Allah Mencabut Lidah Ikan, Bagaimana Sejarahnya?
Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu anhu’ berkata: Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda:
"Tidak akan masuk surga orang yang suka memfitnah”. Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu’, Rasulullah Saw bersabda: "Apakah kamu tahu siapakah sejahat-jahatnya manusia?" Jawab sahabat, "Allah dan Rasulullah Saw yang lebih tahu”. Rasulullah Saw bersabda, "Sejahat-jahatnya manusia adalah orang yang bermuka dua, Tidak masuk surga orang yang suka membesar-besarkan cerita."
Setelah Rasulullah bersabda, kemudian ditanyakan hikmah dari perkataan itu. Baginda Saw menjawab, "Sesungguhnya Allah Swt telah menciptakan semua makhluk itu memiliki lidah, baik yang bisa berkata-kata maupun yang tidak bisa berkata-kata.”
Lalu, salah seorang sahabat bertanya, “kenapa ikan tidak mempunyai lidah?”
Rasulullah Saw bersabda, "Setelah Allah menciptakan Adam as maka diperintahkan seluruh Malaikat agar tunduk sujud kepadanya. Semua Malaikat patuh kecuali Iblis. Iblis enggan sujud, maka Allah melaknatnya serta mengusirnya dari surga dan di kirim ke bumi.
Setelah diturunkan ke bumi, iblis terus menuju ke laut dan satu yang dijumpainya adalah ikan. Iblis pun menceritakan keburukan dan kekurangan Nabi Adam As kepada ikan. Iblis berkata, "Sesungguhnya Adam itu sangat suka memburu dan membunuh binatang-binatang yang ada di lautan dan daratan."
Setelah ikan mendengar kata-kata iblis, dia pun segera menceritakannya kepada binatang laut yang lain tentang Adam As. Hal tersebut menjadikan Allah Swt, tidak menyukai perbuatan ikan. kemudian dihilangkanlah lidah ikan agar tidak lagi dapat menyampaikan berita yang bukan sebenarnya.
Dari kisah tersebut, maka dapat diambil hikmah agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan berita yang tidak jelas kebenarannya. Lidah pun akan dimintai pertanggung jawaban atas perkataan yang telah diucapkan selama di dunia.
Allah Swt berfirman, “Tiada satu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Q.S. Qaf ayat 18).