Rahasia di Balik penggunaan pola kata surat Lukman 12
Pada Qs. Luqman: 12 ketika berbicara tentang syukur menggunakan kata kerja present tense (fi'il mudhari'), sedangkan masih dalam satu ayat yang sama ketika berbicara mengenai kekufuran menggunakan kata kerja past tense (fi'il madhi') -masa lampau. Kenapa kedua kata ini dibedakan? apakah ini bentuk inkonsistensi atau keindahan bahasa Al-Quran?.
Kata syukur pada penggalan وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ menggunakan kata kerja present tense (fi'il mudhari') yang memberikan kesan sesuatu yang dinamis, fluktuatif, terus-menerus, dan selalu diperbarui. Kenapa menggunakan present tense? Karena nikmat Allah itu non-stop! Syukur bukanlah kejadian sekali seumur hidup, melainkan proses dinamis yang harus terus-menerus diperbarui setiap tarikan napas.
Kata kufur pada penggalan وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ حَمِيدٌۭ menggunakan kata kerja past tense (fi'il madhi) yang memberikan kesan sesuatu yang absolut, baku, tuntas, dan konstan. Kenapa menggunakan past tense? Karena kufur adalah sebuah kejatuhan. Sekali seseorang ingkar, statusnya jatuh dan konstan. Keburukan ini tidak boleh dilestarikan dan harus segera diakhiri saat itu juga!
Perbedaan penggunaan bentuk kata kerja disini bukanlah bentuk inkonsistensi, melainkan me-ngadung makna psikologis yang dalam dan tidak mampu diejawantahkan dalam terjemah. Fi'il Mudhari' menunjukkan makna istimrar wa tajaddud, yakni sebuah proses yang terjadi terus-menerus, fluktuatif, dan senantiasa di-perbarui. Di sisi lain, Fi'il Madhi membawa makna thubut wa tahaqquq, yang berarti sesuatu yang telah berlalu, baku, mantap, dan absolut.
Lantas kenapa An-Naml: 40 menggunakan past tense (fi'il madhi) pada kata syukur?
...وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ
وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ...٤٠
Konteksnya, Ayat ini menceritakan Nabi Sulaiman saat menghadapi situasi yang tidak masuk akal. Singgasana Ratu Bilqis berpindah dari Yaman ke Palestina hanya dalam waktu kurang dari satu kedipan mata. Ketika melihat singgasana itu tiba-tiba sudah tegak di hadapannya detik itu juga, Nabi Sulaiman mengalami guncangan takjub yang luar biasa. Rasa syukurnya meledak seketika, langsung mencapai titik puncak, dan bersifat absolut detik itu juga.
Kenapa menggunakan past tense? Dalam ilmu tata bahasa Arab, Fi'il Madhi (Past Tense) memiliki fungsi semantik ath-thubut wa at-tahaqquq, yaitu menunjukkan sesuatu yang pasti, mantap, absolut, dan tuntas terjadi. Oleh karena itu, menggunakan kata شَكَرَ (syakara - bentuk Madhi) adalah pilihan linguistik yang paling akurat untuk menggambarkan luapan syukur yang spontan, seketika, dan memuncak akibat sebuah mukjizat yang sangat masif.
Perbandingannya terletak pada konteks Siyāq al-Kalām.
👉Kata syukur pada QS. Luqman:12 menggunakan kata kerja present tense (fi'il mudhari') karena konteksnya Luqman sedang duduk memberikan petuah kehidupan sehari-hari kepada anaknya. Dalam menjalani hidup yang panjang, rasa syukur butuh kelangsungan dan harus terus diperbarui setiap hari. Maka wajar digunakan present tense (fi'il mudhari').
👉Kata syukur pada QS. An-Naml:40 menggunakan kata kerja past tense (fi'il madhi) karena konteksnya Nabi Sulaiman sedang menghadapi situasi yang tidak masuk akal. Rasa syukurnya meledak seketika, langsung mencapai titik puncak, dan bersifat absolut detik itu juga. Maka relevan menggunakan past tense (fi'il madhi) karena memiliki fungsi semantik ath-thubut wa at-tahaqquq, yaitu menunjukkan sesuatu yang pasti, mantap, absolut, dan tuntas terjadi.
📌 Kedalaman makna ini tidak mampu diwakili oleh terjemahan literal ayat saja. Padahal setiap huruf dan perubahan dalam Al-Qur'an diyakini diletakkan dengan perhitungan yang sangat akurat. Tidak ada satu kata pun yang kebetulan.
Pengen mendalami keindahan dan keajaiban bahasa Al-Quran lainnya? download ebook 500an halamannya disini
https://lynk.id/zulfanafdhilla/330kjl1lqgr3
https://lynk.id/zulfanafdhilla/330kjl1lqgr3
Ditulis berdasarkan video youtube & tulisan karya Dr. Fadhil Shalih As-Samarra`i. Pakar ilmu bahasa Arab yang mempopulerkan Tafsir Bayaniyah terhadap bahasa Al-Quran sebagai bentuk 'ijaz lughawi Al-Quran (mujizat bahasa Al-Quran).
[Jika linknya gabisa dibuka, copy linknya dan paste ke browser/chrome]