Bagaimana Sikap Makmum saat Imam Lupa atau Salah saat Shalat?
Sebagai manusia, seorang imam pun kadang salah atau lupa saat shalat. Kadang imam lupa/salah saat membaca ayat Al-Qur'an, lupa tidak tasyahud awal, atau bahkan lupa berapa rakaat telah dilakukan. Maka bagaimanakah sikap makmum saat mendapati hal tersebut? Apakah ikut saja atau bahkan berhenti tidak mengikuti lagi imam?
Cara Menegur/ Mengingatkan Imam saat Lupa atau Salah ketika Shalat Berjamaah
Para ulama ternyata sudah menjelaskan hal ini. Berikut tata cara mengingatkan imam saat lupa atau salah dalam mengerjakan shalat.
1. Jika Imam Lupa Bacaan
Jika seorang imam lupa dalam bacaan shalat, misalnya saat membaca ayat Al-Qur'an, maka makmum mengingatkannya dengan membetulkan bacaannya.
2. Jika Imam Lupa Mengerjakan Amalan Sunah Ab'adh
Sebagai contoh imam lupa melakukan tasyahud awal, maka bisa mengingatkannya dengan membaca tasbih bagi makmum laki-laki. Adapun jika makmum perempuan, dengan menepukkan kedua punggung tangannya.
Rasulullah SAW bersabda:
اَلتَّسْبِيحُ لِلرِّجَالِ , وَالتَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya: "Mengucapkan tasbih itu bagi laki-laki dan menepuk tangan itu bagi perempuan." (HR Bukhari dan Muslim).
Namun jika ternyata imam sudah berdiri tegak saat diingatkan, maka makmum segera mengikuti imam tanpa perlu melaksanakan tasyahud awal. Hal ini karena tasyahud awal termasuk sunah ab'adh. Nanti di akhir sebelum salam, imam menambahkan sujud sahwi karena lupanya tersebut.
3. Jika Imam Melakukan Hal yang Bisa Membatalkan Shalat saat Dilakukan dengan Sengaja.
Contohnya adalah imam lupa sehingga melakukan sujud tiga kali, mengurangi atau menambah jumlah rakaat. Dalam kondisi ini, makmum harus mengingatkannya dengan membaca tasbih atau menepuk kedua tangan seperti keterangan sebelumnya.
Namun jika ternyata imam masih bersikukuh karena yakin, maka makmum harus mufaraqah atau menunggu imam untuk sama-sama melakukan salam bersama-sama. Demikian pula seorang imam harus turun kembali saat diingatkan makmumnya bahwa dia kelebihan rakaat, walau dia sudah berdiri lurus.
Jika ternyata imam lupa dan makmum ragu sehingga menambah atau mengurangi jumlah rakaat shalat, maka baik imam dan makmum harus berdiri kembali untuk menambah rakaat (jika karena kurang) dan menutupnya dengan sujud sahwi.
Ibnu Mas’ud ra. mengatakan:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – صَلَّى الظُّهْرَ خَمْسًا فَقِيلَ لَهُ أَزِيدَ فِى الصَّلاَةِ فَقَالَ وَمَا ذَاكَ . قَالَ صَلَّيْتَ خَمْسًا . فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَ مَا سَلَّمَ
Pada suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat dzuhur lima rakaat. Beliau kemudian ditanya, “Apakah jumlah rakaat ini memang ditambah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Mengapa demikian?” Sahabat yang tadinya menjadi makmum mengatakan, “Anda telah melaksanakan shalat Dzuhur lima rakaat.” Lantas beliau pun sujud sebanyak dua kali setelah selesai salam itu. (HR. Bukhari)
Referensi:
اَلْمَجْمُوْعُ شَرْحُ الْمُهَذَّبِ (4/ 238)
وَاِنْ سَهَا الْاِمَامُ فيِ صَلَاتِهِ فان كان في قراءة فتح عليه المأموم لما روى أنس قال " كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يلقن بعضهم بعضا في الصلاة " وإن كان في ذكر غيره جهر به المأموم ليسمعه فيقوله وَإِنْ سَهَا فِيْ فِعْلٍ سَبَّحَ بِهِ لِيُعْلِمَهُ فان لم يقع للامام أنه سها لم يعمل بقول المأموم لان من شك في فعل نفسه لم يرجع فيه الي قول غيره كالحاكم إذا نسى حكما حكم به فشهد شاهدان أنه حكم به وهو لا يذكره وَأَمَّا الْمَأْمُوْمُ فَيُنْظَرُ فِيْهِ فَاِنْ كَانَ سَهْوُ اْلِامَامِ فِيْ تَرْكِ فَرْضٍ مِثْلُ أَنْ يَقْعُدَ وَفَرْضُهُ أَنْ يَقُوْمَ أَوْ يَقُوْمَ وَفَرْضُهُ أَنْ يَقْعُدُ لَمْ يُتَابِعْهُ لِاَنَّهُ اِنَّمَا يَلْزَمُهُ مُتَابَعَتُهُ فِيْ أَفْعَالِ الصَّلَاةِ وَمَا يَأْتِي بِهِ لَيْسَ مِنْ أَفْعَالِ الصَّلاَةِ
فَتْحُ الْمُعِيْنِ بِشَرْحِ قُرَّةِ الْعَيْنِ بِمُهِمَّاتِ الدِّيْنِ (2/ 42)
( فَرْعٌ ) لَوْ قَامَ إِمَامُهُ لِزِيَادَةٍ كَخَامِسَةٍ وَلَوْ سَهْوًا لَمْ يَجُزْ لَهُ مُتَابَعَتُهُ وَلَوْ مَسْبُوْقًا أَوْ شَاكًّا فِيْ رَكْعَةٍ بَلْ يُفَارِقُهُ وَيُسَلِّمُ أَوْ يَنْتَظِرُهُ عَلَى الْمُغْتَمَدِ
بُغْيَةُ الْمُسْتَرْشِدِيْنِ (ص:57
)مسألة : ك) : قام الإمام بعد السجدة الأولى انتظره المأموم في السجود لعله يتذكر ، لا في الجلوس بين السجدتين لأنه ركن قصير أو فارقه وهو أولى هنا ، ولا تجوز متابعته ، وَلَوْ تَشَهَّدَ الْإمَامُ فِيْ ثَالِثَةِ الرُّبَاعِيَّةِ سَاهِياً فَارَقَهُ الْمَأْمُوْمُ أَوِ انْتَظَرَهُ فِي الْقِيَامِ ، وأفتى الشهاب الرملي بوجوب المفارقة مطلقاً ، وجوّز سم انتظاره قائماً ، وجوز ابن حجر في الفتاوى متابعته إن لم يعلم خطأه بتيقنه أنها ثالثة