Malam 'Lailatul Qadar'
🌙 LAILATUL QADAR 🌙
✍🏻 Oleh: Ustadz Kang JE
#Tanda-tanda malam lailatul qodar
Nabi muhammad sholallohu 'alayhi wasallam juga pernah mengabarkan kepada kita dibeberapa sabda beliau tentang tanda-tanda lailatul qodar.
~udara dan suasana pagi yang tenang Ibnu Abbasroshiyallohu 'anhu berkata : Rosululloh sholallohu 'alayhi wasallam bersabda :
"Lailatul qodar adalah malam tentram dan tenang,tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin.esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah".
(Hadist Hasan).
Angin dalam keadaan tenang pada malam lailatul qodar,tidak berhembus kencang (tidak ada badai) dan tidak ada guntur.hal ini berdasarkan hadist dari shohabat jabir bin Abdulloh sesungguhnya Rosululloh bersabda "sesungguhnya aku melihat lailatul qodar kemudian dilupakannya,lailatul qodar turun pada 10 akhir (bulan romadhon) yaitu malam yg terang,tidak dingin dan tidak panas serta tidak turun hujan".
(HR.Ibnu khuzaimah no.2190 dan Ibnu Hibban no.3688 dan dishohihkan oleh keduanya). kemudian hadist dari shohabat Ubadah bin shomit "sesungguhnya Rosululloh sholallohu alayhi wasallam bersabda (yang artinya) "sesungguhnya alamat lailatul qodar adalah malam yang cerah dan terang seakan-akan nampak didalamnya bulan bersinar terang ,tetap dan tenang,tidak dingin dan tidak panas.
harom bagi bintang-bintang melempar pada malam itu sampai waktu subuh.
sesungguhnya termasuk dari tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan tegak lurus,tidak tersebar sinarnya seperti bulan pada bulan purnama,harom bagi syaithon keluar bersamanya (terbit matahari) pada hari itu".
(HR.Ahmad 5/324 Al-Haitsamy 3/175 dia berkata perawinya tsiqoh).
~dari Ubay bin ka'ab rodhiyallohu 'anhu bahwasannya Rosululloh sholallohu 'alayhi wasallam bersabda :
"keeaokan hari malam lailatul qodar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan".
(HR.Muslim).
~terkadang terbawa dalam mimpi seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi rodhiyallohu anhum.
~Abu Huroiroh rodhiyallohu
'anhu pernah bertutur :kami pernah berdiskusi tentang lailatul qodar disisi Rosululloh sholallohu 'alayhi wasallam,beliau berkata :
"siapakah dari kalian yang masih ingat taktala bulan muncul yang berukuran separuh nampan".
(HR.Muslim).
~dari Watsilah bin al-Asqo' malam yg terang,tidak panas,tidak hujan,tidak ada awan,tidak ada angin kencang dan tidak ada yg dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)
(HR .Thobroni dalam Mu'jam al-kabir 22/59 dengan sanad hasan).
~orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan nikmatnya ibadah,ketenangan hati dan kenikmatan beemunajat kepada Robb nya tidak seperti malam-malam lainnya.
Keutamaannya adalah :
-Beribadah pada malam Lailatul Qodar lebih baik dari pada beribadah seribu bulan yang di dalamnya tidakJ terdapat Lailatul Qadar. Sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta'alaa :
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْر
"Lailatul Qodar lebih baik dari seribu bulan." (Al-Qodar: 3).
Para ulama berbeda pendapat tentang maksud ayat di atas, akan tetapi mayoritas ulama mengatakan bahwa amalan pada malam hari itu lebih baik dari amalan seribu malam yang tidak terdapat di dalamnya Lailatul Qadar.
-Para Malaikat bersama malaikat Jibril turun pada malam tersebut dengan membawa rohmat dan berkah. Sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta'alaa :
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ
"Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan." (Al-Qodar : 4).
