa Dikhususkan Di Akhir Sya’ban?
Sebenarnya tidak mengkhususkan karena di bulan lain tetap dilakukan. Kalaupun bersikukuh dianggap menentukan waktu ibadah maka sebagian ulama ahli hadis membolehkan berdasarkan dalil hadis:
ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ، ﻗﺎﻝ: «ﻛﺎﻥ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺄﺗﻲ ﻣﺴﺠﺪ ﻗﺒﺎء كل سبت ﺭاﻛﺒﺎ ﻭﻣﺎﺷﻴﺎ»
Dari Ibnu Umar bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam mendatangi Quba' setiap Sabtu, baik menaiki kendaraan atau berjalan" (HR Bukhari)
Al-Hafidz Ibnu Hajar menggali hukum dari hadis di atas:
ﻭﻓﻲ ﻫﺬا اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻋﻠﻰ اﺧﺘﻼﻑ ﻃﺮﻗﻪ ﺩﻻﻟﺔ ﻋﻠﻰ ﺟﻮاﺯ ﺗﺨﺼﻴﺺ ﺑﻌﺾ اﻷﻳﺎﻡ ﺑﺒﻌﺾ اﻷﻋﻤﺎﻝ اﻟﺼﺎﻟﺤﺔ ﻭاﻟﻤﺪاﻭﻣﺔ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ
"Dalam hadis ini berdasar banyaknya jalur riwayat menunjukkan bahwa menentukan sebagian hari dengan sebagian amal saleh adalah diperbolehkan dan melakukan hal tersebut secara terus menerus" (Fathul Bari, 3/69)