Andai Baik, pasti sahabat sudah mendahuluinya
Ustadz Ubaidillah:
“Andai amalan itu baik, pasti sahabat sudah melakukannya lebih dulu.”
Bantahan:
Ah masaak… 😏
Kalimat لو كان خيرًا لسبقونا إليه sering dipakai buat ngeblok semua hal baru: “nggak ada di zaman sahabat = bid’ah”. Kedengarannya rapi, padahal kalau dijadikan hukum sakti serba guna, justru amburadul.
Faktanya, logika ini awal mulanya dipakai orang musyrik buat nyinyir ke kaum Muslim:
“Kalau Al-Qur’an itu beneran baik, kenapa bangsawan Quraisy nggak duluan masuk Islam?”
Ibnu Katsir cuma membalik logika itu sebagai bantahan, bukan buat bikin kaidah mutlak anti-hal-baru.
Masalah muncul saat kalimat itu dipakai tanpa rem dan tanpa mikir konteks. Kenapa bermasalah?
1. Nggak semua yang nggak dilakukan sahabat otomatis bid’ah.
Kalau begitu, separuh hidup kita hari ini bid’ah. Ilmu, metode dakwah, sistem pendidikan, bahkan cara ngaji sekarang—semuanya lahir setelah sahabat.
2. Banyak “hal baru” agama disepakati ulama sebagai kebaikan.
Pembukuan hadis, ushul fiqh, titik-harakat Al-Qur’an, tarawih berjamaah, adzan Jumat dua kali—nggak ada di zaman Nabi, tapi diterima umat. Mau dibid’ahkan semua?
3. Kalau kaidah ini dipakai konsisten, para sahabat sendiri bisa kena.
Abu Bakar perang lawan penolak zakat.
Umar bikin baitul mal dan tarawih berjamaah.
Utsman kodifikasi mushaf dan tambah adzan Jumat.
Semuanya nggak dilakukan Nabi, tapi jelas ijtihad emas.
5. Ibnu Katsir sendiri nggak kaku kayak begitu.
Beliau malah muji Raja Irbil yang merayakan Maulid Nabi. Kalau kaidah itu mutlak, harusnya Ibnu Katsir jadi yang paling depan nyerang—nyatanya enggak.
Kesimpulan singkat tapi tegas:
Ucapan Ibnu Katsir itu bukan palu godam buat menghantam semua hal baru. Ia cuma berlaku kalau suatu amalan nggak punya dasar sama sekali, baik dari nash maupun prinsip umum syariat.
Selama suatu amalan: ✔ punya landasan umum dalam agama
✔ nggak nabrak prinsip syariat
maka bukan bid’ah, meski nggak dilakukan sahabat.
Pola pikir sempit cuma bikin kita terdengar kayak kaum musyrik dulu: sok merasa paling standar kebenaran.
Pola pikir luas—itulah jalannya para ulama muhaqqiqin.
Intinya:
Nggak semua yang “nggak ada di zaman salaf” itu salah.
Yang keliru itu menjadikannya vonis instan buat segalanya.