Abu Hurairah Rodhiyallohu anhu meriwayatkan bahwa Rosululloh sholallohu alayhi wasallam bersabda :
إنها ليلة سابعة، أو تاسعة وعشرين، وإن الملائكة تلك الليلة في الأرض أكثر من عدد الحصى
"Sesungguhnya Lailatul Qodar itu akan turun pada malam 27 atau 29, dan sesungguhnya malaikat yang ada di muka bumi pada malam itu lebih banyak dari pada jumlah kerikil." (Hadits Hasan, riwayat Ibnu Huzaimah).
-Malam Lailatul Qodar adalah malam yang penuh kedamaian dan kesejahteraan bagi orang-orang beriman. Para malaikat pun memberikan salam kepada mereka sampai terbit fajar. Sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta'alaa :
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
"Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (Al-Qodar: 5).
-Malam Lailatul Qodar adalah malam yang penuh berkah. Sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta'alaa :
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ
"Kami telah menurunkan Al-Qur'an ini pada malam yang penuh berkah." (Ad-Dukhon: 2).
-Malam Lailatul Qodar adalah malam yang di dalamnya ditentukan takdir seluruh makhluk dalam satu tahun. Sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta'alaa :
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ
"Pada malam itu ditetapkan segala urusan yang penuh hikmah." (Al Dukhon: 3).
-Barang siapa yang beribadah pada malam Lailatul Qodar dengan ikhlas dan keimanan, niscaya Alloh akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau. Dalilnya adalah sabda Rosululloh sholallohu alayhi wasallam :
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيْمَانًا وَاحْتِسَاًبا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barang siapa yang bangun (untuk beribadah) pada malam Lailatul Qodar dengan penuh keimanan dan keikhlasan, niscaya Alloh akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lampau." (HR Bukhori dan Muslim)
Rosululloh sholallohu alayhi wasallam menganjurkan umatnya untuk mengharap dianugerahi Laylatul Qodar pada bulan yang sepuluh pertamanya adalah rohmat, sepuluh keduanya adalah ampunan, dan sepuluh akhirnya adalah bebas dari neraka ini. Walaupun, hakikatnya memang tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan terjadinya Laylatul Qodar kecuali Alloh ‘azza wajalla. Hanya saja, Rosululloh sholallohu ‘alayhi wasallam mengisyaratkan dalam sabdanya:
تَحَرَّوْا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان
“Carilah Laylatul Qodar itu pada sepuluh hari terakhir Romadhon. ” (Muttafaqun ‘alaihi dari Aisyah rodhiyallohu ‘anha)
Dalam kitab Shohih Al-Bukhori dan Shahih Muslim disebutkan, dari Aisyah rodhiyallohu anha, ia berkata:
كَانَ رَسُوْلُ الله إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ {هذا لفظ البخاري}
“Bila masuk sepuluh hari terakhir bulan Romadhon, Rosululloh sholallohu alayhi wasallam mengencangkan kainnya (menjauhkan diri dari menggauli isterinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” Demikian menurut lafadz Al-Bukhori.
Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah rodhiyallohu anha:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَجْتَهِدُ فِيْ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مَالاَ يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ
“Rosululloh sholallohu 'alayhi wasallam bersungguh-sungguh dalam sepuluh hari akhir bulan Romadhon, hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya.” (HR Muslim)
Dalam shohihain disebutkan, dari Aisyah rodhiyallohu 'anha:
أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ الله
“Bahwasanya Nabi sholallohu 'alayhi wasallam senantiasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari Romadhon, sehingga Alloh mewafatkan beliau.”
