Hukum Mufaraqah
Hukum-Hukum Mufaraqah saat Sholat Jamaah:
Sederhananya, mufaroqoh itu memisahkan diri dari sholat imam/keluar dari jamaah, kemudian melanjutkan sholatnya sendiri.
Hukum-hukum mufaroqoh:
(1). Wajib, jika melihat pada diri imam hal yg membatalkan sholat, seperti melihat ada najis di pakaian imam, atau menemukan Imam "keliru" dalam membaca Al-Fatihah, dll.
Oleh sebab itu, Habib Abdullah menyarankan bagi thullab ketika ingin sholat berjamaah di terminal atau di tempat-tempat umum yg lain, dan menemukan ada jamaah di sana, agar tidak memulai langsung berjamaah, tapi tunggu sambil memperhatikan bacaan Fatihah imamnya, jika "pas" maka bisa bermakmum dengannya.
(2). Sunnah, jika mendapati imam meninggalkan sunnah-sunnah sholat yg maqshudah, seperti tasyahhud awal dan qunut.
(3). Boleh, jika ada uzur. Misal, imamnya terlalu lama, dan kita punya hajat cepat, atau di tengah sholat, makmum merasa pusing sehingga ingin buru-buru menyelesaikan sholatnya.
(4). Makruh, jika tanpa uzur. Jika makmum mufaroqoh tanpa udzur, maka hilanglah pahala jamaahnya.
Ini pendapat jadid Imam Syafi'i. Tidak sampai haram, karena memang hukum sholat jamaah itu sunnah, atau fardhu kifayah. Dan perbuatan sunnah tidak wajib disempurnakan sampai akhir, seperti puasa sunnah yg boleh dibatalkan di tengah hari.
Adapun pendapat qodim beliau, maka sholat makmum yg mufaroqoh dari imam tanpa uzur dihukumi batal sehingga harus memulai sholatnya dari awal.
(5). Haram, di sholat-sholat yg diwajibkan berjamaah, seperti di rakaat sholat jumat.
Wallahu a'lam
[الشمس المنيرة، ١\٣٧٣]