Duri dalam Daging Kerukunan
Duri Dalam Daging Kerukunan
Oleh: Arif Wibowo
Dalam sebuah pertemuan, Franz Magnis Suseno, seorang filofof Jesuit Senior di Indonesia terlibat pembicaraan dengan Dr. Adian Husaini, salah cendekiawan muslim. Inti pembicaraan itu adalah keberatan Romo Magnis, atas penolakan umat Islam pada salah satu pembangunan gereja Katolik di salah satu wilayah di Jakarta. Padahal kata Franz Magnis, gereja yang ada sudah tidak lagi mampu menampung jemaah yang ada, yang mengalami perkembangan secara alami, melalui kelahiran dan migrasi.
Nampaknya Dr. Adian Husaini bisa memahami keberatan Franz Magnis Suseno, akan tetapi kebanyakan masyarakat muslim memang tidak bisa membedakan Katolik dengan Protestan. Adian kemudian menunjukkan beberapa fakta yang selama ini mungkin tidak terlintas dalam benak seorang Magnis Suseno.
Pendirian gereja, kata Adian Husaini, seringkali dipandang sebagai sebuah ekspansi keagamaan bukan sekedar kebutuhan akan tempat beribadah. Stigma bahwa gereja identik dengan kristenisasi, juga tidak muncul dari sebuah sikap su’udzon (prasangka buruk) tetapi karena fakta yang memang terjadi di masyarakat.
Kemudian Dr. Adian membuka laptop dan memutar video acara di sebuah Sekolah Tinggi Theologia di Jakarta, dimana semua peserta lelakinya menggunakan peci dan perempuannya berjilbab. Acara tersebut berjudul “Lomba Thilawatil Injil”, dimana injil dibaca dengan bahasa arab dan dilagukan persis seperti para qari saat Musabaqoh Tilawatil Qur’an. Selain itu ada juga pertunjukkan “Shalawatan Kristen” yang nge “plek” tradisi barzanji. Belum selesai klip di putar, Franz Magnis Suseso berkomentar “Menjijikkan”.
Komentar spontan seorang Franz Magnis Suseno itu bisa jadi mewakili perasaan beberapa orang Katolik yang ketika ikut berkomentar atas tulisan-tulisan saya beberapa waktu lalu tentang intoleransi, bahwa sebagai Katolik mereka ikut terdampak oleh para Injili / kharismatis yang menurut mereka memang berisik dalam beragama.
Apa yang ditunjukkan Dr. Adian kepada Prof. Magnis itu sebenarnya baru sebuah pendahuluan, sebab saya sendiri punya banyak koleksi aktifitas "penginjilan" yang sudah tidak bisa masuk dalam nalar sehat dimana agama dijajakan dengan menggunakan jurus Dewa Mabuk bukan sekedar Kunyuk Melempar Buahnya Sinto Gendheng.
Saya pernah dapat cerita dari rekan yang pernah nyantri di pesantren mahasiswa Ma’had Al Adzhar Bogor di tahun 1993-an. Tentang penyamaran seorang mahasiswi Sekolah Tinggi Theologi ke pesantren tersebut. Suatu ketika seorang perempuan muda berjilbab, mengaku mualaf datang ke pesantren dengan alasan diusir oleh pihak keluarga.
Oleh para santriwati diterima dengan baik, dan ikut terlibat aktif di kegiatan pesantren. Namun setelah satu bulan berselang, para santriwati yang selama ini memperlakukan “mualaf” tersebut dengan baik dibuat terperangah, sebab pada hari itu sang “mualaf” tampil beda, dengan kaos dan jeans ketat datang membawa mobil mengambil barang-barangnya yang di pesantren.
Ternyata “mualaf gadungan” tadi adalah salah seorang mahasiswi S2 salah satu Sekolah Tinggi Theologia di Jakarta yang sedang mencari bahan untuk keperluan thesis nya tentang pesantren. Bagi orang Islam, kejadian ini adalah di luar akal sehat agama. Dan kejadian ini kata menurut beberapa sumber, terjadi di banyak tempat.
Salah satu pesantren di Sawangan Magelang juga pernah kedatangan tamu rombongan mahasiswa S2 sebuah Sekolah Tinggi Theologia dengan alasan untuk memperdalam pendidikan multikultural meminta ijin untuk menginap selama sebulan dengan para santri.
Karena keluguan pak kyai, pihak pesantren pun memperbolehkan, meski akhirnya karena adanya masukan, program ini berlangsung hanya satu minggu. Bisa dibayangkan bukan, bagaimana wujud dialog multikultural itu ketika anak-anak SD di sebuah daerah lereng pegunungan harus berdiskusi dengan para mahasiswa S2 yang berasal dari perkotaan yang melek IT ?
Bila kemudian muncul keberatan hal itu bukan dari kekhawatiran yang tidak berdasar, sangat berbeda bila para mahasiswa itu mau nginap di kantor ISID Gontor, misalnya. Kalau mereka mau berdiskusi theologi dengan Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi atau Dr.Adnin Armas, tentu tak masalah.
Jadi, sepertinya aneka temuan yang bukti fisiknya masih saya simpan itu, misal booklet yang dibagikan kepada jemaah haji yang baru pulang tapi isinya menunjukkan bahwa jemaah haji itu ritual penyembahan berhala dan aneka buku saku lain berisi pengaburan ajaran Islam dan tawaran kekristenan secara eksplisit yang banyak beredar antara tahun 1970-an sampai era reformasi itu perlu sesekali diulas.
Paling tidak supaya banyak yang lebih bisa mendudukkan masalah, menjadi lebih paham, sebenarnya kelompok mana yang menjadi duri dalam daging kerukunan antar umat beragama di Indonesia itu.