Lebih khusus lagi, adalah malam-malam ganjil sebagaimana sabda beliau:
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِفِي الْوِتْرِمِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِمِنْ رَمَضَانَ
“Carilah Laylatul Qodar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Romadhon)”. (HR. Al-Bukhori dari Aisyah rodhiyallohu ‘anha)
Dan lebih khusus lagi adalah malam-malam ganjil pada rentang tujuh hari terakhir dari bulan tersebut. Beberapa shahabat Nabi pernah bermimpi bahwa Laylatul Qodar tiba di tujuh hari terakhir. Maka Rosululloh sholallohu alayhi wasallam bersabda:
أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ
“Aku juga bermimpi sama sebagaimana mimpi kalian bahwa Laylatul Qodar pada tujuh hari terakhir, barangsiapa yang berupaya untuk mencarinya, maka hendaknya dia mencarinya pada tujuh hari terakhir. ” (muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu ‘Umar rodhiyallohu ‘anhuma)
Dalam riwayat Muslim dengan lafadz:
الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي
“Carilah Laylatul Qodar pada sepuluh hari terakhir, jika salah seorang dari kalian merasa lemah atau tidak mampu, maka janganlah sampai terlewatkan tujuh hari yang tersisa dari bulan Romadhon. ” (HR. Muslim dari Ibnu ‘Umar radliyallahu ‘anhuma)
Yang lebih khusus lagi adalah malam 27 sebagaimana sabda Nabi sholallohu alayhi wasallam tentang Laylatul Qodar:
لَيْلَةُ سَبْع وَعِشْرِيْنَ
“(Dia adalah) malam ke-27. ” (HR. Abu Dawud, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan rodhiyallohu ‘anhuma, dalam Shhoih Sunan Abi Dawud. Sahabat Ubay bin Ka’b rodhiyallohu ‘anhu menegaskan:
والله إني لأعلمها وأكثر علمي هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي ليلة سبع وعشرين
Demi Alloh, sungguh aku mengetahui malam (Laylatul Qodar) tersebut. Puncak ilmuku bahwa malam tersebut adalah malam yang Rosululloh sholallohu ‘alayhi wasallam memerintahkan kami untuk menegakkan sholat padanya, yaitu malam ke-27. (HR. Muslim)
Dengan demikian dapat dibuat kesimpulan bahwa Laylatul Qodar itu ada pada sepuluh akhir Romadhon, terutama pada malam tanggal ganjil.
Dalam hadits Abu Dzar disebutkan:
أَنَّهُ قَامَ بِهِمْ لَيْلَةَ ثَلاَثٍ وَعِشْرِيْنَ، وَخَمْسٍ وَعِشْرِيْنَ، وَسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ، وَذَكَرَ أَنَّهُ دَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ خَاصَّةً
“Bahwasanya Rosululloh melakukan sholat bersama mereka (para sahabat) pada malam dua puluh tiga (23), dua puluh lima (25), dan dua puluh tujuh (27) dan disebutkan bahwasanya beliau mengajak sholat keluarga dan istri-istrinya pada malam dua puluh tujuh (27).”
Para ulama kemudian berusaha meneliti pengalaman mereka dalam menemukan Laylatul Qodar. Menurut keterangan Fathul Qorib, Hasyiah Al-Bajury, dan Fathul Muin beserta I'anatut Tholibin, Imam Syafii menyatakan bahwa Laylatul Qodar itu ada pada sepuluh akhir Romadhon, lebih-lebih pada malam ganjilnya, dan yang paling diharapkan adalah pada malam 21, atau 23 Romadhon.
Di antara ulama yang menyatakan bahwa ada kaidah atau formula untuk mengetahui itu adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali (450 H- 505 H) dan Imam Abul Hasan as Syadzili. Bahkan dinyatakan bahwa Syekh Abu Hasan semenjak baligh selalu mendapatkan Laylatul Qodar dan menyesuai dengan kaidah ini.
Menurut Imam Al-Ghozali dan juga ulama lainnya, sebagaimana disebut dalam I’anatut Tholibin juz 2, hal. 257, bahwa cara untuk mengetahui Laylatul Qodar bisa dilihat dari hari pertama dari bulan Romadhon:
قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء فهي ليلة تسع وعشرين أو يوم الاثنين فهي ليلة إحدى وعشرين أو يوم الثلاثاء أو الجمعة فهي ليلة سبع وعشرين أو الخميس فهي ليلة خمس وعشرين أو يوم السبت فهي ليلة ثلاث وعشرين قال الشيخ أبو الحسن ومنذ بلغت سن الرجال ما فاتتني ليلة القدر بهذه القاعدة المذكورة
1. Jika awalnya jatuh pada hari Ahad atau Rabu, maka Laylatul Qodar jatuh pada malam ke-29
2. Jika awalnya jatuh pada hari Senin maka Laylatul Qodar jatuh pada malam ke-21
3. Jika awalnya jatuh pada hari Selasa atau Jum'at maka Laylatul Qodar jatuh pada malam ke-27
4. Jika awalnya jatuh pada hari Kamis maka Laylatul Qodar jatuh pada malam ke-25
5. Jika awalnya jatuh pada hari Sabtu maka Laylatul Qodar jatuh pada malam ke-23
Syekh Abul Hasan As-Syadzili berkata:
“Semenjak saya menginjak usia dewasa Laylatul Qodar tidak pernah melesat dengan jadwal atau kaidah tersebut."
Kaidah ini sesuai dengan keterangan dalam Hasyiah al-Jamal, hal. 480:
كما اختاره الغزالي وغيره وقالوا إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر فإن كان أوله يوم الأحد أو الأربعاء فهي ليلة تسع وعشرين أو يوم الاثنين فهي ليلة إحدى وعشرين أو يوم الثلاثاء أو الجمعة فهي ليلة سبع وعشرين أو يوم الخميس فهي ليلة خمس وعشرين أو يوم السبت فهي ليلة ثلاث وعشرين.
Berbeda, kitab penulis I'anatut Tholibin dalam halaman 258, dan Hasyiah al-Bajury dalam juz pertama halaman 304, mencantumkan kaidah lain:
وإناجميعا إن نصم يوم جمعة # ففى تاسع العشرين خذ ليلة القدر وإن كان يوم السبت أول صومنا#فحادي وعشرين إعتمده بلاعذر وإن هلّ يوم الصوم فى أحد # ففى سابع العشرين مارمت فاستقر وإن هلّ بالإثنين فاعلم بأنّه # يوافيك نيل الوصل فى تاسع العشرى ويوم الثلاثاإن بدا الشهرفاعتمد # على خامس العشرين تحظ بها القدر وفى الأربعاء إن هلّ يامن يرومها # فدونك فاطلب وصلها سابع العشي ويوم الخميس إن بدا الشهر فاجتهد # توافيك بعد العشر فى ليلة الوتر
(Jika awal puasanya Jumat, maka pada malam 29, jika Sabtu maka pada malam 21, jika Ahad maka pada malam 27, jika pada Senin, maka pada malam 29, jika Selasa maka pada malam 25, jika Rabu maka pada malam 27, jika Kamis maka pada sepuluh akhir malam-malam ganjil).
Kaidah ini tercantum dalam kitab-kitab para ulama termasuk dalam kitab-kitab fiqih bermadzhab Syafi’i (fiqh Syafi’iyyah). Rumus ini teruji dari kebiasaan para ulama’ yang telah menemui Laylatul Qodar. Demikianlah ijtihad Imam Al-Ghozali dan disetujui oleh banyak ulama sebagaimana termaktub dalam kitab-kitab fiqih. Tentang hakikat kepastian kebenarannya, jawaban terbaiknya adalah wallohu ‘a’lam (hanya Alloh yang paling tahu). Karena itu, walaupun titik pusat konsentrasi qiyam ramadhan dan ibadah kita boleh diarahkan sesuai dengan kaidah tersebut, hendaknya kita terus mencari malam yang penuh kemuliaan itu di malam atau tanggal apa dan mana pun, dan terutama pada malam ganjil, dan terutama pada malam-malam sepuluh akhir, dan terutama lagi pada malam ganjil di sepuluh akhir.